Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Wido sang pecinta


__ADS_3

Beberapa malam lalu di sebuah apartemen mewah. Seorang pria dewasa baru saja mengambrukkan tubuhnya ke samping wanita kecil yang baru saja ia gagahi.


Wido berdecih lalu bangkit meninggalkan wanita kecil itu. Sungguh ia muak dengan wajah yang ia pikir sedang berpura-pura sedih akibat ia gagahi barusan.


Padahal ketika pertama kali menyentuhnya beberapa waktu lalu, dirinya bukanlah pria pertama yang tidur dengan wanita kecil itu.


"Berhentilah berpura-pura seperti tersiksa seperti itu. Dimana wajah angkuh mu saat menyakiti wanita yang ku cintai?"


Sembari memasang kemeja, ia menatap rendah wanita itu dan tersenyum miring. "Ku peringatkan padamu, jika aku mengetahui kamu akan mencelakai Nadira maka nyawa mu taruhan nya." Wido pergi dari kamar belakang dimana wanita kecil itu berada.


...****...


Tubuh wanita kecil itu tampak bergetar ketakutan. Benar kata tuan nya, kemana wajah angkuhnya dahulu?


Wajah angkuh itu telah berubah menjadi wajah yang penuh ketakutan. Takut ibunya mencari dan membawa nya kembali pulang dan akan tinggal bersama pria yang sangat ia takuti.


Ya, wanita kecil itu adalah Rania. Ia memiliki kisah pahit, mama Lusiana bercerai dan memutuskan menikah lagi.


Bukan tidak setuju, namun papa tirinya lah yang menoreh luka. Sampai ketakutan-ketakutan itu terus menemani nya hingga takdir mempertemukan ia dengan pria dewasa bernama Wido Prasetyo.


Walau pria dewasa itu memperlakukan nya sangat buruk apalagi semenjak mengetahui ia pernah mencelakai Nadira pacar dari cowok yang ia suka. Perlakuan nya semakin buruk namun ia tak mempermasalahkan hal itu.


"Beruntung nya hidup lo Nadira.." ucapnya meringkuk di atas tempat tidur.


...****...


Usai membersihkan diri, Wido kembali menatap layar benda pipihnya melihat berita saham hari ini.


Seorang Wido yang hidup bebas telah kembali. Sama seperti saat hidup di Perancis. **** adalah hal biasa disana begitu juga dirinya.


"Apa aku harus seperti dulu lagi? andai aku punya kesempatan sekali aja menghabiskan waktu sehari bersama Nadira, aku akan belajar melepas perasaan ini."


Wido kembali mengingat dahulu sebelum Nadira berhubungan dengan keponakan nya, Rendi.


Siang itu ketika Nadira berjalan pulang sekolah. Ia sangat tahu jika jarak sekolah dengan panti asuhan lumayan jauh dan heran mengapa hari itu Nadira hanya berjalan kaki? namun ia terus mengikuti saja.


Ia bagai penguntit yang hendak menculik anak gadis orang. Terkadang Nadira tiba-tiba berhenti karena kelelahan dan duduk di pinggir jalan, dengan cepat ia bersembunyi ketika Nadira sedang celingukan.


Atau ia akan berpura-pura sebagai pejalan kaki sama seperti Nadira walau jika dilihat dari penampilannya nya sangat tidak cocok karena saat itu ia mengenakan jas formal.


Tiba-tiba ia terkekeh mengingat kenangan itu lagi.


*Wahai perasaan


Kau buat aku seperti orang gila


Mengunjungi sesuatu setiap saat, memastikan sesuatu


Padahal buat apa?


Ingin tahu ini,itu, kemudian kembali sedih


Padahal sungguh buat apa?

__ADS_1


Sebegini kah rasa cinta ini terlalu dalam*?


...****...


Sama seperti pagi sebelumnya, Wido sudah berangkat ke rumah papa Surya. Ia selalu disiplin jika masalah waktu, pekerjaan, keluarga, hanya percintaan hingga sekarang tak pernah utuh dihatinya.


Utuh namun orang yang dicinta tak mengetahui itu.


Bagaimana dengan wanita kecil itu? jawaban nya ia tak perduli.


Sesuai yang dikatakan waktu itu, wanita kecil itu adalah budaknya. Semua keperluan sudah disediakan di apartemen dan tak melarang jika ingin ke sekolah dan melanjutkan kuliah.


Wanita bayaran? tidak.


Dia adalah budak.


Jika wanita kecil itu ingin pergi dan bebas darinya silahkan karena tak ada rasa ingin tanggung jawab sedikitpun di pikiran Wido.


Jika hamil bagaimana?


Ia bukan lah pria bodoh dengan mudahnya menabur bibit benih kepada wanita.


"Selamat pagi tuan." sapanya ketika papa Surya mendekati mobil dan sigap ia buka pintu penumpang.


"Pagi, kenapa masih bersikap seolah aku ini tuan mu Wido? udah berulangkali aku bilang, kamu ini adik ku."


Wido tersenyum menanggapi itu.


"Kenapa nggak ikut sarapan di dalam tadi? padahal kedua anak ku dan menantu ku ada di dalam."


Ia tutup pintu mobil tersebut lalu memutari dan membuka pintu kemudi, saat hendak masuk ke dalam mobil tubuhnya terpaku ketika melihat Nadira tersenyum padanya.


Setidaknya aku melihat senyum mu.


"Wido.."


Wido tersadar langsung masuk ke mobil membawa papa Surya menuju SMA KUSUMA BANGSA.


"Wido, sampai kapan kamu lajang terus? aku aja seumur kamu dulu udah nikah dua kali."


Wido diam tak menanggapi.


"Putriku aja udah menikah." celetuk papa Surya lagi.


"Nunggu putri kakak jadi janda aja kalau gitu." ia membalas celetukan papa Surya dengan kejujuran.


Papa Surya terkekeh mendengar itu lalu menggeleng kepala.


"Jangan begitu, kita bisa di garap Reno entar." papa Surya menganggap apa yang di katakan Wido adalah lelucon saja.


Wido hanya tersenyum karena seperti itulah cinta nya.


Cinta untuk Nadira benar-benar tulus tanpa harus memaksa untuk memiliki.

__ADS_1


*Cintaku itu mendengar, bukan bicara.


Karena setiap hari aku bisa bicara tanpa cinta sedikit pun,


Bicara, bicara, dan bicara,


Tapi perlu cinta untuk mau mendengarkan,


Mendengarkan dengan kesabaran,


Mendengarkan tanpa bosan dan lelah.


Cintaku itu memberi, bukan menerima.


Apakah para pecinta butuh diterima rasa cintanya?


Apakah para pecinta berharap jawaban iya?


Sama sekali tidak,


Aku bisa terus memberi tanpa berharap menerima.


Karena demikianlah cintaku sebenarnya*.


Mobil yang ditungganginya telah sampai di parkiran sekolah anak dari Papa Surya. Ada rasa sesak di dada melihat Nadira terus berada di dekat Qenan.


Namun sekali lagi ia harus kendalikan diri, sekarang bukan lagi zaman nya harus marah atau berbuat jahat kepada orang lain agar memiliki Nadira menjadi miliknya.


Malu sama umur.


Biarkan bagaimana takdir memainkan hatinya saat ini. Sama seperti air yang mengalir di sungai, ia sama seperti daun yang gugur dari pohon dan jatuh ke aliran sungai maka dengan lapang ia mengikuti kemana arus membawanya.


Tetap bertahan walau terguncang gelombang, tak goyah ketika aliran mulai surut, tak gentar saat aliran itu kembali deras hingga terbentur bebatuan.


Ia percaya, ada saat dimana akan ada seseorang yang juga mencintai nya begitu dalam.


Baik itu cinta nya atau wanita lain.


Sore itu masih di SMA KUSUMA BANGSA, ia duduk tak jauh dari tempat acara tersebut. Ia melihat Nadira sedang mengikuti keponakan nya bersama seorang siswi sekolah ini.


Ia terkekeh geli melihat tingkah Nadira yang menjadi penguntit seperti dirinya.


Cuaca redup dengan angin sepoi-sepoi membuat rambut cokelat panjang Nadira melayang-layang menambah kecantikan nya.


*Engkau tahu, duhai gemerisik angin,


Kalau boleh, ingin ku titipkan banyak hal padamu,


Sampaikan padanya banyak kata padanya,


Tapi itu tak bisa ku lakukan,


Biarlah Tuhan melihat semuanya.

__ADS_1


🌸*


Bersambung..


__ADS_2