Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Dion yang polos


__ADS_3

Hari sudah hampir sore Wido baru terbangun dan mendengar seorang gadis lebih tepat seorang wanita menangis di sudut kamar hotel tersebut.


Ia terduduk dengan selimut menutupi tubuh bagian bawah menatap jengah pada wanita tersebut.


"Kamu seperti masih perawan aja." Decak Wido karena karena tak merasakan pusaka nya kesulitan saat memasuki milik wanita itu.


"Berhenti lah menangis. Suara mu sangat berisik."


Wido bangkit dengan selimut tebal menutupi bagian tubuh bawahnya menuju kamar mandi. Sedangkan wanita itu masih meringkuk di sudut kamar.


Rasa trauma yang tak pernah orang lain ketahui kini terulang lagi. Sekelebat bayangan orang yang begitu ia benci dan sangat ia takuti langsung terbayang di kepalanya.


Hidupnya hancur setelah orang itu hadir dalam keluarga nya. Dan kini kejadian itu terulang lagi dengan orang yang berbeda.


"Kamu masih nangis juga?" sentak Wido membuat wanita itu terjingkat mendongak menatap wajah arogannya.


Dengan kasar wanita itu menghapus air matanya.


Mata Wido memicing memperhatikan wajah sembab wanita yang ia perkosa tadi malam seperti pernah melihatnya.


Oh damn it. Mengapa bisa berhubungan dengan orang-orang terdekat?


"Maaf Tuan." cicit wanita itu.


"Berapa harus ku bayar? kamu harus segera pulang bukan?" tanya Wido dengan nada merendahkan.


Wanita itu menggeleng. "Bawa aku Tuan, jangan suruh aku pulang, aku mohon." Bahkan wanita itu sampai bersimpuh di kaki Wido dan kembali menangis.


Wido sampai tersentak melihat itu namun wajah nya kembali arogan. "Aku tak akan menikahi wanita murahan seperti mu anak kecil."


Wanita itu mendongak dengan wajah mengiba. "Aku mohon, aku janji gak akan minta pertanggungjawaban anda Tuan, yang penting jangan bawa aku pulang."


Wido berdecak, ia paling tak suka di repot kan seperti ini. "Lepaskan."


"Baiklah jika itu mau mu. Kamu akan menjadi budak ku."


Senyuman terbit dari bibir wanita tersebut lalu menghapus air matanya lagi. "Cepat pakai pakaian mu."


Beberapa saat kemudian Wido membawa wanita kecil itu ke apartemen pribadi nya. Apartemen yang cukup mewah dengan 3 kamar tidur. 1 kamar tidur untuknya, 1 kamar tamu yang biasa dipakai Rian jika menginap, dan satu kamar tidur di dapur.


"Kamar mu ada di dapur." tuturnya lalu melangkah masuk ke kamar meninggalkan wanita kecil itu.


Di dalam kamar Wido langsung mendatangi salah satu sudut kamar dimana berjejer foto-foto Nadira disana.


"Dira.. Tadi malam aku melakukan kesalahan, kesalahan fatal Dira... Aku begitu kalut saat mengetahui kenyataan kalau kamu udah nikah sama Qenan." Wajah yang tadi nya arogan berubah menjadi wajah yang lemah lembut.


"Aku gak sengaja, ada yang mencampurkan obat ke minuman ku. Aku harus gimana?"


"Enggak, dia udah gak gadis lagi. Dan dia gak ngebantah hal itu."


Begitu banyak pengaduan Wido di depan foto-foto Nadira setelah itu ia langsung membersihkan diri dan berniat mengurung di dalam kamar sepanjang malam tanpa perduli wanita kecil itu kelaparan tau tidak.


Selalu ini yang ia lakukan jika berkeluh kesah.enceritakan apa saja yang ia lewati sepanjang hari di depan foto Nadira.


Gila memang.


Tapi ini lah dirinya, mencintai dalam diam yang tak berujung.

__ADS_1


Dan selalu kalimat yang sama di akhir obrolan nya dengan foto Nadira.


"Sayangnya aku tak pernah keberatan dengan keadaan ini. Meski berbalut luka, berlumuran cemburu. Hatiku masih saja padamu."


"Maaf, pengagum rahasia memang selalu begini."


Wido tersenyum miris memandangi wajah Nadira di foto itu satu persatu. Saat Nadira masih SMP menggunakan kawat gigi hingga sekarang bertambah semakin cantik di matanya.


Di dalam kamar dapur dimana wanita itu berada. Menangis tersedu-sedu membayangkan nasib yang akan menimpanya.


Ia memiliki orang tua yang lengkap namun tak ada yang perduli dengan nya.


...****...


Di tempat lain. Lebih tepat nya di apartemen Qenan.


3 sahabat itu sedang berada di ruang tamu. Nazeef menyikut lengan Qenan lalu menunjuk menggunakan dagu ke arah Dion yang sedang senyum-senyum sendiri sembari sesekali jemari nya berada di bibir lalu geleng-geleng kepala.


Qenan hanya mengedikkan bahu acuh namun matanya tak teralih dari Dion.


"Ion, lo gila?" tanya Nazeef karena jiwa kepo nya meronta.


Dion tersentak karena sedari tadi melamun. "Sejak kapan kalian duduk disini?" bukannya menjawab malah balik bertanya mengalihkan ia yang sedang salah tingkah.


"Sejak lo senyum-senyum sendiri sambil pegangin bibir lo."


Dion menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Lo abis ciuman kan?" selidik Qenan dengan santai karena ia merasa gelagat Dion sama seperti dirinya ketika nadira mencium bibirnya pertama kali.


"Gimana enak kan? terus kakak kecil balas gak?" cecar Nazeef sang ahli.


Dion menoleh kesamping dimana Nazeef berada, wajahnya tampak bingung. "Balas apanya?"


Nazeef dibuat melongo mendengar pertanyaan Dion yang polos.


"Aissshh jadi tadi kalian ciuman nya gimana?"


"Ya itu gitu." jawab Dion kikuk.


Nazeef yang paling ahli pun memperagakan ciuman itu dengan kedua tangan saling beradu.


"Gini?" tanya Nazeef dan dijawab anggukan dari Dion.


"Lo diem aja?" selidik Nazeef dan di anggukin Dion lagi.


Nazeef tepuk jidat. "Astaga.. Kenapa diem aja Ion? sayang banget."


Qenan yang mendengar hanya geleng-geleng kepala dengan tangan bersidekap di dada.


"Kenapa gak lo lu mat bibirnya? mainkan lidah lo di dalam mulut kakak kecil." seru Nazeef.


"Emang ciuman begitu? terus kalau Elin jijik gimana?"


Nazeef mendengar pertanyaan polos Dion terbahak begitu juga dengan Qenan yang terkekeh sedang Dion hanya bisa menggaruk kepala bagian belakang nya.


Merasa malu.

__ADS_1


Akhirnya Nazeef memberikan wejangan-wejangan kepada Dion karena ia ahli dalam bidang itu dan Qenan hanya diam saja menunggu istrinya di dapur bersama kedua sahabatnya.


Di dapur pembicaraan mereka tak berbeda dengan orang yang ada di ruang tamu.


"Tahu gak, aku deg-degan kak.."


"Terus reaksi Dion gimana?" tanya Nadira penasaran.


"Diem aja kayak kaget gitu." Melinda menceritakan kejadian tadi sore saat di taman bersama Dion.


"Udah nanti lagi ceritanya, sekarang kita masukkan ke tempat bekal makanan-makanan ini nanti keburu larut." imbuh Nadira sembari memasukkan cemilan dan beberapa makanan yang akan di bawa ke taman kota.


Mereka berencana untuk menghabiskan malam duduk selonjoran di taman kota. Ingin seperti pacaran pada umumnya.


Ketiga cewek itu membawa apa saja yang mereka perlukan nantinya.


"Qenan, tolong bawa ini ke mobil ya."


Dengan sigap Qenan bangkit lalu menerima apa yang di bawa Nadira namun ia letak di meja.


Tujuan nya bukan membawa makanan itu melainkan membopong Nadira.


"Qenan.." pekik Nadira saat merasa tubuhnya melayang ke udara.


"Turunin Nan.." tuturnya sembari menggoyang kedua kaki.


"Kamu gak boleh banyak gerak dulu Ra, belum pulih betul dan kita akan jauh berjalan kebawah."


Nadira mencebik bibir kesal. "Padahal turun ke lantai dasar pakai lift, dasar suami riweh." gerutu Nadira pasrah.


Qenan hanya tersenyum keluar apartemen.


Nazeef menatap Nina yang sedang memperhatikan Qenan dan Nadira. "Mau gue gendong juga?" tawar Nazeef menggoda.


Nina memutar bola mata malas. "Iya mau, ini bawa juga." ketus Nina menyerahkan satu paper bag yang akan ia bawa ke taman lalu berjalan mengikuti Qenan dan Nadira.


"Loh Nin, gue udah bawa barang Qenan." teriak Nazeef yang tak di gubris Nina.


Lalu Nazeef menatap 3 paper bag di atas meja dan menghela nafas panjang kemudian ia bawa juga keluar apartemen. "Haisshh.. kenapa bawaan Qenan jauh lebih banyak?"


Tinggallah Dion dan Melinda yang masih tampak salah tingkah.


"Em.. Mau gue bawakan?" tawar Dion kikuk.


Melinda menggeleng. "Enggak perlu oppa, ayo kita keluar nyusul mereka." Melinda berjalan cepat karena tak sanggup berdua berlama-lama dengan Dion. Degub jantung itu sangat terdengar bila mereka sedang berdua.


Sama hal nya dengan Dion, sebenarnya ia sudah merasa sesak ketika berdua dengan Melinda hingga timbul kegugupan.


🌸


Bersambung...


*Hai sayang-sayang emak?


Apa kabar?


Emak rindu deh sama kalian*..

__ADS_1


__ADS_2