Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Ciuman pertama


__ADS_3

"Kamu mau mandi atau gimana Nan?" tanya Nadira begitu sudah berada di dalam kamar.


Qenan menuntun Nadira duduk di sofa lalu meletakkan tas punggung nya di sana. "Gimana hari mu Ra? udah minum obat?" alih-alih menjawab malah bertanya kepada sang istri.


"Kayak biasa Nan, aku habiskan waktu hanya di kamar terus, laper tinggal ambil masakan kamu tadi pagi terus Nina dateng jadi nonton drachin deh dan aku udah minum obat juga." sahut Nadira sembari melepas dasi sekolah Qenan lalu meletakkan di atas meja.


"Aku cemburu kamu di peluk dia."


Nadira mendongak menatap Qenan yang juga menatapnya. "Yang peluk aku itu Nina suamiku.. Bukan Dion, Nazeef, mantan pacar atau siapapun."


"Jangan pernah berpikir untuk melakukan itu atau aku akan mengurung mu sayang."


Nadira terkekeh geli melihat kecemburuan Qenan. "Aku suka kamu kurung. Bahkan dikurung dan dibawa ke Amerika aku siap Nan.." mendadak suasana berubah menjadi sendu.


"Ra.. Kita pergi bukan untuk berpisah sayang, kita bisa ketemu kan? kamu bisa datang kesana atau aku yang kembali kesini."


Dengan wajah sendu itu Nadira mengangguk. Dengan sigap Qenan mendekap tubuh sang istri. Seperti dugaan nya, pasti Nadira akan kembali menangis bila berada di dekatnya.


Bohong jika ia merasa baik-baik saja akan berjauhan dengan Nadira. Namun dirinya disana benar-benar untuk belajar, belajar, dan belajar. Karena selain belajar untuk memimpin perusahaan sang papa, ia juga ingin mengembangkan ilmu bisnis untuk perkembangan bisnis kaos dan makanan yang ada di Kafe Hebat.


"Udah merasa baikan?" tanya Qenan yang masih mengusap kepala Nadira.


"Aku gak akan baik kalau jauh dari mu." ucap Nadira sembari memainkan jari di dada Qenan.


Qenan terpejam merasakan sensasi dari permainan jadi di dadanya. Sungguh ia terbuai sekaligus ingin mengumpat istrinya itu karena sudah membangunkan rudal Amerika miliknya.


Tidak tahukah Nadira bila Qenan sudah susah payah menahan naf su sepanjang malam dan kembali menahan naf su itu di pagi hari?


Dengan sigap Qenan menangkap jemari Nadira yang berkeliaran di dada nya. "Kamu bangunin rudal sayang.." kata Qenan dengan suara berat


Nadira terperangah tak menyadari perbuatannya lalu ia mendongak menatap Qenan yang sudah menatap nya dengan tatapan gai rah.


"Qenan.." ucapnya lirih.


"Kamu tahu sayang, rudal ku ini harus aku simpan agak jauh di bawah tanah dan dilindungi oleh pintu ledakan. Rudal ku terhubung langsung secara fisik dan elektronik, ke pusat peluncuran rudal ke milik kamu." ucap Qenan menahan tawa melihat wajah Nadira berubah bingung atas ucapan nya.


Nadira terdiam dengan wajah bingungnya, bahkan wajahnya mengerutkan dahi berulang kali karena setiap kalimat Qenan tak dimengerti olehnya.


Akhirnya Qenan tak dapat menahan tawa dan itu membuat Nadira merajuk.


"Qenan.. kamu ngerjain aku?"


"Aduh sayang ampun.. aduh sakit Ra.." tawa nya terhenti ketika Nadira mencubit perut nya.


"Rasain." Nadira bangkit dengan wajah kesal lalu keluar dari kamar.


Langkahnya terhenti melihat sesuatu di depan nya.

__ADS_1


...****...


Nazeef sendiri melotot melihat adegan mesra mereka lalu mengumpat Qenan habis-habisan.


"Kenapa? pengen? buat aja sama Risa." sindir Nina.


Nazeef menatap Nina seolah sedang berpikir sesuatu. "Jangan bilang Lo sama kasir kafe itu pernah berbuat gitu."


"Pernah lah." bohong Nina karena ia selalu menolak jika Arga membahas ke arah begitu. Hanya Nazeef yang pernah menciumnya.


"Nazeef.. Mmpptt."


Nina terkejut mendapati perlakuan Nazeef. Namun ia terbuai dengan semua perlakuannya. Meski tak membalas namun kelembutan yang di berikan mampu membuatnya terlena.


"Jangan pernah perbolehkan cowok lain melakukan ini pada mu Nina.." bisik Nazeef seakan memiliki sihir sehingga membuat Nina mengangguk.


"Ikuti apa yang aku lakukan."


Sekali lagi Nazeef melakukan ciuman itu namun tak mampu menyadarkan Nina apalagi disaat gerakan Nazeef sudah turun ke leher.


Matanya terbelalak merasakan Nazeef seperti menggigit lehernya dan ia tahu itu gigitan apa namanya. Sontak ia mendorong kepala Nazeef menjauh dari lehernya.


"Zeef, kenapa lo buat di leher gue?" tanya Nina dan menyesal harus bertanya seperti itu setelah mendengar jawaban Nazeef.


"Oke, di lain waktu gak di leher lagi. Itu gue kasih tanda kepemilikan karena lo dua tahun lagi hanya milik gue."


...****...


Setelah mengetahui Nadira sedang melihat adegan film biru langsung menutup matanya dengan telapak tangan.


"Qenan.." Nadira hendak melayangkan protes namun dipotong Qenan sendiri.


"Aku gak rela kamu kamu melihat kemesraan orang lain."


Nadira merasa kesal dengan ucapan Qenan juga melakukan hal sama menutupi kedua mata Qenan.


"Kalau gitu aku pun gak rela kalau kamu melihat adegan begitu." bibir Nadira mengerucut tanpa terlihat Qenan namun ia tertawa mendengar Nadira berbicara seperti itu.


Tanpa mereka sadari, sang pelaku adegan mesra itu menyaksikan apa yang dilakukan mereka sedari tadi.


"Kenapa mereka kayak sepasang manusia yang masih polos?" tanya Nina keheranan.


Nazeef mengedikkan bahu lalu berbisik. "Ingat, kamu milikku." lalu mengecup pipi Nina membuat sang empu tersipu malu.


...****...


"Qenan, udahan belum?" tanya Nadira yang masih menutup mata.

__ADS_1


"Gak tahu, buka dulu Ra biar aku lihat." sahut Qenan yang juga memejamkan mata karena tangan Nadira masih menutupi.


"Nggak mau, nanti kamu ke enakan nonton gituan secara live. Mending bukain punya aku aja."


"Oke."


Dengan mata masih terpejam dan satu tangan menutupi mata Nadira, ia pergunakan tangan yang satu untuk menurunkan resleting dress yang dikenakan Nadira.


"Qeennaaann..." pekik Nadira lalu masuk dalam pelukan sang suami membalikkan tubuhnya Qenan agar menutupi tubuhnya supaya Nazeef dan Nina tak melihat tubuh bagian belakang nya.


"Kamu nyebelin Qen.." sungut Nadira berusaha menaikkan resleting dress tersebut.


Qenan tertawa namun tangan nya mengambil alih untuk menaikkan resleting itu.


...****...


Dion dan Melinda berada di sebuah taman kota Jakarta.


"Elin, nanti malam ada acara gak?" tanya Dion ragu-ragu.


Melinda menoleh ke arah Dion. "Em.. Emang nya kenapa oppa?"


"Ikut makan malam bareng sama Qenan dan Nazeef."


Melinda mengangguk. "Bisa tapi jangan lama-lama ya.. Aku harus pulang cepat."


Melinda memalingkan wajah ke arah lain. Ingin sekali ia bercerita apa yang selama ini ia alami, namun takut bila Dion kembali dingin sama seperti awal-awal mereka kenal dahulu.


"Lin, kenapa gue ngerasa lo mulai berubah menjadi pendiem gini?"


Lagi-lagi Melinda menoleh kearah Dion yang masih menatap lurus ke depan.


Tanpa diminta setitik air mata itu terjatuh dengan cepat Melinda menghapus air mata itu dengan punggung tangan nya.


"Apa segitu nampak aku berubah pendiem oppa?"


Dion menoleh ke arah Melinda lalu mengangguk.


"Tapi oppa harus ingat ini." Melinda duduk tegak ke arah Dion dan menatap matanya dalam.


"Rasa sayang dan cinta ku ke oppa itu kayak Power Rangers tanpa Monster, nggak akan berubah."


Setelah mengatakan kejujuran walau sedikit menggombal Melinda berdiri di depan Dion lalu menempelkan bibirnya ke bibir Dion.


Dion melotot mendapat perlakuan dari Melinda.


*Ciuman pertama gue, astaga.. aku harus apa?

__ADS_1


🌸*


Bersambung...


__ADS_2