
Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Pukul 19.00 WIB, Sepasang suami istri dan seorang asisten pribadi sang suami berjalan beriringan dengan para penumpang lain nya.
Kepulangan Nadira di sambut hangat papa Surya dan mertuanya. Tak lupa Wido dengan baby Aditya yang berada di gendongan nya.
"Akhirnya putri mama pulang juga." celetuk mama Sinta memeluk Nadira.
"Maafin Nadira, Ma."
"Tak apa sayang, tapi jangan ulangi lagi ya."
Nadira mengangguk. Siapapun yang di sapa Nadira, tak lepas dari pandangan Qenan, bahkan genggaman tangan tak terlepas sedari tadi.
Tak lupa mereka menyapa Wido dan juga baby Aditya. "Jangan lama-lama menghukum ibu Aditya bang. Nggak semuanya dia yang salah." kata Nadira sembari mengambil alih baby Aditya dari gendongan Wido.
"Hai ganteng Ajumma. Gimana kabarnya?" tanya Nadira menirukan suara anak kecil.
"Nan, kita bawa pulang ya?" tanya Nadira menatap Qenan dengan wajah memohon.
Qenan mencebik bibir melihat wajah Nadira. Jika sudah begitu bagaimana bisa Qenan menolak?
"Nggak malam ini, Ra. Ini udah malam."
"Berarti besok boleh?"
Qenan menghela nafas. "Ya, tapi nggak nginep."
Mendengar jawaban Qenan membuat orang tua Qenan mengulum senyum. Apalagi papa Reno, bahkan wajahnya memerah menahan tawa.
Wido sendiri hanya menggeleng kepala. Ia tak menjawab teguran dari Nadira karena pasalnya sudah ia sampaikan kepada Ja'far untuk melepaskan kedua wanita itu. Tetapi Ja'far hanya menjual Bella di club' malam, sedang Rania masih di tahan Ja'far di markas.
Nazeef sudah pulang lebih dahulu menuju apartemen Nina. Ia sudah merindukan pacarnya itu.
Sedang Nadira sudah berada di mobil menuju rumah. Qenan terus memeluk Nadira yang sudah terlelap. Bisa ia pastikan istrinya ini saat menggendong baby Aditya sudah mengantuk namun di tahan.
Sesampainya di rumah, Qenan menggendong Nadira menuju kamar mereka di lantai dua. Di rebah kan tubuh istrinya secara perlahan, membuka sepatu dan kaos kaki, lalu mengecup perut dan kening Nadira setelah itu menyelimuti agar tidak kedinginan.
Usai dengan urusan Nadira, ia pun masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Tiga puluh menit kemudian Qenan keluar kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Dengan lilitan handuk di pinggang dengan rambut yang masih sedikit basah ia berjalan tanpa sadar jika sang istri sudah duduk bersandar di headboard sedang memerhatikan gerak-geriknya.
Bahkan tanpa malu ia membuka handuk dan memakai dalaman dan celana boxer tersebut.
Sedang Nadira terbelalak melihat aksi tak tahu malu Qenan. Wajahnya memerah karena malu telah melihat langsung bagaimana tubuh Qenan polos begitu.
"Rara." pekik Qenan terkejut sama halnya Nadira juga terkejut.
Nadira cengengesan. "Maaf." cicitnya.
Qenan berjalan mendekati Nadira dan duduk di tepi ranjang. "Kenapa bangun lagi, hm?"
"Itu, aku pingin sesuatu." ucap Nadira menunduk.
__ADS_1
"Katakan. Kayaknya istri lagi ngidam." Qenan membawa Nadira dalam pelukan.
"Kamu tahu nggak komplek depan?" tanya Nadira.
Senang mengerutkan dahi. "Komplek Perumahan Hijau Daun?"
Nadira mengurai pelukan menengadah menatap Qenan antusias. "Iya, Rumah paling pinggir enggak ada pagar nya, yang ada anjing itu loh."
Qenan semakin bingung, apa tujuan Nadira sebenarnya. "Iya, terus?"
"Aku pingin jambu air kancing benik nya, Nan." rengek Nadira.
"Tadi maksud aku, pulang dari Bandara langsung mampir kesitu, tapi ketiduran."
Qenan sendiri menegang mendengar ada anjing peliharaan disana. "Ini udah malam, besok aja ya?"
Raut wajah Nadira berubah sendu. Tanpa kata lagi ia sudah merebahkan diri kembali dan menyelimuti dirinya sendiri.
Qenan menghela nafas, padahal jika Nadira mengerti bahwa ia sangat lelah namun ibu hamil itu mana mau mengerti, kabur sebulan lebih saja seperti pergi sehari. Seperti tak merasa bersalah.
"Baiklah, aku pergi minta lebih dulu ya."
Nadira langsung menatap Qenan dengan berbinar dari mata yang sempat berkaca-kaca tadi. Senyuman kini terbit di bibirnya.
"Benarkah? aku ikut."
Qenan menggeleng. "Ini udah malam, Ra."
Raut wajah Nadira berubah kembali. Dan kini terkesan dingin di mata Qenan.
Eh.
Beginikah ibu hamil? pantas aja papa selalu ingetin kalau istri hamil, harus hati-hati. batin Qenan.
"Tuh kan diem berarti iya kan?"
Qenan yang gemas langsung meraup bibir Nadira dengan rakus. Cukup sudah Nadira berpikir yang tidak-tidak tentang nya.
Sadar Nadira sudah mulai kehabisan nafas, di lepas pagutan nya. "Udah jangan mikir aneh-aneh. Aku ambilin jaket dulu ya."
Qenan bangkit mendekati lemari lalu dibukan dan memilih jaket untuk Nadira lalu membuka lemarinya melakukan hal yang sama.
Setelah itu ia menghubungi kedua sahabatnya. Terjadi perdebatan itu sudah pasti tetapi tak ada yang bisa menolak jika Qenan sudah memberi titah.
...****...
Suara ponsel menggema membangunkan kedua insan saling berpelukan dalam tidurnya. Satu tangan menjulur ke nakas meraba mencari benda pipih tersebut.
Tanpa melihat siapa yang menghubungi, Nazeef mematikan panggilan itu lalu meletakkan kembali ponselnya.
Tetapi tak berapa lama ponsel itu kembali mengganggu tidurnya. Terpaksa mengangkat telepon itu daripada harus terganggu kembali.
__ADS_1
"Hallo." ucap Nazeef dengan mata terpejam dan suara parau khas bangun tidur.
"..."
"Gue nggak mau. Ngantuk gue."
"..."
"Sialan. Selalu bisa buat gue gak berkutik."
"..."
"Iya, Bentaran ngapa."
Nazeef duduk menatap Nina yang tengah memerhatikannya. "Aku ke rumah Qenan dulu ya."
Nina mengangguk. "Hati-hati."
"Iya." Nazeef bangkit masuk ke kamar mandi tak lama kemudian ia keluar lalu memakai jaket, mengambil dompet dan kunci mobil.
"Aku berangkat." ucap Nazeef lalu mengecup kening Nina dan keluar apartemen menuju rumah Qenan.
...****...
Erangan dan desa han menggema di kamar apartemen Dion. Setelah menikahi Melinda, ia memilih tinggal di apartemen dan Melinda tidak lagi pernah mengunjungi apartemen pemberian Rian.
Dion memelankan ritme gerakan pinggul karena sedari tadi ponselnya terus berdering. Berulang kali mengabaikan namun suara dering ponsel itu tidak berhenti juga.
Takut terjadi sesuatu pada orang-orang yang dikasihi akhirnya ia menjangkau ponselnya di atas nakas. Ia melirik Melinda yang berada di bawah kukungan.
"Kamu di atas, aku mau angkat telepon dulu."
Melinda mengangguk lalu mereka mengubah posisi. Ia benar-benar merapatkan mulut nya agar tak mengeluarkan suara namun tidak membuat pinggulnya berdiam.
Dion sendiri berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara erangan karena sahabatnya menelepon.
"Hal-hallo." Sudah menahan nya tapi tetap saja sulit menangani suara laknat itu.
"..."
"Nantilah, gue lagi enak-enak ini. Belum sampek lagi."
"..."
"Setengah jam lagi."
"..."
"Lo yang mau punya anak tapi gue yang repot. Iya, iya, dua puluh menit."
Setelah drama telepon dari Qenan akhirnya ia menyelesaikan permainan dengan cepat. Karena tidak ingin kakaknya itu marah padanya juga.
__ADS_1
🌸
Bersambung..