
"Makasih banyak udah mau rawat aku." ucap Wido tulus ketika Nadira dan Nina pamit pulang.
"Sama-sama, obat nya terus di minum biar cepat sembuh. Kami pulang dulu."
Wido tersenyum lalu mengangguk. "Hati-hati."
Ia teringat tadi setelah memakan bubur lalu meminta Nadira mengambilkan obat di atas meja bertetapan meja tersebut ada di dekatnya.
Namun ia terhenyak melihat raut wajah Nadira berubah sendu seakan ada kesedihan menimpanya setelah menerima telepon, tadi sempat ia menanyakan apa yang terjadi namun Nadira menjawab bahwa semua baik-baik saja.
Melihat Nadira dan Nina masuk ke dalam lift, ia pun menutup pintu. Rasa demam dan flu yang melandanya seakan lenyap dengan hadirnya Nadira.
Bahkan senyuman itu terus mengembang walau Nadira sudah tak ada lagi di apartemen nya.
Jangan tanya seberapa keras nya ia menahan tubuh nya agar tetap berjarak di antara ia dan Nadira. Karena ia tidak ingin merusak kebahagiaan Nadira karena dirinya.
Memang cinta itu menuntut untuk memiliki namun percayalah, ia juga yakin apapun yang dipaksa kan tidak akan pernah kekal.
Bisa saja ia mendekati dan menunjukkan perjuangan nya menjaga Nadira dan almarhumah ibu nya lalu menjerat Nadira dalam belenggu cinta nya.
Namun ia tidak ingin lakukan itu. Cukup melihat Nadira tumbuh menjadi gadis dewasa dan bahagia itu sudah lebih dari cukup.
Janji nya adalah terus menjaga Nadira sampai nanti ia melihat secara langsung pernikahan Nadira yang bahagia barulah ia akan memikirkan bagaimana cara nya mengesampingkan perasaan cinta ini dan mencari wanita yang rela ia nikahi walau dengan separuh cintanya.
...****...
"Qenan.. Stop please.. Kenapa lo ngerokok lagi? lo bisa cerita ke kita. Astaga.. Asap nya udah kayak asap pabrik mercon yang kebakaran di Tanggerang tahu gak." gerutu Nazeef sedari tadi berada di balkon bersama Qenan dan Dion.
"Lebay." celetuk Dion.
Qenan terus menghisap benda pipih ber zat nikotin tersebut. Pikiran nya melayang menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Nadira disana. Pikiran buruk terus menghantui.
Apakah Nadira masih berhubungan dengan Rendi?
Atau Nadira memiliki cowok lain.
Mengapa ia lupa jika bisa saja Nadira dekat dengan cowok lain setelah melanjutkan kuliah.
Hisapan dalam-dalam untuk terakhir di rokok tersebut lalu ia keluarkan asap itu melalui hidung dan mulut nya. Di jatuhkan puntung rokok bersisa filter itu lalu di injaknya.
Pikiran nya semakin kalut ditambah tak bisa melakukan apapun karena ia tak membawa mobil pribadi dan ia menyesal akan hal itu.
__ADS_1
"Gue udah pesan mobil, pulang lah selesai kan masalah kalian. Urusan diisi biar gue izinkan ke guru pembimbing. Tolong jangan kasar sama Nadira." ujar Dion membawa angin segar untuk Qenan.
Qenan menatap mata Dion dalam-dalam lalu mengangguk. "Makasih Ion."
Dion mengangguk lalu bangkit. Sebelum melangkah ia menepuk bahu Qenan. "Jangan gegabah untuk ambil keputusan."
Dion mengizinkan Qenan pulang lebih dahulu karena ujian praktek daki gunung dan renang sudah selesai, acara sore sebelum kembali ke Jakarta hanya acar barbeque saja.
Qenan baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri dan juga meredam emosi. Untuk usia 18 tahun tentulah sulit meredam gejolak amarah. Dimana orang-orang menyebut nya masa-masa kelabilan sering muncul di usia ini untuk usia seperti mereka.
Tapi ia adalah Qenan Abraham. Pewaris kerajaan bisnis Abraham Corp yang sangat jarang di publikasikan ke khalayak karena apa?
Selain untuk meminimalisir bahaya yang akan menyerang Qenan dari para pesaing bisnis papa Reno juga Qenan benar-benar harus bisa berdiri di kaki nya sendiri untuk menghadapi bisnisnya sendiri
Maka dari itu, Qenan benar-benar di latih untuk bisa menguasai emosi walau masih terpancing jika hasil kerja tidak sesuai prediksinya.
Ia akui ternyata lebih mudah mengontrol emosi kepada pesaing bisnis nya dari pada kepada Nadira seperti sekarang ini. Tadi ia memilih rokok sebagai pelampiasan ternyata tetap saja tak dapat menghilangkan emosi tersebut lalu mandi di bawah guyuran shower ternyata juga sama.
"Gue berangkat." pamit nya singkat.
"Qen, gue ikut ya.." pinta Nazeef karena ia khawatir Qenan akan lepas kendali.
Nazeef menghela nafas panjang. "Yauda lo hati-hati."
"Hati-hati." ucap Dion.
Qenan hanya mengangguk lalu membawa tas sandang dan menutup kepala menggunakan topi Hoodie nya. Berjalan melintasi teman-teman sekelas nya yang menatap ia penuh tanda tanya.
...****...
Beberapa jam kemudian, langit sudah berubah menjadi gelap bertabur bintang-bintang disana. Cerah dan sangat indah namun tidak dengan hati sepasang suami istri yang tersembunyi.
Sedari sore Nadira meringkuk di atas ranjang milik Nina memikirkan apa yang harus dikatakan selain kejujuran. Bayangan sosok Qenan telah menari-nari di ingatan sedari tadi.
"Dira.. Pulang sono lo." usir Nina mulai jengah dengan tindakan Nadira.
"Gue nginep ya.." ucapnya setelah duduk di ranjang itu.
Nina menggeleng. "Enggak, lo gak boleh nginep disini sebelum dapat izin dari suami lo. Udah sana pergi.. Gue mau tidur."
Nadira menghela nafas panjang dengan wajah sendu nya. "Gue takut Na.."
__ADS_1
"Lo harus hadapi, tadi gue udah saranin untuk bilang ke Qenan malah gak lo lakuin, sekarang hadapi masalah itu."
"Iya gue pulang." Nadira bangkit mengambil tas lalu mengayunkan kaki nya keluar kamar kos Nina.
Nadira terus berjalan di jalan setapak menuju gang depan. Sembari berjalan ia merogoh tas mencari ponsel nya untuk memesan taksi tetapi sangat di sayang ponsel nya kehabisan daya seperti dirinya saat ini.
"Kenapa pakek mati segala sih.. Mang Amad masih mangkal gak ya.." Nadira menyebut salah satu tukang ojek langganan nya dahulu saat masih kost bersama Nina.
...****...
Di lain tempat lebih tepatnya apartemen Royal lantai 8 dimana tempat Qenan tinggal selama ini. Tempat dimana memadu kasih kepada istri rahasianya
Ia duduk di sofa ruang tamu dengan kedua tangan terletak di kedua paha dengan kepala menunduk. Di gelapnya ruangan tersebut ia terus mencoba mengontrol emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
Tadi saat di perjalanan berharap Nadira sudah berada di apartemen menantikan kehadiran nya namun lihatlah, sudah hampir dua jam ia duduk di sofa tersebut seseorang yang ia harapkan tak kunjung pulang.
Pikiran nya terus berkecamuk memikirkan sedang apa Nadira saat ini. Ditambah ponsel milik Nadira tak dapat di hubungi membuat rasa curiga itu semakin menjadi.
Sedang bersama seorang pria kah?
Atau berada di rumah papa Surya.
Tetapi di lubuk hati terdalam ia berharap jika Nadira akan segera pulang. Melihat waktu yang sudah dihabiskan untuk menunggu Nadira pulang sepertinya harapan itu pupus.
Di buka kotak persegi berwarna merah di atas meja itu. Lagi-lagi ia hirup udara dalam-dalam lalu membuang nya perlahan. Kemudian ia buka laptop nya untuk melihat sesuatu namun belum sempat ia melihat tujuan nya di urungkan ketika indera pendengar nya mendengar sesuatu.
Kepala nya bergerak ke arah pintu masuk setelah mendengar tombol-tombol password di tekan dari luar apartemen. Ada rasa lega di hati.
Di gelap gulita ruang tamu dapat ia lihat Nadira sedang merayap di dinding mencari letak saklar ruangan.
Klik
"Qenan.." pekik Nadira terkejut melihat Qenan disana.
🌸
***Bersambung..
Mau lanjut gak?
Di like dulu dong***..
__ADS_1