
"Hallo.." ucap Nadira dengan suara serak dan mata terpejam.
Saat ini waktu setempat masih menunjukkan pukul 03.00 WIB. Suara dering ponsel Nadira sedari tadi mengganggu tidur nyenyak nya.
"Sayang.."
Suara bariton yang ia rindukan terdengar di balik ponsel nya. Seketika rasa kantuk itu hilang, mata yang tadi enggan terbuka kini terbuka sempurna.
"Qenan.."
Ah rasanya Nadira merutuki dirinya, mengapa suaranya berubah menjadi manja dan seperti sedang merengek?
"Ganggu ya?"
"Enggak kok. Kenapa belum tidur?"
"Aku ngga bisa tidur, gak ada yang dipeluk."
Nadira tersenyum, memang benar jika hendak tidur pasti Qenan memeluknya dahulu hingga terlelap.
"Cepat pulang."
Terdengar kekehan dibalik ponsel Nadira membuat sang empunya cemberut.
"Iya, ya udah aku matiin ya.. Jaga diri baik-baik."
"Iya, kamu juga."
Setelah telepon itu terputus Nadira memilih tidur lagi karena masih mengantuk.
Pagi ini ia tidak melakukan kebiasaan nya karena tidak ada yang akan memakan masakan nya. Nadira terlihat rapi, entah mengapa ia tak selera makan padahal makanan di atas meja sangat menggugah selera.
"Bi, Nadira sarapan roti aja ya.."
"Loh, ini cumi saos Padang kesukaan non Nadira loh.."
Nadira menatap makanan itu namun tetap saja tak berselera.
"Nanti aja aku makan bi.. Aku berangkat ya."
Nadira terus berjalan gontai tanpa semangat kuliah hari ini. Bagaimana mau semangat? tidak ada orang terdekat nya di rumah ini atau di apartemen.
Ia berangkat di antar sopir atas perintah papa Surya dan ia tidak membantah sama sekali.
Sesampainya di kampus Nina dan Melinda menyambut dengan girang karena Melinda sudah dua malam ini terus bertukar kabar dengan Dion walau Dion nya sendiri selalu cuek.
Ia senang akan hal itu, setidaknya ada yang menggangu Dion agar tak kesepian.
Pulang dari kampus lagi-lagi sopir papa Surya menjemput dan ia hanya menuruti tapi ada yang berbeda. Ya, ini bukan jalan arah pulang ke rumah papa Surya ataupun apartemen Qenan.
"Kita mau kemana?"
__ADS_1
"Ke rumah tuan Reno nona."
"What?" pekiknya terperanjat.
"Ngapain pak?" tanya Nadira panik.
"Saya tidak tahu nona, tadi tuan menelepon kata beliau sepulang kuliah nona harus ke rumah tuan Reno."
Nadira menelan saliva dengan kasar. Ia belum siap untuk bertemu orang tua Qenan sendirian begini. Pikiran buruk mulai menghantui pikiran nya.
Bagaimana kalau orang tua Qenan tak suka padanya?
Bagaimana kalau sama seperti di novel-novel itu, di usir jauh dari anak mereka?
Bagaimana kalau seperti di novel-novel itu, dimana ia harus pergi jauh dalam keadaan hamil?
Dahi Nadira mengerut tiba kata hamil itu terlintas dipikirannya.
Hamil?... Gak mungkin aku hamil kan? perasaan aku selalu minum obat itu dan Qenan memakai pengaman terakhir kali. Ya... Aku gak mungkin hamil.
Beberapa saat kemudian, kini mobil tersebut telah memasuki gerbang rumah keluarga Reno Abraham. Satu kata yang pantas untuk rumah ini.
MEWAH.
Rumah tingkat tiga.
Gila.. Tajir melintir.
"Selamat datang nona.."
"Eh.." Mendengar sapaan itu Nadira tersadar dan cengengesan.
"Udah di tunggu nyonya Sinta di dalam, mari saya antar." ujar salah satu pelayan itu.
"Iya bi.."
Nadira mengikuti pelayang itu menuju ruang tamu. Lagi-lagi ia berdecak kagum pada keindahan isi rumah keluarga Reno Abraham.
"Kamu udah sampai?" tanya mama Sinta yang sedang duduk bersama seseorang di ruang tamu.
"Iya ma." sahutnya mendekati mama Sinta mencium punggung tangannya kemudian tangan temen mama Sinta yaitu mama Lusiana.
"Duduk sini sayang." titah mama Sinta mempersilahkan Nadira duduk di dekatnya dan Nadira pun menuruti.
"Oh iya Ra, kamu kuliah ambil jurusan apa?" tanya mama Sinta.
"PG-PAUD ma.." sahut Nadira lugas.
Mama Sinta manggut-manggut tersenyum berbeda dengan mama Lusiana yang tersenyum miring.
"Kenapa kamu ambil jurusan itu?" tanya mama Sinta.
__ADS_1
Nadira tersenyum. "Karena Nadira suka anak-anak ma dan kalau bekerja sebagai guru TK dan PAUD itu waktunya fleksibel. Jadi gak ngurangin waktu untuk bareng sama anak mama." Ia nyengir kuda setelah menjawab itu.
"Kamu yakin Qenan itu jodoh kamu? jangan terlalu mimpi." cibiran mama Lusiana membuat Nadira tersenyum.
"Maaf Tante, saya belajar dari rumah tangga papa Surya dan Mama melati. Saya gak akan serahkan atau membiarkan cewek lain dekati atau merebut apa yang udah jadi milik saya. Anak Tante contohnya." terang Nadira
"Kamu.."
"Kamu lihat Sin, ini calon menantu mu? gak punya sopan santun." cibir mama Lusiana.
Belum sempat mama Sinta menjawab sudah di potong Nadira lagi.
"Sebelum menilai kesopanan seseorang lebih baik nilai kesopanan anak sendiri dulu Tante.. Yang Tante bilang saya gak sopan tadi itu sebuah pembelaan dari saya."
Merasa suasana semakin panas akhirnya mama Sinta mengalihkan pembicaraan. Namun Nadira pamit melihat dapur dan ingin memasak bersama dengan beberapa pelayan.
"Loh kamu masak Dira?" tanya mama Sinta tiba di meja makan dan Nadira ikut meletakkan makanan di meja itu mengenakan celemek.
"Iya ma, maaf ya.."
"Gak apa-apa, anggap rumah sendiri. Mama kira tadi kamu ke kamar Qenan atau ke ruang baca."
"Nadira mana berani ma.. Apa lagi ke kamar Qenan."
"Tapi kamu nanti bisa masuk kesana, malam ini nginep ya.." pinta mama Sinta dengan wajah penuh harap pada Nadira.
Nadira hanya bisa mengangguk. Mau bagaimana pun kini ia menantu walau masih di rahasiakan. Biarlah, biar ia belajar mengambil hati mertua nya.
"Ini enak sayang.." puji mama Sinta sedang mama Lusiana masih diam menikmati makan siang nya.
"Beneran ma? saos BBQ nya udah pas belum rasa dan warna nya?" tanya Nadira girang, Pasalnya saat ini ia membuat ayam goreng saos BBQ sama seperti ia memasak untuk Qenan namun saosnya terlalu matang hingga warna saos sedikit gelap.
"Pas kok, Qenan juga suka ini."
Nadira yang sudah duduk di depan mama Sinta dan mama Lusiana semakin semangat saat nama suaminya di sebut.
"Iya ma, tapi waktu aku buatin untuk dia saos nya kematangan jadi warna saosnya agak gelap."
Mama Sinta dan mama Lusiana berhenti menikmati hidangan karena mendengar ucapan Nadira. Terlebih mama Sinta, ia pikir anaknya pacaran sekedar jalan bersama ternya sudah sampai ke tahap memasakkan untuk anaknya.
Ah mungkin aja Nadira membawakan makanan dari rumah mas Surya. Ya pasti begitu.
"Kamu masak untuk Qenan?" tanya mama Sinta.
Nadira tersadar bila sudah salah bicara. Melihat kedua wajah wanita yang sudah tak muda lagi namun awet muda itu mendadak menjadi gugup.
"Iya ma." sahutnya jujur.
🌸
Bersambung..
__ADS_1