Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Kalau jodoh gak akan kemana


__ADS_3

"Aku ingin kamu memiliki aku Zeef, ikat aku dan aku akan menunggu mu."


Seakan waktu berhenti saat Nina mengatakan hal itu. Bahkan kinerja otak Nazeef seakan tak berfungsi detik itu juga. Tubuhnya terpaku karena mendapati kenyataan cewek di depan nya ini begitu lantang menawarkan diri padanya.


"Apa lo gila?" sentak nya setelah menyadari keadaan.


"Ya gue gila."


Nazeef gelagapan karena Nina terus berjalan mendekatinya membuat langkahnya mundur agar tetap memiliki jarak pada Nina.


"Lo mau apa?" ada rasa panik pada diri Nazeef.


"Udah gue bilang, lo harus miliki gue seutuhnya." Nina tampak benar-benar frustasi saat ini.


"Lo gil-mmmpht"


Belum sempat Nazeef melayangkan penolakan karena bibirnya telah terbungkam. Nina terus memberi rangsangan untuk Nazeef.


Benar saja, ketika tangan Nina mengelus dan sesekali meremas burung pipit Nazeef terdengar lenguhan darinya.


"Lakukan Zeef." kata Nina menghentikan aksinya.


Nazeef menatap lekat netra Nina. "Lo tahu gue ahli dalam hal ini." Tentu ia menginginkan hal ini terlebih sudah lama tak mengasah burung pipit nya.


Nina mengangguk. "Lakukan Zeef."


"Gue gak akan berhenti."


Karena Nazeef sudah terpengaruh dengan cepat ia melabuhkan ciuman itu pada bibir Nina. Nina pun membalas apa yang dilakukan Nazeef padanya. Saling melu mat, mencecap rasa yang ada pada bibir mereka, dan lidah saling berbelit menukar saliva.


Tubuh keduanya sudah merapat tak ada lagi jarak. Menikmati setiap sentuhan yang tercipta. Tubuh Nina melayang tanpa melepas pagutan.


Dengan hati-hati Nazeef menggendong Nina lalu dibaringkan di tengah ranjang. Menatap lekat wajah cewek yang membuat ia jatuh cinta.


"Kenapa lo gini?"


"Gue nggak mau kehilangan lo Zeef, gue tahu kalau ini semua karena gue. Maka ikat aku Zeef, jadikan aku milikmu."


Nazeef mengangguk lalu meneruskan aksinya. Lenguhan itu terus terdengar di telinganya.


"Keluarkan aja suara lo, jangan di tahan."


Dengan cekatan ia membuka kaos dan tampaklah dua gunung yang indah terbungkus pelindungnya.


Pemandangan yang indah membuat ia terkesiap. Sudah banyak ia melihat pemandangan begini namun entah mengapa ada rasa gugup menyertainya.


"Nina.." panggilnya tanpa mengalihkan pandangan.


"I-iya."


"Apa keputusan lo serius? Lo tahu sendiri gue nggak akan bisa berhenti setelah jawaban lo."


Nina mengangguk lalu tubuhnya melengkung disaat Nazeef mulai melahap salah satu gunung indahnya.


Puas bermain-main di bagian tubuh atas kini matanya teralih dengan benda segitiga biru pembungkus rawa surgawi. Dibukanya lalu di pandangi nya kembali.

__ADS_1


Perlahan ia membungkuk mensejajarkan kepalanya tepat di depan rawa surgawi. Lidah menjulur menghampiri buah kacang yang menyembul mengintip dari balik kue apem tersebut menghasilkan suara mengayun dari Nina.


Dengan rakus di lahapnya rawa itu memberikan sensasi luar biasa hingga ia merasakan cairan kenikmatan keluar dari rawa surgawi Nina.


Ya, Nina sudah melewati pelepasan pertamanya.


Namun Nazeef tak melanjutkan permainan intinya. Ia bangkit menyelimuti seluruh tubuh polos Nina dan melangkah menuju kamar mandi.


Ya, ia memilih bermain solo saat ini.


Beberapa saat kemudian ia keluar dengan bathrobe menutupi tubuhnya. Sesaat ia berhenti melihat Nina memunggunginya dengan punggung bergetar.


Ya, ia tahu pasti Nina akan menangis.


Memilih untuk memunguti pakaian Nina lalu meletakkan di tepi ranjang.


Duduk di sebelah Nina lalu membelai rambut kriting Nina dengan sayang namun tangan nya di tepis oleh Nina.


"Gue sayang sama lo Na, nggak mungkin gue ngerusak lo."


"Kenapa? gue udah nyerahin itu sama lo, itu bukan sayang namanya."


Nazeef tersenyum getir. Bohong jika tadi ia tak menginginkan itu, namun sepertinya akal sehat mengalahkan naf su nya tadi.


"Lo tahu arti sayang dan cinta sebenarnya?"


Nina menggeleng.


"Sayang dan cinta yang sebenarnya itu lo ngerasa bahagia lihat orang yang kita sayang bahagia. Dan begitulah gue."


Nina semakin terisak mendengar itu. "Kenapa lo nyerah perjuangin gue Zeef?"


"Karena berjuang sendiri itu sakit Na, gue udah bilang tunggu sabar sebentar lagi tapi lo nggak mau itu. Udah jangan dipikirkan, sekarang pakailah baju lo biar gue anter ke apartemen lo."


"Zeef."


Nazeef yang sudah bangkit hendak melangkah harus menghentikan langkahnya. "Ya."


"Apa lo nggak inginkan lakuin itu sama gue?"


Nazeef menoleh menatap lekat mata Nina. "Bohong jika gue nggak mau, gue bisa lakuin ke cewek tanpa ada perasaan tentu gue ingin lakuin itu ke lo. Tapi lo bukan milik gue Na dan itu keputusan lo sendiri."


Nazeef benar-benar sudah menata hati. Ia akan menerima takdir kemana hatinya akan berlabuh. Tetap dengan Nina atau ada wanita lain.


Entahlah.


Nazeef berjalan keluar kamar membiarkan Nina mengenakan pakaian nya. Pergi ke dapur membuka lemari es untuk mengambil air dingin disana. Di tuangnya ke gelas lalu di teguknya.


Untuk pertama kali nya ia terus terngiang tubuh polos cewek yang hendak di tidurinya. Bahkan kini tubuhnya kembali panas dingin membayangkan permainan tanggung nya.


Sial!


Diletakkan gelas itu sedikit keras hingga mengeluarkan suara saat bersentuhan dengan meja.


Di buka lemari tempat penyimpanan minuman beralkohol itu. Satu botol ia keluarkan lalu di tuang ke gelas kecil berada di depan nya.

__ADS_1


Biarlah ia melanggar larangan Nadira untuk malam ini.


Pintu kamar terbuka nampak Nina sudah berpakaian dan pamit pulang. Ia hanya berdehem dan tak ingin mengantarnya karena sudah terpengaruh oleh minuman itu.


Lebih baik ia tetap berada di apartemen menikmati setiap tetes minuman yang saat ini menjadi pelampiasan nya.


"Lo bego Zeef."


"Enggak, bukan lo yang bego tapi Nina yang udah sia-siain diri lo."


"Lo berhak bahagia."


...****...


Di dalam lift dan sepanjang lorong ia terus menangis merutuki kebodohan yang ia ciptakan sendiri.


"Loh Nin, lo kenapa?" tanya Nadira yang hendak keluar apartemen bersama Qenan.


Nina menggeleng. Tak mungkin ia bercerita di depan Qenan.


"Qenan, boleh ya?" pinta Nadira pada Qenan.


Qenan mengangguk lalu mengecup kening Nadira. "Ya udah kamu temani dia, aku masuk ke dalam aja."


"Makasih."


Nadira membawa Nina masuk ke dalam apartemen nya dan membawanya duduk di sofa. Kemudian ia ke dapur mengambil sebotol air dingin dan gelas.


"Minum dulu." Nadira menyerahkan segelas berisi air dingin pada Nina.


"Na.." panggilnya setelah ia sibak rambut Nina dan menampakkan banyak tanda kepemilikan disana.


Nina tak langsung menjawab malah semakin terisak membuat Nadira bingung.


"Siapa yang lakuin ini Na.."


"Nazeef."


Nadira terperanjat bahkan ia menutup mulut dengan kedua tangan nya. "Dia harus bertanggung jawab Na."


Nina menggeleng. "Dia nggak salah Dir, gue yang udah nyerahin tubuh gue, bahkan dia nggak sampek lakuin itu."


Akhirnya Nina menceritakan apa yang terjadi di apartemen Nazeef tadi.


Nadira menghela nafas panjang. "Bener yang dikatakan Nazeef Na, dia nggak mungkin ngerusak lo kalau cuma main-main."


"Gue nyesel Dir, andai gue bisa ulang waktu kembali. Gue mau nunggu dia sampek hubungan nya sama Risa."


"Percaya nggak kalau jodoh nggak akan kemana? kalau memang Nazeef jodoh lo, mau dia ke Amerika atau kemana pun bakal balik lagi ke lo."


🌸


Bersambung..


Jangan lupa like, favorit, dan vote nya ya..

__ADS_1


kopi juga boleh


__ADS_2