
"Saya ingin secepatnya tempat itu di ratakan, agar dengan cepat pula pembangunan rumah susun disana di kerjakan." pinta Rian kepada Dion.
Pagi itu Rian mendatangi kantor papa Surya hendak menjalani kerja sama. Perusahaan nya akan membangun rumah susun dan ia ingin memakai jasa kontruksi dari perusahaan papa Surya.
Dion mengangguk tegas. "Penting hak milik tanah itu sudah jelas agar kami mudah merealisasikan dengan cepat pula."
"Baiklah, sepertinya pertemuan ini kita akhiri sekarang."
Kedua nya berjabat tangan.
Memang kedua perusahaan itu terjalin kerjasama, namun Dion sangat meminimalisir pertemuan antara Rian dengan Melinda jika istrinya itu sedang mengunjungi nya ke kantor.
Mau mengakui jika hingga saat ini ia masih tidak rela tubuh istrinya pernah di nikmati bpria lain.
...****...
Setiap hubungan memiliki perjalanan yang penuh suka duka. Saat suka, semua terasa indah, semua terasa lancar dan baik-baik saja. Namun, saat sebaliknya, hubungan bisa berubah menjadi tegang.
Beberapa orang cenderung berhenti ketika segala sesuatunya menjadi sulit atau tidak nyaman, yang disebabkan ketidak cocokan karakter dan lain sebagainya. Mereka memilih mundur, enggan berjuang lebih untuk hubungan yang sudah terjalin.
Saat hubungan menjadi sulit, di situlah kekuatan cinta sejati diuji. Pasangan terkuat akan saling memahami dan mendukung satu sama lain untuk bertahan dan melewati masa-masa sulit. Bukan undur diri.
Niat hati ketika bertemu untuk memarahi istri yang ia sebut rubah kecil ini menguap entah kemana. Bagaimana bisa tega memarahi jika istrinya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, menurutnya.
Tadi, pertama kali melihat Nadira ketika pemuda itu memanggil nya membuat ia menatap Nadira nanar.
Nadira sedang berjemur di bawah sinar Matahari pagi dengan tangan kiri terpasang jarum infus.
Ingin marah? tentu.
Tapi kepada siapa? Pada dirinya yang lama menemukan Nadira atau Nadira yang egois meninggalkan nya?
Bahkan setelah bertemu, sikap Nadira seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti ia baru pergi sebentar dan Nadira memeluk nya posesif.
Bagaimana ia bisa marah?
Sikap manja Nadira lah yang semakin membuatnya rindu.
...****...
Beberapa saat lalu. Setelah mengeluarkan seluruh isi perut, ia berjalan gontai dengan di dampingi bidan Tari dengan botol infus di tangan nya.
Nadira duduk di kursi telah disediakan bidan Tari disana. Mendengarkan lagu rileksasi dengan mata terpejam. Sungguh, masa ngidam hamil kedua ini sangat membuatnya tidak nyaman.
Hingga seseorang memanggil nya.
__ADS_1
"Kak Nadira."
Ia menoleh ke sumber suara. Seketika tubuhnya menegang. Dalam hati memang ada niat untuk kembali pulang tetapi bukan hari ini karena ia mengalami morning sickness parah.
Qenan..
Rindu? tentu saja.
Entah memang dari dirinya sendiri atau bawaan bayi yang ada di dalam rahim nya. Dengan semangat berjalan cepat sembari memegang botol infus mendekati Qenan.
Tepat berada di depan Qenan, ia memicingkan mata. "Ck, aku kira kamu akan terlihat jelek karena nggak ada aku yang ngurusin kamu. Ternyata kamu masih aja tampan. Itu berarti kamu baik-baik aja gak ada aku." cerocos Nadira merengut.
Qenan sendiri dibuat tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ternyata istrinya ingin melihat bagaimana buruknya penampilan dirinya saat tidak ada Nadira sedang ia berpenampilan seperti sekarang karena tidak ingin Nadira tahu betapa hancur hidupnya tanpa Nadira.
"Setelah tahu kamu disini, aku langsung ke babershop Nyonya Abraham. Mau bagaimana pun penampilan ku, tetap aja aku hancur gak ada kamu." Qenan akui sebenarnya pada Nadira lalu memasukkan tubuh Nadira dalam lingkaran tangan besar nya dan mengambil alih botol infus dari tangan Nadira.
Setelah duduk di sofa rumah itu, Qenan mengedarkan pandangan nelangsa setiap sudut nya.
Kepalanya menggeleng merasa istrinya itu bodoh. Mau saja menyiksa diri di rumah sekecil ini, bahkan lebih kecil dari rumah ayah Melinda.
"Masih mau tinggal disini, hm?" tanya Qenan pada Nadira yang sudah menempel bak perangko padanya.
Nadira yang memeluk Qenan menggeleng di dada bidang suaminya itu.
"Terus kenapa gak pulang?"
Eh.
Lagi-lagi Qenan dibuat tak percaya dengan yang didengarnya, kenapa seolah dirinya yang bersalah? padahal yang kabur Nadira tanpa kasih kabar.
...****...
"Kita pulang." ujar Qenan.
Keduanya kini berada di ranjang. Infus Nadira sudah di lepas setelah menghabiskan satu botol infus. Nadira masih saja memeluk Qenan.
"Jangan menangis." sambung Qenan membelai kepala Nadira dengan sayang agar tangisan Nadira mereda.
"Aku salah Nan, maaf karena pergi gitu aja padahal aku tahu kalau kamu di jebak malam itu."
"Aku juga salah sayang, seharusnya aku dengerin kamu dulu, seharusnya aku membawa anak buah bukan pergi sendirian."
Dekapan menjadi erat kala mendengar isak tangis Nadira semakin kencang. Niat hati ingin memarahi namun tak bisa ia realisasikan. Dan memang tak bisa marah pada Nadira.
Tetapi sialnya, akibat sentuhan dan tubuh yang merapat membuat rudal ingin keluar dari kurungan dan bersarang di tempat pengasahan.
__ADS_1
Ayolah rudal, sebulan lebih istriku kabur, kamu masih anteng. Rara hamil oke, jangan buat ulah.
Qenan merutuki diri sendiri tidak bisa mengendalikan rudal bila berdekatan dengan Nadira. Selalu saja begitu, apalagi sebulan lebih tidak bertemu.
"Ra, apa kalian sehat?" tanya Qenan mengalihkan.
Nadira mengurai pelukan lalu menghapus air mata. "Kami merasa sehat setelah berada di dekat mu. Hidung ku rasanya bermasalah, semua yang tercium seperti bau kotoran. Tapi nggak dengan bau tubuhmu, Nan. Jangan jauh lagi ya." rengek Nadira seolah Qenan lah yang pergi meninggalkan Nadira.
"Tenang aja, mulai sekarang kamu gak akan pergi selain dengan ku. Dan kamu akan selalu ikut kemana pun aku pergi."
Cukup lama Qenan menemani Nadira di ranjang, melepas pelukan karena istrinya itu sudah terlelap. Keluar dari kamar dan berjalan keluar mengelilingi rumah melihat keadaan sekitar rumah itu.
"Siang." ucap seorang gadis menyapa dan ia hanya balas anggukan saja.
"Kak Nadira nya ada?"
"Istriku tidur." sahut Qenan menekan kata istriku karena ia tidak suka tatapan gadis itu ketika menatapnya.
"Oh, apa kak Nadira gak ngajar hari ini?"
Karena geram, Qenan mengibas jas nya lalu menampakkan senjata api yang tersimpan di celananya membuat gadis itu gelagapan merasa takut.
"Teruskan lah pandangan mata kamu seperti itu kalau sudah tak butuh bola matamu." ancam Qenan.
"Tunjukkan dimana tempat istriku mengajar."
"Ba-baik."
Qenan mengikuti gadis itu dan tidak perduli ketakutan yang ia ciptakan. Tak berselang lama, sampailah di sebuah bangunan berdinding papan yang sudah usang, bahkan sangat miris melihatnya.
Ia melihat banyak anak-anak dari usia dini hingga usia tingkat SD sedang belajar di dalam sana dengan penerangan sangat minim sekali.
Kemudian ia meminta di antar ke rumah kepala desa kebetulan pemuda yang mengantarkan nya tadi pagi ke rumah Nadira ada disana.
Sesampainya di rumah Kepala Desa, Qenan meminta izin untuk membangun tempat mengajar itu agar proses belajar mereka lebih nyaman. Untuk sementara bangunan tersebut di bangun, anak-anak bisa belajar di rumah yang ditempati Nadira saat ini.
Ia juga mengenalkan diri dan juga menjelaskan bahwa ia adalah suami dari Nadira, warga baru yang sudah sebulan tinggal di Desa merek.
Kepala Desa sendiri tentu mengizinkan dan mengucapkan banyak terima kasih pada Qenan. Kepala Desa juga menceritakan bagaimana kegiatan Nadira selama sebulan ini tanpa ada yang tahu jika Nadira memiliki suami yang kaya karena melihat begitu senang dan terlihat sudah biasa berbaur pada masyarakat menengah kebawah.
Setelah lama berbincang akhirnya Qenan pamit undur diri dan ia mengundang makan malam di rumah Nadira.
Qenan kembali ke rumah Nadira dengan sekantung plastik besar berisi bahan masakan. Diletakkan kantung plastik tersebut di atas meja yang ada di dapur. Kemudian membuka jas, dasi, dan menyisakan kemeja putih melekat di tubuhnya.
Sebelum memulai memasak, ia gulung lebih dahulu kemeja yang menutupi tangan nya hingga ke siku. Barulah ia berkutat dengan pisau, telenan, kuali, dan teman-teman nya.
__ADS_1
🌸
Bersambung..