
Mobil Qenan telah sampai di parkiran sekolah namun agaknya pemilik mobil itu enggan untuk keluar padahal siswa dan siswi lain mulai memasuki bus pariwisata yang akan membawa mereka ke puncak.
"Kita gak ketemu dua hari." rengek Nadira dalam pelukan Qenan.
Setangguh, sekuat, dan setegar apapun cewek bila sudah berada di dekat orang yang di cinta akan berubah menjadi manja.
Qenan mende sah bingung tak bisa berbuat apa-apa. Ia terus mengusap punggung Nadira berharap bisa menenangkan istrinya.
"Jangan menangis.." ucapnya karena ia merasakan kaos hitam yang melekat di tubuh sudah basah juga merasakan punggung Nadira bergetar.
"Aku gak nangis."
Qenan mengernyitkan dahi merasa bingung dengan perkataan Qenan.
"Kalau gak nangis terus apa Ra?"
"Cuma ngeluarin air mata doang." sahutnya tanpa rasa bersalah kepada orang yang bertanya.
Qenan terkekeh mendengar itu. Apa bedanya pikir Qenan. Pelukan itu harus terlepas karena ketukan kaca mobil dari luar.
Terpaksa pelukan itu terurai lalu Qenan membuka kaca mobil tampaklah wajah menyebalkan disana. Wajah tanpa dosa menatap sang istri.
"Lo apain Nadira?"
"Nggak ada. Dia cuma gak mau gue tinggal. Apa ada?"
Dion berdecak. "Ya udah sono lo ke bus. Bentar lagi kita berangkat."
Namun Qenan bergeming, tidak perduli dengan apa yang di katakan Dion karena ia masih ingin berlama-lama dengan Nadira.
Dion menghela nafas melihat Qenan tak bergerak sedikit pun. "Ra.." panggilnya.
"Ck.. Jangan panggil Ra, itu panggilan sayang gue." bukan Nadira yang menyahut melainkan Qenan.
Nadira dan Dion menatap Qenan membuat yang ditatap merasa heran. "Kenapa?"
Nadira menggeleng. "Ayo kita keluar, aku juga mau berangkat."
Qenan keluar dari mobil lebih dahulu lalu bukakan pintu mobil untuk Nadira tetapi ia kalah cepat dengan adik ipar nya tersebut karena Dion sudah lebih dahulu membukakan pintu untuk Nadira.
"Lo suka banget buat Qenan marah Ion.." Nadira dan Dion tergelak melihat wajah kesal Qenan.
Sebenarnya ia pun senang melihat Qenan sedang cemburu.
"Mending lo cari pacar lagi deh dari pada gangguin gue sama istri gue.." ujar Qenan penuh kekesalan kepada Dion. Bahkan wajahnya sudah memerah akibat marah yang tertahan.
Dion terbahak merasa menang karena inilah yang ingin dilihatnya.
"Gue kalau mau punya pacar juga banyak stok. Tapi gue gak mau kayak sahabat kita yang satu itu. Gue tunggu 5 menit lagi." Dion berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Dion, gue buat bekal untuk lo di makan ya.."
"Mana?"
"Ada sama Qenan." jawab Nadira di acungi jempol oleh Dion berjalan begitu saja.
Nadira senyum-senyum memandang wajah bule sang suami yang tengah merajuk.
"Aku berangkat ya.." ucapnya masih mendongak menatap sang suami.
"Aku juga berangkat ya.." kata Qenan namun tak beranjak juga.
"Udah sana." usir Nadira namun Qenan tetap bergeming.
Qenan merogoh ponsel di saku celana mengetik sesuatu tanpa sepatah kata terucap dari mulutnya kemudian di masukkan lagi ponsel ke sakunya.
"Aku udah pesan kan taksi, jaga diri baik-baik ya.."
Nadira tersenyum sumringah mendengar nya. Siapa yang tidak senang bila pasangan peka terhadap kita.
"Makasih." ucapnya senyumnya tak luruh.
Qenan mengangguk lalu menunduk meraup bibir Nadira tanpa perduli kan ada beberapa murid di parkiran sekolah itu. Semakin semangat saat ciuman itu terbalaskan.
"Ayo aku antar ke depan sebelum bus kami berangkat." ujar Qenan setelah ciuman itu terlepas akibat hampir kehabisan nafas.
Nadira mengangguk namun dirinya meremang merasakan usapan jari Qenan di bibirnya dengan lembut. Usapan itu terasa sangat lambat menurut Nadira.
Taksi online yang di pesan Qenan telah sampai, Qenan membuka pintu mobil taksi itu untuk Nadira. Melihat mobil itu sudah melaju menjauh ia pun langsung menuju bus pariwisata yang akan membawanya ke puncak.
Tersenyum tipis melihat kedua sahabatnya melihat ke arahnya dengan wajah kesal. Bisa di pastikan bila mereka sudah lama menunggunya.
Namun Qenan tetaplah Qenan, sudah tahu kedua sahabatnya kesal padanya malah melewati mereka begitu saja.
"Karena dua hari kedepan adalah jadwal kelas IPS1, saya harus disana jangan berpisah diri kepada yang lain ya.." ucap Dion lalu ia memilih duduk dekat dengan Qenan dan Nazeef.
"Mana bekal dari Dira?" tanya Dion sembari tangan itu mendekati tempat bekal Qenan yang terbuka.
Plak
"Ini punya gue, punya kalian itu."
...****...
Mata kuliah berakhir, tadi Nadira juga sudah mengatakan Nina harus pindah saat Qenan pulang. Saat ini sahabat nya itu janjian jalan bersama dengan Arga.
Mungkin Nina butuh hiburan, pikirnya.
"Sekarang gue kemana? Melinda juga udah pulang." tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Nadira membuang nafas kasar. "Hahh.. Gue baru inget kalau papa juga gak ada di rumah malam ini. Ya ampun.."
Nadira terus berjalan keluar kampus, tak lupa ia bertegur sapa pada mahasiswi seangkatan nya.
"Na.. Nana.." seseorang yang sangat di kenal Nadira memanggilnya.
Sebenarnya Nadira mendengar dan mengenali suara itu namun ia tak boleh berbalik. Tidak, tidak akan berbalik karena sama saja ia memberi peluang untuk masa lalu datang kembali di masa sekarang.
Tapi sayang, orang dari masa lalu Nadira sudah berdiri tegak di depan Nadira dengan dada kembang kempis.
"Ada apa?" tanya Nadira yang baru menyadari orang itu juga mahasiswa di universitas yang sama.
Orang itu adalah Rendi, mantan pacar Nadira. Orang yang sangat tidak di inginkan Nadira untuk bertemu.
"Gimana kabar kamu Na?" tanya Rendi dengan senyum mengembang.
"Jauh lebih baik saat gak ketemu kakak. Permisi.
Nadira berlalu begitu saja padahal Rendi masih memanggil dengan sebutan kesayangan nya. Panggilan menjijikkan pikirnya.
"Lihatlah Qenan.. Belum ada sehari kamu gak ada tapi mereka bisa ganggu aja." Nadira terus menggerutu hingga taksi yang ia pesan tadi sudah berada di depan nya.
Mobil taksi itu membawanya pulang kerumah papa Surya. Ia pun bisa merasakan sepi nya rumah besar itu. Entah mengapa hatinya nyeri saat nama adik tirinya terlintas.
"Pasti lo kesepian banget kan Ion?"
"Nona mau makan siang?" tanya bi Asih saat melihat Nadira tiba di dapur.
"Iya bi.."
Dengan cekatan bibi Asih menyediakan makan siang di atas meja makan.
"Bibi udah makan?" tanya Nadira.
"Belum nona."
"Makan disini sama Nadira ya Bi, Nadira kesepian."
Bi Asih mengangguk lalu mengambil piring dan duduk di depan Nadira. Ini memang bukan pertama kali bibi Asih makan di satu meja dengan Nadira.
🌸
Bersambung...
**Maafin emak ya, tiga hari ini emak beneran sibuk karena di rumah ada anggota kerja jadi emak hari siap sediain makan dan minum.
Makasih banyak untuk para readers kesayangan emak yang selalu setia nungguin novel emak.
Percayalah, emak seneng banget bacain komenan kalian.
__ADS_1
Semoga kita dalam lindungan Allah ya**..