
"Kenapa pedesaan begini ya?" tahunan Melinda menyadari sepanjang jalan bukan menuju perumahan di kota melainkan jalanan pedesaan.
"Tapi ini beneran alamat nya kan Lin?" tanya Nazeef yang tengah menyetir.
"Iya."
Suara mereka membuat Qenan berujar. "Tetap fokus sama alamat yang ada. Jangan ganggu istri gue yang lagi tidur."
Seketika suasana di dalam mobil menjadi hening. Memang selalu begitu jika Qenan sudah berbicara.
Mereka sengaja sewa mobil biasa agar mereka bisa dalam satu mobil.
Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau. Dion dan Melinda lebih dahulu keluar mobil melihat rumah itu dengan seksama.
Melinda berjalan ke pintu utama rumah itu lalu mengetuknya. Tak lama pria paruh baya nampak di balik pintu.
"A-ayah." gumam Melinda melihat keadaan sang ayah berubah. Tubuh kekar kini lebih kurus tak terawat dan kulit putih dahulu berubah menjadi cokelat terbakar sinar matahari.
Dapat di lihat mata ayah Melinda bernama Yusuf itu berkaca-kaca. "Melinda, anak ayah?"
Melinda mengangguk lalu berhambur dalam dekapan sang ayah. Cukup lama ayah dan anak itu berpelukan hingga menyadari Melinda datang tidak sendiri langsung persilahkan tamu nya untuk masuk ke dalam rumah.
...****...
Qenan masih berada di dalam mobil karena Nadira tertidur dengan kepala berada di pangkuannya.
Ia menatap nanar rumah ayah Melinda. Ada rasa iba tetapi lebih ke rasa khawatir tidak bisa tidur karena rumah ayah Melinda seperti tidak menggunakan Air Conditioner (AC).
Matanya melirik ke arah depan rumah sepertinya ayah Melinda sudah mempersilahkan masuk membuat ia bergerak perlahan agar tidak membuat Nadira bangun lalu di gendong nya membawa masuk ke dalam rumah Melinda.
"Maaf Nak, kamar ayah cuma ada dua. 1 kamar bapak dan 1 lagi untuk adik nya Melinda."
Qenan diam dengan ekspresi tak terbaca membuat Melinda berujar. "Di sofa aja gimana bos?"
Ia mengangguk kecil langsung meletakkan Nadira di sofa yang sudah nampak usang.
...****...
Melinda mempersilahkan mereka duduk lalu ke dapur untuk membuat teh. Sebenarnya hati mulai tidak tenang karena keadaan ayahnya. Begitu banyak pertanyaan memenuhi isi kepala.
Berjalan hati-hati agar teh di atas nampan tidak tumpah. Meletakkan segelas teh di depan mereka masing-masing.
Sedang ayah baru selesai membentang tikar di lantai untuk tidur tamu anak gadisnya.
"Ayah, mana ibu Susi?" tanya Melinda karena ibu sambung nya itu tidak terlihat sedari tadi.
Ayah Melinda menghela nafas. "Kamu benar Nak, dari awal kamu udah cegah ayah untuk nggak nikah sama beliau tapi ayah gak dengerin kamu. Beliau pergi membawa semua harta kita selain ATM yang ada di dompet ayah dan ayah di pecat."
Melinda terperanjat hingga kedua tangan itu menutup mulut yang menganga. Ia tidak menyangka ayah dan adiknya mengalami hal buruk sedang ia hidup bergelimang harta.
"Kenapa ayah nggak kabari Melinda?"
"Ayah nggak mau kamu kepikiran, ayah mau kamu hanya memikirkan kuliah aja."
Melinda menggeleng lalu memeluk sang ayah. "Jangan ngomong gitu, sekarang ayah tidur dulu ya. Besok ada yang ingin Melinda omongin."
__ADS_1
Ayah Melinda mengangguk lalu bangkit menuju kamarnya. Sesaat keadaan di ruang tamu itu hening dengan pikiran masing-masing.
"Kamu tidur sama ayah atau adikmu aja Lin." ujar Dion karena tidak ingin wanitanya tidur di lantai.
"Boleh oppa?"
Dion mengangguk membuat senyum Melinda terbit. Ia bangkit meninggalkan mereka berlima.
Nina yang mengantuk langsung berbaring di tikar setelah melihat ayah dan Melinda masuk ke kamar.
...****...
Melihat para wanita nya sudah terlelap ada rasa tenang di hati mereka. Kini saatnya memikirkan bagaimana mereka tertidur di lantai. Pasalnya mereka belum pernah melakukan hal itu.
Mata tertuju pada dua sofa tunggal yang kosong membuat mereka bangkit saling berebut.
"Ah sial." cicit Qenan yang tak mendapatkan sofa tersebut membuat kedua sahabatnya tertawa tertahan.
Namun senyum smirk terbit di bibir Qenan setelah sesuatu datang dalam pikiran. Berjalan menghampiri Nadira lalu ikut merebahkan tubuhnya. Membenahi posisi tidur agar kepala Nadira berada di lengan nya.
Tanpa diminta kaki Nadira telah memeluk tubuhnya bak bantal guling. Sengaja melambaikan tangan ke arah kedua sahabatnya hingga cebikan bibir terdengar di telinga nya.
...****...
Pagi hari, ayah Melinda membangunkan Melinda di kamar anak bungsunya.
"Mel, bangun Mel."
"Eem.. Iya." sahut Melinda dengan suara parau.
Mendengar itu Melinda langsung bangkit. "Temenku yang mana Yah?"
"Itu yang Bule."
"Oh itu mereka suami istri yah. Maafin mereka ya, nanti Melinda bilangin."
Bukan tanpa alasan ayah Melinda begitu karena ia sendiri belum tahu jika pasangan muda itu sudah menikah.
Setelah semua bangun, ayah Melinda mempersilahkan mereka sarapan lontong yang sudah ia beli tadi pagi-pagi sekali.
Usai sarapan, ayah Melinda pamit hendak ke sawah dan Dion mengutarakan untuk ikut.
"Kayaknya adik kita lagi carik muka sama ayah mertua nya." bisik Nazeef pada Qenan yang hanya di angguki.
"Nan, aku kasihan sama kulit putih Ion." celetuk Nadira memperhatikan penampilan adiknya.
Nadira melihat Melinda hendak keluar rumah membuat ia berujar. "Lin, gue ikut ya. Iya kan Na?"
Nina mengangguk.
Qenan berdecak. "Disana panas, Ra."
Namun Nadira tetap keukeh ingin ikut termasuk Qenan dan Nazeef. Adik Melinda sudah berangkat sekolah sedari tadi.
Tiba di sawah, Dion membantu ayah Melinda menanam padi. Berulang kali ia harus menelan saliva setelah masuk ke dalam sawah. Berharap tidak ada sesuatu yang membuat image nya jelek di depan calon ayah mertua.
__ADS_1
"Nama kamu siapa nak?" tanya ayah Melinda.
"Dion pak."
"Panggil ayah aja."
"Ba-baik."
"Teman dekat Elin?"
Bukan lagi dekat yah, kami udah nyatu. pekik Dion dalam hati.
"Iya yah."
"Pikirkan sekali lagi, kami orang nggak punya. Ayah tahu, kalian pasti anak orang berada kan?"
Dion diam membenarkan, bahkan jika ia menyebut nama papa Surya bisa jadi ayah Melinda menyebutnya tuan muda.
Tetapi ia bukan orang yang seperti itu. Mungkin saja seperti itu jika sedari kecil ia tidak bersahabat dengan Qenan dan Nazeef. Karena mereka berdua lah membuat ia menjadi orang yang lebih sederhana. Selalu mengandalkan kemampuan sendiri dari pada menjual nama orang tua.
"Saya nggak pernah memandang materi dalam hal cinta yah. Rezeki nggak ada yang tahu kapan itu banyak dan sedikit untuk kita."
Ayah Melinda manggut-manggut. "Kalian masih sangat mudah jika menjalani hubungan serius."
...****...
Di gubuk pinggir sawah dimana yang lain berada. Qenan sedari tadi terus mengomel kepada Nadira karena istrinya itu berjalan mondar mandir di jalan setapak sawah tersebut.
"Jangan jauh-jauh, nanti jatuh Ra." Untuk kesekian kali Qenan mengingatkan Nadira dan hanya di jawab 'iya' tetapi kaki tetap saja berjalan di jalan setapak itu.
Nazeef dan Nina hanya bisa menahan tawa melihat pasangan halal tersebut.
"Auwh.." pekik Nadira pelan namun teriakan Qenan membuat semua orang di sawah menoleh ke arah nya.
Dalam keadaan panik, Qenan melompat dari gubuk begitu saja, berlari menyusul Nadira.
"Sayang, kamu nggak apa?" tanya Qenan seraya menggendong Nadira.
Dilihat kaki Nadira berlumpur memikirkan sakit seperti apa yang dirasakan Nadira.
"Aku nggak apa-apa Nan. Tenanglah." ucap Nadira setelah baru saja duduk di gubuk tadi.
Qenan diam saja namun tangan terus bekerja membasuh kaki yang berlumpur.
"Qenan.. Hei.. Aku nggak apa-apa." Tutur Nadira karena Qenan sedang memeriksa kaki itu mengalami cidera atau tidak.
Qenan mendongak menatap Nadira. "Bener?"
Nadira mengangguk lalu matanya terbelalak ketika bibir Qenan menyentuh bibirnya. Membalas luma tan sejenak lalu mendorong tubuh Qenan.
"Ini di desa Nan."
Qenan menggaruk tengkuk leher menyadari kesalahannya. Selalu begitu, ia tidak bisa menahan diri jika berdekatan dengan Nadira.
🌸
__ADS_1
Bersambung