
Apakah sifat anak sudah bisa di nilai dari saat berada di dalam kandungan?
Seperti sekarang ini, Nadira benar-benar membuat suami dan sahabat-sahabatnya menggerutu dalam hati.
Bagaimana tidak? Nadira memang mengatakan ingin makan popcorn tetapi semua yang ikut ke rumah sakit harus makan popcorn yang ia beli, termasuk papa Surya yang baru tiba karena ingin melihat calon cucunya.
"Kayaknya cucu papa akan menyebalkan kayak menantu papa, Nak." celetuk papa Surya membuat Qenan terbelalak tetapi yang lain nya menahan tawa karena celetukan papa Surya.
Nama Nadira di panggil membuat mereka ikut masuk ke dalam sampai dokter kandungan bernama Dokter Gadhing itu merasa heran.
"Mi amor, kenapa dokternya cowok? aku nggak rela." bisik Qenan setelah duduk di depan meja dokter Gadhing.
Dokter Gadhing terkekeh melihat Qenan begitu posesif.
"Tenang Tuan. Saya sudah di pawang." kata dokter Gadhing menunjuk wanita muda berhijab sedang duduk di sofa menikmati brownies.
Semua mata melihat kearah wanita tersebut. "Dia istri saya, Tuan. Dia lagi hamil dan selama kehamilannya jadi posesif ke saya. Itu makanya, asisten saya akan menangani Nyonya Abraham."
Setelah itu dokter Gadhing menanyakan HPHT dan keluhan pada Nadira. Ia juga menjelaskan bahwa keluhan itu hal wajar selama kehamilan.
Qenan bernafas lega lalu membantu Nadira baring di brankar.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" sentak Qenan langsung menepis tangan asisten dokter Gadhing yang hendak menyingkap baju bagian perut Nadira.
"Qenan, memang harus di buka bagian perut." Nadira mencoba memberi pengertian pada Qenan karena Semua orang di dalam ruangan itu tercengang melihat apa yang dilakukan Qenan.
"Aku gak rela perut mu di lihat banyak orang, Ra." Sebenarnya itu adalah rengekan tetapi wajah datar tersebut membuat yang mendengar seperti titah.
Dengan cepat asisten Dokter Gadhing menyingkap tirai untuk menutupi bagian brankar. Orang yang sudah mengenal Qenan tentu saja menatap jengah namun mengerti memang seperti itulah seorang Qenan Abraham.
Asisten dokter Gadhing tersebut nampak gelagapan seketika kilat tatapan tajam Qenan ke arah nya seperti hendak memangsanya. Sementara Nadira yang sudah berbaring hanya bisa menggeleng kepala saja.
"Qenan, jangan begitu." tegur Nadira mengetahui gelagat asisten dokter Gadhing yang ketakutan.
"Baiklah."
Asisten Dokter Gadhing pun mengoles gel ke perut Nadira. Kemudian menempelkan alat transduser pada bagian kulit yang sudah di olesi gel sambil di gerak-gerak kan.
"Menjalani kehamilan memang nggak mudah. Di usia kehamilan minggu ke-10 ini, Nyonya akan mengalami sejumlah ketidaknyamanan." Dokter Gadhing menjelaskan di balik tirai tersebut.
"Janin sudah semakin besar di minggu yang kesepuluh ini, lho bu. Ukuran badannya kira-kira sudah sebesar buah lengkeng dengan berat sekitar 7 gram dan panjang badan dari kepala sampai kaki sekitar 2,54 sentimeter. Meski masih termasuk mungil, namun Si Kecil sudah bertumbuh semakin kuat." imbuh dokter Gadhing lagi.
Di balik tirai itu, tangan sepasang suami istri tersebut saling menggenggam menatap haru pada layar monitor tersebut. Mereka melihat calon anak mereka bergerak-gerak di dalam sana. Bahkan calon ibu muda itu sudah meneteskan air mata karena merasa tidak menyangka terlalu cepat di beri amanah pada Sang Kuasa.
Sedang calon ayah muda itu bertekad akan selalu menjaga sang istri, tidak akan membuat tangis kesedihan hadir kembali. Terlebih mereka pernah sekali kehilangan buah cinta mereka.
__ADS_1
"Karena Nyonya Abraham memiliki riwayat keguguran, di usahakan tiap bulan nya periksa ke sini ya, hindari setres, vitamin prenatal yang saya beri di minum rutin, jaga berat badan, olah raga hamil juga ya sekalian nanti saya kasih rekomendasi tempat kelas hamil."
Banyak penjelasan Dokter Gadhing seputar kehamilan. Papa Surya tak kalah antusias. Bahkan ia menanyakan jenis kelamin calon cucu nya.
...****...
Tanpa mereka sadari, ada sepasang suami istri yang lain saling menggenggam untuk menguatkan satu sama lain.
Dion dan Melinda.
Mereka sama-sama menginginkan kehadiran buah cinta mereka tetapi belum ada tanda-tanda kehadirannya.
"Sabar ya." bisik Dion melihat wajah murung istrinya.
Melinda hanya mengangguk lemah menyandarkan kepalanya pada dada Dion.
"Nanti kita kerja lebih keras lagi ya." bisik Dion lagi mencoba menghibur Melinda.
Dan benar, Melinda menyikut perut Dion.
...****...
"Keriting, aku udah gak sabar." bisik Nazeef di telinga Nina membuat empunya meremang.
"Sabar ya."
****
Asisten Dokter Gadhing mengelap bekas gel di perut Nadira lalu menutup kembali pakaian Nadira.
Qenan membantu Nadira turun dari brankar lalu bergabung bersama yang lain.
"Nyonya kalau ingin sesuatu katakan saja ya, jangan di tahan-tahan." ucap Dokter Gadhing membuat Nadira tersenyum senang.
Nadira menoleh menatap Qenan dengan wajah memohon.
"Kamu pengen apa?" tanya Qenan mengerti arti tatapan Nadira.
"Aku pengen brownie yang di makan istri Dokter Gadhing, Nan." bisik Nadira. Sebenarnya begitu Dokter Gadhing mengatakan ada istrinya, fokus Nadira bukan pada istri Dokter Gadhing melainkan pada brownies yang ada di meja itu.
Dokter Gadhing tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri di depan nya, tingkah pasien nya ini persis seperti istri nya itu, istri muda.
"Sayang, kemari lah. Jalan pelan-pelan. Bawa brownies itu kesini." seru Dokter Gadhing.
Wanita muda berhijab itu menyerahkan sepiring brownies pada Dokter Gadhing dan kembali duduk ke sofa.
__ADS_1
Nadira menerima brownies yang diberikan Dokter Gadhing lalu mengambil sepotong untuk nya lalu menyerahkan dua potong lagi untuk Qenan.
"Makan ya, Nan."
Setelah acara meminta brownies tersebut mereka makan siang di restoran dekat Rumah Sakit tersebut. Usai itu mereka pulang dengan mobil masing-masing selain Papa Surya pulang bersama.
...****...
"Persiapkan dirimu, Ra." bisik Qenan membuat Nadira geli karena hembusan nafasnya.
"Jangan bahas itu, masih ada Papa."
Papa Surya sendiri berdecak mendengar obrolan anak dan menantunya di belakang. Sebagai pria normal tentu saja ia menginginkan hal itu.
...****...
"Oppa, kalau pengen punya anak cepat jangan nikah lagi ya." ujar Melinda ketika mereka telah sampai di apartemen.
Mendengar itu Dion langsung membungkam bibir Melinda dengan bibir nya. "Jangan katakan itu."
Dion kembali menikmati bibir tipis sang istri hingga tercipta pergulatan panas di sore hari.
...****...
"Nina, kita perlu bicara."
Nina mengangguk lalu mengajak Nazeef duduk di sofa. "Katakan."
"Sebaiknya kita harus secepatnya menikah, jujur aku udah kesulitan menahan burung pipit kalau udah di dekat kamu."
Nina berdecak. "Menikah bukan cuma tentang si burung pipit dan sangkar nya, Zeef. Menikah itu menyatukan dua keluarga. Bagaimana keluarga kandung mu?"
"Bulan depan kita kesana pas libur semester."
Nina tersenyum walau dalam hati ada keraguan karena sejak awal mereka berhubungan, Nazeef selalu menghindar jika ia bertanya tentang keluarganya.
🌸
Bersambung
*Setelah part ini, emak mau selesaikan cerita Rania dulu ya..
Biar gak ada bilang mirip sama novel yg lain.
Emak lagi kumat ini Gilak nya, padahal emak lagi sibuk ini*.
__ADS_1