
Arus waktu terus mengalir, membawa untaian kisah perjalanan hidup manusia. Tidak terasa satu revolusi bumi telah terlewati tanpa melepas asa. Dan selama itu pula segumpal hati terus merana. Jiwa seolah tenggelam dalam sepi, meski ingar-bingar keramaian kota menguar tak terjeda.
"Buset dah Mr.Axel buat gue pusing. Rasanya pingin penggal kepala sendiri karena tugas nya." gerutu Nazeef sembari menikmati pijatan dari Dion.
Qenan berdecak. "Katanya lo suka ngitungin duit gue, ini cuma ngitungin gitu doang langsung masuk angin lo." cibiran Qenan sembari membalikkan lembaran buku yang di bacanya.
"Ya ngitung rupiah mah enak boy, ini dolar."
"Aw, sakit Ion bege." ringis Nazeef karena kepala nya mendapat pukulan dari Dion.
"Boleh debat tapi jangan gerak kalau minta di pijitin."
"Iya-iya."
...****...
Qenan tak lagi berdebat karena video call nya dengan Nadira sudah tersambung. Bibirnya tertarik keatas ketika wajah Nadira terlihat di layar ponselnya.
"Hai sayang."
"Hai Nan. Masih jam 4 pagi disana kan? kok udah bangun?"
Qenan tersenyum. Andai Nadira tahu bahwa dirinya disini begitu sibuk dengan tugas kuliah dan usaha kafe dan distro kaos nya. Apalagi saat ini ia sedang membangun pabrik makanan.
Beruntung papa Reno mau menghandle pembangunan pabrik tersebut.
"Baru selesai ngerjain tugas. Kamu mau kemana?" tanya Qenan curiga karena melihat Nadira berpakaian rapi.
Tampak Nadira mengarahkan kamera perlihatkan kedua sahabatnya juga berpakaian rapi.
"Kami mau jalan-jalan. Qenan, apa pergaulan disana membuat kamu suka rambut panjang?"
Sepertinya Qenan melupakan satu hal. Istrinya itu selalu cerewet jika masalah rambut.
"Belum sempat sayang, besok aku pangkas ya."
Tanpa terasa mereka mengobrol hampir satu jam. Hingga Nadira pamit menutup sambungan video call dengan alasan sudah akan berangkat.
Entah kemana tujuan istrinya itu pergi. Ia lupa untuk bertanya tadi.
"Boy, tadi nampak Nina nggak?" tanya Nazeef mendekati Qenan.
"Hem." jawab Qenan berdehem.
"Kalau Melinda?" tanya Dion.
"Ya, kayaknya 3 cewek itu baik-baik aja gak ada kita." Ada rasa tak enak di hati Qenan.
Terdengar ketiganya menghela nafas.
"Ngantuk gue, mau balik ke kamar deh."
"Nggak jadi nginep boy?"
__ADS_1
Qenan menggeleng lalu bangkit keluar kamar Nazeef menuju kamarnya.
Begitu sampai di depan pintu, ia kembali menghela nafas. Di ambil nya kotak hadiah dan setangkai mawar itu lalu seperti biasa, ia akan membuang nya tanpa membuka kotak hadiah tersebut.
Pengganggu!
Di dalam kamar, Qenan memandangi lukisan yang selalu membuatnya rindu.
"Maafin aku Ra, aku gak pernah kasih harapan bahkan aku gak pernah ngomong sama dia. Aku risih dia terus berbuat kayak gitu."
Setelah banyak mengaduh keluh kesah, Qenan memilih tidur sejenak sebelum pukul 10 masuk kuliah.
...****...
Pagi hari, Ketiga pria muda itu sedang sarapan roti bersama. Selama kuliah di Stanford university, mereka bertiga tidak menunjukkan bahwa kehidupan mereka bergelimang harta.
Karena bukan itu tujuan mereka melanjutkan pendidikan disini.
"Qenan." panggil seseorang yang berasal dari Indonesia.
Qenan tak mengalihkan pandangan apalagi menjawab panggilan orang itu. Dirinya hanya fokus menatap layar ponsel sedari tadi mati tak ada pesan dari Nadira.
Kemana istriku yang pesek itu?
"Qenan, nanti belajar bareng lagi ya." Tanpa rasa malu ia duduk di sebelah Qenan tak menghiraukan Nazeef dan Dion.
"Qen." seru seseorang itu tak lain adalah Bella sang pengirim kotak hadiah dan setangkai mawar merah.
"Sialan." umpat Qenan tak terima disentuh Bella.
"Jauhkan tangan kotor lo dari tubuh gue." Qenan menatap tajam Bella lalu beralih ke arah dua sahabatnya.
"Kalian tahu kalau gue paling nggak suka tubuh gue di sentuh orang yang gak penting di hidup gue, tapi kenapa kalian diem aja cewek ini deketi gue?" ucapnya emosi lalu berjalan meninggalkan mereka yang duduk termangu.
Sepeninggal Qenan, Nazeef dan Dion masih diam saja.
Tetapi tidak dengan Bella, ia semakin penasaran dengan Qenan karena sangat sulit membuat takluk dan sejatinya suka akan tantangan seperti ini.
Ku pastikan kamu akan jadi milik ku.
"Bella, mending lo jangan dekat-dekat sama Qenan. Dia udah ada yang punya."
Tidak menjawab tetapi seringai meremehkan terbit disana lalu pergi begitu saja meninggalkan Nazeef dan Dion.
"Ion."
"Hem."
"Lo masih ada rasa sama Melinda nggak?" tanya Nazeef menatap lurus ke depan.
Terdengar helaan nafas dari Dion. "Masih, ternyata rasa kecewa gue ke dia kalah sama perasaan gue ke dia."
"Jadi kalau misalnya dia jujur apa yang di sembunyikan, apa perasaan lo tetap sama?"
__ADS_1
Dion mengedikkan bahu. "Gue nggak tahu. Dan lo, gimana sama Nina?"
"Gue nggak tahu, mungkin dia udah nikah sama si Arga itu."
Dion menoleh menatap Nazeef lalu menatap lurus ke depan lagi. "Dan lo masih ada rasa sama dia?"
Nazeef mengangguk. "Gue udah lama kenal sama dia Ion. Dari sebelum Nadira kerja di kafe kami udah dekat terus entah kenapa dia berubah, dan ya seperti ini kami."
"Ternyata menata hati itu sangat sulit." imbuh Nazeef lagi.
...****...
Dari terbit matahari terbit di ufuk timur hingga tenggelam di ufuk barat Nadira belum juga bisa di hubungi. Hati suami semakin resah bahkan emosi sudah tak terkontrol lagi.
"Mungkin lagi sibuk Nan." Dion mencoba menenangkan Qenan.
Ia sebenarnya juga khawatir karena nomor Nadira, Nina, dan Melinda tak bisa di hubungi.
"Zeef, coba telepon papa dan lo telepon papa Surya juga Wido." titah Qenan tak terbantahkan.
Di teguk lagi white wine yang sedari menemani nya. Pikiran buruk terus melayang antara takut Nadira dalam bahaya atau Nadira sedang ada affair dengan yang lain.
"Kata papa, Nadira sedang pergi bareng Nina dan Melinda. Tenang lah Qen, kamu harus percaya sama Nadira." ucap Dion mencoba menenangkan.
"Terus apa kata Wido?"
"Dia lagi ada di Sulawesi jadi nggak tahu."
Kini ketiga pemuda itu diam dengan hati yang berkecamuk. Sama-sama sedang berpikir kemana tiga wanita muda itu.
Di malam itu, ketiga pria muda itu menghabiskan malam dengan menikmati white wine untuk menghangatkan tubuh.
"Zeef, kunci pintu dan sembunyikan dari jangkauan kita." tutur Qenan.
Mereka memiliki tujuan awal, mabuk bersama untuk menghilangkan kekhawatiran kepada wanita yang bersarang di hati mereka masing-masing.
🌸
Bersambung..
*Hai kakak yang komen di part sebelumnya yang bilang 'jijik kayak binatang'.
Kakak tahu gak itu nyakitin banget loh.
Buat novel itu enggak gampang tahu. Aku juga gak minta para readers utk komen yg bagus-bagus. Aku terima semua para readers yang komen.
Tapi cuma kakak loh yg aku rasa gak ada sopan-sopan nya.
Kan pernah ku jelasin ini novel cerita kehidupan bebas, bukan ke agamaan. Kalau mau ke agamaan sok atuh baca di novel ku yg judulnya 'Jodoh KEDUA'.
Jijik kayak binatang?
-Ya udah kakak buat novel sendiri gih*.
__ADS_1