
"Bersihkan mana saja yang di sentuh istri gue." sahut Qenan dingin.
Nadira terperangah dengan ucapan Qenan, ingin bertanya namun belum sempat ia bertanya tangan nya sudah di tarik hingga tubuhnya terbentur dada bidang Qenan.
"Kalian pergilah, tinggalkan kami berdua disini." titah Qenan.
"Dan satu lagi, gue gak mau lihat baju lo masih nempel di badan lo." tunjuk Qenan pada Dion.
"Kenapa lagi?"
"Ada jejak istri gue disana, dan lupakan ingatan kalian kalau tadi istri gue sama kalian." Qenan menatap tajam pada Dion dan Nazeef.
Mereka dibuat melongo dengan apa yang di katakan Qenan. Sesuatu yang berlebihan menurut mereka.
Qenan membawa Nadira masuk ke gedung itu. Nadira terus mendongak menatap wajah Qenan yang selalu datar namun menatapnya penuh cinta saat mereka melakukan penyatuan.
"Kamu berlebihan Qenan.. Dion itu adik ku." kata Nadira ketika ia sudah duduk di samping Qenan.
"Kamu akan katakan itu selama kamu nggak mau buka hati untukku." sahut Qenan tanpa melihat kearah Nadira.
Deg
Nadira menoleh kearah Qenan yang tidak melihatnya.
"Qenan.." ucapnya lirih.
"Aku tahu kamu belum bisa menerima ku sepenuhnya." Qenan menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Aku tahu sulit bagimu menerima ku yang masih sekolah dan lebih muda darimu. Andai kamu tahu, setiap saat aku selalu memikirkan gimana cara kita tetap bersama. Tapi aku sadar, kalau setiap cewek maunya punya pasangan lebih tua dari mereka."
Mendengar ucapan Qenan panjang lebar seperti ada jarum menusuk hatinya, Qenan benar bahwa ia masih sering merasa minder pada pasangan cowoknya lebih tua dari si cewek.
Ternyata Qenan memperhatikan nya selama ini. Ia tidak menyangka akan menyakiti hati suaminya.
"Apa kamu tidak merasakan cinta dari ku Nan?" tanya Nadira.
Qenan menoleh kesamping menatap Nadira tengah menatapnya juga. Ia bisa melihat mata Nadira sudah berkaca-kaca.
"Bohong jika aku gak ngerasakan cinta mu, tapi aku tahu cinta mu belum seutuhnya untuk ku. Aku nggak tahu kenapa belum utuh, mungkin karena pernikahan rahasia kita atau kamu belum bisa lupain pacar kamu dulu."
Air mata tak terbendung lagi, Nadira tidak menyangka perasaan nya diketahui oleh Qenan. Bukan ia masih mengingat Rendi mantan pacarnya melainkan ia membentengi hati agar tidak terlalu sakit jika pernikahan rahasia mereka berakhir dengan perpisahan.
Nadira menangkup wajah Qenan lalu mencium lembut bibir itu. Di hisap dan di gigit kecil-kecil bibir yang sedari tadi terus berbicara panjang lebar.
Bukan seperti Qenan.
"Jangan katakan itu lagi, aku hanya takut jika pernikahan ini berakhir dan kamu meninggalkan aku karena di jodohkan sama Rania." ucap Nadira setelah pagutan itu usai.
__ADS_1
"Nggak ada yang berakhir di antara kita dan gak ada yang bakalan jodohkan aku sama yang lain karena kamu jodohku."
Nadira tersenyum mendengar itu lalu memeluk Qenan posesif.
"Apa kamu tidak ingin mengaku sesuatu padaku hem?" tanya Qenan menikmati pelukan Nadira.
Nadira mendongak tidak mengerti maksud pertanyaan Qenan. "Ngaku apa Nan?"
"Kamu belum mengakui perasaan mu padaku." sahutnya membuat Nadira tertawa.
Qenan mengerutkan dahi heran mengapa Nadira tertawa sementara menurutnya tidak ada yang lucu.
"Hei.. kenapa ketawa?"
"Kamu lucu." sahut Nadira.
"Lucu?" tanya Qenan membeo.
"Iya, apa aku harus ungkapin rasa ku sementara apa yang ada di diriku udah kamu miliki?" tanya Nadira dengan senyum manisnya.
"Jadi?"
"Hati dan diriku ini milik mu suami ku.." ungkap Nadira.
Untuk pertama kalinya Nadira melihat senyum mengembang dari sudut bibir Qenan.
"Qenan.. Geli iihh.." rengek Nadira saat tubuhnya sudah berpindah dipangkuan Qenan. Saat ini Qenan tengah menciumi lehernya.
"Aku sangat bahagia sekarang, terimakasih udah balas cinta ku.." seru nya sembari melanjutkan aksinya. Ia seakan lupa mereka berada dimana.
Nadira merasa lehernya tengah di hisap langsung tersadar jika ini bukan tempat yang tepat.
"Qenan.. Leher ku." pekik Nadira.
"Maaf, dekat sama kamu buat aku gak bisa kendalikan naf su, kamu buat nagih."
"Iisshh dasar omes." Keduanya tertawa.
Nadira melepas ikat rambutnya hingga rambut nya tergerai indah. Qenan membantu merapikan rambut Nadira untuk menutupi tanda kepemilikan di leher Nadira.
Setelah itu mereka berjalan menuju gedung aula untuk bergabung pada yang lain nya.
Sedang di dalam gedung aula tersebut Dion sedari tadi tidak berhenti mengumpat kesal ditujukan untuk Qenan.
Bagaimana tidak? ia harus melepas pakaian khusus panita di acara itu. Hanya karena Nadira memeluk nya dengan terpaksa ia harus melepas pakaian tersebut.
"Memang Qenan bucin akut. Bisa-bisanya kayak gini. Kalau gitu seharusnya Nadira dikurung aja. Gimana kalau bokap gue yang peluk? apa gini juga?"
__ADS_1
"Sabar, suruh siapa lo tadi diem aja pas di peluk Nadira?" tanya Nazeef.
"Dasar bege, Nadira begitu juga karena Dion adiknya." bukan suara Dion yang terdengar melainkan Nina.
"Ck.. Lo gak tahu Qenan gimana." Dion akhirnya bersuara lagi.
Akhirnya mereka bertiga diam membisu. Terdengar suara riuh di pintu masuk gedung aula. Tampak Qenan menggandeng seorang cewek memakai masker.
"Itu Nadira kan? kenapa pakai masker? apa dia. sakiti?" cerca Nina.
Dion dan Nazeef melihat kearah mereka berada, saat mata keduanya bertemu dengan mata tajam Qenan langsung bergidik ngerih.
"Tiga detik Zeef."
"Iya tiga detik."
"Parah Qenan, tiba dapet cewek langsung posesif nya gak ketulungan." gerutu Nazeef.
"Apa kakak gue betah tinggal sama cowok kayak Qenan? gue aja gedek lihat muka datar dan dingin nya itu, apalagi kakak gue." sahut Dion.
Nazeef dan Dion pura-pura tidak melihat kedatangan sepasang suami istri yang di rahasiakan itu.
"Wah bos.. Kenapa di tutupi muka kakak ipar?"
"Sakit." jawab Qenan dan mendapat pelototan dari Nadira pasalnya bukan itu alasan nya.
"Oohh gitu, Kenalin kakak ipar. Aku Heru." seru Heru menjulurkan tangan ke Nadira namun Qenan lah yang menyambut nya.
"Namanya Nadira, jangan di lirik apalagi di sentuh. Hanya tiga detik aja."
"Bos posesif."
Dibalik masker itu Nadira tersenyum geli karena keposesifan Qenan. Bahkan senyuman nya pun tak ada yang boleh melihat selain dirinya.
Astaga.. Apa gini rasanya dicintai bocah? tanya Nadira didalam hati.
"Qenan, duduk yuk." ajaknya agar mereka tidak menjadi bahan perhatian mereka.
Qenan mengangguk langsung sediakan kursi untuk Nadira lalu duduk disampingnya. Satu tangan Qenan ia julurkan ke sandaran kursi Nadira dan satu tangan lagi berada di atas paha nya sendiri dengan satu kaki berpangku pada kaki satunya.
Sedang Nadira saat merasakan tangan Qenan berada di belakang punggung nya menjadi menegang ditambah ibu jari Qenan mengelus lengan nya.
Nadira membuka masker sembari menikmati band sekolah Qenan tampil. Tubuhnya meremang saat Qenan membisikkan sesuatu dengan hembusan nafas menusuk telinganya.
"Jangan tersenyum."
🌸
__ADS_1
Bersambung..