
"Oh my God mataku ternoda.. Hhuuwwaahh.." Suara teriakan seorang cewek menggema di sebuah ruangan karena ia melihat sesuatu yang baru di hidupnya.
Sepasang kekasih tersebut terperanjat lalu menjauhkan wajah masing-masing.
"He kriting.. Bisa gak pakek teriak gitu bisa gak?"
Ya, cewek yang teriak itu adalah Nina melihat Nazeef sedang berciuman dengan cewek yang pernah satu mobil dengan nya dan Nazeef, Risa.
Nina yang masih menutup mata nya enggan membuka.
Sial, mata ku udah gak suci lagi. Selain playboy dia juga mesum. Iisshh..
"Sorry gue gak tahu kalau masih ada orang." kata Nina.
"Ngapain lo masuk ke ruangan bos?"
"Malam ini giliran gue bersihkan ruangan bos. Bisa ngelakuin itu di tempat lain gak? gue mau cepat pulang. Udah ngantuk." sahut Nina tanpa menatap sepasang kekasih itu.
Nazeef melotot mendengar sahutan dari Nina yang tidak ada takut nya padahal ia juga bos di Kafe ini.
"Beb, kayak nya aku masih ada kerjaan disini, kamu bisa pulang sendiri kan?" tanya Nazeef pada Risa.
"Oke, tapi jangan lupa jemput aku besok ya.." sahut Risa lalu mengecup pipi Nazeef membuat Nina melotot melihat adegan yang memalukan itu.
"Pantas aja, wong sama-sama mesum." gumam Nina menunduk menatap sepatu nya tak menyadari jika di ruangan itu hanya ada dirinya dan Nazeef saja.
"Ehem." Nazeef berdehem membuat Nina menegakkan kepala kembali.
"Katanya mau bersihkan? cepatlah." titah Nazeef dengan tangan bersidekap di dada dan bersandar di meja kerja nya.
Di dalam ruang kerja Qenan ada dua meja khusus untuk Qenan dan Nazeef juga ada dua sofa di sudut ruangan. Satu sofa tunggal dan sofa panjang dengan meja kaca di tengahnya. Di belakang meja kerja Qenan ada rak buku dengan tinggi 2,5 meter yang isinya laporan pembukuan tiap bulan.
Sedang di bagian Nazeef hanya ada rak yang isinya foto-foto dirinya bersama Qenan. Di ruangan itu juga terdapat ruangan kecil yang isinya tempat tidur single dan kamar mandi.
"Lo bisa keluar gak?" usir Nina ketus mendapat cebikan dari Nazeef.
Nazeef berjalan mendekati Nina membuat ia gelagapan memundurkan langkahnya. Dapat ia lihat pandangan mata Nazeef tidak memancarkan aura menjengkelkan seperti biasanya. Tatapan itu berubah.
Tatapan lembut?
"Sebenarnya apa yang buat lo benci sama gue?" tanya Nazeef lembut.
Nina tersenyum miring mendengar suara lembut Nazeef seperti awal-awal berbicara dengan nya.
"Ubah cara ngomong lo sama gue, jijik gue."
__ADS_1
Nina memilih pergi dari ruangan tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi antara ia dan Nazeef di masa lalu hingga Nina merasa benci pada Nazeef.
Pagi harinya...
"Qenan.. Kenapa kamu mau pergi? gimana sama acara aku?" rengek Nadira.
Hari ini Qenan dan nazeef ada pekerjaan mengharuskan keduanya izin tidak masuk sekolah.
"Aku hanya ke Depok Ra.. Ada tamu penting disana dan harus aku sama Nazeef yang menyambutnya."segala bujuk rayu telah qeenan lakukan.
"Boleh aku egois?" tanya Nadira yang sudah menangis dalam pelukan Qenan.
Qenan sendiri sedari tadi mengecup pucuk kepala Nadira. Ia pun tak ingin pergi namun kafe yang berada di kota Depok kedatangan walikota.
Bukan kah itu suatu kebanggaan tersendiri untuk sang pemilik usaha? dan ia ingin dirinya yang menyambut kedatangan walikota tersebut, namun melihat sang istri menangis membuat hatinya goyah.
"Aku janji akan datang ke acara mu Ra.."
Nadira mendongak menatap Qenan seakan meminta kepastian. Dan Qenan pun mengangguk.
"Aku janji. Jangan nangis, udah hidung pesek, bibir memble, masak mau nambah mata bengkak?" goda Qenan dan berhasil membuat Nadira terkekeh walau air mata belum juga berhenti.
"Dasar Qenan menyebalkan, dasar patung hidup." ledek Nadira di tengah isak tangis nya.
"Lah.. Kemana aja suamiku? kenapa baru tanya gitu? itu muka lempeng datar begitu, jarang senyum lagi. Untung ganteng." Cibir Nadira sewot. Kesedihan tadi seakan hilang begitu saja.
"Aku pergi ya."
Nadira mengangguk lemah. "Hati-hati."
"Iya. Apartemen kamu udah aku sewa di sebelah, udah di bersihkan juga." Qenan mengecup kening dan bibir Nadira lalu masuk ke dalam mobil.
Nadira terus memandang mobil Qenan yang sudah menjauh, ini pertama kalinya ia di tinggal Qenan jauh karena biasanya suaminya itu jika mengunjungi tempat usahanya hanya yang ada di Jakarta saja.
Ia tahu jarak antara Jakarta dengan Depok tidaklah jauh namun karena hari ini adalah acaranya, rasa sedih itu tiba-tiba datang menyeruak hatinya.
"Segera bersiap, udah cukup mandangin mobil pacar kamu." kata seseorang yang membuat Nadira terlonjak kaget.
Nadira berbalik melihat orang yang sangat menyebalkan menurutnya.
"Bisa gak usah ngagetin orang?" tanya Nadira ketus.
"Kita udah terlambat ayo." Wido menarik tangan Nadira membuat sang empunya tangan memberontak.
"Om, jangan gini dong.. Lepas iihh.." Nadira menghentak tangan hingga terlepas.
__ADS_1
"Naik." Wido membuka pintu mobil sembari tersenyum menatap wajah kesal Nadira.
"Gue gak mau duduk di depan."
"Sopan Nadira.."
"Ck.. Aku gak mau duduk di sebelah om."
"Masuk." titah Wido lagi.
Nadira menghentakkan kaki lalu masuk dalam mobil duduk di sebelah kursi kemudi. Sampai sekarang ia belum mengingat siapa Wido sebenarnya.
"Om ini siapa sih?"
"Wido."
Nadira hanya mencebik bibir saja memilih memandang keluar jendela mobil.
...****...
Dion menatap Danau yang ada di Taman Situ Lembang. Jika hati nya sedang tidak baik-baik saja maka ia akan berada disana.
Tempatnya yang rindang dan banyak menyediakan kursi sangat cocok untuk warga Jakarta menjadi tempat refreshing.
Di tengah Danau tersebut terdapat air pancur dan banyak bunga teratai disana. Di taman itu banyak di tumbuhi tumbuhan hijau termasuk tanaman hias sente hijau.
Hari ini Dion izin tidak masuk sekolah dan memilih berada disini duduk berjam-jam. Lagi-lagi ia merasakan sakit hati terhadap mama kandung nya sendiri.
Tadi, ia sempat menghubungi sang mama berharap bisa datang ke Hotel dimana tempat acara Nadira akan di selenggarakan. Namun jawaban sang mama membuat ia sakit hati lagi.
Bukan hanya sekali Dion meminta sang mama untuk datang ke Indonesia karena ia ingin bertemu dan mengatakan bahwa dirinya sangat merindu tetapi jawaban dari sang mama tetap sama.
"Mama gak bisa Dion, anak-anak mama disini lebih membutuhkan mama."
Lalu apa kabar dengan dirinya? di tinggal saat ia beranjak remaja hingga sekarang tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Sang Mama sibuk dengan kebahagiaan keluarga baru nya sedang sang papa sibuk dengan pekerjaan dan mengobati luka hatinya sendiri.
Dion adalah bukti nyata atas perceraian kedua orang tuanya.
🌸
Bersambung...
Maafkan emak ya.. Emak kalau hari Kamis dan Jumat itu pengajian 🙏🙏
__ADS_1