Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Belanja


__ADS_3

Nadira menggaruk alis bahkan berpindah ke rambutnya setelah mendengarkan perkataan Qenan. Ada rasa sesal telah memuji pria lain di depan Qenan.


Bahkan kini Nadira memukuli bibir nya yang sering bicara sembarangan. Melihat Qenan masih berada di salah satu bench yang bermanfaat sebagai melatih otot dada.


"Nan." panggilnya dan membuat Qenan menoleh ke arah nya.


"Udah yuk, mandi terus kita makan malam. Jangan pikirin apa yang aku bilang tadi. Maaf."


Qenan menghentikan kegiatan nya lalu berjalan ke arahnya. Ia langsung merangkul lengan Qenan yang sudah basah karena keringat.


"Kamu jauh lebih tampan dari siapapun sayang. Jangan pernah insecure ya. Maaf kalau tadi aku salah bicara."


"Beneran?"


Nadira mengangguk. "Maaf. Jangan pernah ngomongin operasi atau apapun. Kamu sempurna."


"Beneran? gak akan jatuh cinta sama dokter itu atau cowok manapun?"


Nadira menggeleng. "Cintaku padamu ibarat sebuah perjalanan. Dimulai dari selamanya dan tak akan pernah berakhir."


Mendengar ucapan Nadira barulah Qenan tersenyum. Senyuman yang ia rindukan sejak pagi.


"Sayang, sini deh nunduk." ujar Nadira menengadah menanti Qenan untuk menunduk.


Cup


"Ayo kita ke kamar, kamu mandi dan aku tungguin." ucap Nadira setelah mengecup pipi Qenan.


Di dalam kamar tak ada aktivitas lain selain membersihkan diri dan Nadira dengan telaten menyiapkan pakaian dan menyksir rambut Qenan.


Seusai itu mereka turun untuk makan malam bersama. Bercerita keseharian yang di lakukan karena hari ini mereka tak bersama seperti biasanya.


"Sayang, abis lahiran aku boleh kuliah lagi nggak?"


"Boleh. Ilmu itu penting sayang."


"Kerja sesuai jurusan boleh?"


"Boleh, tapi di rumah ngajarin anak-anak kita. Nanti aku gaji."


Nadira menganga mendengar jawaban dari Qenan. "Maaf tuan muda, anda lupa kalau saya ratu disini? uang saya banyak."


Qenan terkekeh lalu meletakkan iPad kemudian menatap sang istri. "Aku rasa dengan membangun yayasan sekolah TK dan PAUD itu lebih baik, sayang. Kamu yang kelola. Aku tahu, kamu pasti ingin anak jalanan bisa sekolah kan?"


Nadira mengangguk. Memang benar ia sangat menginginkan memiliki tempat untuk menampung anak-anak yang tak mampu untuk bisa merasakan bersekolah tanpa harus membayar mahal.


"Jadi inget anak panti. Pengen ketemu." celetuk Nadira membuat Qenan kesal.


"Ingat perut hdah semakin buncit. Jangan aneh-aneh."


Nyali Nadira ciut jika Qenan sudah berbicara tegas begitu padanya. Dan ia juga tak ingin mengambil resiko.


"Kenapa kamu jadi galak gitu?" gumam Nadira lirih yang masih terdengarboleh Qenan.

__ADS_1


"Aku enggak galak, cuma sekarang harus tegas sama kamu."


Nadira hanya bisa cemberut. "Besok kita belanja perlengkapan lagi ya.."


"Iya."


Keduanya masuk ke dalam kamar membersihkan diri lebih dahulu barulah tidur bersama.


...****...


Sesuai rencana tadi malam. Hari ini setelah makan siang, Qenan mengosongkan jadwal untuk menemani sang istri. Namun agaknya Nazeef dan dion tak mau ketinggalan.


Ketiga wanita hamil bergelar istri itu sama-sama menengadahkan tangan di hadapan suami.


"Kartu kredit kalian pada kemana?" tanya Nazeef sembari mengeluarkan dompet dan mengambil salah satu kartu kreditnya dan diberikan pada Nina.


"Ada. Tapi lebih puas kalau dari uang para suami." celetuk Nadira langsung merampas dompet Qenan.


"Jangan nya pelan-pelan, Ra."


Benar saja, Nadira langsung memelankan langkah nya. Para suami hanya duduk menunggu para istri karena saat ini mereka berada di toko baju wanita bukan perlengkapan bayi.


Tidak ingin membantu karena para istri mereka itu hanya meminta pendapat bagus atau tidak bukan meminta bantuan untuk di pilihkan.


Di sela-sela penantian, mereka menyempatkan memeriksa pekerjaan. "Qen, sebentar lagi ada seminar tahunan di brand kaos kita."


Qenan mengangguk. "Lo aja."


Nazeef berdecak. "Selalu gitu, padahal bisnis kita itu otak nya lo."


"Ayolah."


"Gue lihat kesehatan Rara dulu. Kalau bisa kita bawa ya berangkat."


...****...


"Kenapa dres ini cantik-cantik sih?" sungut Nadira kesal karena baginya walau dres itu cantik tetapi tak akan cantik bila dirinya yang memakai itu dalam keadaan berut membuncit.


"Ya pakek nya tunggu lahiran, Ra." sahut Nina mengerti atas kegundahan sahabatnya.


"Gue malah kangen pakek celana lagi." celetuk Nina kemudian.


"Lo mah perut masih buncit kecil, masih bisa pakek celana walau celana tidur doang. Lah gue? belum lagi itu suami sering larang gue pakek daleman."


"Idih, gak malu ya lo?" tanya Nina sewot.


"Enggak, kan sama suami sendiri. Enak juga ngapa malu dan nolak."


Nina hanya bisa menggeleng karena jawaban Nadira begitu vul gar untuknya. Karena ia tak begitu.


"Suami itu suka lihat istri sek si tahu, Na. Tapi cukup jika hanya berdua ya. Karena aku juga suka lihat Qenan gak pakek baju. Roti sobek dan dada bidang nya itu, loh."


Nina semakin tercengang mendengaf ke mesuman dari sahabat nya itu. "Lo mesum, Dir."

__ADS_1


Nadira dan Nina tertawa. Keduanya terpisah dari Melinda karena wanita itu sedang memilih baju seragam malam.


"Kayaknya aku udah ketularan mesum dari Qenan. Lo mah enak di apartemen berdua bebas mau pakek baju atau enggak. Lah gue? makanya gue gak rela Qenan keluar cuma pakek celana tanpa baju."


"Tapi gue salut sama kalian sampek sekarang terlihat adem walau sempat berpisah karena odang lain."


Nadira berdecak. Tidak tahu saja jika ia dan Qenan baru baikan dan itu harus berujung berperang di atas ranjang tadi pagi.


"Dira." Panggil Nina berbisik.


"Apa?"


"Lo sama bos Qenan ngelakuin nya pas kapan?"


Nadira diam sejenak. "Yang wajib itu pagi, kalau malam sering tapi paginya wajib. Siang kalau tergoda sama aku. Kenapa?"


Nina menelan saliva mendengar jawaban dari Nadira. Tak menyangka sahabatnya sesering itu bercinta dengan Qenan.


"Kalau lo sama Nazeef?"


Pertanyaan itu membuat ia tak percaya diri untuk menjawab dan ia sadari mengapa mereka sering bertengkar karena ia kurabg melayani Nazeef.


"Gue tahu kalau kalian jarang kan? mungkin bawaan hamil. Tapi kembali lagi, suami kita masih darah muda. Apalagi suami lo udah pernah merasakan sebelum kalian menikah. Dan dulu dia kalau ingin langsung check-in. Sekarang tugas lo kembalikan semangat dia lagi."


"Iya, gue ngerti."


Nadira menarik Nina ke rak yang ada lingerie bergantungan disana dan mereka memilih itu tanpa sepengetahuan suami mereka.


...****...


"Oppa, aku ke toilet sebentar ya." izin Melinda pada Dion.


"Mau di temani?"


Nina menggeleng. "Aku sendiri."


Setelah mendapat izin dari dion, Melinda keluar toko berjalan mencari toilet umum di Mall. Masuk ke dan menuntaskan yang hendak di tuntaskan.


Tetapi betapa terkejutnya Melinda ketika keluar dari toilet karena tubuhnya di rengkuh seseorang.


Orang yang selama ini tak pernah lagi menampakkan diri di kehidupan nya. Melinda mengenal orang ini. Sangat mengenal.


Bahkan jika Dion tak menikahinya, orang inilah yang terus bersamanya. Harum tubuh maskulin yang masih ada di ingatan.


Masih sama.


"Aku merindukan, mu."


Deg


Melinda menggeleng. Ini tak benar, ia terus meronta agar pelukan yang begitu erat segera terlepas karena ia juga tak ingin ada yang melihat dirinya bersama pria lain.


"Biarkan kayak gini sebentar, Meli."

__ADS_1


❤️


Bersambung


__ADS_2