
Mungkin ungkapan perasaan 'rindu itu berat' memang benar demikian dan dirasakan banyak orang. Terasa begitu menyakitkan ketika seseorang merasakan rindu terhadap seseorang namun hanya bisa memandangi potretnya lewat ponsel secara berulang-ulang. Memutar musik dengan playlist lagu rindu dan berharap perasaan itu segera sirna. Namun yang terjadi perasaan itu malah kian bergejolak dan menyiksa diri.
"Merindukanmu adalah hobiku, merawatmu adalah pekerjaanku, membuatmu bahagia adalah tugasku, dan mencintaimu adalah hidupku."
"Dan aku sedang melakukan hobi ku lagi."
Termunung adalah cara mengusir kerinduan. Ia tahu ini salah, bahkan dirinya lah sumber masalah dari awal. Jika saja ia tidak hadir di kehidupan Qenan, pasti Rania sudah bahagia.
Tetapi ia tetap bertahan dan setelah Rania tak lagi mengganggu hubungan nya dengan Qenan, Rania datang meminta untuk Wido menikahinya. Lagi-lagi karena dirinya hubungan Wido dan Rania tidak baik.
"Ibu, apa ini sudah benar?" tanya anak laki-laki berusia 5 tahun menghampiri Nadira.
"Nomor 1 benar, nomor dua masih salah, Fajar. Coba ulang lagi. 5 di kepala, 3 di jari tangan. Sekarang hitung."
Anak laki-laki bernama Fajar itu mempraktekkan apa yang di lakukan Nadira barusan.
Selama berada di daerah jauh dari ibukota, Nadira ikut menjadi relawan yang ada di desa itu. Memberikan ilmu pengetahuan usia dini. Tanpa di pungut biaya.
"8 ya Bu?" tanya anak laki-laki itu.
Nadira tersenyum dan mengangguk lalu mengacak rambut anak itu. "Anak pintar."
...****...
Di Edzard Abraham Company.
Pria muda sang Direktur Utama masih sibuk berkutat pada Laptop dan Berkas-berkas di atas mejanya. Tidak menghiraukan kedua sahabatnya sedari tadi berada dalam ruangan nya.
"Ayo makan siang dulu, boy." ajak Nazeef karena semenjak kepergian Nadira, ia juga terkena imbas nya. Jam kerja bertambah sedang jam istirahat berkurang.
"Ayolah kakak ipar, gue juga bosan nungguin lo kerja." sambung Dion.
Qenan tersenyum miring. "Kakak ipar? bahkan dia tega ninggalin gue dan surat itu? dia nggak inginkan gue lagi."
Dion menghela nafas panjang. Mungkin sudah saatnya mengatakan sesuatu yang ia tahu pada malam itu sebelum akhirnya mereka berada di hotel memergoki jebakan yang dibuat Rania dan Bella.
"Nadira itu-."
"Jangan sebut nama istri gue, Ion." bentak Qenan yang dari dahulu tidak rela pria lain menyebut nama istrinya.
Kedua sahabat Qenan berdecak sebal karena masih sempat-sempatnya cemburu di waktu seperti ini.
"Baiklah, kakak gue yaitu istri lo itu lagi sensitif. Lo masih inget kan waktu kakak gue yaitu istri lo hamil? Nah, dia sekarang lagi ngalamin itu lagi."
__ADS_1
Hening.
Seakan sedang mencerna ucapan sahabatnya yang sengaja dibuat berputar akhirnya ia paham.
Ada binar dimatanya namun takut untuk berharap lebih. "Apa dia ha-hamil?"
Dion mengangguk. "Ya, malam itu seharusnya istri lo itu mau kasih kejutan sama lo, eh nggak tahu nya lo yang kasih kejutan ke dia. Ck, kalau gue jadi Nadira juga bakal marah dan ninggalin lo."
Qenan yang tadinya tersenyum menjadi hilang kembali setelah mendengar perkataan Dion. Padahal jika mereka sadari, senyuman itu adalah senyuman pertama kali setelah Nadira pergi.
"Tolong ya pemirsa, gue udah nahan lapar dari tadi." umpat Nazeef sedari tadi diam saja.
"Pesan aja, Zeef."
"Oke."
Nazeef memesan makanan yang tidak ada menu ayam dan seafood karena itu bisa memengaruhi mood Qenan yang tengah bahagia atas kabar kehamilan Nadira.
...****...
Usai makan siang, 3 pria itu mendatangi kantor papa Surya. Meminta izin untuk bertemu papa Surya namun di tolak karena papa Surya sudah marah dan kecewa dengan Qenan.
Disini lah mereka sekarang, di ruang kerja Wido namun tidak ada yang berbicara sepatah kata pun.
"Dimana istriku om?" tanya Qenan tak sabar.
"Istri? kamu udah tahu kan isi surat itu?" Wido menatap Qenan dengan wajah datar.
"Ya, tapi aku belum tanda tangani itu, dan perpisahan itu gak akan terjadi karena Nadira sedang hamil."
Wido tersenyum miring. Mungkin memberi pelajaran sedikit lebih menarik.
"Tapi sayang, kami akan segera menikah. Aku gak permasalahkan anak yang dikandung Nadira. Toh Nadira juga menyayangi anakku. Kami bisa membuat lagi setiap malam."
Qenan mendengar itu membuat rahangnya mengeras dan kedua tangan terkepal di atas pahanya. Sedang dua sahabatnya tercengang mendengar apa yang dikatakan Wido.
Benarkah?
"Bahkan kami sudah pernah itu." Sebenarnya arti dari itu ketika baby Aditya sakit dan Nadira mengurusnya dengan telaten hingga Nadira tertidur di ranjang bersama baby Aditya sedang dia tidur di sofa ruang tamu.
Brak
Meja di depan Qenan sudah melayang ke depan akibat sepak terjang yang ia lakukan. Hatinya tak cukup kuat menerima kenyataan jika memang itu adanya.
__ADS_1
"Jangan coba-coba menyentuh milikku. Selama ini aku membiarkanmu, tapi sekarang tak akan lagi." Qenan bangkit menodongkan senjata ke arah Wido. Keahlian Qenan yang tak diketahui Nadira kini ia tunjukkan.
Wido berdecak lalu mengeluarkan senjata yang sama lalu meletakkan di atas meja. "Coba kendalikan dirimu, sebagai pemimpin yang utama kendalikan diri dan tetap teliti. Kenapa tak berpikir, kalau aja aku mau pasti udah lama Nadira menjadi milikku."
Qenan tertegun namun tetap senjata itu tak berpindah arah.
"Bandung." sambung Wido lagi.
...****...
"Hei kalian, cepat bersihkan kamar ini."
"Ogah. Lepaskan kami cepat."
Bodyguard bertubuh tegap dengan kulit sawo matang itu mendekat lalu menjambak rambut dua wanita tawanan yang menjadi pelampiasan menuju puncak nirwana.
"Awh." pekik Rania dan Bella.
"Jangan coba-coba membantahku. Bukan kah udah diperingatkan jangan sekali-kali mengganggu kehidupan nona Nadira. Inilah akibat nya."
"Cepat kerjakan tugas mu." bentak bodyguard itu bernama Ja'far.
Sebagai pemimpin anak buah Wido tentu ia memiliki kuasa di markas ini. Bukan hanya Rania dan Bella yang pernah datang kesini. Sudah banyak wanita malam ia bawa kesini hanya untuk kesenangan dirinya dan anak buahnya.
Dapat merasakan janda tuan nya sendiri itu sesuatu berharga dan ia akan menikmati nya sampai merasa bosan.
Satu hal yang hingga kini membuatnya bertanya-tanya.
Pesona apa yang dimiliki nona Nadira hingga tuan nya megitu mencintai nya.
"Akkhh.." Ja'far mengerang di dalam milik Rania lalu ia mengaggahi Bella karena ia mengagumi kedua tubuh wanita itu.
Beberapa saat kemudian Ja'far keluar kamar dengan tubuh yang lebih segar. Di lihat kedua ketuanya sudah menunggu di ruang tamu.
"Bang." serunya pada Emon dan Donal langsung mendapat cebikan dari mereka.
"Kamu pakai keduanya?" bisik Emon.
Jafar mengangguk lalu tertawa renyah. "Keduanya sama-sama membuatku gila."
"Awas jatuh cinta."
🌸
__ADS_1
Bersambung..