
Sudah berulang kali mencoba menekan perasaan ini kepada seseorang yang bukan ditakdirkan untuknya. Tidak ada lagi tentang dia yang di cinta.
Kamar utama di tempat tinggalnya sudah tidak ada lagi potret-potret wajah cantik yang selama ini menempati seluruh relung hatinya. Kamar utama itu sudah dirumah menjadi kamar baby Aditya, anak semata wayangnya.
Semenjak berdebat dengan istrinya ketika hendak imunisasi, membuat rasa iba menyergap di hati.
Apakah ia mulai menyayangi wanita yang menjadi ibu anak nya itu?
Sejak hari itu, ia bertekad membuka hati karena dirinya bukan karena wanita yang ada di hatinya, Nadira.
Setiap ada waktu luang ketika istrinya sedang di rumah, maka ia akan melakukan video call sebagaimana suami mencintai istri dan anaknya.
Tetapi entah mengapa, ada rasa yang tak bisa di jelaskan ketika memaksa hati harus menyerahkan seluruh cinta untuk istrinya.
Hingga beberapa hari lalu, ketika ia sedang berada di kantor. Papa Surya datang menemuinya.
"Cari tiket hari ini juga ke Surabaya untuk kita berdua dan 4 bodyguard, Wid." ujar papa Surya mendudukkan bokong ke sofa.
"Ke Surabaya? apa ada masalah, tuan?"
Papa Surya memijit pelipisnya. "Enggak, aku ingin Dion segera menikahi gadis malam itu. Aku takut di hamil. Dan satu lagi, kalau sedang berdua jangan panggil aku, tuan." Cebikan dari papa Surya terdengar membuat Wido tersenyum.
Ia mengangguk sembari mengotak-atik benda pipi di tangan nya. "Udah aku pesan,kak. Kita berangkat ke bandara setelah jam makan siang."
"Baiklah, jangan lupa kabari istrimu. Yakinkan dia kalau kamu tak akan macam-macam dengan anak perempuan ku."
"Ya."
...****...
Sesampainya di kediaman orang tua Melinda juga ia sangat berusaha keras untuk tidak mencari keberadaan Nadira bahkan lidah sengaja tahan agar tak bertanya kepada dua bodyguard yang bertugas menjaga Nadira.
Sulit, tetapi harus.
Sebenarnya bukan hanya merasa iba terhadap Rania namun karena sikap Nadira yang berubah setelah kepulangan Qenan.
Tapi tak mengapa, yang terpenting Nadira bahagia.
Hingga pagi itu, bukan maksud untuk menyaksikan pergulatan Qenan dan Nadira karena ia memang tujuan ke belakang rumah adalah ke kamar mandi sebab kamar mandi di dalam rumah masih ada orang lain.
Sakit? sudah pasti.
Tapi ia bisa apa?
Ternyata hati nya masih dikuasai seseorang bernama NADIRA.
...****...
__ADS_1
"Lin, nanti malam setelah ayah dan adik mu tidur ikut aku ya keluar sebentar."
Melinda mengerutkan dahi merasa bingung. Saat ini Melinda bersama Nadira dan Nina sedang menyiapkan makan malam dan Dion datang membisikkan hal tersebut.
"Kemana?"
"Kejutan." bisik nya sembari mengerling mata lalu berlalu meninggalkan mereka di dapur.
Nina menyikut lengan Melinda sembari meledek. "Ciyee, yang mau malam pertama."
"Ciyee..."
Melinda mengusap telinga yang terasa panas. Padahal yang di maksud sahabatnya bukan lah pengalaman pertama baginya. Tetapi benar-benar membuatnya salah tingkah dan gugup bersamaan.
"Jangan menggoda gue kak."
"Ck.. Dia malu gaes."
Mereka tertawa sembari membawa makanan ke ruang tamu. Malam ini makan malam di lantai berlapis tikar. Sebab meja makan tidak cukup untuk orang yang masih berada di rumah ayah Melinda.
Melinda melayani Dion. Mengambilkan nasi, lauk, dan sayur sesuai permintaan Dion. Begitu juga Nina melakukan hal yang sama.
Sedang Nadira harus mengurusi papa Surya lebih dahulu karena Qenan yang meminta agar Nadira melayani papa Surya sebelum dirinya.
"Sayang, kenapa masih papa lain sendiri?" protes papa Surya karena nasi papa Surya berwarna merah.
Papa Surya berdecak. "Ayolah sayang, papa juga mau makan opor ayam kayak yang lain."
Nadira menggeleng serta memasang wajah garang ke papa Surya. "Jangan bandel, udah tua itu nurut. Untuk kesehatan juga."
Perseteruan ayah dan anak itu disaksikan semua orang di rumah itu. Papa Reno sudah tertawa dan yang lain tak berani melakukan itu lantas hanya bisa menahan tawa itu dalam-dalam.
"Kenapa kamu cerewet kayak Melati sih?" tanya papa Surya sewot.
"Ya jelas, kan Dira anak nya. Gimana sih papa? lupa kalau buatnya sama papa?" ucapan Nadira ambigu namun bagi mereka yang memiliki otak mesum maka akan langsung terkoneksi.
Semua orang tertawa selain adik Melinda yang memang tertutup pada siapapun selain dengan ayah Melinda.
Papa Surya menghela nafas kasar. "Ya udah, papa makan aja." papa Surya pasrah.
"Papa mau Dira ambilin?" tanya Nadira kepada papa Reno langsung di tolak halus karena memang ia hanya mau di layani istrinya saja
Sekarang Nadira mengambilkan makanan untuk Qenan. Tidak perlu drama karena Qenan memakan apa saja yang di masak Nadira.
"Enak gak?" tanya Nadira berbisik setelah dilihat Qenan memakan nya.
"Enakan makan kamu." balas Qenan berbisik.
__ADS_1
Nadira melotot ke arah Qenan. Rasanya ingin memukul kepala Qenan agar tidak lagi omes ketika mereka selalu dekat.
Selesai makan malam Nadira, Melinda, dan Nina mencuci piring di kamar mandi luar ditemani dua bodyguard yang bertugas untuk menjaga Nadira. Emon dan Donal.
"Gue berasa di rumah." celetuk Nina sembari membilas piring yang sudah di cuci Nadira. Sedang Melinda hanya ikut berjongkok tanpa melakukan apapun karena Nadira dan Nina melarang pengantin baru kelelahan.
"Ra, aku mau pergi sebentar ya sama Nazeef."
Nadira menoleh ke arah pintu menengadah menatap Qenan tanda tanya.
"Mau cari rokok." Qenan beralasan karena tidak mungkin ia jujur hendak kemana.
"Iya hati-hati. Jangan malam-malam."
Setelah Qenan dan Nazeef berpamitan, giliran Dion mengajak Melinda. Tentu Nadira dan Nina sudah tahu hendak kemana pengantin baru itu.
"Bang Emon, tolong angkat baskom besar ini ya." pinta Nadira langsung saja Emon melaksanakan.
"Nona, mau di susun ke rak piring atau gimana?" tanya Donal karena ia sedari tadi diam saja.
"Nggak ngerepotin?" tanya Nadira tidak enak hati.
Asal tahu saja nona, yang kami lakukan untuk nona lebih sulit dari susun piring itu. gumam Donal dalam hati.
"Enggak nona, kalau gitu saya susun dulu."
🌸
Bersambung
*Maaf ya teman-teman. Hari ini agak sibuk di dunia nyata.
Oh iya, emak insyaallah Minggu depan rilis novel baru. Tapi bingung harus mana dulu yang mau emak publish.
Menurut kalian mana dulu ya?
1. Menjadi ISTRI KEDUA Sepupuku (Sequel novel Jodoh KEDUA) Disarankan baca Jodoh KEDUA lebih dahulu.
Di novel ini menceritakan anak pertama Fadia Rahayu dari pernikahan pertamanya. Gadhing seorang dokter kandungan sudah memiliki istri bernama Evi terpaksa menikah lagi karena amanah dari Tante yang ia panggil Ibu harus menikahi putri semata wayangnya, Nasya.
Walaupun ia harus menikahi Nasya, tetapi rasa benci sedari kecil terus berkembang hingga menjadi dendam. Dan saat itu pula penderitaan Nasya bermula.
2. SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Narsis*)
Menceritakan seorang wanita dari keluarga terpandang di desanya. Menikah dengan seorang pria yang baru beberapa bulan di kenalnya. Dan pernikahan itu tidak pernah membuatnya bahagia.
Hingga suatu kejadian dimana ia harus meninggalkan suaminya dan bertemu seorang pria muda yang selalu bisa membuat ia kembali menjadi dirinya sendiri juga terpenting pria muda itu mampu mengambil hati kedua anaknya.
__ADS_1