Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Sayang, sayang, dan sayang


__ADS_3

"Sayang, kenapa gak kasih tahu mau kesini? seharusnya aku menjemputmu. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa."


"Kenapa kamu cerewet banget Nan? kalau gitu, kami balik ke Indo aja." Omel Nadira.


Qenan melongo mendengar omelan itu langsung menyadari kesalahan yang membuat Nadira berbalik badan hendak pergi.


Secepat kilat ia tangkap satu pergelangan tangan Nadira lalu menariknya hingga dalam pelukan.


Pelukan itu semakin erat menyiratkan kerinduan. Satu tahun tak bertatap muka sungguh amat menyiksa.


"Makasih Ra." ucap Qenan tulus sembari mengecup pucuk kepala Nadira bertubi-tubi.


Nadira tak menjawab karena tangisan sudah menyertai. Banyak hal yang ia lewati selama setahun ini. Dari Wido yang ia paksa terus hidup dalam kenyataan, belum lagi Rendi yang kembali mengejarnya.


Dan sialnya, semenjak menyandang sebagai istri seorang Qenan Abraham, dirinya berubah menjadi manja dan cengeng bila sedang sendiri.


...****...


Nazeef diam mematung lalu dengan cepat menetralkan diri seolah tak perduli dengan Nina yang curi-curi pandang kearahnya.


Sial! kenapa Nina makin cantik?


Namun sekali lagi ia tekankan, Nina bukan lagi wanita single yang bisa dengan siapa saja. Dan untuk merayu? cukup, tak akan adalagi wanita yang dirayu olehnya.


...****...


Sama dengan Nazeef, Dion berusaha keras untuk tetap cuek dengan kehadiran Melinda. Sekuat tenaga tak menatap cewek berisik yang mampu merenggut hatinya.


Rindu kian menggebu namun kecewa masih hinggap di hati hingga tak ingin kembali.


Cukup Dion, hubungan tak akan kokoh kalau salah satu di antara kalian tak terbuka dan tak jujur.


...****...


"Kamu nginep dimana, hm?" tanya Qenan mengurai pelukan lalu mengusap air mata Nadira.


"Di.."


Qenan terkekeh melihat wajah bingung Nadira. Ia ingat betul kalau Nadira pernah lupa alamat apartemen nya dahulu ketika baru menikah.


"Nggak ingat?" tanya Qenan sembari membawa Nadira duduk di rerumputan.


"Ya."


"Memangnya siapa yang mencarikan Apartemen itu?" tanya Qenan penasaran.


"Bang Wido." jawab Nadira lirih.


"Abang?"


Rasa cemburu itu semakin menggebu mengingat Wido begitu menjaga Nadira. Rahangnya mengeras dan tangan terkepal hingga buku-buku tangan itu memutih.


Qenan menatap tajam Nadira yang masih diam membisu. "Apartemen mana tempat kalian menginap?" tanya Qenan dingin.


"Palo Alto." jawab Nina takut-takut.


Qenan bangkit menarik tangan Nadira membawanya ke apartemen sesuai tempat yang di sebut Nina tadi.

__ADS_1


...****...


"Ssstt.. Kamu menyakiti ku Nan." Cicit Nadira merasakan sakit di pergelangan tangan akibat genggaman Qenan.


Qenan tak menggubris namun tangan nya kini tak menggenggam pergelangan tangan Nadira.


"Bilang aja kamu gak mau lagi ku sentuh."


"TERSERAH." Setelah mengatakan itu, Nadira berjalan lebih dahulu setelah pintu lift terbuka.


Sungguh ini di luar ekspektasi nya. Semua diluar kehaluan yang sudah tercipta di kepalanya.


Akhirnya mereka berada di dalam apartemen saling mendiami. Tetapi rasa rindu yang menggebu membuat keduanya duduk berdekatan.


"Maaf." cicit Nadira menunduk.


"Aku cemburu kamu sebut om Wido dengan sebutan abang, sedangkan aku hanya nama. Memanggil ku sayang aja bisa di hitung. Selalu Qenan yang kamu sebut."


Nadira menoleh menatap Qenan secara intens. "Tapi hatiku hanya untuk kamu Nan."


"Aku ingin mendengar kamu memanggil ku sayang."


Nadira tersenyum, sungguh ia merasa gemas melihat wajah Qenan yang sedang merajuk bak anak kecil ini.


"Sayang." ucapnya menuruti.


"Lagi."


Ingin rasanya Nadira tertawa sekarang namun masih ditahan untuk sekarang.


"Sayang, sayang, sayang Qenan."


Nadira kalah, ternyata Qenan dengan sengaja melakukan itu agar ia kalah.


Cumbuan itu sudah turun ke ke pundak hingga ke bokong lalu melahap gundukan lezat yang sudah ia anggurkan selama setahun belakangan.


Suara desa han mendayu meningkatkan li bido Qenan. Mengecup berkali-kali bahkan mengelus lembut di perut rata Nadira.


"Kenapa?" tanya Nadira merasakan Qenan yang berbeda.


"Aku udah gak sabar untuk pulang dan kita punya anak banyak." Bibir Qenan tertarik keatas menjadi senyuman penambah pesona.


Nadira hanya tersenyum dan merasakan sensasi geli tetapi nikmat tak ingin berhenti sampai disitu.


Kata ah dan lenguhan mulai mendominasi ruang tamu tersebut.


"Sangat indah. Aku suka." puji Qenan menatap kagum inti Nadira yang sudah bebas dari kain segitiga biru tersebut.


"A-aku malu Nan."


Namun tak ada sahutan Qenan hanya suara desa han Nadira yang menemani permainan mereka.


...****...


Di taman asrama dimana dua pasangan yang tak memiliki hubungan sedari tadi diam membisu.


"Kak Na, gue laper." bisik Melinda pada Nina.

__ADS_1


"Ayo kita cari makan."


Keduanya bangkit namun langsung di cegah Nazeef. "Eh, pada mau kemana?"


"Cari makan." jawab Nina singkat.


"Kita ikut." kata Nazeef melirik Dion sedari tadi diam memperhatikan Melinda.


Nina mencoba menolak secara halus. Mau bagaimana cinta nya dia ke Nazeef namun tak mengubah rasa gugup dari dirinya.


"Nanti Nadira marah lagi sama kami kalau kalian pergi." ucap Nazeef beralasan.


"Baiklah."


Keempat orang itu sengaja berjalan kaki karena tempat makan yang mereka tuju tidak jauh dari taman.


Genggaman tangan Nina dan Melinda semakin erat karena kedua tangan saling menggenggam itu terasa dingin.


Ketika kita merasa gugup atau cemas, tubuh akan otomatis mengaktifkan respons flight of fight yang disebut juga "bertarung atau berlari".


Nah, respons ini menyebabkan berbagai reaksi pada tubuh kita, salah satunya yang menyebabkan telapak tangan menjadi dingin.


Ini disebabkan karena adanya respons bernama hiperventilasi.


Hiperventilasi adalah saat kita mengembuskan karbon dioksida terlalu cepat dari dalam tubuh kita.


Restoran cepat saji dimana mereka berada sekarang tampak sangat ramai apalagi saat libur seperti ini.


Sedari awal tak ada yang mampu membuka suara, hanya Nina dan Melinda saja yang membuka suara apalagi keduanya duduk bersebelahan.


"Kak, nanti kita ke minimarket ya. Kita harus cari stok makanan. Gue gak mau cuma makan roti." ajak Melinda dan di angguki Nina.


Pesanan mereka telah tersaji dan tentu membuat Melinda yang berisik menjadi ruang bahkan ia menatap nasi dan dua potong ayam goreng krispi beserta saos sambalnya dengan pandangan takjub.


"Akhirnya makan nasi." ucap Nina dan Melinda bersamaan.


Ucapan mereka tersebut membuat kedua pria muda itu terkekeh karena wanita muda di depan mereka sangat menggemaskan Dimata mereka.


Kekehan Nazeef dan Dion terdengar sehingga membuat Nina dan Melinda mendongak menatap keduanya.


Secepat kilat dua pria muda itu menetralkan ekspresi menjadi wajah datar kembali.


"Apa?"


Nina dan Melinda menggeleng bersamaan. Bagi mereka bisa melihat dan tahu kabar mereka saja sudah lebih dari cukup.


🌸


Bersambung...


*Hai kesayangan emak.


Emak boleh minta sesuatu gak?


Iniloh, komen like favorit dan vote karya emak.


Dan satu lagi, klik rating 5 dong..

__ADS_1


Boleh ya? boleh dong*..


__ADS_2