
Pinggiran kota Bogor. Kafe kecil dengan tata ruangan belum semenarik di Ibu Kota. Di pojok kiri terdapat dinding khusus untuk tempat berfoto. Di dinding tersebut di lukis sedemikian rupa untuk para pengunjung.
Satu yang menarik bagi Wido dari kafe ini adalah pemandangan sore hari terlihat indah kala sinar Mentari berubah menjadi jingga.
Ada ketenangan setiap waktu itu berlangsung. Menyesap kopi yang sudah mulai dingin. Menjauh dari hingar bingar ilIbu kota untuk sejenak.
Bukan. Lebih tepatnya menjauh dari wanita yang dicintainya. Entah mengapa ia tak dapat mengusir perasaan salah ini dari hatinya.
Apalagi mengingat anak semata wayangnya begitu dekat dengan wanita itu. Walaupun suami dari wanita itu sekarang telah mengizinkan ia dan wanita itu berinteraksi namun ia dapat melihat dari sorot plmata suami wanita yang dicinta nya itu memendam rasa cemburu.
Mengingat dirinya lebih tua menjadikan dirinya mengurangi interaksi kepada wanita itu.
Tua? karena satu kata itulah membuat ia tak ada nyali untuk mendekati wanita yang dicintainya itu. Namun setelah wanita yang dicintainya itu pernah mengatakan kalimat yang seharusnya membuatnya bersangat harus mengubur rasa cinta dihati yang begitu dalam.
"Jika saja kamu berani dari awal mendekatiku, pasti kini aku sudah bersamamu. Tapi terlambat, jiwa dan ragaku telah dimiliki suamiku, Qenan."
Kalimat sederhana namun mampu membuat nya menyesal hingga kini. Sudah tiga tahun semenjak kalimat itu terucap untuknya, selama itu pula ia mencoba melupakan rasa begitu dalam namun tak kunjung hilang.
BRAK
__ADS_1
Wido terperanjat dengan apa yang baru saja terjadi. Seseorang duduk dipangkuan nya sembari memyembunyikan wajah didadanya.
Wido mencengkram lengan gadis itu agar menjauh dari tubuhnya.
"Tolong aku, Om." cicitnya membuat Wido tercengang.
Apa kata gadis ini tadi? Om?
"Menyingkirlah," sentak Wido apalagi keduanya menjadi pusat perhatian pengunjung lain nya.
"Om. Aku dalam bahaya, aku di kejar pengawal rintenir. Aku akan dijadikan pelunas hutan Ibu Tiriku," gadis itu nampak celingukan melihat ke arah pintu masuk Kafe.
"Tolong aku, Om."
"Apa yang bisa saya bantu,?" ucap Wido.
"Apapun, Om. Aku akan lakuin apa saja asal Om bebasin aku dari mereka."
Tatapan keduanya bertemu. Seketika Wido menyeringai lalu mengangguk. Kemudian mata Wido memindai penampilan gadis di pangkuan nya.
__ADS_1
Penampilan yang sederhana itulah yang tercetak dalam pikiran Wido namun kemudian ia teringat Nadira yang juga berpenampilan sederhana.
Wido mengambil jaket di kursi sebelah lalu memasangkan kacamata pada gadis itu. "Turunlah, sepertinya kamu sangat nyaman duduk dipangkuan saya."
"Maaf, Om."
Wido tak menjawab. Ia hanya menggandeng tangan gadis itu untuk pergi dari Kafe tanpa membuat dua orang yang mengejar gadis itu curiga.
Wido juga meminta pada gadis tersebut menuju rumah gadis itu. Sesampainya disana, Wido langsung masuk tanpa permisi bersama gadis itu.
"Maya, bukan nya kamu seharusnya ikut sama dua orang tadi?" sentak Ibu tiri gadis itu.
"Aku akan melunasi hutang kalian asal dia ikut bersamaku," Wido mengucapkan dengan dingin.
Ibu tiri Maya tentu saja dengan senang hati menerima tawaran Wido. Apalagi Wido mengatakan ia akan menambahi jumlah uang nya dengan syarat jangan pernah menganggap Maya keluarga mereka.
Entah apa tujuan duda beranak satu itu pada Mata. Yang pasti gadis itu merasa beruntung di tolong oleh pria dewasa seperti Wido.
Aku akan mengabdi pada Om ini.
__ADS_1