Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Tamparan


__ADS_3

Keluarga Alexander masuk sudah beberapa menit lalu namun agaknya belum ada yang ingin membuka suara.


Namun tatapan tajam Nina pada Risa sedari tak juga berubah. Rasa kesal masih tertahta pada suaminya yang tak kunjung datang di tambah mertuanya berada di ruang rawat membuat ia semakin tak nyaman.


Mengingat bagaimana perlakuan buruk keluarga itu membuat ia takut jika mereka menyerangnya dalam keadaan lemah seperti saat ini.


"Berapa lama kalian sudah menikah?" tanya Papa Ansor dingin.


"Hampir dua bulan." jawab Nina tak kalah dingin. Bagaimana pun ia tak ingin terlihat dalam ke adaan takut saat ini.


Belum sempat Papa Ansor bersuara, pintu ruang rawat Nina terbuka dan tampak Nazeef masuk dalam keadaan kusut.


"Beb." panggil Nina berpura-pura tidak terjafi sesuatu diantara mereka.


Nazeef mendekat lalu memeluk Nina dengan erat. Sunggjh, ia sangat merindukan dan mengakui kesalahan nya.


"Apa mereka berbuat sesuatu padamu?"


"Enggak."


Ada rasa lega dihati mendengar itu, akhirnya Nazeef bertanya maksud kedatangan mereka dan sesuai dugaan, pasti mereka meminta maaf dan mengiba agar fasilitas dan kemewahan lain nya tidak di sita olehnya.


Di sudut ruangan, sepasang suami istri lain nya sedang menyaksikan perseteruan keluarga. Nadira bersandar di dada Qenan tampak nyaman begitu juga Qenan sangat suka di posisi seperti ini.


Dengan posisi begini, ia menjadi leluasa menyentuh apapun di diri sang istri. Bahkan tanpa sepengetahuan orang lain, tangan Qenan sudah masuk ke dalam baju yang di gunakan Nadira.


"Jangan nakal, Nan."


"Iya." tangan Qenan mengelus perut Nadira yang sudah tampak membuncit.


Gerakan tangan terhenti ketika merasakan denyutan yang tak biasa dari perut Nadira. Pandangan keduanya bertemu lalu tersenyum bahagia ketika mereka sadar bahwa itu adalah tendangan pertama dari calon anak mereka.


"Sayang, Edzard gerak." ucap Qenan tercekat dengan mata memerah menahan tangis bahagianya.


Nadira berdecak. "Qenan, bahkan anak kita belum terbentuk sempurna. Kenapa kamu udah menamainya?"


"Sayang, lupa kalau nama pabrik dan Perusahaan kita itu nama anak kita?"


"Iya, tapi gimana kalau anak kita cewek?"


"Nggak apa, kiga buat lagi aja."


"Issh, dasar mesum."

__ADS_1


...****...


Pada akhirnya Nazeef membiarkan papa Ansor tetap tingval di mansion bersama istfi dan anak tirinya dengan catatan harus bekerja jika ingin memiliki uang.


Tidak bekerja maka tidak ada uang. Kartu kredit sudah Nazeef nonaktifkan. Sekarang saatnya ia harus membujuk rayu sang istri agar tidak marah kepadanya.


"Hei, pulang sana." ucap Nazeef kepada Qenan dan Nadira.


"Oke."


Qenan dan Nadira pamit pergi kembali ke hotel.


"Beb, maaf."


Nina memandangi wajah Nazeef lalu mendengus. "Pergilah, Zeef. Rasanya melihat wajah mu membuat aku ingin menamparmu." Nina membuang muka tak ingin melihat Nazeef lagi.


Nazeef menelan saliva mendengar perkataan istrinya. Berpikir apakah ini termasuk bawaan hamil? tetapi mengapa berbeda dengan Nadira dan Melinda, pikirnya.


Nadira aja manja dan Melinda masih biasa bahkan lebih perhatian ke Dion. Tapi kenapa Nina semakin galak?


Nazzef duduk disebelah brankar. "Kalau misalnya kamu tampar aku, bakalan maafin aku?"


"Iya."


"Ya udah, tampar beb. Penting kamu maafin aku."


Nazeef melihat mata binar Nina hanya bisa menelan saliva dan pasrah. Tak mungkin ia bilang tak boleh karena memang dirinya yang menawarkan tadi. Ia berpikir bahwa Nina tak akan seantusias ini.


Akhirnya anggukan samar darinya dan membuat Nina tersenyum senang.


Dengan mata terpejam menanti tamparan itu tiba. Dan benar saja, tamparan itu terasa amat pedas. Bahkan ka melongo merasa tak percaya bahwa istrinya sendiri benar-benar menamparnya barusan.


Gila bener anak gue, ternyata anak gue lebih menyebalkan daripada anak Qenan. Awas aja lo kalau lahir. Umpat Nazeef dalam hati.


"Udah nggak marah kan?" tanya Nazeef sembari mengelus pipinya yang masih teras sakit.


"Udah. Oh iya, gimana keadaan anak kita?"


"Dia sehat, kamu nggak boleh setres, dan harus banyak istirahat."


...****...


Dua hari berlalu, kini rombongan Qenan telah kembali ke Indonesia. Nadira sendiri kini telah menjalani kuliah secara online. Agaknya Qenan sudah melarang dirinya pergi tanpa sang suami.

__ADS_1


Pagi ini, para suami telah berangkat untuk mengais rejeki. Dan para istri sudah berkumpul di rumah Nadira baru saja selesai mengerjakan tugas kuliah bersama.


"Akhirnya punya waktu tanpa oppa." celetuk Melinda karena terkadang merasa terganggu dengan manja nya Dion.


"Gue malah senang tanpa Nazeef, kalau ada dia rasanya pengen gue bejek." Nina menimpali.


Sedang Nadira hanya diam saja karena tentu ia merasa ada yang kurang.


"Napa diem aja, lo?" tanya Nina menyadari sahabatnya diam bermuram durja.


"Kangen Qenan."


Jawaban Nadira membuat kedua wanita itu memutar bola mata malas.


"Nanti waktu makan siang kan ketemu."


Untuk mengalihkan kesedihan Nafira, mereka akhirnya memilih menonton drama korea. Diantara ketiga wanita hamil itu hanya Nina yang tidak merasakan apapun, ia seperti tidak sedang hamil.


...****...


Jam makan siang telah tiba. Dion sudah bertandang di ruang kerja Qenan. Seperti rencana meraka pagi tadi.


"Sebenarnya kemana nya istri-istri kita?" tanya Dion mulai kesal karena belum ada penampakan sang istri datang.


"Mereka udah ada disini tapi masih bergosip riya di lobby." Qenan mengetahui karena sudah diberitahukan pihak resepsionis ke Nazeef dan pria itu melapor padanya.


Sedang di Lobby. Ketiga wanita itu sedang asyik mengobrol. Namun mendadak canggung ketika salah satu pegawai menanyakan sesuagu yang menyinggung hati Nadira.


"Kenapa sampai sekarang belum ada acara resepsi pernikahan bos Qenan dengan nona? apa pernikahan kalian di rahasiakan karena ada unsur tersembunyi?


Tidak ada jawaban karena Nina sudah membawa Nadira pergi dari sana. Ia tahu sahabatnya itu pasti akan murung dan tidak bisa menyembunyikan perasaan nya di depan Qenan.


"Dir, jangan pikirkan itu."


"Dia bener, Nin. Kenapa sampek sekarang enggak ada resepsi? dan bener, aku masih di rahasiakan."


"Kakak jangan ngomong gitu, kan bos Qenan udah umumin kalau kakak istrinya."


Nadira hanya diam saja karena mereka sudah masuk ke dalam ruang kerja Qenan.


Setelah personil lengkap mereka pergi ke restoran. Sepanjang makan siang, Qenan menyadari keanehan dari Nadira.


Tetapi ia tak ingin bertanya sekarang, biarlah nanti setelah pulang kerja baru ditanyakan.

__ADS_1


❤️


Bersambung..


__ADS_2