
Sudah seminggu berlalu setelah siang itu Qenan mengadakan pertemuan dadakan di aula Perusahaan nya. Nazeef juga sudah kembali dari Paris. Dimana disamakan papa kandungnya berada.
Ia mengenalkan Nadira sebagai istrinya dan akan memberi sanksi kepada siapapun yang mencoba mengganggu ataupun berlaku tak baik pada Nadira.
"Nan, nanti mampir ke Kafe tempat kerja ku dulu ya." pinta Nadira sudah dalam perjalanan pulang dari kantor Qenan.
"Tapi, kafe itu udah tutup sejak sore, Ra. Karena waktunya liburan tahunan." sahut Qenan.
"Kita lihat dulu." kata Nadira lagi.
Qenan benar-benar melarang Nadira menyetir mobil sendiri. Ia benar-benar protektif pada Nadira, pasalnya masih ada rasa bersalah dan takut kehilangan calon bayi mereka.
"Ra."
Nadira yang masih bermain ponsel langsung menoleh ke arah Qenan. "Ya."
"Aku enggak tahu kamu mau bilang aku suami yang posesif atau aku terlalu ngekang kamu. Aku nggak pernah batasi pergaulan kamu, tapi izinkan aku selalu ikut bersama mu untuk menjagamu, menjaga anak kita. Maaf, kalau suatu saat nanti kamu merasa risih karena kehadiran ku."
Nadira menggenggam sebelah tangan Qenan. "Aku tahu, pasti ada masa dimana aku bosan di ikuti sama kamu. Tapi, kamu perlu tahu satu hal. Cewek, kalau udah nikah walau punya sahabat tetap aja, tempat paling nyaman adalah suaminya. Dan aku yakin, bagaimana kamu posesif atau protektif ke aku pasti demi keamanan aku dan anak kita."
Di kecup tangan Qenan yang ada di genggaman nya. "Aku sayang kamu, Nan."
"Aku lebih menyayangimu, Ra." Qenan melepas genggaman itu lalu mengacak rambut Nadira dan kembali fokus pada perjalanan.
Beberapa saat kemudian, mobil Qenan telah terparkir di depan Kafe Hebat. Qenan mengerutkan dahi melihat lampu Kafe masih menyala.
"Ra, kenapa lampunya nyala ya? apa masih ada orang di dalam?" tanya Qenan sembari memutar kunci pintu Kafe.
"Lupa matiin kali." sahut Nadira tanpa curiga namun tidak dengan Qenan. Ia tahu karyawan nya pasti akan mematikan lampu jika Kafe sedang tutup.
Keduanya berjalan dengan saling menggenggam hingga langkah Qenan melambat mendengar suara tangis seseorang.
Qenan dan Nadira saling pandang lalu berjalan cepat.
"Hati-hati, Ra." Walaupun perasaan nya awas namun keselamatan sang istri yang utama.
...****...
Beberapa saat yang lalu pegawai Kafe Hebat sudah naik memenuhi Bus Pariwisata. Sudah menjadi agenda wajib setiap tahun nya Pemilik Kafe tersebut mengadakan liburan.
Namun sebelum Nina hendak keluar dari kamar ganti di Kafe Hebat itu, mulutnya telah di bungkam seseorang. Ia terus meronta namun tubuhnya di bawa masuk kembali.
Takut.
Itulah yang ia rasakan karena tahu siapa seseorang yang membungkam mulutnya.
"Kak Arga mau apa?" tanya Nina setelah mulut nya sudah tak lagi di bungkam dan bus sudah berangkat beberapa saat lalu.
Rasa takut terus menyelimuti karena tatapan mata Arga yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Kembalilah padaku, Nina. Ayo kita menikah."
Nina menggeleng. "Aku nggak bisa, kak. Aku dan Nazeef akan menikah." Nina hendak berlalu namun tangan nya di cekal erat membuat Nina meringis.
"Sakit, kak." cicit Nina namun tak di gubris oleh Arga.
"Lepas kak." Ia terus meronta ketika Arga mencoba mencium bibir nya.
Tidak hanya sampai disitu, dengan berutal mencium leher, tangan nya bergerilya dan mere mas dengan kasar membuat Nina semakin meronta dan menjerit meminta tolong. Air matanya sudah tak terbendung lagi.
Ketakutan yang tak bisa di rangkai kata-kata telah menggerogoti tubuh nya.
"Lepas, hiks." Tangan nya menyilang di dada sebab pakaian nya telah robek karena ulah Arga.
Bibirnya terus berucap kata tolong kala Arga semakin beringas di tubuhnya.
Brak
...****...
"Kurang ajar." maki Qenan ketika melihat aksi bejat karyawan nya setelah mendobrak pintu kamar ganti.
Dengan langkah lebar ia mendekati pria yang mencoba memperkosa sahabat istrinya itu lalu melayangkan tendangan hingga orang itu tersungkur ke lantai.
Di buka jaket nya lebih dahulu lalu menyerahkannya ke sang istri.
...****...
Nadira menerima jaket Qenan langsung memakaikan pada Nina yang masih menangis dengan tatapan kosong.
Di peluk sahabatnya dan ia ikut menangis di tambah aksi brutal Qenan pada Arga. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi kejam sang suami.
"Qe-nan." panggilnya lirih.
Qenan menoleh melihat sang istri menatapnya dengan derai air mata. Mengerti jika Nadira takut langsung menyimpan pistol itu kembali.
Di ambil ponsel nya lalu menghubungi seseorang.
"Cepat lo datang ke Kafe tempat cewek lo."
Memutuskan panggilan dan melihat Arga sudah terkapar karena ulah nya. Berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Nadira.
"Maaf, Ra." ucapnya sembari mengelus rambutnya. Lalu ia melihat penampilan Nina dan lega ketika melihat pakaian bagian bawah masih melekat pada tubuh cewek itu.
Ia menunggu Nazeef datang kesini sebelum menghubungi polisi agar sahabatnya itu puas menghajar Arga lebih dahulu.
...****...
Di tempat lain, setelah Qenan menelepon ia langsung pergi ketempat yang dikatakan sahabat nya tadi.
__ADS_1
Ia berpikir Nadira membuat ulah kembali seperti sebelum-sebelumnya. Sesampainya di Kafe Hebat, ia melihat keadaan kafe gelap tetapi mendapati mobil Qenan terparkir disana.
Tanpa rasa curiga apapun, ia masuk dan menyalakan lampu. Namun langkahnya melambat ketika mendengar tangisan seseorang.
"Itu suara Nadira dan siapa? kenapa aku kayak kenal?" tanya bermonolog pada diri sendiri.
"Beb, kamu kenapa?" tanya Nazeef melihat Nina memakai jaket Qenan.
"Arga mencoba merkosa cewek lo."
Mendengar itu Nazeef langsung menoleh melihat Arga yang masih kesakitan memegang miliknya.
Bangkit dengan tangan terkepal. Sekuat tenaga ia layangkan bogeman di wajah Arga. Menghajarnya secara membabi buta tanpa ampun.
...****...
Qenan langsung melerai setelah melihat Arga sudah terkapar. Ia pun sudah menghubungi polisi.
"Lo yang tenang, sekarang urus cewek lo dulu."
Qenan pun langsung membantu Nadira berdiri yang masih terlihat syok karena perlakuan brutal nya tadi.
"Maaf, apa kalian baik-baik aja?" tanya Qenan membawa Nadira duduk di
"A-aku takut."
"Maaf." Qenan memeluknya dengan erat.
...****...
"Beb, are you okey?"
"Jangan sentuh aku, Zeef. Aku udah khianati kamu." sahut Nina masih terisak.
"Jangan bilang gitu, kita akan tetap menikah."
Nina menggeleng. "Aku gak pantes untuk kamu."
Nazeef menangkup wajah Nina mengangkat nya agar dapat melihat matanya. "Kamu yang terbaik, besok aku urus pernikahan kita."
๐ธ
Bersambung..
*Maaf ya anak-anak online emak, emak agak sibuk. Nanti sore ada acara di mesjid nyambut bulan Ramadhan.
Semoga kita sehat dan bahagia selalu.
Minal aidzin walfaidzin untuk kita semua ๐๐๐*
__ADS_1