Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Miliki aku


__ADS_3

Rombongan Qenan telah sampai di Jakarta siang itu, yang katanya bulan madu ternyata jauh dari ekspetasi Qenan karena kedua sahabatnya itu selalu saja mengganggu.


Dan kini ia akan mengurung Nadira seharian di apartemen.


"Boy, anak-anak ngajak ngumpul entar malam." kata Nazeef setelah membaca grub WhatsApp di ponselnya.


"Dimana?"


"Club."


"OGAH."


Mana mungkin ia pergi ke tempat itu sedang ada Nadira di apartemen yang menunggunya pulang.


"Kalau gitu gue juga nggak deh."


Qenan mengernyitkan dahi. "Tumben."


"Gue takut mabuk Nan, terus nanti gue ke bablasan terus burung pipit gue patah gimana?"


Qenan hanya menggeleng kepala saja tanpa menanggapi. Kemudian ia keluar apartemen Nazeef namun Nazeef tetap mengikuti.


"Kenapa lo ngikut?"


"Siapa tahu ketemu kriting Nan."


Qenan berdecak sebal saja namun membiarkan Nazeef mengikutinya. Keduanya menunggu lift terbuka.


Beberapa saat kemudian lift terbuka namun membuat keduanya mematung sesaat atas apa yang mereka lihat.


Sepersekian detik berikutnya Nazeef berdehem membuat kedua orang di dalam lift tersebut menghentikan aksi lalu saling canggung sama sekali.


Namun itu tak penting bagi Qenan tapi menyakitkan bagi Nazeef. Hatinya kembali sakit melihat Nina sedang bercumbu dengan Arga.


Tidak bisakah Nina menyembunyikan kemesraan nya bersama kekasihnya dari dirinya?


"Gue balik aja boy." ucapnya tak tahan.


Namun agaknya Qenan tak mengindahkan perkataan nya.


"Masuklah."


Dengan mencoba mengendalikan diri dan merasa baik-baik saja, ia masuk ke dalam lift dan berdiri tepat di belakang Nina sedang Qenan di belakang Arga.


Hatinya kian memanas ketika tangan Arga melingkar di pinggang Nina. Mungkin saja sengaja tapi entahlah. Yang pasti Nazeef cemburu akan hal itu.


Aku bisa apa?


...****...


Semakin hari sikap Arga padanya semakin posesif, bahkan terkadang ia tak di izinkan untuk berkumpul pada Nadira dan Melinda.


Ia tahu alasannya mengapa begitu, itu karena Arga tak ingin ia bertemu dengan Nazeef.

__ADS_1


Terkadang ia merasa aneh, mengapa Arga suka sekali menciumnya. Ia tak bisa menolak tetapi cara berciuman nya sangat berbeda dengan Nazeef.


Aku merindukan kelembutan mu Zeef.


Sebenarnya tadi saat berbelanja hanya butuh waktu sebentar namun Arga membawanya jalan-jalan keliling kota lebih dahulu lalu makan siang bersama. Setelah itu barulah mereka kembali ke apartemen.


"Kak."


"Ya."


"Maaf aku nggak bisa terusin ini. Aku mau kita putus." ucap Nina setelah masuk ke dalam lift.


"Kenapa? apa karena Nazeef? apa selama ini kamu tak bisa melihat cinta ku? enggak, aku gak terima."


Karena emosi, Arga langsung membungkam bibir Nina dengan beringas. Ia tak terima hanya dijadikan pelampiasan.


Betapa terkejutnya Nina saat mengetahui siapa orang yang ada di depan nya. Seketika dadanya terasa sesak dan ingin menjerit untuk mengatakan 'tolong bebaskan aku, ini nggak seperti yang kamu pikirkan.'


Namun ia teringat bagaimana perlakuan Arga padanya. Hingga menimbulkan tanda tanya dan ketakutan yang besar.


Apa dia cowok tempramen?


Jika iya maka ia harus berhati-hati.


Maafin gue.


Hatinya perih melihat wajah Nazeef yang memerah ketika tangan Arga melingkar di pinggang nya.


Hingga pintu lift terbuka dan mereka keluar dan berjalan dengan satu arah karena apartemen Qenan bersebelahan dengan apartemen Nadira yang di tempati Nina.


"Em, gue nggak apa-apa."


Qenan menepuk bahu Nazeef lalu masuk ke dalam kamar dimana Nadira masih tertidur pulas disana.


"Kamu dari mana?" tanya Nadira dengan suara serak khas bangun tidur.


Qenan yang baru saja membuka kaosnya langsung menoleh melihat Nadira. Ia berjalan mendekatinya, membungkukkan badan ketika berada di depan Nadira yang sedang berbaring. Kecupan demi kecupan ia berikan di wajah Nadira.


"Nan, kenapa nggak jawab malah cium-cium aku sih?" Tak salah ia bertanya begitu karena tak percaya diri dengan keadaan wajahnya yang baru saja bangun tidur.


"Suka aja dan bikin nagih. Pingin cium kamu terus."


Bisa dipastikan wajah Nadira sudah bersemu merah dan merasa tak tahan lantas membuat Nadira menutupi seluruh tubuhnya dan hal itu membuat Qenan terkekeh. Sungguh ia gemas melihat tingkah Nadira.


"Aku dari apartemen Nazeef dan dia sekarang ada disini."


Nadira membuka selimut yang menutupi kepalanya. "Apa kalian belum makan? aku belum masak Nan."


"Tak apa, ingat ya jangan keluar dengan pakaian begitu."


"Iya, ini juga kamu yang pilih."


Nadira turun lalu melangkah menuju kamar mandi. Tadi begitu sampai apartemen, Qenan sempat meminta servis padanya. Semenjak ia semakin mahir mengendalikan rudal membuat Qenan ketagihan.

__ADS_1


Sedang Qenan hanya bisa geleng-geleng kepala.


...****...


Cukup lama Nazeef berada di apartemen Qenan bahkan tak ada yang sadar jika langit sudah menggelap.


Memilih untuk kembali pulang karena tak ingin mengganggu waktu pasangan suami-istri itu lebih lama lagi. Melewati apartemen Nina pun tak membuat langkahnya berhenti.


Memasuki lift pun tak ada memikirkan Nina karena tadi saat di apartemen Qenan, dirinya benar-benar di ceramahin habis-habisan.


Kendalikan dirimu untuk tetap terlihat baik-baik saja mau bagaimana keadaan hatimu.


Pintu lift terbuka dan ia tetap santai berjalan menuju apartemen nya yang berada di ujung lorong lantai tersebut.


Namun langkah nya terhenti sesaat melihat seseorang yang sudah memporak-porandakan hatinya sedang berdiri bersandar di pintu apartemennya.


Berulang kali tarik nafas menenangkan jantung nya yang setiap kali bertemu Nina barulah ia melangkah kembali.


Menahan diri untuk tidak perduli pada Nina yang menggeserkan tubuhnya karena ia hendak menekan tombol password apartemen nya.


Tidak ada yang mengeluarkan suara namun Nazeef membiarkan Nina ikut masuk. Di lepas sepatu dan kaos kaki lalu berjalan menuju dapur.


Di buka lemari es dan mengambil soft drink lalu di minumnya hingga tandas. Membiarkan Nina yang berdiri terpaku di belakang nya.


"Zeef."


Nazeef memejamkan mata sejenak mendengar namanya disebut. Menahan untuk tidak balik badan dan merengkuh tubuh cewek yang masih menempati hatinya.


"Pergilah Nin."


Namun agaknya Nina bergeming walau sang empunya apartemen telah mengusirnya.


"Maafin gue."


Nazeef tersenyum miring namun tetap membelakangi Nina. Ia tetap menahan diri untuk tidak berbalik badan.


Sungguh sangat sulit karena dirinya bukanlah Qenan yang tega kepada setiap wanita selain mama Sinta dan Nadira.


"Gue udah maafin lo."


"Boleh gue minta sesuatu sebelum lo pergi besok?"


"Apa?"


Sebelum mendengar jawaban Nina, ponsel Nazeef berdering dan itu dari anak-anak basket. Cukup lama Nazeef berbicara di telepon karena ia menolak ajakan mereka.


Ia takut akan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dan berimbas pada masa depan nya.


Ia berbalik badan menatap Nina setelah telepon itu terputus.


Tatapan mata keduanya terkunci tanpa ada yang mengeluarkan kata.


"Aku ingin kamu memiliki aku Zeef, ikat aku dan aku akan menunggu mu."

__ADS_1


🌸


Bersambung..


__ADS_2