
Dion memijit pelipisnya karena kepalanya berdenyut. Hukuman dari papa Surya membuatnya kesal ditambah Rian belum juga ingin melepas Melinda.
Malam nanti ia berencana akan ke Surabaya dimana tempat tinggal orang tua Melinda berada.
"Sabar bro." tutur Nazeef pada Dion.
"Gue gak nyangka bakal gini, apalagi ngelamar anak orang. Gue gugup."
"Kita bakal dampingi lo "
Sedari tadi yang mengobrol hanya Dion dan Nazeef, sedang Dion hanya diam mematung mendengarkan keluh kesah mereka. Tetapi siapa yang tahu jika Qenan lebih memilih bertindak dari pada harus mendengar keluh kesah itu.
Saat ini mereka berada di ruang kerja rumah Qenan, sedang para wanita sibuk berkutat di dapur.
"Lin, enak?" goda Nadira membuat wajah Melinda bersemu merah.
"Jangan ngomongin itu bisa nggak? gue masih polos." ucap Nina sewot.
Nadira dan Melinda terbahak ketika sadar akan hal itu.
"Mang Nazeef gak nyosor kayak dulu?" tanya Nadira.
Nina menggeleng. "Enggak, dia mau pas udah nikah aja."
Nadira tersenyum bahagia. "Bagus dong."
"Oh iya Dir, entar kalau aku nikah gantian ya malam pertama nya nungguin kami di luar kamar."
"WHAT!"
...****...
Tiga pria itu berjalan menuju dapur namun langkah mereka terhenti ketika mendengar obrolan para wanita mereka.
Nazeef terkekeh mendengar permintaan Nina kepada Nadira. "Ternyata otak pacar gue sama kayak gue, ide itu bagus boy." Ia melangkah lebih dahulu menuju dapur.
Sedang Qenan dan Dion hanya menggeleng seraya melanjutkan langkahnya.
Qenan berjalan dengan tangan berada di kedua saku celana memandang Nadira tengah menatap serius pada kue di depan nya.
Di lirik dimana dua pasangan itu saling bermesraan membuatnya jengah. "Jangan kotorin rumah gue sama kelakuan laknat kalian." tegur nya.
Kedua sahabatnya hanya bisa melengos lalu membantu apa yang di lakukan wanitanya.
"Ra."
Nadira menoleh ke arah Qenan dan tersenyum. Matanya terpejam kala merasakan kecupan di keningnya.
"Kenapa harus buat sendiri? beli aja juga bisa." kata Qenan melihat peralatan dapur berserakan ulah sang istri.
"Buat sendiri lebih enak, aku juga udah buatin untuk di bawa ke rumah orang tua Elin."
__ADS_1
Qenan hanya mengangguk dan tersenyum seraya mengusap pipi Nadira Dangan lembut. Jika menyangkut masak-memasak maka ia memilih tidak protes sama sekali, karena itu adalah hobby sang istri.
Walaupun ia sendiri memiliki keahlian memasak tetapi tidak sepandai-pandainya Nadira. Namun seperti orang bilang, masakan istri tiada dua nya.
Cup
Qenan mengecup pipi Nadira tanpa menghiraukan dua pasangan sedang menatap cengo ke arahnya.
...****...
Malam hari, tepat pukul 21.00 WIB mereka berenam berangkat ke Surabaya dengan angkutan udara.
Sepanjang jalan, Dion hanya diam saja karena ia di hinggapi rasa gugup. Melinda sedari tadi terus merangkul lengan nya posesif.
"Oppa jangan lirik-lirik cewek lain dong." tukas Melinda cemberut.
Dion terkekeh melihat perubahan raut wajah Melinda. "Nggak ada yang lebih cantik dari mu."
Melinda menyembunyikan wajah di balik lengan Dion karena merasa malu. "Meleleh hati adek bang."
Kedua nya tertawa kecil karena ucapan Melinda.
Sebenarnya, Melinda merasakan hal sama dengan Dion. Tetapi ada rasa rindu terselip di hatinya. Apalagi ini adalah pertama kali ia mengunjungi ayah nya setelah kejadian dimana ibu tirinya menjualnya kepada Tante Angel.
"Oppa, keluarga ku tidak sekaya dan terpandang keluarga oppa." cicit Melinda.
Dion menunduk, tatapan mereka bertemu lalu ia mengecup sekilas bibir ranum Melinda. "Bahkan yang kupikirkan sekarang bagaimana kita menjalani hukuman papa ku setelah menikah nanti."
"Aku gak apa asal kita selalu bersama, cukup dua tahun oppa pergi tinggalin aku. Besok-besok jangan lagi."
...****...
Di kursi penumpang lain, nampak Nazeef tengah mengepang rambut kering Nina. Tidak rapi, namun karena keantusias Nazeef membuat Nina mengizinkan sesuka hati melakukan apapun terhadap rambutnya.
"Pelan lah woy, sakit ini." keluh Nina ketika Nazeef tak sengaja menarik rambut Nina.
"Sorry, sorry ting."
"Nina."
"Iya."
Keduanya telah duduk seperti semula.
"Kamu enggak apa kan kalau kita nikah setelah kedua sahabatku bahagia?" tanya Nazeef.
Bukan tanpa alasan Nazeef memutuskan hal seperti itu karena ia telah berjanji untuk menjaga kedua sahabatnya walau Qenan yang ia anggap sebagai seorang kakak selalu bisa menyelesaikan masalah sendiri. Sedang Dion, dia adalah teman curhat yang baik dan ia ingin sahabat nya juga bahagia lebih dahulu.
Nina mengangguk. "Tenang aja, aku gak mau buru-buru juga. Kita nikmati aja jalan cerita kita."
Nazeef memeluk Nina dengan sayang.
__ADS_1
...****...
Begitupun dengan Qenan dan Nadira. Sedari tadi Qenan terus memijat kepala Nadira. Istrinya itu mengeluh capek setelah membuat kue dan membantu Nina dan Melinda memasak.
"Itulah, kamu sih terlalu memforsir tenaga mu untuk memasak. Begini kan jadi nya." cerocos Qenan sedari tadi mengomel kepada Nadira.
Masih mata terpejam Nadira mencebik plbibir lalu berpindah menyandarkan kepalanya ke dada Qenan.
"Jangan marah dong, nanti jelek aku jadi cari suami baru?."
Mata Qenan membola mendengarnya membuat ia memegang kedua pundak Nadira agar duduk tegak kearahnya.
"Jadi kalau aku jelek, kamu mau cari Ra?"
Nadira yang sebenarnya bermaksud bercanda menjadi salah tingkah melihat Qenan menatap serius kearahnya.
Nadira tersenyum kikir sembari menggaruk tengkuk leher nya yang tak gatal sama sekali. Bingung harus menjawab apa.
Tetapi diam nya Nadira membuat Qenan takut jika apa yang di katakan Nadira benar adanya. Dalam mulai saat ini ia bertekad akan lebih giat lagi berolahraga agar bentuk tubuhnya lebih bagus lagi.
"Qenan, kamu nggak apa-apa?" tanya Nadira takut-takut karena Qenan masih diam saja.
Qenan menggeleng lalu duduk bersandar. Setelah Nadira berkata itu, ia hanya diam saja memikirkan jadwal olahraga nya harus di tambah, bukan lagi sekali seminggu.
Nadira mengerutkan dahi merasa bingung dan merasa bersalah. Tetapi ia ingin Qenan cemburu dan merajuk bukan hanya diam seperti memikirkan sesuatu.
...****...
Di sebuah Kafe. Seorang wanita muda tengah menunggu seseorang, yang tak lain adalah sepupunya. Wanita yang sedang menunggu itu adalah Rania.
"Maaf ya udah lama nunggu." ucap wanita itu baru tiba langsung duduk di hadapan Rania.
"It's oke. Gimana kabar lo? kenapa baru kabari gue kalau udah balik dari luar negeri?" cecar Rania kepada sepupunya itu.
Sepupu Rania tergelak langsung menyeruput minuman yang sudah di pesan Rania tadi.
"Gue takut sama suami lo, walau pun suami lo ganteng dan tajir, tapi serem." sepupu Rania tergelak lagi sedang Rania melengos membenarkan apa yang di katakan sepupunya.
"Gue balik ke Indo karena ngejar seseorang, Ran. Gue ingin miliki dia seutuhnya. Gue capek ngejar-ngejar dia tapi dia udah punya pasangan."
Rania membola. "Gila, mau jadi pelakor?"
"Yang penting bisa miliki dia, kenapa enggak? Lihat ini orang nya. Lebih ganteng dari suami lo."
Sepupu Rania menunjukkan foto pria dari ponselnya dan Rania bertambah kaget setelah mengetahui siapa pria itu.
Lama Rania terdiam lalu senyum menyeringai setelah memikirkan sesuatu.
"Gue kenal orang ini, gue punya rencana yang bisa buat dia jadi milik lo."
Rania teringat dengan apa yang di lihat di meja kerja suaminya. Sebuah undangan untuk waktu dekat yang bisa di pastikan ia tak akan di ajak dan ia sangat tahu jadwal ujian yang tengah di hadapi gak memungkinkan untuk hadir.
__ADS_1
🌸
Bersambung..