Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Menata hati


__ADS_3

Nina memasuki Kafe Hebat bertepatan Arga akan keluar dari Kafe Hebat. Berpapasan dengan saling diam. Walau lirikan mata Arga menyorot penuh arti pada Nina.


Nina sendiri mengerutkan dahi namun kaki tetap melangkah masuk. Hingga kini Arga tidak pernah menunjukkan sikap ramah padanya, padahal ia sudah meminta maaf. Setidaknya ia tak ingin ada dendam diantara mereka berdua.


Hari ini ia ia akan sendirian karena Nazeef harus berangkat ke Bandung atas perintah Qenan.


Ia berharap setelah Nazeef kembali akan membawa kabar baik dengan kembali nya Nadira.


Mengingat bagaimana hubungan nya dengan Nazeef membuat ia merasa beruntung. Kini Nazeef benar-benar menjaga nya. Walau ia harus mengalami yang namanya di labrak cewek-cewek masalalu Nazeef.


Dan masalah orang tua nya di Bogor, rasanya ingin sekali ia berteriak dan mengatakan jangan jadi orang tua matre. Bagaimana tidak? setelah tahu Nazeef adalah kekasihnya, Bapak Nina selalu meminta uang bulanan pada Nazeef, belum lagi meminta barang-barang yang menurutnya tidak harus di turuti.


Malu.


Kata itulah tersemat jelas di hatinya pada Nazeef selain rasa cintanya.


Ikan Teri😎 :


Aku udah sampek, kamu hati-hati disana. Jaga sarang burung pipit untuk ku😉


Nina menggeleng membaca pesan WhatsApp dari Nazeef. Begini resiko memiliki hubungan dengan seseorang yang sudah pernah merasakan surga dunia.


Tidak jauh dari kata mesum.


Nina :


Otak mu butuh di upgrade deh, omes mulu.🙄


...****...


Di Bandung.


Nazeef tersenyum membaca balasan dari Nina. Bohong jika ia tidak berpikiran mesum pada Nina. Sering menghabiskan waktu bersama bahkan sering tidur dalam satu ranjang membuat burung pipit kesayangan cenat-cenut.


Ingin segera menikah?


Tentu saja.


Tapi ini belum saat nya. Hingga kini ia belum mengabari Papa nya, karena sudah dipastikan hubungan nya akan di tentang. Dengan alasan Nina tidak sepadan.

__ADS_1


Alasan itulah membuat ia tak ingin hidup bersama Papa nya. Harta dan tahta selalu mengalahkan cinta.


Padahal selama ini yang dibutuhkan hanya cinta dari sang Papa. Tapi apa yang ia dapat? bahkan jika saja tidak memikirkan ucapan papa Reno, ia benar-benar memutus kontak antara ia dan papa nya.


Sedarah namun nyatanya orang asing yang merawatnya hingga kini. Keluarga Abraham hadir dalam bentuk cinta yang tulus untuk dirinya, itu alasan mengapa selalu menurut apa yang di katakan Qenan untuknya.


Sekesal atau semarahnya pada Qenan, namun akhirnya tetap ia laksanakan.


Sama seperti Qenan, ia terus mengumpat dengan kondisi jalanan yang sangat buruk untuk dikendarai mobil sport seperti miliknya.


"Bang, stop bang." ujar Nazeef mencoba menghalau mobil pick-up yang hendak melaju ke arah tujuan nya.


Mobil pick-up tersebut berhenti lalu mengomel pada Nazeef. Pasalnya Nazeef berada di tengah jalan membuat sang sopir menginjak rem mendadak.


"Apa?"


"Maaf, Pak. Bisa antar saya ke alamat ini nggak?" Nazeef menyerahkan secarik kertas pada sang sopir.


"Jauh ini, 2 juta kalau mau."


Nazeef terperangah sadar jika sedang di peras. Namun tak bisa berbuat apa-apa selain setuju dan sialnya harus naik ke pick-up dengan tumpukan rumput untuk pakan ternak.


Lebih dari setengah jam Nazeef baru sampai langsung menyerahkan 20 lembar uang pecahan saratus ribuan.


Ia masuk begitu saja, meletakkan tas travel ke sofa lalu mencari sumber bau harum masakan ke dapur.


"Bos, sini 2 juta." tangan nya menengadah di samping tubuh Qenan yang sibuk membalik ikan nila.


"Untuk apa?" tanya Qenan tanpa mengalihkan pandangan.


"Lo tahu kan bos, jalanan disini sangat buruk dan gue harus menumpang mobil pick-up bayar 2 juta."


"Awh. Sakit, bos." pekik Nazeef setelah mendapat timpukan dari Qenan.


"Dasar bege, makanya otak lo jangan mesum terus. Lo itu ditipu sama mereka. Gue aja bisa gratis sampek sini." omel Qenan sembari mentiris kan ikan yang di goreng nya.


Nazeef menggaruk tengkuk leher merasa memang dirinya bodoh kali ini. Kemudian ia menjelaskan pekerjaan aman terkendali tetapi Qenan harus pulang besok karena harus menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan papa Surya untuk pembangunan tempat belajar anak di Desa ini.


...****...

__ADS_1


Di tempat lain di sebuah hutan jauh dari kerumunan manusia melangsungkan hidup. Wido mendatangi markas yang sudah cukup lama tak ia datangi semenjak baby Aditya lahir.


Duduk diam dengan jari-jemari menari di atas meja. Jauh di lubuk hatinya ada sisi kemanusiaan yang tak tega melihat ibu dari anaknya itu menjadi budak sek*s di markas nya. Namun, sekali lagi ia tidak suka ancaman yang di berikan ke seseorang tak di hiraukan maka jangan salahkan ia jika berubah menjadi kejam.


"Berubahlah, maka kamu akan menemukan seseorang yang cinta sama kamu. Aditya biar aku yang urus." ucap Wido pada Rania yang menunduk tidak berani menatap padanya.


"Maafin aku, mas." kata Rania lirih.


"Minta maaflah sama Nadira. Aku juga minta maaf padamu, selama kamu menjadi istriku tak pernah sedikitpun ada cinta yang ku berikan padamu. Sekali lagi, cinta gak bisa di paksakan."


Wido bangkit pergi meninggalkan markas. Hari ini ia akan pulang kerumah dan akan menghabiskan waktu seharian besok bersama sang putra.


Sekarang ia mulai menata hati untuk tak lagi memikirkan Nadira. Hatinya sudah menerima jika Nadira bukan lah takdirnya.


Cukup selama setahun saat Qenan pergi dan ia sering menghabiskan waktu bersama Nadira. Tapi bukan berarti Nadira berselingkuh, BUKAN.


Mereka menghabiskan waktu bersama hanya sekedar menemani ia bekerja, mengerjakan tugas kuliah Nadira, atau makan bersama. Itu pun mereka lakukan di tempat keramaian bukan di ruangan yang hanya ada ia dan Nadira.


Sekarang fokusnya hanya membesarkan putra nya. Masalah jodoh, biarlah ia mengikuti cara Tuhan menemukan ibu sambung yang pantas untuk baby Aditya.


"Tuan, Emon kasih kabar kalau suami nona Nadira sudah menemukan nona." lapor Donal.


Wido mengangguk.


"Apa bos baik-baik aja?" tanya Donal yang tahu bagaimana perasaan Tuan nya.


"Ya, aku harus apa?" tanya Wido lirih. Tidak mudah menjadi dirinya. Hidup sendiri dan mengurus keponakan nya. Tidak jarang ia harus berhadapan dengan orang-orang yang menganggap ia dan papa Surya musuh mereka hanya karena tender di menangkan olehnya.


Ya, kedua orang tua Wido telah tiada sebulan sesudah mengetahui Rania hamil.


"Semoga ada wanita yang cinta sama tuan sedalam tuan cinta sama nona Nadira."


Wido memejamkan mata. Terkadang ia memperlihatkan sisi lemahnya jika sudah berdua dengan Donal. Jangan tanyakan bagaimana dengan Emon, karena Wido tak bisa mempercayai mulut ember anak buah nya yang satu itu.


"Semoga aja, Don."


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2