Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Gara-gara Dion


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat setelah kejadian percobaan pemerkosaan Arga terhadap Nina. Nazeef dan Nina sudah menjadi sepasang suami istri, kini.


Malam kejadian itu, keesokan hari nazeef langsung meminta izin papa Reno untuk mengutus anak buahnya untuk menjemput keluarga Nina di Bogor, surat persyaratan pengajuan menikah secara agama dan hukum negara sudah ia urus dengan tangan nya sendiri.


Sedang Nina selalu bersama Nadira karena masih mengalami trauma pasca kejadian.


Dan disinilah mereka, di Apartemen Nazeef dan kedua orang tua Nina berada di apartemen Nadira yang di tempati Nina.


Nina sudah tidur lebih dahulu, ia menatap nanar istrinya. Kesal dan kecewa karena gagal malam pertama. Ingin mengumpat dirinya sendiri mengapa harus menikah hari ini? kenapa tidak sebelum atau Minggu depan saja?


Nina sedang datang tamu bulanan.


Lebih kesal lagi ia tak bisa kemana-mana, jika diketahui Qenan dan Dion maka ia akan jadi bahan tawaan kedua sahabatnya.


Kemudian ia mende sah ketika layar ponsel nya berkedip dan menampakkan nama Dion tertera disana. Sengaja tidak mendial icon apapun karena ia tak ingin kedua sahabatnya mengetahui jika ia gagal malam pertama.


Tetapi berulang kali layar beda pipih itu berkedip, takut akan hal mendesak membuat Nazeef terpaksa mendial icon hijau.


"Apa?"


"..."


"Ini malam pertama gue, ogah gue."


"..."


"Sialan, iya gue kesana. Tungguin."


Nazeef mengacak rambut gusar. Rasanya ia ingin mengumpat pada Nina yang baru beberapa jam lalu menjadi istrinya itu.


Bagaimana bisa istrinya itu bercerita pada istri kedua sahabatnya jika sedang kedatangan tamu.


Nazeef mendengus lalu bangkit mendekati Nina untuk izin keluar. Setelah mendapat izin, ia langsung memakai jaket, mengambil ponsel dan dompet di masukkan ke saku celana kemudian kunci mobil barulah berjalan keluar apartemen ke tempat tujuan.


...****...


Sebelum Nazeef menerima telepon.


Di kamar Dion dan Melinda. Pria muda itu terkulai lemas lantaran sudah dua hari rasa mual dan muntah terus menyerang nya. Seakan ada alat otomatis untuk mengaduk-aduk isi perutnya.


"Elin, kemarilah." titahnya agar istrinya itu mendekat ke arahnya.


Dion yang masih duduk bersandar memerhatikan Melinda yang mendekat dengan raut wajah khawatir.


Di peluk erat lalu mencium ceruk leher Melinda menghirup harum tubuh Melinda dalam-dalam. Akhirnya ia kembali tenang setelahnya.


"Oppa nggak apa? kita ke dokter yuk." ucap Melinda setelah Dion mengurai pelukan.

__ADS_1


Dion menggeleng. "Aku gak apa-apa. Yang penting, kamu tetap dekat sama aku."


"Tolong ambilkan ponsel."


Setelah menerima ponselnya, Dion menghubungi Qenan ternyata yang mengangkat nya adalah Nadira. Senyum sumringah menghiasi wajah imut Dion.


Melinda mengerutkan dahi. "Siapa yang oppa telepon?"


"Nadira, dia pengen ketemu aku dan aku pengen ketemu Qenan. Ayo bersiap."


Rasa mual dan muntah hilang seketika setelah ucapan Nadira. Tak lupa ia menghubungi nazeef karena ia memiliki peran penting dengan keinginan nya.


Entah mengapa ia merasa aneh pada dirinya tetapi tak bisa menolak rasa ingin yang menggebu.


Melinda sendiri hanya menuruti saja kemauan sang suami.


...****...


Berbeda pula keadaan di dalam kamar pasangan suami istri Qenan dan Nadira. Sang suami sedari tadi harus menahan kesal karena keinginan istrinya beberapa saat lalu.


Bagaimana bisa sang istri meminta bertemu dengan pria lain sementara mereka berdua baru saja menyelesaikan permainan panas di atas ranjang.


Rengekan Nadira sebelumnya. "Boleh ya, ini permintaan anak kamu loh, Qenan."


Qenan mencebik tanpa menjawab. Sehingga membuat Nadira ngambek dan menangis. Bagaimana bisa ia menolak?


"Ayo kita mandi dulu." ujarnya langsung menggendong Nadira ala bridal style.


Tidak ada kegiatan panas lagi, Qenan benar-benar membantu Nadira membersihkan diri walau sekuat tenaga harus menahan gejolak panas di tubuhnya.


Ia tidak ingin Nadira bertambah lelah karena ulah nya karena sudah dua jam istrinya itu melayani nya.


Selesai mandi dan sudah rapi barulah keduanya keluar kamar. Tidak ada siapapun selain mereka di rumah sebesar ini. Karena baik Qenan dan Nadira memang tidak menginginkan ada pelayan jika malam hari atau akan kembali setelah Qenan pulang kerumah ini.


Qenan mengikuti Nadira ke dapur, melihat istrinya sedang mencari sesuatu di dalam lemari es.


"Cari apa?"


"Daun ubi, kacang tanah, sama teri Medan, Nan. Kemarin aku ada minta bibi untuk sediain itu disini." sahut Nadira tanpa menoleh karena Nadira tengah mengambil yang diperlukan.


Qenan sendiri tak menjawab, ia hanya tak habis pikir, semenjak menikah dengan Nadira berubah menjadi lebih menyukai makanan Indonesia.


Tak berapa bel pintu berbunyi hingga membuat ia beranjak mendekati pintu utama kemudian membukanya.


Dan lihatlah sungguh menyebalkan wajah pria yang diinginkan istrinya itu.


Dion dengan senyum jenaka nya nyelonong masuk diikuti Melinda dan Nazeef. Qenan hanya bisa mendengus kesal.

__ADS_1


...****...


"Dion." pekik Nadira merasa senang melihat adiknya datang.


Ketika Dion sudah mendekat segera Nadira memeluknya, entah mengapa ia merasa sangat merindukan adiknya itu.


"Lo apa kabar? sekarang lo sombong, jarang video call lo lagi." kata Nadira manja mengerucut kan bibir.


Qenan melotot mendengar suara manja apalagi Nadira berada di pelukan sahabatnya. Jika tidak ada yang mengenal mereka pasti menilai sepasang kekasih.


"Dion." sentak nya tak terima ketika Dion mengelus kepala Nadira.


Namun Dion hanya menyeringai tanpa perduli wajah memerah Nadira. Sedang Melinda hanya diam saja karena ia tahu Nadira adalah kakak dari suaminya.


"Sorry, Na. Kan lo tahu gue baru balik dari Surabaya sama Elin."


"Gue cemburu."


Qenan semakin marah mendekati mereka. "Ra, kamu apaan sih?"


Saat hendak ingin memisahkan mereka namun tangan nya sudah di tepuk Dion agar urungkan niatnya.


"Tanpa lo tahu, kami sering jalan berdua, Qenan. Sekarang masakin itu gih."


"Nadira Qenan Abraham." ucap Qenan penuh penekanan dan berhasil membuat ibu hamil itu mengurai pelukan kemudian berjalan menuju meja dimana bahan masakan yang ia letakkan tadi.


Qenan mendekati untuk memastikan bahwa istrinya itu tidak marah, namun sepertinya ia sudah membuat Nadira marah.


"Aku bantu."


"Gak usah."


Melinda mendekat membantu kakak iparnya sedang Nazeef sudah tertidur di sofa membiarkan dua keluarga itu berseteru.


Makanan telah tersaji membuat Nadira dan Dion senyum sumringah.


"Enak ini." seru Nadira langsung mengambil nasi, sayur daun ubi, dan sambal teri Medan diikuti juga Dion.


Kakak beradik itu tidak memperdulikan pasangan nya yang tengah menatap mereka dengan menelan saliva berulang kali.


Apalagi Qenan, ingin ikut makan bersama tetapi ada rasa takut karena sedari tadi Nadira masih mendiaminya.


*Ini gara-gara Dion.


🌸*


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2