
"Qenan.. Jam berapa kamu berangkat besok?" tanya Nadira setelah selesai bercinta dengan Qenan.
Ketika begitu sampai Kuala Lumpur, sopir yang di utus papa Surya mengantar di salah satu Apartemen, begitu juga Dion dan Nazeef.
"Kenapa tanya begitu? kamu udah gak sabar ingin jauh dariku?"
Deg
"Bukan begitu Nan.." Tidak ada yang salah dari pertanyaan Qenan, ia lah yang terus merasa bersalah tentang hal yang akan dilakukan disini.
Nadira semakin menyembunyikan wajah di balik dada Qenan. Sungguh hatinya teramat merasa bersalah.
"Hei.. Mengapa jadi sedih? aku hanya bercanda sayang.. Sikapmu seolah membenarkan pertanyaan ku aja."
Oh Tuhan, ingin sekali Nadira menangis sekarang. Namun ia harus menahan agar Qenan tak curiga padanya.
"Qenan.."
"Hem." Qenan terus mengusap kepala Nadira dengan sayang.
"Kalau suatu saat nanti aku melakukan kesalahan, apa kamu mau memaafkan ku?" tanya Nadira membuat Qenan menghentikan usapan sayang nya lalu memundurkan tubuh Nadira agar ia bisa melihat wajahnya.
Di tangkap wajah Nadira hingga mendongak ke arah Qenan. "Tatap mataku Ra."
Inilah yang ingin dihindari Nadira, dari dahulu jika ia sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu maka ia tak sanggup menatap mata lawan bicaranya.
Selesai lo Nadira.
"Tatap mataku Rara.." intonasi suara Qenan lembut namun tegas di telinga Nadira.
Dengan takut-takut Nadira menatap mata tajam Qenan. Jantung yang selalu berirama syahdu menyesak dada namun membuat ia bahagia ketika berada di dekat sang suami kian bertambah disaat mata itu menatapnya dengan tatapan menyidik.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku?"
Pertanyaan itu kian menusuk di hati Nadira. Mata cokelat nan tajam itu terus mencari jawaban dari tatapan Nadira.
"Tetap tatap mataku Nadira." sentak Qenan ketika Nadira memalingkan ke arah lain.
Perasaan bersalah kian membuncah ditambah ia sedang menahan sesuatu di pelupuk mata agar tak tumpah. Berusaha sekuat tenaga agar tak berkedip karena air itu sudah menggenang memenuhi kelopak matanya
"Jawab aku Nadira, aku tahu kamu sembunyikan sesuatu dari ku."
"Qenan.. Maafin aku."
Qenan menggeleng. "Aku butuh jawaban mu, bukan kata maaf dari mu. Apa yang kamu sembunyikan dariku." Tegasnya.
Nadira tak tahan, air mata yang ia bendung kini telah membanjiri pipi mulusnya. "Maaf." katanya langsung mendekap erat tubuh sang suami.
__ADS_1
Apalagi yang harus ia ragukan atas cinta Qenan? lihatlah sekarang, Qenan tahu jika Nadira sembunyikan sesuatu padanya namun masih memperlakukan dirinya begitu lembut.
Nadira merasakan belaian lembut di punggung nya yang masih polos dan itu berhasil membuat seorang Nadira semakin mengencang kan tangisan nya.
"Aku mencintaimu Qenan, sungguh."
"Aku tahu, udah jangan nangis. Cerita sama aku."
Cukup lama Nadira menangis dalam pelukan Qenan, setelah itu ia memberanikan diri untuk bercerita tentang tujuan nya datang kesini bukan hanya untuk melihat pameran lukisan Dion, tetapi ada sesuatu yang memang harus di selesaikan.
"Enggak, aku gak setuju Ra." sentak Qenan, wajah nya berubah datar dan dingin.
"Tapi nan, aku harus minta maaf dan berterimakasih untuk semua yang dia lakukan untukku dan mama."
"Lalu? aku harus membiarkan kan istriku bicara dengan cowok lain? Kamu tahu, apa yang ada di dirimu kalau tanpa sengaja di sentuh cowok lain saja aku tak izinkan apalagi harus membiarkan kalian berdua dalam satu ruangan."
Dengar, betapa posesif suaminya itu, ada rasa senang di hati Nadira mendengar itu. Tapi bukan saatnya ia tersanjung saat ini.
"Tolong mengerti Nan.."
"Mengerti? seharusnya kamu yang ngerti aku Ra, apa perjuangan ku gak bisa kamu ngerti? dari awal kamu nuntut aku untuk perjuangin kamu aku ngertiin tuntutan mu itu, tapi lihatlah.. Kenapa kamu gak bisa ngertiin aku? apa selama ini kamu tak bisa mengenal ku? Ternyata begini rasanya berjuang sendiri di suatu hubungan." Qenan bangkit lalu memakai pakaian nya satu persatu yang berserak di lantai.
Sedang Nadira diam terpaku mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Qenan sembari melihat apa yang dilakukan Qenan.
"Bersihkan badan mu dan istirahat lah. Jangan menunggu ku pulang." ucap Qenan dingin.
Brak
Pintu tertutup keras membuat Nadira terjingkat bersamaan tatapan nanar ke arah pintu. Malam itu Nadira tidur meringkuk di balik selimut dengan tubuh polos nya.
Akulah yang salah.
Air mata tak henti-hentinya menemani tidur malam ini.
...****...
Qenan berjalan menuju apartemen Dion dan Nazeef berada. Kepalan tangan itu membuktikan betapa emosinya ia saat ini. Siapa yang rela istrinya dicintai pria lain?
Ia tak habis pikir mengapa Nadira ingin menemui pria itu.
Ingin meminta maaf?
Maaf untuk apa?
Ingin berterimakasih?
Terimakasih untuk apa?
__ADS_1
Semua yang dilakukan pria itu bukan keinginan Nadira bukan? atau jangan-jangan Nadira meminta maaf untuk rasa sesal karena mengetahui perasaan pria itu lalu ingin membalas rasa cinta itu?
Lalu bagaimana dengan nya?
Dan jangan-jangan Nadira ingin berterimakasih untuk di cintai pria itu. Cinta yang begitu besar.
Lalu bagaimana dengan nya?
Bahkan cinta ini terlalu dalam untuk Nadira.
Mengapa Nadira tak mengerti dirinya?
Tak mengerti rasa cinta nya.
Pintu terbuka setelah beberapa kali Qenan memencet bel apartemen itu. Ia melihat penampilan berantakan Nazeef yang ia tahu juga sedang mengalami patah hati sama sepertinya.
"Dimana Dion?" ia mendudukkan bokong ke sofa ruang tamu itu.
"Dia ada di Gedung prima siapin acaranya besok."
Matanya menangkap dua botol minuman keras di atas meja. Ia pun beranjak mengambil itu. Saat ini ia ingin melupakan masalah nya sejenak.
"Kenapa lo mabuk boy? ada Nadira."
"Gue nginep disini." sahutnya lalu menenggak minuman itu langsung dari botolnya.
"Ada masalah? cerita sama gue."
Qenan menggeleng. "Minumlah lagi bersama gue. Kita lupakan para cewek yang gak pernah ngerti perasaan kita." Lagi-lagi Qenan menenggak minuman itu.
Nazeef yang juga ingin melupakan patah hati karena menjadi saksi Nina jadian dengan Arga tentu tak menolak apalagi dirinya juga sudah mulai mabuk sebelum Qenan datang.
Nazeef membawa dua botol minuman keras yang ia simpan di lemari dapur. Sengaja membawa dua botol karena ia tahu jika Qenan dan dirinya akan benar-benar mabuk setelah menghabiskan dua botol minuman keras itu.
"Nina itu munafik, dia bilang jadian sama Arga tapi cinta nya sama gue." Nazeef mulai melayangkan umpatan ditengah ketidak sadaran nya.
"Lo tahu, istri gue mau ketemuan sama cowok lain. Apa otak nya begitu lambat sampek gak mikir apa yang akan terjadi kalau sampai ketemu?"
Racauan itu kian terdengar dengan di iringi lelehan air mata yang sudah membasahi wajah mereka.
Bukan hanya kisah cinta yang terungkap disana melainkan keluhan atas letih nya menjadi dewasa.
🌸
Bersambung..
Udah hari Senin, vote nya jangan lupa ya..
__ADS_1