
Qenan keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggangnya. Tubuhnya menjadi segar dan lebih sek*si di mata Nadira yang baru saja memakai kimono tidur dan duduk di tepi ranjang,kini.
Nadira menggigit bibir bawahnya melihat Qenan dengan rambut basah bahkan sisa-sisa air dari rambut menambah kesek*Sian Qenan di mata Nadira.
Ia menggeleng lalu menunduk agar mata mesum nya tak lagi melihat Qenan.
...****...
Pria itu tersenyum berjalan mendekati pujaan hatinya. Ia bersimpuh di bawah Nadira yang menunduk dan diam saja. Di raih tangannya dan memberi kecupan sayang pada buku-buku jarinya seiring tatapan dalam.
"Mulai sekarang, kamu harus tetap bersama ku. Aku ingin, aku sendirilah yang akan merawat dan melindungi mu, Nadira." Qenan mencoba menekan kan setiap ucapan nya, karena ia tahu papa Surya dan Wido masih melindungi Nadira.
Dibawa sebelah tangan menyusuri pahatan tampan sang suami. Nadira mengulas senyum manis lalu mengangguk.
Tidak tahukah Nadira jika setiap gerakan jemarinya membuat darah Qenan berdesir dan merasakan sengatan listrik yang membangunkan penduduk bawah perut.
"Qenan."
Gelombang lembut yang menyusup ke dalam indera pendengaran nya mampu menghentikan waktu dan hanya berpusat pada suara sang istri.
Kedua manik mata cokelat dan hitam itu saling beradu dengan penuh cinta. Qenan sendiri tidak tahu harus mengartikan bagaimana perasaan nya pada Nadira.
Ia tidak seperti Nadira yang memiliki seseorang di masa lalu menjadikan sikapnya pada Nadira bisa dibandingkan pada seseorang masa lalu itu.
Nadira adalah wanita pertama yang mampu mengetuk dan memiliki hatinya.
Nadira adalah wanita yang mampu meluluhkan bahkan membobol tembok hati dan prinsip nya.
"Aku mencintaimu, Qenan."
Bagai hujan di Padang pasir, pengakuan Nadira mampu melelehkan es yang menguasai hatinya.
Sangat jarang Nadira mengungkapkan isi hatinya pada Qenan.
Masih bersimpuh Qenan memeluk Nadira. Melabuhkan kecupan demi kecupan di perut Nadira.
Kini, ia telah siap menjadi orang tua walau usia nya masih sangat muda. Ia menjamin tidak akan ada penyesalan dengan takdir nya yang tidak bisa menghabiskan masa muda nya dengan nongkrong, gonta-ganti pacar, atau foya-foya menghabiskan uang orang tua.
Nadira membelai lembut rambut sang suami, jemari di ajak bermain dihelaian surai cokelat milik suaminya. Baginya, Qenan terlihat seperti anak kecil sedang manja padanya.
Sangat lucu. Kemana perginya Qenan si wajah datar dan dingin juga raja tega seperti kata sahabatnya itu? Mengapa ia tidak pernah menjumpai itu pada diri Qenan saat bersamanya?
Nadira bagai seorang pawang hati yang mampu membuat Qenan luluh dan patuh tanpa disuruh. Membuat Qenan rela menyerahkan segala perasaannya dengan utuh.
__ADS_1
"Sini duduk sebelah aku, Nan."
Qenan mendongak lalu bangkit duduk di sebelah Nadira.
Nadira menangkup wajah Qenan agar suaminya itu menatapnya. "Tetaplah seperti ini, tolong tegur aku jika suatu saat aku tak lagi sama seperti Nadira yang kamu inginkan. Dan tolong, jika suatu saat kamu jenuh padaku dan menemukan wanita baru. Katakan padaku, Nan. Agar aku bisa menyiapkan hati untuk kehilangan mu."
Qenan meraih kedua tangan Nadira lalu mengecup nya bergantian. "Nggak akan ada yang baru. Hanya kamu yang ku mau."
Lama mereka terdiam. Seakan mata saling berbicara. Hingga keduanya saling berpelukan.
"Nan, pakai baju gih."
Qenan mengurai pelukan. "Gimana bisa aku pakai baju kalau rudal udah bangun? aku udah puasa sebulan lebih loh ini, Ra."
Nadira nyengir kuda. "Maaf, Nan."
Qenan mengangguk. "Jangan gitu lagi, kalau ada masalah kita bicarakan baik-baik. Jangan asal kabur begitu."
Sekali lagi Nadira merasa beruntung dan jatuh cinta berulangkali pada Qenan. Dengan keberanian entah dari mana. Ia lebih dahulu mencium bibir Qenan, memagut kasih dengan lidah saling berbelit dan penukaran saliva pun terjadi.
"Malam ini biar aku yang kerja keras." bisik Qenan lalu mengecup daun telinga Nadira.
...****...
Ia tidak pernah tahu pada siapa Nazeef bicara di telepon. Bukan pada wanita, pernah sekali ia tak sengaja mendengar bahwa Nazeef berbicara pada seseorang yang di sebut dengan Papa.
"Kenapa belum tidur, hm?" tanya Nazeef membuat Nina tersentak dari lamunannya.
Nina menggeleng. "Aku menunggumu. Kamu terlihat lelah, mau aku buatin kopi susu kayak biasa?" tawar Nina.
"Kopi aja, aku pengen susunya aku sendiri yang peras." sahut Nazeef mengerling mata pada Nina.
Nina tertawa. "Nanti kamu ketagihan."
"Emang, kamu itu buat aku candu tahu nggak."
Nina hanya menggeleng berlalu ke dapur.
...****...
Nazeef menatap Nina yang berlalu ke dapur. Tadi, papa nya menelepon kembali menyuruhnya untuk datang ke Perancis dimana domisili papa dan mama tirinya.
Papa nya meminta ia kembali kesana untuk mengurus Perusahaan dan bertunangan pada wanita pilihan Papa nya, tak lain adalah adik tirinya sendiri.
__ADS_1
Tentu saja ia menolak. Mengapa baru sekarang Papa nya itu memaksa untuk kembali.
Kemana pria yang ia sebut papa itu saat ia membutuhkan kasih dan sayang?
Tidak, jangan itu.
Kemana saat ia membutuhkan wali ketika di sekolah dahulu?
Hanya keluarga Abraham yang selalu mengurusnya.
Ia tidak lagi butuh uang dari papanya karena sebagian besar gaji yang didapat sudah ia gunakan untuk investasi.
Dan apa itu? di jodohkan dengan adik tiri yang sama sekali tak pernah ia temui.
Papa nya juga mengatakan bahwa adik tirinya juga berada di Jakarta.
Siapa?
Ia hanya berharap tidak akan menggangu hubungan nya dengan Nina.
"Makasih." ucapnya ketika Nina menyodorkan segelas kopi.
"Beb, ini beneran aku harus peras susu dulu?" tanya Nazeef membuat Nina melotot.
"Zeef, kenapa otak mu itu isinya gak jauh-jauh dari olahraga ranjang sih?" sungut Nina.
"Kamu mah gitu, burung pipit kan juga butuh di sayang, tangan ku juga butuh olah raga yang empuk-empuk. Bibir ku ini juga udah rindu tahu berkelana di tubuh mu, apalagi telinga ku selalu menantikan suara indah mu itu."
Nina tercengang mendengar penjelasan Nazeef secara tak langsung menunjukkan apa tujuan nya.
Cubitan-cubitan di lengan ia berikan pada Nazeef. "Jangan aneh-aneh. Kamu janji seminggu dua kali aku membantu burung pipit. Minggu ini bahkan udah tiga kali."
Nazeef tertawa melihat wajah muram Nina. Sungguh ia tak pernah bisa menahan sesuatu yang dahulu nya secara mudah dilakukan, namun kini begitu sulit karena Nina akan mengomel sepanjang malam jika ia tiba-tiba meminta bantuannya menjinakkan burung pipit.
"Aku sayang kamu, Nina. Tolong tetaplah bertahan apapun ujian hubungan kita nanti." ucap Nazeef memeluk tubuh Nina.
Deg! ucapan Nazeef membuat tubuh Nina terpaku. Banyak pertanyaan yang sulit ia jabarkan. Lidahnya keluh untuk mengeluarkan sepatah kata.
*Akankah begitu sulit hubungan kita?
🌸*
Bersambung
__ADS_1