Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Bule


__ADS_3

Sudah tiga hari Qenan dan Nadira berada di Surabaya, tadi malam adalah acara pertunangan Dion dan Melinda. Acara tersebut berjalan lancar dan khidmat dan akad nikah akan di laksanakan sore nanti. Tidak ada perayaan karena memang Dion tidak ingin acara mewah. Tetapi papa Surya meminta acara resepsi pernikahan harus dirayakan dan dilaksanakan 1 bulan kedepan.


Tidak ada kemewahan disini, bahkan Qenan dan Nadira tidak pernah mengendarai mobil selama di desa tempat tinggal orang tua Melinda.


Seperti pagi ini, Qenan mengendarai sepeda motor Honda Astrea Series berwarna kuning milik ayah Melinda keliling Pedesaan.


"Motor ini terlalu kecil untuk ku, Ra." gerutu Qenan di sepanjang jalan. Pasalnya lututnya itu menempel dengan sayap depan sepeda motor yang mereka naiki. Itupun ia duduk sudah melebihi separuh jok sepeda motor itu.


"Nan, ke lapangan itu yuk. Beli telur gulung." Nadira acuh dengan gerutuan Qenan karena ia merasa rindu dengan kehidupan nya dahulu.


Qenan pun berbelok memasuki area lapangan sepak bola dimana tukang jualan telur gulung itu berada. Kebetulan ada pertandingan sepak bola antar dusun disana.


Nadira memesan 10 tusuk telur gulung. Sedang Qenan sudah duduk di pinggir lapangan menyaksikan pertandingan. Banyak pasang mata curi-curi pandang bahkan ada yang sengaja memandangi Qenan.


Bagaimana tidak? tidak pernah bule ada di desa mereka. Nadira tersenyum ketika melihat pesan dari suaminya.


Qenan🦁 :


Cepat atau aku marahi mereka yang menatap ku kagum.


"Dari kota ya, neng?" tanya penjual gulung telur.


Nadira tersenyum ramah. "Iya, pak."


Nadira tersentak ketika merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya lalu menoleh kearah siapa yang sudah berani lancang padanya.


"Qenan, kamu ngagetin tahu nggak."


Tapi melihat wajah Qenan yang muram durja membuat ia bertanya-tanya, kenapa?


"what are you guys talking about? (apa yang kalian bicarakan?)"


Belum sempat ia menjawab, Qenan sudah di kerumuni gadis-gadis yang bisa di pastikan berasal dari desa tersebut.


Tentu Qenan akan menjadi pusat perhatian di lapangan sepak bola tersebut. Selain berwajah Bule, saat ini penampilan nya lebih mencolok dari pada orang-orang disana.




...****...


Qenan terkejut manakala para gadis desa mengerumuni nya bahkan meminta foto bersama. Sungguh, ia tidak suka keadaan ini tetapi peringatan Nadira membuat ia hanya bisa pasrah.


"Ini di desa, jangan nampak kan sifat arogan kamu, Nan." Nadira mengingatkan Qenan sehari setelah di rumah Melinda.


Tetapi senyum nya terbit saat Nadira berjalan mendatangi nya.


"Udah foto nya, Bule nya udah punya istri." ucap Nadira sewot membuat ia mengulum bibir.


Apa begini di cemburui istri? begitulah pertanyaan Qenan di hati. Apalagi saat ini istrinya itu merangkul lengannya dengan posesif.

__ADS_1


"Kamu itu seneng banget dikerumuni sama cewek-cewek."


Ia memilih diam sepanjang jalan dengan mendengar segala omelan Nadira.


...****...


Masih di desa yang sama, Nazeef membawa Nina berkeliling desa menggunakan sepeda ontel milik ayah Melinda.


Sepanjang jalan mereka tertawa karena Nazeef membonceng Nina sembari berceloteh apa saja.


"Bener dong Zeef setir nya, jangan goyang-goyang. Nanti jatuh."


"Di goyang sama aku baru enak kan, Nin." goda Nazeef langsung mendapat cubitan dari Nina.


"Aduh ampun, beb. Nanti jatuh beneran ini."


"Dasar playboy mesum."


Nazeef tak tersinggung bahkan kini terbahak karena berhasil menggoda Nina.


...****...


Di kediaman orang tua Melinda. Dion dan Melinda masih diam diri di belakang rumah, sedang yang lain tengah sibuk menyiapkan persiapan akad untuk nanti malam.


"Oppa, maafin aku ya."


Dion menoleh lalu mengangguk. "Aku harap, gak ada lagi pria lain lagi selain aku."


Melinda mengecup pipi Dion tetapi secepat kilat ia menahan tengkuk Melinda dan mendekatkan bibirnya ke bibir Melinda, hinga?


"Awh." pekik dua orang bertubuh besar tak jauh tempat Dion dan Melinda berada.


Bibir Dion dan Melinda hampir menempel langsung urung dan menegakkan tubuh kembali.


"Maafkan kami, tuan muda."


"Ngapain kalian disini?" tanya Dion dengan muka tak terbaca.


Kedua pria berbadan tegap yang tak lain adalah Donal dan Emon menggaruk kepala kikuk sesekali saling melirik satu sama lain.


"Anu tuan."


"Anu?"


"Tadi banyak semut. Kami permisi tuan."


Pasalnya kedua orang itu tidak sengaja melihat Dion dan Melinda hendak berciuman. Tadi mereka sebenarnya ingin masuk rumah melalui pintu belakang, tetapi urung dan memilih bersembunyi.


"Kita lihat lebih panas mana sama nona muda Nadira." ucap Donal mengajak Emon taruhan.


"Geser lo, gak nampak gue bege."

__ADS_1


"Berisik lo."


Perseteruan di balik semak-semak itu berlanjut hingga mereka jatuh terjerahab tak jauh dari Dion dan Melinda berada.


...****...


Dion melengos melihat kedua anak buah Wido pergi. Padahal ingin sekali melepas rindu dengan Melinda saat ini tetapi sepertinya, alam enggan memberi waktu untuk mereka.


"Gagal lagi." gumam nya masih di dengar Nina.


"Nanti malam aku puasin deh." bisik Melinda membuat bibir Dion mengembang.


"Aku akan buat kamu lemas."


Melinda tertawa lalu mengecup bibir Dion. "Ternyata oppa mesum juga ya."


Dion membuang muka merasa pipinya sudah panas memerah karena malu atas ucapan Melinda. Ternyata mencintai wanita yang lebih ahli urusan ranjang darinya sering sekali membuat ia merona.


"Dion." panggil Nadira baru saja menghampiri mereka.


Dion yang melihat wajah Nadira merengut membuat ia berdiri lalu berujar. "Kamu kenapa?"


"Itu si Bule genit sama cewek desa."


Qenan melotot melihat Dion tersenyum smirk kearah nya lalu dengan sengaja merangkul Nadira.


"Mi amor."


"Hem."


"Pilih datang kemari atau kita pulang sekarang juga." ancam Qenan.


Nadira sendiri menghentak kaki namun tetap menghampiri Qenan. Pinggang Nadira masuk dalam lingkaran tangan besar Qenan.


"Jangan begini, kan kamu sendiri yang ingetin aku untuk ramah sama orang desa kan?"


Nadira menunduk dalam dada Qenan sembari berujar. "Aku gak rela kamu di deketin cewek lain."


"Jadi, apa yang harus aku lakuin biar kamu gak cemburu lagi?"


Nadira mendongak. "Aku gak mau ada jejak-jejak dari mereka di tubuhmu."


"Baiklah, ayo kita mandi bersama. Aku juga gak mau ada jejak tukang telur gulung dan Dion di tubuhmu."


"Kyaaa.. Qenan, turunin gak?" titah Nadira karena merasakan tubuhnya melayang ke udara. Qenan menggendong ala bridal style menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah orang tua Melinda.


Ya, kamar mandi tanpa atap hanya ada dinding yang terbuat dari terpal berwarna biru tersebut. Sebenarnya di dalam rumah ada satu kamar mandi tetapi Qenan tak ingin disana karena ada maksud tertentu pastinya.


Ia ingat betul bahwa hari ini tepat seminggu setelah kepulangan nya. Di tambah pepohonan dan sangat sepi di belakang rumah menambah fantasi nya menggema.


"*I want to make love in the forest. (Aku ingin bercinta di hutan.)"

__ADS_1


🌸*


Bersambung


__ADS_2