Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Kamu, kok pulang?


__ADS_3

"Boy, udah temui Nadira sana."


Qenan mengangguk. "Ya, hari ini Qenan ke kampus Nadira sekalian daftar kuliah ma."


Mama Sinta tersenyum. "Jangan lama-lama kerjain istrimu. Nggak baik."


Qenan mengangguk.


Sudah dua hari ia dan kedua sahabatnya kembali ke Indonesia namun dengan sengaja Qenan tak mengabari istrinya itu.


Terdengar hela nafas. Di lihat rekaman video dan foto-foto Nadira selama dua tahun belakangan.


Selama ini Qenan sama sekali tidak tertinggal informasi tentang istrinya. Ada orang suruhan nya yang selalu menjadi mata untuk Qenan. Bukan karena ia tidak percaya kepada Nadira. Tetapi Qenan sendiri cukup yakin, jauhnya ia dengan Nadira tidak akan membuatnya tenang.


Nadira cantik, bukan hanya cantik tetapi begitu menarik. Sebagai pria normal sudah pasti akan berusaha mendapatkan istrinya. Walau begitu, ia cukup beruntung mengetahui bila istrinya selalu berpenampilan sederhana untuk menutupi pesona yang di miliki.


"Ayo kita berangkat." ucapnya kepada dua sahabat yang sedari tadi tengah asyik bermain game.


Espera mi sorpresa, mi amor (Tunggu kejutanku, sayangku). Gumamnya dalam hati.


...****...


Mahasiswi lain nya menyerbu meja dimana Nadira berada dengan senyum penuh arti menatap Nadira.


"Apa?" tanya Nadira mulai risih dengan tatapan dan senyuman mereka.


"Ada yang cariin lo."


Nadira mengerutkan dahi. "Siapa?"


"Dia ganteng."


Nadira mencebik lalu menyeruput es jeruk nya. Sebelum berbicara Nadira mengambil tissue lalu mengeluarkan cairan dari hidungnya membuat mereka yang menantikan jawaban Nadira mendadak jijik.


"Gantengan mana sama suami gue?" tanya Nadira.


Pertanyaan Nadira membuat mereka sewot. "Sejak kapan lo nikah?"


Nadira berdecak lalu tak berapa lama datang seseorang tetapi bukan yang di maksud mereka.


"Hai Na."


Nadira mengangguk canggung. "Ini maksud kalian? astaga, mata kalian perlu di periksakan."


"Ini sih ganteng Dira, jarang-jarang fakultas kita kedatangan cowok ganteng." bisik seseorang.


"Boleh duduk?" tanya orang itu.


Niat hati menolak namun teman-teman nya mempersilahkan orang itu duduk dekat Nadira. Orang itu adalah Rendi, mantan pacar Nadira. Salah satu mahasiswa populer di sana.


"Kakak kenal Nadira?" tanya salah satu mahasiswi.


Nadira, Nina, dan Melinda hanya diam melanjutkan makan mie ayam yang sempat tertunda. Tidak perduli kan keadaan kantin semakin terdengar riuh.

__ADS_1


"*Itu Nadira nya di kantin lagi makan."


"Makasih ya." ucap salah satu dari orang yang membuat kegaduhan*.


Melinda menepuk-nepuk pundak Nadira yang masih tidak perduli dengan seseorang yang baru saja memasuki kantin.


"Bos Qenan kak."


"Ssshh haa.. Pedes banget gila. Apaan si lo Lin, dia itu lagi jauh disana." tutur Nadira kembali mengambil tissue lalu mengelap keringat akibat pedas yang menyerangnya.


"Ini beneran bege." bisik Nina kemudian membuat Nadira berdiri melihat apa yang di katakan kedua sahabatnya.


Nadira bangkit dengan mata membola sempurna dan tubuhnya menegang beberapa detik. Lalu ia kembali duduk dengan keadaan panik.


"Mam pus gue. Apa gue kabur aja ya?' tanya Nadira karena penampilan nya yang sudah tak layak jika di lihat suaminya.


Rambut yang sudah tidak rapi akibat tadi ia acak-acak sendiri, hidung dan bibir merah akibat kepedasan serta cairan hidung yang tidak bersahabat.


Di ambilnya tissue berniat membersihkan cairan di hidung nya namun terhenti kala suara bariton yang sangat di rindukan itu menyebut nama lengkapnya.


"Nadira Fazilla Zharifa."


Mati gue.


Sesaat Nadira menunduk memejamkan mata merasakan jantung yang berdetak deras membuat ia tak berdaya dan saat itu juga merasa lemah semua syaraf nadinya.


Nadira mendongak menatap mata Qenan yang selalu menyorot tajam kepada lawan bicara. Suaminya berdiri tidak jauh dari tempat nya duduk dan tidak melangkah mendekat itu berarti ia harus bangkit dan mendekat ke suaminya.


Saat tepat berdiri di depan Qenan dan mendongak menatap wajah Qenan dengan menyengat kuda.


...****...


Pertanyaan Nadira sukses membuat Qenan terperangah dan mengundang tawa dari kedua sahabatnya. Bahkan ia mendengar jelas kedua sahabatnya itu tengah menahan tawa.


Terkadang ia tak habis pikir dengan Nadira. Ternyata waktu tidak membuat istrinya itu berubah menjadi wanita dengan otak normal.


Masih lamban.


Ada rasa kesal namun gemas ketika di tanya seperti itu. Memilih tidak menjawab tetapi tangan nya bergerak merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan. Matanya melirik ke meja Nadira dimana ada semangkuk sisa kuah mie ayam berwarna merah dan gelas kosong dengan es batu di dalamnya.


Matanya memindai wajah sang istri dari mata memerah, hidung memerah, dan bibir yang sudah menjadi candu untuknya juga bertambah merah.


"Kepedesan?" tanya Qenan dan di angguki Nadira.


Ia terkekeh pelan ketika mendengat suara dari hidung Nadira ketika cairan itu hendak keluar. "Astaga istriku, lain kali jangan makan terlalu pedas."


Ia berjalan menuju meja Nadira tadi lalu mengambil beberapa lembar tissue sembari melirik tajam ke arah pria yang duduk disana.


"Sini biar aku aja Nan." ujar Nadira. Ia sungguh malu jika Qenan yang harus memegang tissue tepat di hidung nya.


"Udah?" tanya Qenan setelah melihat Nadira selesai membersihkan hidung nya.


Dengan cepat Qenan mendekap tubuh Nadira dan itu membuat seisi kantin tercengang. Bagaimana tidak? bule ganteng memeluk seorang Nadira yang mereka anggap biasa saja selama ini.

__ADS_1


"Te extraño. (Aku rindu kamu.)"


"Aku lebih kangen mu Nan." Ia tahu yang di ucapkan Qenan adalah 'Aku rindu kamu' karena suaminya itu pernah memberi tahu arti dari bahasa spanyol tersebut.


Kedua sahabatnya Qenan sedari tadi hanya menjadi bodyguard di belakang Qenan sembari curi-curi pandang menatap kedua wanita yang masih duduk terpaku disana.


"Nadira." panggil Dion membuat Nadira mengurai pelukan.


"Ini." Dion menyerahkan satu buket bunga kepada Nadira.


Nadira tersenyum menerima buket bunga itu lalu memeluk Dion. "Aku kangen kamu Ion."


Perlakuan Nadira membuat mata Qenan terbelalak. Bagiamana bisa istrinya itu memeluk pria lain di depan nya?


Astaga istriku.


Dion melirik Qenan dengan sengaja membalas pelukan Nadira. Ia paling suka melihat Qenan cemburu.


"Aku juga kangen, nanti malam nginep di rumah papa ya." pintanya menggoda Qenan.


"Enggak ada nginep-nginep." ujar Qenan dingin.


Tanpa perduli ucapan Qenan, Nadira melabuhkan kecupan di pipi Dion setelah ia berjinjit tadi.


"Makasih untuk waktunya Ion."


Nazeef sama halnya dengan Dion, ia sangat menikmati perubahan Qenan yang sedang cemburu. Sepertinya otak lamban kakak iparnya itu sangat bermanfaat untuk mengerjain Qenan.


"Kakak ipar, ini cokelat untuk mu."


Nadira tersenyum lalu menerima nya. "Terimakasih."


Qenan yang sudah tidak tahan langsung melayangkan sebuah ancaman. "Lebih baik segera gadaikan kepala kalian sebelum ku penggal."


Setelah bicara seperti itu, ia menggandeng tangan Nadira yang menggenggam sebatang cokelat menuju parkiran.


"Qenan, kamu kenapa sih? lagi datang bulan?" tanya Nadira setelah berada di parkiran. Lebih tepatnya samping mobil Qenan.


Qenan menggeleng lemah tak menyangka otak lamban istrinya bisa membuat ia gemas sendiri.


Hasrat yang sedari tadi tertahan membuat Qenan ingin memakan Nadira di tempat itu juga.


"Qenan, kamu mau apa?" tanya Nadira sembari memundurkan langkah hingga terbentur badan mobil.


"Qenan mmpptt."


Seseorang yang sedari tadi mengikuti mereka memilih pergi dengan tangan terkepal menahan perasaan marahnya.


🌸


Bersambung..


__ADS_1




__ADS_2