Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Takut


__ADS_3

"Come on brother, bless their marriage okay." bujuk papa Reno setelah mereka berdiam diri.


Satu jam lalu papa Reno dan mama Sinta tiba di apartemen papa Surya. Dan disinilah mereka bertiga masih dalam suasana tegang.


"Aku bukan tak merestui Ren, tapi aku nggak mau Nadira bernasib sama seperti Melati."


"Oh tentu tidak. Karena darah ku mengalir di tubuh Qenan. Apa kamu lupa kalau aku adalah pria yang setia? bahkan cinta ku semakin bertambah setiap saat nya untuk istriku.


"Dari dia yang menjadi mahasiswi baru dengan rambut di kepang dua dan kaca mata besar nya itu sampai sekarang menjadi wanita modis, cinta ku tak pernah berkurang sedikit pun. Dan ku pastikan putra ku juga begitu."


Papa Surya bergeming, ia tak menampik hal itu. Tetapi siapa yang tahu? kisah cinta sahabatnya itu berbeda dengan kisah cinta anak mereka.


"Dimana Qenan?" tanya papa Surya.


"Menemui istrinya."


Papa Surya hanya berdecak mendengar itu. "Istirahat lah, aku mau ke rumah sakit dulu."


Papa Reno menggeleng. "Enggak, pokoknya kita disini aja. Mereka butuh bicara Surya.."


Papa Surya menuruti.


Tak berapa lama Dion tampak masuk ke apartemen papa Surya dengan wajah letih.


"Loh papa Reno? udah lama?" tanya Dion terkejut sesaat.


Papa Reno mengangguk.


"Sama mama?"


"Iya, mama lagi istirahat di kamar." sahut papa Reno mengukurkan tangan dan di terima Dion lalu dicium punggung tangan nya.


"Dion, apa kamu tahu kalau kakak mu dan sahabat mu itu udah menikah?" hardik papa Surya setelah tangan nya baru saja di cium Dion.


Dion berdehem. "Udah pa."


"Kenapa kamu nggak cerita ke papa?"


Dion menghela nafas panjang. "Itu bukan urusan Dion pa, karena seharusnya mereka yang jelasin ke papa."


Papa Surya mengusap wajah dengan kasar. "Oke baiklah, sepertinya hanya aku yang merasa takut disini. Aku restui pernikahan mereka tapi dengan syarat."


"Apa syarat nya?"


"Akan ku beri tahu setelah anak ku keluar dari rumah sakit."


"Dia menantu ku brother."


Papa Surya berdecak sekali lagi setiap papa Reno menyangkal sanggahan nya.


...****...


"Kemana aja?" tanya Nadira ketus setelah melihat Qenan masuk ke ruang rawat inap nya.


Qenan berdecak. "Ayolah istriku, aku kesini karena khawatir, kangen, dan pengen di peluk sama kamu."


Nadira memalingkan wajah ketika mendengar Qenan mengucapkan kata 'istriku'.

__ADS_1


"Kamu baik-baik aja kan saat aku nggak ada?" tanya Qenan mendekat ke brankar dimana Nadira berada.


"Anak kita.." mendadak suara Nadira berubah serak mengingat janin nya yang telah gugur.


Qenan mengecup dahi Nadira dengan sayang, mendekap dan membelai rambut panjang warna cokelat yang selalu harum memabukkan bagi Qenan


"Nggak apa, jangan dipikirkan. Aku yang salah udah buat kamu stres. Maaf."


Tangis yang sedari kemarin ia tahan kini pecah di dalam dekapan Qenan. Tak ada tempat ternyaman selain terdekap dalam dada sang suami.


"Kamu jahat Qenan.." tutur Nadira teringat perkataan sang papa.


"Iya aku jahat, maaf."


Kalian dengar?


Memangnya Qenan sudah tahu apa yang dimaksud Nadira?


Asal mengaku saja.


"Kamu bakal ninggalin aku kan?" tanya Nadira dengan suara serak nya.


Qenan mengurai pelukan dan memegang kedua bahu Nadira. "Siapa bilang aku bakal ninggalin kamu Ra? kita akan selalu bersama."


Nadira menggeleng tak percaya. "Kamu bakalan pergi Qenan.. Kalian akan kuliah ke Luar Negeri kan?"


Qenan menatap Nadira secara seksama, sekarang ia baru mengerti apa yang dimaksud istrinya kali ini.


"Kamu bisa ikut Ra.."


Nadira menggeleng lagi. "Itu gak mungkin Qen, papa Surya membutuhkan ku."


Nadira meraih tangan Qenan lalu menggenggam erat dan sesekali ia kecup dengan sayang.


Ia menjelaskan mengapa tak mungkin ikut bersama mereka sementara papa Surya sendiri di Indonesia.


Dan ia menjelaskan mengapa papa Surya begitu keras terhadap Dion dan sangat meminta Dion harus seperti Qenan.


"Gimana kamu tahu kalau papa Surya sakit? bisa aja itu akal-akalan papa Surya karena gak restui hubungan kita Ra.."


"Aku membaca hasil pemeriksaan medis itu sendiri di meja kerja kantor papa Nan dan aku juga tanya Dion ternyata Dion gak tahu soal sakit itu."


Keduanya terdiam cukup lama namun kedua tangan itu saling menggenggam.


"Kapan kamu berangkat?" tanya Nadira.


"Bulan depan."


Nadira menghela nafas panjang.


Bohong jika ia rela terpisah, namun bukan hanya sekedar tentang hubungan mereka tetapi harus menjaga orang-orang disekitar hubungan mereka.


Tadi saat berbicara dengan papa Surya dan mendengarkan alasan mengapa di awal papa Surya tak setuju.


Papa Surya takut Qenan akan seperti dirinya yang bajingan sebagai seorang pria.


Apalagi Qenan akan tinggal di negara bebas dan sek*s itu adalah hal biasa walau tanpa ikatan.

__ADS_1


Papa Surya takut putrinya menjadi tersakiti.


Papa Surya hanya takut.


Siapapun ayahnya pasti mengalami hal sama saat mengetahui putrinya menikah. Apalagi menikah tanpa sepengetahuan dirinya.


"Kalau kita jauh, aku pasti merindukan mu Nadira Fazilla Zharifa."


Untuk pertama kalinya Qenan mengucapkan nama lengkap Nadira.


"Sama sayang. Aku pasti merindukan mu."


Lagi. Air mata itu tak dapat terbendung dari mata Nadira begitu juga mata Qenan yang sudah memerah menahan segala kesedihan akan berpisah dengan sang istri.


Hingga kedua bibir itu menyatu menyalurkan kesedihan yang menyelimuti hati mereka.


"Tetaplah menjaga hati untukku suamiku.." ucap Nadira setelah menyudahi ciuman dan dahi mereka saling menyentuh.


"Jangan pernah berpaling, ingatkan aku jika suatu saat mulai mengacuhkan mu."


Bukan tanpa alasan Qenan berbicara seperti itu, pastilah disana akan ada saat dimana ia dan kedua sahabatnya mencari hiburan bukan hanya menuntut ilmu disana.


...****...


"Melinda, kenapa lo harus berada di tempat itu?" selidik Nina ketika pulang kerja dan melihat Melinda keluar dari suatu tempat yang harus di jauhi.


"Terpaksa kak.." sahut Melinda dengan air mata yang sudah mengalir di pipi.


"Jelasin ke gue."


Akhirnya Melinda menceritakan sesuatu yang beberapa bulan ini ia lakukan dan membuat Nina terkejut.


"Gila, terus bokap lo gak sadar?"


Melinda menggeleng.


"Terus Nadira tahu?"


Melinda menggeleng lagi.


"Dion?"


Lagi-lagi Melinda menggeleng.


"Kenapa? gue lihat hubungan lo sama dia ada kemajuan."


"Gue takut dia benci sama gue kak.."


Nina menghela nafas panjang. "Tapi lebih baik tahu sekarang dari pada setelah hati kalian terlalu dalam. Dan itu orang parah banget sumpah. Pasti itu orang baik nya pas ada bokap lo aja kan?"


Melinda mengangguk.


"Tapi lo belum sampek sejauh itu kan?"


"Gue gak mau kak setiap ada yang minta. Gue cuma temenin minum udah itu aja."


"Lo harus hati-hati Elin."

__ADS_1


🌸


Bersambung...


__ADS_2