
Sangat sulit berubah menjadi apa yang diinginkan seseorang yang kita suka. Nazeef bukanlah Qenan yang tega menolak cewek mendekatinya dan ia pun tak akan memutuskan mereka lebih dahulu karena menurutnya lebih baik di putuskan dari pada memutuskan hubungan.
Tak ingin menyakiti lebih dalam.
Belum lagi ia sudah beberapa kali tidur dengan cewek-cewek itu. Tapi percayalah, tak pernah sekalipun ia berinisiatif untuk memulai nya. Cowok mana yang menolak bila di suguhkan keindahan tubuh polos di depan nya.
Ada sih, kedua sahabatnya. Qenan dan Dion.
Pernah suatu waktu ia dan Qenan berada di sebuah club' malam terkenal di kota Jakarta. Tidak ada temuan bisnis, ia sengaja mengajak Qenan untuk bersenang-senang selagi papa Reno dan mama Sinta tidak berada di Indonesia.
Sesampainya di club' malam ia pun sengaja tidak memesan ruang privasi agar Qenan bisa melihat banyak cewek-cewek seksi disana dari yang masih SMA seperti mereka sampai lebih dewasa dari mereka.
Bahkan bisa melihat adegan mesum disana. Biarlah mereka mengatakan ia adalah sahabat yang membawa pengaruh buruk namun nyatanya malam itu ialah yang meninggalkan Qenan beberapa saat karena tak tahan di goda cewek sedari tadi duduk di pangkuan nya.
Jangan tanyakan bagaimana Qenan malam itu. Cewek yang hendak mendekati Qenan pasti akan ciut ketika mata elangnya menatap para cewek-cewek tersebut.
Dasar Qenan.
Malam ini Nazeef berencana menemui Risa. Pacar terlama dan belum pernah melakukan hal-hal bercinta. Hanya sekedar ciuman. Karena menurutnya, kegigihan Risa untuk mendapat cintanya tak layak bila iapun menghancurkan masa depan nya.
Walau ia yakin Risa bukan lagi gadis karena sudah sering pacarnya yang satu itu mengajaknya bercinta.
"Maaf lama ya?" tanya Risa baru saja datang dimana mereka janjian.
"Gak kok." sahutnya.
"Ada apa beb? tumben ajak aku ketemu tiba-tiba? gak ada jadwal sama yang lain?"
Nazeef tersenyum kecut mendengar pertanyaan tersebut.
"Nanti aja aku ngomong nya. Mending kita makan dulu. Gue udah pesenan makanan kesukaan lo."
"Oke."
Keduanya tak ad yang bicara hanya suara dentingan sendok dan suara-suara dari pengunjung lain nya di restoran tersebut.
Nazeef terus saja memikirkan rangkaian kata hingga kalimat untuk menyampaikan pada Risa.
"Ris."
"Ya.."
"Kita putus."
Terdengar dentingan nyaring akibat sendok dan garpu yang di pegang Risa beradu dengan piring kacang tersebut.
"Pasti karena cewek pelayan kafe itu kan?"
Risa menggeleng tak terima di perlakukan seperti itu terhadap Nazeef.
"Aku gak mau tahu Zeef. Aku nunggu kamu dan terima bagaimana bejat nya kamu itu semua karena aku cinta sama kamu. Dan sekarang kamu seenaknya aja mutusin aku?" Risa berbicara sedikit meninggi.
"Maafin aku, tapi cinta gak bisa di paksa kan."
Risa menghentikan makan nya lalu mengambil jus untuk di tegaknya sebelum berbicara kembali.
"Apa selama ini aku ada maksa kamu untuk setia? nggak kan? kata kamu cinta gak bisa di paksa kan? bagaimana kamu bisa cinta aku karena kamu gak pernah mau mencoba untuk buka hati mu. Dan satu lagi, apa kamu yakin perasaan mu ke cewek itu beneran cinta? atau hanya obsesi sama penasaran secara kamu bolak-balik di tolak sama dia."
__ADS_1
Nazeef terdiam tak dapat menjawab, lidah nya keluh untuk menyangkal apa yang di katakan Risa.
Apa benar ini cinta?
...****...
Di kediaman Surya Wijaya, tanpa sang anak laki-laki nya tengah sibuk dengan kuas dan kertas canvas di depan nya.
Menumpahkan segala sepi nya lewat melukis sudah menjadi kebiasaan untuk Dion. Beberapa menit lalu papa Surya pamit untuk pergi ke luar kota meninjau bangunan hotel mereka sedang Nadira pergi setelah papa Surya.
Jadilah ia berada di sini, di ruang lukis khusus untuknya. Kesan artistik diberikan pada lantainya. Dengan cat putih yang dominan dan juga lampu gantung yang terang akan memberikan penerangan saat ia membuat karyanya.
"Siapa dari tadi hubungi? sangat berisik." ucapnya mendengar suara dering ponsel berada di meja depan sofa di salah satu pojok ruangan.
Ia memilih melihat siapa saja yang menghubungi nya. Ada Nadira, Rania, dan nomor baru yang tak ia kenal.
"Ada apa Rania hubungi aku lagi?"
Ia pun membuka salah satu aplikasi chat. Ada pesan masuk dari grub OSIS memberi tahu besok sebelum pukul 07.00 WIB haru sudah berada di sekolah. Lalu di buka lagi dari Nadira menanyakan apa dirinya tak apa di rumah sendiri dan ia pun membalasnya bahwa ia baik-baik saja.
Rania :
Maafin gue Ion.. Jangan cuekin gue.
Ya, sebelum kejadian waktu itu memang Dion begitu perhatian pada Rania, sadar jika itu bukan lagi perasaan antara sahabat walau ia tahu Rania terobsesi pada Qenan. Tapi setelah kejadian itu, Dion benar-benar tak lagi menghubungi Rania begitupun di sekolah Dion selalu menghindar dari Rania yang katanya sangat menyesal.
Entahlah.
Lalu ia penasaran dengan nomor baru yang tak tersimpan di ponselnya. Sebelum membuka isi pesan tersebut, ia menekan foto profil nomor tersebut.
Foto seorang cewek tanpa menatap kamera. Memakai kaos putih dengan corak tulisan merah di bagian belakang. Rambut pendek memakai riasan rambut sebuah bindana berbentuk dua telinga animal berwarna merah muda. Jangan lupakan pipi tembem nya.
Sejenak apapun ia tetap saja membaca pesan dari Melinda si cewek berisik menurutnya.
*Malam oppa ku sayang...
Udah makan belum?
Kapan ajak Elin keluar?
Malam Minggu jalan yuk..
Jangan kesal baca pesan dari Elin.. Nanti jatuh cinta loh kayak Elin jatuh cinta pada pandangan pertama sama oppa.
Tapi gak apa-apa juga, biar kita jadi pasangan. Hihihi 😁
Oh udah di baca ya pesan Elin*.
Belum sempat menutup pesan tersebut Dion sudah di kejutkan dengan panggilan video call dari Melinda. Tentu itu membuat Dion jengkel namun tetap saja hatinya itu mengusap tombol hijau di layar ponsel tersebut.
Tampaklah dua wajah yang baru saja beberapa jam lalu kenalan.
"Oppa..." panggil Melinda girang.
"Hem." jawab Dion tanpa sadar ia menerima panggilan itu dari Melinda.
Dion menunduk tanpa menatap ponsel karena tengah mengupas kulit permen tangkai. Dan hal itu di manfaatkan Melinda untuk memandang wajah Dion.
__ADS_1
"*Oppa.. Oppa.." panggil Melinda lagi membuat Dion menatap ponsel dan melihat dirinya.
"Oppa mau lihat sesuatu gak di tangan aku?" tanya Melinda masih dengan senyum terukir disana*.
"Apa?" tanya Dion sembari menge mut permen itu.
Melinda pun menyandarkan ponsel lalu dengan semangat ia memperlihatkan sepasang love finger di kedua tangan nya.
Dion hanya berdecak memutar bola mata malas. Tak habis pikir dengan cewek berisik itu.
"Becanda lo gak lucu." kata Dion.
"Iihh.. Oppa, aku serius.."
"Jangan terlalu naif dan jangan asal ngomong baru ketemu udah ngomong suka, cinta, apalah.."
*Di seberang sana Melinda tersenyum. Entahlah.. Sepertinya otak di kepala sudah konslet, karena apa? lihat saja, Dion tengah marah-marah tetapi ia santai saja.
"Aku akan buktikan kalau aku bisa membuat oppa jatuh cinta*."
"Terserah." Dion mematikan video call sepihak. Ia merasa jengah dengan kelakuan Melinda.
*Cewek gila.
🌸*
Bersambung..
Maafkan emak yang gak bisa balas komenan sayang-sayang satu persatu tapi percaya lah.. Emak selalu bacain komen kalian.
Dion Marsheleo Wijaya.
18 tahun.
Anak yang merindukan kasih sayang kedua orang tua.
Suka dengan ketenangan.
Wajah imut dan manis.
Hidung Mancung.
Bibir hampir sama dengan kakak tirinya, dimana bibir bawah lebih tebal dari bibir atas. Bedanya bibir bawah Nadira terbelah sedang Dion tidak.
Melinda.
16 tahun. (Kecepatan masuk sekolah dasar)
Polos dan manja.
Ceplas-ceplos.
Tidak bisa menyembunyikan perasaan.
__ADS_1
Pantang menyerah dan Jarang mengeluh.