
**Hai kesayangan emak?
Hari ini sehat**?
**Sehat dong ya..
Oh iya, boleh dong emak minta vote dan favorit nya ya**..
Dan like juga komen biar emak tambah semangat..
ππππππππππππππππππππππππππππππ
"Qenan.. Lo gila apa? masa' harus kesini juga?" protes Nazeef karena mereka saat ini berada di rak khusus kebutuhan cewek.
"Diam dan ikuti."
Saat ini mereka berada di sebuah mall Jakarta. Tanpa rasa malu Qenan mondar mandir di jajaran rak khusus keperluan cewek.
Saat ini mereka tengah berada di depan pembalut wanita. Dengan cuek nya ia memilah-milah jenis pembalut yang sering ia lihat di lemari pakaian Nadira.
Overnight
Lalu ia mengambil ponsel mencari tahu di google tentang pembalut berjenis overnight itu.
"Oh.. Jadi ini dipakek kalau malem." gumam nya.
Sedang Nazeef sudah menahan malu karena mereka berdua menjadi bahan perhatian dengan tertawa kecil dari orang-orang.
Lalu ia mengambil salah satu merk juga berjenis ultra thin.
"Gue nunggu di mobil aja deh Qen.." keluh Nazeef tak tahan.
"Ikuti gue."
Nazeef hanya pasrah mengikuti Qenan sesuka hati.
Saat berada di tempat pakaian dalam cewek, Qenan baru merasakan hawa panas dingin disana sebab ia langsung mengingat tubuh polos Nadira. Tubuhnya meremang mengingat hal itu.
"Cari apa?"
"Cela na dalam." sahutnya santai.
"Qenan.. Lo gila." umpat Nazeef melihat Qenan merentang kan cela na da lam tidak merasa geli dan malu dengan hal itu.
Qenan sendiri tidak perduli dengan sekitar, fokus nya hanya satu. Memenuhi keperluan sang istri.
"Saya mau yang ini, ini, dan itu." tunjuk nya.
Setelah melakukan pembayaran, mereka kembali ke hotel dengan Nazeef yang terus mengumpat Qenan karena malu dan merasa images sebagai playboy nya hilang seketika.
Sedang Qenan mendengar umpatan itu hanya diam seribu bahasa bahkan tak menanggapi apapun dengan memasang wajah datar sama seperti semula.
__ADS_1
"Mau nginep disini atau pulang? biar sekalian." ucap Nazeef ketus.
"Pulang, tunggu sebentar."
"Jangan pakek ML segala."
Qenan hanya berdehem lalu keluar mobil menuju kamar Nadira dengan menenteng beberapa paperbag di kedua tangan nya.
Pintu kamar terbuka setelah ia mengetuknya tadi. Tarik nafas dalam-dalam lalu menghembus nya perlahan ketika melihat penampilan Nadira yang hanya menggunakan handuk terlilit menutupi dua aset berharga dan inti nya saja.
"Kenapa nggak pakek bathrobe Ra?" tanyanya dengan suara berat langsung masuk menutup pintu lalu mengunci nya.
Nadira terkekeh mendengar pertanyaan Qenan di tambah tatapan Qenan selalu menatap bahu dan paha nya yang terekspos sempurna.
"Jangan mesum, bathrobe nya basah tadi, aku nggak nyaman pakek nya."
"Mana ba-mmpptt.." Belum selesai Nadira bicara bibir nya sudah di bungkam oleh Qenan.
Paperbag sudah terhempas ke lantai beserta jaket Qenan. Ia seakan lupa peringatan Nazeef untuk tidak ML disini. Ia juga lupa jika hotel tempat mereka berada adalah milik papa Surya yang bisa saja tahu keberadaan mereka.
"Kamu semakin nakal Ra.." ucap Qenan setelah pasokan udara mereka menipis.
"Dan kamu semakin pandai buat aku melayang Qenan.. Aku suka setiap sentuhan mu." puji Nadira jujur.
"Itu karena kamu selalu buat aku puas." sahutnya sembari merapikan anak rambut Nadira kebelakang telinga.
"Udah ayo pulang, dimana baju ku Nan?" tanya Nadira menjauhi Qenan dan mendekati paperbag yang teronggok di lantai.
"Qenan.. Siapa yang membeli ini?" tanya Nadira masih melihat isinya.
"Aku."
"Yang pilihkan siapa?"
"Aku."
Nadira menoleh melihat Qenan sudah duduk santai di pinggir ranjang.
"Qenan.. Ini cela na dalam cewek, apa lagi ini? br*a? bagaimana kamu tahu ukuran punya ku? cerca Nadira.
"Gunain tangan lah Ra.. Aku kan udah pernah pegang, re mas, hi sap, di lu mat, di gigit juga." sahut Qenan frontal tanpa merasa bersalah.
Nadira hanya melongo mendengar itu, ia tidak menyangka seorang Qenan bagai patung bisa mengucapkan kalimat frontal seperti itu.
"Dasar Qenan omeeesss.." teriaknya bangkit ingin menimpuk kepala Qenan.
Namun naas, ketika berdiri handuk yang melilit tubuhnya merosot kebawah hingga tampak tubuh polos Nadira dan itu membuat keduanya terkejut.
Qenan menelan saliva susah payah memandangi keindahan di depan nya, sedari tadi ia sudah menginginkan Nadira namun mengingat Nazeef di bawah menunggunya. Tetapi melihat tubuh polos Nadira membuat ia gamang.
Boleh gak sekali aja Zeef? boleh ya..
__ADS_1
"Jangan menatapku kayak gitu, aku malu."
Qenan tidak menjawab karena ia sudah melangkah mendekatinya, menarik pinggang Nadira merapatkan tubuh tanpa jarak. Memberikan ciuman lembut penuh menuntut.
Mereka pun menikmati percintaan sepanjang malam.
...****...
Di tempat parkir hotel tersebut, Nazeef yang menunggu kedatangan suami istri muda itu terus menggerutu serta mengumpat sepanjang waktu.
"Lo yang bego Nazeef.. Ngapain lo nunggu pasangan halal itu dari tadi berada di kamar hotel. Tentu ajaereka lagi wik-wik kan?"
"Mending gue cabut." kata Nazeef melajukan mobilnya menuju apartemen.
Sedang di Kafe Hebat dimana Nina bekerja, ia pulang bersama dengan Arga. Keduanya saling bercanda.
"Nina.. Gimana? apa kamu udah punya jawaban untukku?
Nina tampak menghentikan tawa nya. "Maaf kak, Nina gak bisa terima kakak.."
"Tapi kenapa?" tanya Arga.
"Cinta gak bisa di paksa kan?"
Arga mengangguk mengerti, ia pun tak ingin memaksa kehendak karena ia tahu sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah membuat bahagia.
"Tapi kita masih bisa berteman kan?" tanya Arga.
"Tentu kak, aku bakalan senang punya kakak laki-laki." sahut Nina.
"Makasih ya.. Ayo pegangan, kakak akan ngebut."
"Iya, hati-hati loh kak.." ujarnya.
Ya, hingga saat ini hati Nina masih tertutup karena ia merasa belum ada seseorang yang membuat hatinya bergetar.
Tak memungkiri jika Arga lumayan gan tampan dan sangat baik, namun tetap saja hatinya menolak akan kehadiran Arga. Dan itu membuat merasa bersalah.
Ia sangat sadar melihat raut wajah Arga berubah kecewa saat ia menolaknya tadi. Namun bisa apa? ia tak suka dengan sesuatu yang di paksakan.
Sementara di tempat lain, di rumah yang cukup besar. Seorang pemuda yang tak lain adalah Dion, adik tiri Nadira sedang melukis sesuatu untuk mengalihkan hatinya yang kecewa.
Ini bukan sakit hati Dion.. Lo gak ngerasakan itu, Lo hanya kecewa lihat Rania begitu kejam ke Nadira bukan? Dan lo kenapa? kenapa lo jadi gini? astaga.. demi apapun gue gak ngerti sama diri gue sendiri.
Tanpa sadar lukisan sebuah mobil berubah menjadi coretan tak beraturan dan itu berhasil membuat Dion meradang pada dirinya sendiri.
Pa.. Ma.. Andai kalian tahu keadaan Dion disini.. Dion butuh kalian. Jerit Dion dalam hati.
🌸
Bersambung...
__ADS_1