
Langit semakin gelap, penerang ibu kota begitu indah bila di lihat dari balkon kamar Qenan. Namun keindahan itu tidak membuat Nadira merasa tenang.
Tadi sore ketika baru sampai di apartemen, Nadira tidak mendapati suaminya disana namun ia tidak ambil pusing karena tahu Qenan sedang berada di kafe nya.
Masuk ke dalam kamar dengan tujuan membersihkan tubuh lebih dahulu agar Qenan pulang sudah melihat dirinya lebih segar.
Setelah berpakaian dan berdandan sedikit ia keluar kamar masih juga belum mendapati Qenan, ia pun memilih untuk memasak makan malam sembari mencuci pakaian Qenan sedari semalam tak ada yang mencucinya.
Bukankah seorang istri itu hebat? bisa melakukan lebih dari satu hal dalam satu waktu.
Makan malam dan pakaian sudah siap, kini jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB namun Qenan belum juga menunjukkan wujud nya.
Ada rasa cemas ditambah nomor ponsel Qenan tak dapat dihubungi. Ia sudah berjalan mondar mandir di depan pintu masuk.
"Aku udah lapar.."
Sekian lama menunggu akhirnya Nadira lebih memilih membuka buku pelajaran nya dan Menekan rasa lapar agar bisa makan malam bersama.
Rasa kantuk itu menyerang indera penglihatan dan memilih tidur sebentar mungkin lebih baik pikirnya.
Tanpa terasa malam sudah semakin larut, hatinya bukan lagi hanya cemas namun rasa curiga dan jengkel lebih mendominasi.
"Awas aja kalau macem-macem maka gue akan macem tiga kali."
"Hhaaiisshh gue ngomong apa sih?"
Pandangan mata Nadira tertuju pada pintu masuk karena dari luar sana seseorang tengah menekan password apartemen Qenan.
Matanya terus melihat ke arah sana hingga seseorang yang ia tunggu itu menampakkan batang hidungnya. Tapi tunggu, rasa curiga dan jengkel tadi seketika hilang entah kemana, bahkan konsentrasi nya mendadak linglung akibat penampilan suaminya.
Hoodie hitam menutup kepalanya sangat kentara jika Qenan adalah orang yang tertutup di luaran sana.
Dadanya terasa semakin sesak bersamaan dengan langkah Qenan semakin dekat dengan dirinya berpijak.
Sial, penampilan tertutup begini aja gue terpesona.
Nadira terus menggigit bibir bawahnya menghilangkan kegugupan jika berada di dekat sang suami.
Cup
Nadira terperanjat merasakan kecupan di dahi nya. Kalau begini bagaimana mau marah? Tetapi ia harus berpura-pura marah agar tak menjadi kebiasaan pulang terlambat tetapi tak ada berinisiatif memberi kabar.
Ah manis sekali.
__ADS_1
"Dari mana? kenapa baru pulang? itu hape kenapa gak bisa di hubungi? atau sengaja matikan hape biar aku gak ganggu?" Nadira memberondong dengan banyak pertanyaan dengan wajah di tekuk.
Qenan merasa gemas dengan Nadira hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia menikmati segala sesuatu yang di lakukan Nadira.
"Iihh kenapa gak di jawab? berarti bener kamu gak mau ganggu aku? jahat kamu."
Ia tak tahan untuk tak membungkam istrinya. Pagutan itu terus bergulir hingga disertai sesapan dan lu matan. Tanpa sadar kini Nadira berada di pangkuan Qenan yang sudah duduk di sofa.
"Aku tadi harus ke Jakarta barat karena jarang aku kunjungi dan Nazeef gak ikut. Hape aku mati." terang Qenan.
"Aku khawatir, aku sebel, dan aku curiga tahu."
"Kok bisa khawatir dan sebel hem?"
"Ya khawatir kamu kenapa-kenapa dan aku sebel nungguin kamu kelaparan sampek ketiduran dan itu buat aku curiga jangan-jangan kamu ada cewek lain."
Qenan menghela nafas kasar sangat merasa bersalah terhadap Nadira.
"Hanya kamu Nadira ku.." ucap Qenan lalu mencium Nadira kembali untuk beberapa detik.
"Lain kali kalau aku pulang telat kamu langsung makan aja ya Ra.. Ayo sekarang kita makan." Demi melihat senyum Nadira kembali merekah ia rela harus makan di tengah malam dan benar saja senyuman itu terbit.
Nadira mengangguk bangkit dari pangkuan Qenan menuju dapur dimana meja makan terdapat di ruangan itu juga.
Selesai makan malam yang terlambat itu Nadira membersihkan piring kotor dan Qenan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat ia keluar dari kamar mandi terlihat Nadira sudah meringkuk di balik selimut tebal. Dihampiri Nadira lalu duduk di tepi ranjang bagian dimana istrinya tertidur.
Di pandang wajah sang istri, menikmati keindahan yang terpahat di wajah imut itu. Di belai pipi Nadira lalu bibir memble kesukaan nya. Di lihat mulut itu sedikit terbuka membuat ia tak tahan untuk tidak mencium nya lagi.
Bibir itu semakin mendekat terus mendekat hingga benar-benar mendarat di bibir istrinya yang tengah tertidur lelap. Dilu mat bibir atas kemudian beralih ke bibir bawah.
Sial.. Kenapa gak bisa tahan naf su kalau dekat sama Nadira? Jangan lo makan dia sekarang Qen.. Inget istri udah layani lo tadi siang.
Qenan pun memilih bangkit dan merebahkan diri disebelah Nadira. Di kecup pucuk kepala Nadira dan dipeluk dari belakang tubuh itu barulah ia memejamkan mata.
Pagi hari sebelum sinar matahari menampakkan diri di ufuk timur tetapi Nadira sudah berkutat di dapur tempat kesukaan nya di apartemen Qenan itu.
Saat ini ia tengah membuat pizza roti tawar. Ingin sekali pizza ini ia bawa ke kampus dan di bagi untuk Nina dan Melinda.
Rencana hari ini ia meminta Nina untuk pindah ke apartemen sebelah Qenan untuk berjaga-jaga. Siapa yang mengira jika hati Nadira sudah merasa baik-baik saja? tentulah ada rasa was-was menyelimuti jika ia sudah memasuki gedung apartemen itu.
Qenan berjalan gontai mendekati Nadira sedang menaburi keju mozzarella ke atas roti yang sudah berisi beberapa toping di atasnya.
__ADS_1
"Kenapa gak bangunin aku?" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Bahkan wajah kusut serta rambut acak-acakan masih ia dapati disana.
"Aku mau buat bekal Qen.." sahut Nadira tanpa menoleh.
"Aku mau."
Nadira menghentikan kegiatan nya menoleh kearah Qenan seakan bertanya 'Serius?'.
"Bawain dua potong aja."
Nadira tersenyum lalu mengangguk.
Pukul 07.00 WIB semua persiapan Qenan telah tersedia. Pagi ini ia akan ikut mengantar ke sekolah Qenan setelah nya naik taksi menuju kampus.
"Kok dua bekal nya Ra?"
"Untuk Dion sama Nazeef Nan.. Tadi maksudnya mau aku buat jadi tiga tapi gak ada tempat bekal lagi." terang Nadira memasukkan bekal-bekal itu ke dalam tas bekal.
"Kenapa mereka di kasih?" Qenan mendadak tak terima.
"Hanya makanan, lain dari itu gak akan ada aku kasih. Minum juga ku kasih lah."
Qenan tak menjawab namun wajah kesal masih kentara disana. Mereka pun berjalan beriringan masuk kedalam lift masih saja diam.
"Nanti malam aku nginep di rumah papa ya.."
Qenan mengangguk. "Iya, aku juga gak mau kamu sendirian."
Nadira mengecup pipi Qenan. "Aku kasih vitamin. Jangan lirik-lirik cewek disana ya.." Nadira bergelayut manja di lengan Qenan.
Kedua tangan Qenan memegang kedua bekal untuknya membuat ia sulit untuk mendekap Nadira.
"Sini peluk dulu." ujar Qenan langsung di turuti Nadira.
Berulangkali kecupan ia beri di pucuk kepala Nadira. "Aku tak akan macam-macam."
🌸
Bersambung..
__ADS_1