
"Sial."
"Aarrgghh.."
Praang.. Prang..
Di kamar apartemen miliknya, semua barang yang dapat di jangkau sudah rusak bahkan ada yang hancur akibat sang empunya, Nazeef.
Ia begitu marah, kecewa, dan cemburu menjadi satu. Dan lebih menyedihkan lagi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Bayangan-bayangan saat Arga mencium Nina terus menari-nari dan itu semakin membuat ia tersulut emosi.
"Ini sakit." Nazeef memukul dada yang terasa sesak.
Diakui jika dirinya bukanlah cowok baik-baik tetapi sekarang ini ia berusaha untuk berubah total menjadi yang diinginkan Nina.
Bohong jika ia tidak tahu tentang Risa namun hingga sekarang ini ia tidak memiliki bukti fisik perselingkuhan itu.
Mengapa tak mencarinya? pekerjaan yang di tugaskan Qenan terlampau banyak sebelum mereka berangkat ke Amerika.
Ia cukup tahu diri dimana tempat nya di keluarga Abraham. Dan ia paham betul berpisah dengan suami selama 2 tahun tentu sangat menyedihkan untuk Nadira.
Dipikirnya, apa yang dikatakan Nina tentang perasaan cinta padanya adalah kebenaran, ternyata itu hanya untuk hiburan hatinya semata.
Tidak tahukah Nina bahwa dirinya memiliki harapan besar kepada cinta Nina?
Harapan hidup bersama setelah dua tahun kemudian dan rencana menikahi Nina setelah Qenan di sah kan menjadi pewaris dan pemimpin kerajaan bisnis keluarga Abraham.
"Hati ku kecewa, tapi tak tahu harus menyalahkan siapa."
Ia merogoh ponsel di saku celana menghubungi kedua sahabatnya.
...****...
Di ruang lukis Dion diam termenung memikirkan tatapan Melinda tempo hari. Ia paham betul tatapan itu menyiratkan kesedihan teramat dalam tetapi ia tak tahu kesedihan apa itu.
Ingin mencari mencari tahu? pasti, tapi papa Surya belum memberi wewenang Dion untuk menggunakan kuasanya sebagai penerus dari perusahaan konstruksi milik papa Surya.
Padahal, jika saja wewenang itu sudah ia pegang tentu hal mudah baginya memerintahkan beberapa preman peliharaan papa Surya untuk mencari tahu apa yang di kerjakan oleh Melinda pada malam hari.
Namun kembali ke sifat asli Dion, ia terlalu cuek untuk hal itu. Bukan tipe mau ikut urusan orang lain.
"Terserah lo Lin mau lakuin apa yang penting lo harus bahagia."
Akhirnya ia memilih melanjutkan lukisan nya. Dan saat ini ia tengah melukis sesuatu permintaan dari Qenan.
Dan ia curiga untuk hari esok karena Qenan ingin meminjam ruang lukis nya sehari penuh.
"Apa yang mau di kerjakan nya di ruangan gue? Hahh.. Kenapa gue curiga kalau udah Qenan yang pinjam ya?"
"Semoga kalian gak apa-apa besok ya.." Ia berbicara kepada alat-alat lukis nya seakan besok akan terjadi sesuatu pada mereka.
Ponsel bergetar dan ia melihat Nazeef menghubungi nya.
"Hem.."
__ADS_1
"..."
"Iya gue kesana."
...****...
Di gedung yang sama namun apartemen berbeda. Qenan yang baru saja menidurkan istrinya harus berusaha menjangkau ponsel nya yang berdering di atas nakas.
Cukup menguras kesabaran karena ponsel itu tak terjangkau nya, pasalnya satu tangan nya dipeluk erat oleh sang istri.
Tadi sehabis dari bioskop mereka langsung pulang dan ia semakin merasa ketidakrelaan Nadira semakin tampak.
"Hallo.." ucapnya berbisik ketika mengangkat telepon dari Nazeef.
"...."
"Gue gak bisa bege, Nadira sendirian. Terus lo kenapa?"
"...."
"Iya-iya gue izin dulu."
"...."
"Hem."
Qenan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas lalu mencoba membangun kan Nadira dengan perlahan.
"Ra.."
Kalau gini mana tega gue tinggalin, tapi Nazeef lagi butuh gue.
"Ra, bangun dulu sayang."
Ia tersenyum melihat reaksi Nadira ketika menyebutnya dengan kata 'sayang'.
"A**şkım (sayangku).."
Ia gunakan bahasa yang sama dengan drama-drama yang akhir-akhir ini di tonton Nadira.
"Apa sih Nan, aku ngantuk." sahut Nadira masih dalam dekapan nya. Suara nya yang begitu khas orang nya masih mengantuk.
"Aku mau ke apartemen Nazeef sebentar boleh? dia membutuhkan ku."
Nadira mengangguk tetapi jemari nya menunjuk ke pipi, kening, dan bibir nya sendiri.
Dengan senang hati ia melakukan semua permintaan Nadira.
"Aku keluar sebentar ya, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku atau langsung ke apartemen Nazeef ya.."
"Nanti ke apartemen Nina aja deh."
"Iya, penting kabari aku, oke.."
Qenan bangkit lalu memakai kaos oblong nya, mengambil ponsel dan melangkah keluar apartemen menuju apartemen Nazeef.
__ADS_1
...****...
Kini Qenan sudah berada di depan pintu apartemen Nazeef. Langsung saja ia tekan kata sandi pintu tersebut karena ia sangat tahu kata sandi tersebut adalah hari kelahiran almarhumah ibunda Nazeef.
Ia menggeleng ketika sudah berada di dalam karena bau alkohol sudah tercium dan asap rokok juga.
"Jauh banget ya apartemen lo ke apartemen Nazeef." ledek Dion karena ia datang lebih dahulu.
"Hem."
Qenan menatap Nazeef yang sudah menghabiskan satu botol minuman keras dan putung rokok berserak di atas meja kaca.
Ia pun menghela nafas panjang. Ia dan Nazeef tak jauh berbeda bila pikiran suntuk ataupun emosi pasti pelampiasan nya adalah rokok dan minuman keras.
Jauh berbeda dengan Dion sang adik ipar.
"Lo kenapa?"
"Nggak tahu, bingung gue."
Qenan mendudukkan dirinya disebelah Nazeef lalu menuangkan minuman keras itu ke dalam gelas kecil kosong di atas meja lalu ia tenggak bersamaan dengan Nazeef yang melakukan hal sama.
Kemudian Nazeef menceritakan awal mula ia melihat Nina berciuman di depan apartemen Nadira yang di tempati Nina selama ini.
Tadi, ia sengaja mempercepat menyelesaikan pekerjaan nya hanya untuk mengajak Nina makan malam diluar atau hanya makan di apartemen yang terpenting malam ini mereka menghabiskan waktu bersama.
Namun langkah nya terhenti saat melihat Nina dan Arga berciuman. Ia tak langsung pergi, dengan menahan gemuruh di dada memperhatikan bagaimana Nina yang terkejut namun lama-kelamaan membalas ciuman itu, dengan berat hati ia balik kembali masuk ke dalam lift.
"Lo marah?" tanya Qenan dan di anggukin Nazeef
"Lo cemburu?"
"Iya lah bege."
"Tadi gue ketemu Risa dan ternyata dia pacarnya Rendi mantan Rara."
Nazeef tampak menghela nafas lesu. "Percuma juga kan? Nina udah ada Arga, dan gue cuma bayang-bayang doang."
Keduanya terus menikmati minuman keras itu tanpa sadar Dion sudah berjalan ke arah pintu masuk karena ada yang menekan bel berulang kali.
"Loh, sendirian?" tanya Dion kepada Nadira.
Nadira mengangguk masih setia berdiri di depan pintu dengan memeluk boneka boba yang dibelikan Qenan tadi sore saat jalan-jalan di mall.
"Nina sama kak Arga pergi. Dion, gue mau masuk. Qenan, adakan?"
Dion menelan saliva dengan kasar. Belum juga menjawab Nadira sudah memicingkan mata menatapnya dengan curiga.
"Qenan itu-." belum selesai berbicara Nadira sudah melesat masuk ke dalam apartemen Nazeef.
"Qeennaaann..."
Benar dugaan nya, pasti Nadira akan mengamuk setelah ini.
🌸
__ADS_1
Bersambung..