
Tengah malam Nadira terbangun hendak ke kamar mandi buang air kecil kembali. Ini sudah kesekian kali Nadira mengulangi kegiatan yang sama.
Ia sudah tak heran atau merasa takut karena sudah mengetahui bila hamil tua akan mengalami itu.
Rasa haus dan lapar membuat sulit untuk tidur kembali. Di elus perut buncit nya. Gerakan calon anaknya semakin jelas bahkan sering sekali perut nya tak berbentuk bulat lagi.
"Kenapa kebelet pup terus ya?" tanya nya sendiri sembari melangkah pelan ke kamar mandi yang ada di dapur.
Nadira nampak kelelahan setelah keluarbkamar mandi. Mendudukkan bokong di kursi mini bar berada di dapur sembari mengelus perut buncit nya.
"Mi amor." panggil Qenan berjalan mendekati Nadira seraya mengucek mata agar penglihatan terlihat jelas.
Tadi, Qenan terbangun akibat kebiasaan nya yang akan mencari Nadira hendak di peluk. Tetapi saat tangan meraba-raba sisi ranjang di sebelah kosong membuat matanya terbuka.
"Ya, Nan?"
"Kamu ngapain di dapur sendiri? kenapa gak bangunin aku?"
"Aku haus, air minum di kamar kita habis."
Qenan merasa bersalah karena setelah makan malam ia disibukkan kembali dengan pekerjaan nya. Perusahaan yang mulai berkembang itu menampakkan kemajuan pesat. Selesai dengan pekerjaan, ia melihat Nadira sudah tertidur dan ia pun ikut tidur. Hingga persoalan air minum Nadira habis ia tak sadar.
"Maafin aku, Ra."
__ADS_1
"Gak apa, sayang."
Qenan mendekati Nadira. Mengecup pucuk kepala kemudian duduk di sebelah istrinya. "Apa yang kamu rasakan, Ra?"
Nadira menggeleng. "Masih sama kayak biasa. Sebentar ya, aku mau pipis." Nadira bangkit begitu juga dengan Qenan.
"Aku temeni."
"Aku malu, Nan." cegah Nadira namun masih berjalan saja.
"Jangan malu. Kamu pasti sulit untuk jongkok."
Di dalam kamar mandi Qenan membantu Nadira buang air kecil.
"Nan, kenapa warna pipis nya hitam ya?" tanya Nadira pada Qenan yangbtidak tahu apapun.
"Jangan, aku gak apa-apa. Panggil bibi Milah saja." Ia memilih itu karena tak ingin membuat heboh di tengah malam.
Setelah mendudukkan Nadira kembali, ia menelepon rumah belakang khusus pelayan. Selang tak berapa lama, Bibi Milah dan dua pelayan lain nya sudah berada di dapur.
"Nyonya muda, ini tanda-tanda melahirkan." bisik bibi Milah pada Nadira.
"Tapi aku belum ngerasain mules-mules bi."
__ADS_1
"Ini tanda awal. Ada yang langsung pecah ketuban di sertai mulas teratur, semakin lama semakin kuat dan teratur, Nyonya."
Keduanya berbicara dengan suara pelan agar tak terdengar Qenan. Karena bisa menjadi kehebohan.
"Nyonya banyak jalan saja."
Nadira mengangguk. "Bi, minta ke lain untuk mempersiapkan keperluan baby ya, tapi tolong jangan buat curiga. Keperluan ku sudah ada di koper biru sebelah lemari ya."
Sebelum berlalu, bibi Milah memberi pemba lut khusus untuk Nadira.
Bibi Milah pun berlalu sedang Nadira berjalan di sekitar rumah nya di lantai dasar tersebut. Sedang Qenan masih menerima telepon dari Nazeef. Entah apa yang mereka bicarakan.
Nadira sendiri tengah duduk di ruang tamu. Satu tangan berada di pinggang dan satu tangan lagi mengelap keringat di dahi nya.
Berulang kali ia tarik nafas panjang melalui hidung, lalu dikeluarkan lewat mulut.
"Sayang, kamu ngapain?" tanya Qenan merasa khawatir.
Nadira menggeleng lalu bangkit perlahan mendekati Qenan. Ia menoleh ke arah lain ketika ketiga pelayan rumahnya sudah bersiap dengan dua koper.
"Ayo, Nan. Antar aku ke Rumah Sakit."
❤️
__ADS_1
Bersambung..
Bagi yang menang kemarin, 2 orang lagi segera kirim ke gc atau ig aku ya @windirfinola