
Di kamar adik Melinda, Putri. Telah di ubah menjadi kamar pengantin. Hanya dekorasi sederhana. Melinda telah cantik dengan balutan kebaya putih dengan riasan natural.
Beberapa waktu lalu Melinda telah SAH menjadi istri dari Dion Marcellio Sanjaya. Ada rasa bahagia dan juga takut menjalani pernikahan di usia muda seperti ini.
"Gue gugup." gumam Melinda masih didalam kamar bersama Nadira dan Nina.
"Idih, udah di jebol juga." celetuk Nina masih setia dengan ponselnya.
Nadira sendiri hanya diam saja karena tengah sibuk di depan cermin sembari menutupi kissmark akibat permainan Qenan tadi.
"Woy, Dir. Diem bae."
Nadira menggeleng. Pasalnya pergumulan di kamar mandi luar tadi masih terngiang di kepalanya. Bagaimana tidak, Qenan benar-benar menghajar nya habis-habisan dan harus menahan suara mendayu juga hati-hati melakukan nya karena harus menunduk ketika ada orang di belakang rumah.
Nadira menggeleng sendiri membuat Nina maupun Melinda saling memandang lalu berujar. "Dasar Dira omes."
...****...
Di ruang tamu, Papa Reno datang untuk menghadiri pernikahan Dion. Mama Sinta tidak hadir karena sedang menghadiri acara teman sosialita nya.
"Selamat Dion. Kamu mengikuti jejak anak papa." Papa Reno menepuk bahu Dion kemudian bangkit menghampiri Ayah Melinda, Papa Surya, dan Wido.
...****...
Tinggallah Qenan, Nazeef, dan Dion duduk di lantai berdiam diri. Hingga Dion berujar membuat Qenan dan Nazeef mengumpat.
"Malam pertama gue, kalian harus jagain di depan pintu." ujar Dion.
"OGAH!"
"Gue nggak mau tahu, masak lo doang yang kami tungguin. Gue juga pengen di tunggu."
Qenan berdecak. "Dasar manja."
"Pokoknya gue minta tungguin, titik."
Qenan dan Nazeef berdecak tetapi mengiyakan permintaan Dion. Persahabatan bagai saudara kandung itu sangat mengusahakan apa yang di inginkan dari salah satu mereka selagi itu benar.
"Masak kami nunggu di depan pintu kamar rumah ini, Ion? bisa di bogem mertua lo, kami." kata Nazeef.
"Tenang, gue dapet rumah sewa. 5 rumah dari sini ke Barat."
Nazeef tercengang mendengar itu. "Kapan lo cari nya?"
"Emon sana Nadira yang cari tadi siang."
Lagi-lagi Qenan dan Nazeef melengos karena tak menyangka dari sifat cuek Dion terdapat sifat usil yang akan membuat pusing kepala dan cenat-cenut.
Sebenarnya Qenan bisa saja merealisasikan, tetapi tempat tidak memadai. Mana mungkin ia melakukan di ruang tamu orang dan masih ada orang lain disana.
Sedang Nazeef, ia sudah lama berusaha menahan jika berada di dekat Nina.
__ADS_1
...****...
Tadi pagi.
"Kyaaa.. Qenan, turunin gak?" titah Nadira karena merasakan tubuhnya melayang ke udara. Qenan menggendong ala bridal style menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah orang tua Melinda.
Ya, kamar mandi tanpa atap hanya ada dinding yang terbuat dari terpal berwarna biru tersebut. Sebenarnya di dalam rumah ada satu kamar mandi tetapi Qenan tak ingin disana karena ada maksud tertentu pastinya.
Ia ingat betul bahwa hari ini tepat seminggu setelah kepulangan nya. Di tambah pepohonan dan sangat sepi di belakang rumah menambah fantasi nya menggema.
"I want to make love in the forest. (Aku ingin bercinta di hutan.)"
Nadira melotot namun tetap tangan nya mengalung di leher Qenan. "Hati-hati Nan, jangan sampek kepeleset kita."
Qenan mengangguk lalu menurunkan Nadira. Tak lupa ia menghidupkan mesin air untuk menyamarkan pergerakan nya. Penyerangan mulai dari setiap sudut yang diinginkan. Tanpa berhenti membuat lawan tak berkutik untuk melawan.
Jejak di setiap jengkal tercipta.
Hingga senjata utama melesat masuk ke dalam singgasana. Mengasah penuh kekuatan tiada tara membuat bibir melenguh nikmat.
Kata 'ah' yang tertahan tertahan semakin menumbuhkan gai rah kedua nya.
"Nan, jangan di gendong. Nanti kelihatan." bisik nya ketika Qenan hendak menukar posisi.
Qenan berdiri tegak melihat situasi. "Aman terkendali, sayang."
Pasrah.
Bisikan-bisikan cinta menambah gai rah yang sudah menggebu setiap saat. Ceca pan dari kedua bibir bertemu dengan asahan rudal di tempat semestinya mengalun mencari titik kepuasan keduanya.
"Aku merindukan mu."
Nadira tersenyum menatap Qenan lalu menengadah ketika merasakan asahan rudal sengaja di hentak lebih keras.
"Nan, rasanya aku pengen teriak." ucap Nadira terbata karena tubuhnya terguncang.
Qenan semakin menambah kecepatan dan menekan sesuka hati. Dan dengan senang hati bibirnya menyambut bibir Nadira sebagai penyaluran pekikan yang tak bisa dilakukan Nadira.
"Sekarang atau masih mau lagi?" tanya Qenan saat sudah merasakan pelepasan hendak menghampiri.
"Sekarang aja ya, kita harus bersiap."
Qenan mengangguk lalu menurunkan Nadira mengubah posisi menjadi Nadira membelakangi nya.
Penyerangan kembali ia lakukan. Tidak memberi kesempatan pada lawan untuk melawan. Karena apa? saat ini dirinya hanya ingin menjadi pemenang.
"Nadiraaa.."
"Qenaan.."
Hingga hentakan keras beberapa kali dilakukan bersamaan cairan masa depan tumpah di dalam sana.
__ADS_1
"Sayang, masih bangun." rengek Qenan yang memang tak pernah puas jika hanya sekali.
Nadira merasakan rudal masih berdiri gagah di dalam sana hanya bisa menghembus nafas pasrah namun ia memberikan serangan balik membuat Qenan mengerang.
Qenan merubah posisi hingga ia memilih duduk di lantai dan Nadira berada dipangkuan.
"Aku pasrah." bisik Qenan membuat Nadira tersipu malu.
"Aku belum pintar, Nan. Aku malu."
"Pelajaran masih sama kayak tahun lalu. Jangan malu, aku menyukai apapun tentang mu."
Lenguhan tercipta ketika rudal di masuki rumah pengasahan. Bibir lawan sudah diraup dan merasakan nikmat dari asahan yang tercipta.
Gai rah bertambah melihat pemandangan dua gundukan menari tepat di depan matanya. Gundukan yang semakin membuat tergiur untuk dilahap hingga puas.
"Kamu sangat sek*si, Mi amor." ucap Qenan lalu melahap salah satu gundukan membuat empunya melenguh nikmat.
"Be-benarkah? nggak ada wanita lain selain aku?"
Qenan melepas lahapan menatap dalam ke mata Nadira. "Nggak ada yang lain selain dirimu."
Nadira tersenyum melanjutkan asahan, hingga keduanya mengerang ketika pelepasan kedua terwujud.
Nadira terkulai lemas dalam pelukan Qenan sembari berbisik. "Udah ya, besok kita lanjut kalau udah di rumah."
Di tengah kepuasan mendapatkan bisikan seakan angin segar menyergap hatinya.
"Baiklah, aku akan menagih janji ini."
Qenan mengeluarkan rudal dari sarang. Membiarkan Nadira duduk bersandar dengan sumur.
Dengan telaten ia memandikan Nadira dengan lembut. Nadira hanya bisa pasrah dan bahagia diperlakukan seperti ini pada Qenan.
Diakui, semenjak dinikahi Qenan sangat merubah dirinya yang dulu tangguh dan bisa melakukan apapun sendiri.
Tapi, semua berubah dan Qenan sangat membuat ia bergantung padanya.
Dasar manja.
"Aku manja banget ya, Nan?" tanya Nadira menatap Qenan yang sedang fokus membersihkan area sarang rudal.
Tatapan Qenan beralih ke arah Nadira tersenyum lalu mengecup bibirnya.
"Aku suka, dan memang itu yang aku inginkan. Kalau kamu manja, itu berarti kamu sangat bergantung padaku dan aku sebagai pria sungguh menyukainya. Aku merasa di butuhkan."
🌸
Bersambung..
Gak lolos-lolos gaes. di tolak mulu 🤣
__ADS_1