
Dengan segala bujuk rayu akhirnya Qenan mengijinkan Nadira menginap lagi di rumah papa Surya karena istrinya itu ingin meminta maaf pada mertuanya.
Tadi setelah pergi dari panti asuhan, mereka mampir ke rumah Nina lebih dulu untuk meminta izin bahwa Nina akan kuliah dengan di biayai papa Surya.
Yang pasti sebelum mengatakan tujuan kedatangan mereka, Nina mengenalkan Qenan sebagai bos dan Nazeef sebagai asisten bos dimana ia bekerja, Nadira di perkenalkan sebagai sahabat Nina.
Sangat mudah ayah Nina mengizinkan dan Nadira bisa melihat perilaku ayah Nina terhadap Qenan seperti mengharapkan Nina berdekatan dengan Qenan.
"Makasih banyak ya nak Qenan udah mau membiayai kuliah Nina anak saya.. Nina sangat beruntung punya bos baik dan masih muda kayak Nina."
Ada rasa jengkel di hati Nadira. Cemburu? pastilah. Namun jawaban Qenan mampu menghangatkan hatinya. Cemburu yang tadi sirna disiram kata manis dari Qenan.
"Maaf sebelumnya pak. Yang biayai kuliah anak bapak bukan saya melainkan istri saya, Nadira."
Ayah Nina terkejut. "Nak Qenan udah nikah?" tanyanya tergagap.
Qenan hanya mengangguk lalu menggenggam tangan Nadira. Karena ia tahu Nadira tak nyaman dengan perlakuan ayah Nina kepadanya.
"Ayah.. Jangan gitu malu yah." tegur ibu Nina.
"Maafin ayah saya ya bos.. Dir.. Maafin ayah gue ya.."
Setelah mengemasi barang-barang Nina yang di perlukan, mereka pamit untuk kembali Jakarta. Rencananya Nina akan tinggal di apartemen Nadira yang sudah di sewa Qenan.
Mobil Nazeef telah sampai di depan gerbang rumah papa Surya namun Qenan belum juga melepas pelukannya. Sedang Nazeef dan Nina memilih keluar dari mobil memberi waktu sepasang suami-istri itu untuk berdua.
"Hanya malam ini Nan.." Sekali lagi Nadira meminta izin.
"Iya aku tahu." ucap Qenan masih menghirup aroma rambut Nadira.
"Ya udah lepasin.."
"Iya." jawab Qenan singkat mengurai pelukan.
Nadira menghela nafas melihat wajah sendu Qenan. Terkadang ia merasa geli melihat raut wajah Qenan yang selalu berbeda jika dihadapan orang lain.
Cup
Nadira memberi kecupan di bibir tipis sang suami. Di tangkup wajah Qenan. Matanya terus menjelajahi tiap sudut wajah sang suami. Pahatan yang sangat sempurna.
Rambut cokelat sama seperti dirinya. Alis tebal terbentuk rapi, mata yang selalu menatap tajam pada lawan bicara menandakan ia bukan orang yang suka basa-basi dan juga ketegasan itu sangat kentara tergambar dari tatapan nya. Hidung mancung tidak besar sangat pas dengan bentuk wajahnya. Dagu lancip hingga membuat ia gemas untuk menariknya. Dan Bibir tipis merah itu adalah tempat paling ia suka.
Nadira tak tahan akhirnya melabuhkan kecupan lagi di bibir ranum Qenan.
"Ah Qenan.. Kamu selalu bisa membuatku jatuh cinta lagi padamu. Apa kamu juga seperti itu?"
__ADS_1
Bergantian Qenan manangkup wajah Nadira. Memperhatikan nya dengan serius membuat sang empunya wajah salah tingkah dan mendadak merasa gugup.
Oh jantung..
"Aku akui masih banyak cewek yang lebih cantik darimu.." ucapan Qenan membuat Nadira manyun.
"Dan aku tak akan pernah melirik wanita yang lebih cantik atau lebih jelek dari mu. Karena aku mencintaimu bukan dari kecantikan mu aja." sambungnya lagi membuat senyuman Nadira mengembang.
Qenan mengusap rambut panjang Nadira. "Aku suka rambut mu, aku suka mata ini.. Mata yang selalu menatapku penuh cinta dan perhatian." Qenan mengecup kedua mata Nadira.
"Aku suka hidung pesek mu." Qenan menarik pelan hidung Nadira ke kanan dan ke kiri membuat Nadira terkekeh bersamaan dengan Qenan.
"Aku suka pipi kamu yang sedikit tembem ini." Qenan menangkup pipi Nadira sedikit menekan hingga bibir Nadira memonyong seperti mulut ikan. Qenan pun mengecup bibir Nadira dengan sedikit melu mat nya.
"Sakit Nan.." rengek Nadira setelah Qenan melepaskan tangkupan nya.
"Bibir yang bicara itu paling yang aku suka.. Bibir memble dengan belahan di tengahnya. Sangat manis dan enak." ucap Qenan ambigu membuat Nadira mendelik.
"Kamu kira bibir aku makanan?" tanya Nadira sewot.
"Iya dan cuma aku aja yang boleh makan kamu. Gak akan aku biarkan orang lain mencoba mendekati mu." Wajah Qenan berubah serius.
"Aku tahu otak lambat mu belum connect kan?"
Astaga istriku..
"Dengarkan aku istriku.. Aku gak akan biarkan siapapun mencoba mendekati mu. Kamu milikku.."
"Iya aku tahu, tapi jangan aneh-aneh.."
Qenan mengangguk lalu memeluknya kembali sebelum membiarkan Nadira masuk kerumah papa Surya.
Setelah mobil Qenan tak terlihat dari pandangan barulah Nadira masuk ke pekarangan rumah papa Surya. Ada mang Udin penjaga rumah yang sudah membukakan gerbang.
"Non Nadira baru sampek?" tanya mang Udin.
"Hehehe.. Iya mang.. Saya masuk ya mang."
Nadira masuk kedalam rumah, lampu ruang tamu sudah di matikan. Nadira hendak ke dapur mendengar suara tangis di dalam kamar papa Surya.
"Pa.. Ini Nadira.." seru Nadira sedari tadi mengetuk pintu kamar papa Surya.
Pintu kamar papa Surya terbuka terlihatlah wajah sendu pria paruh baya dengan mata bengkak dan memerah.
"Nadira boleh masuk?" tanya Nadira dan di jawab anggukan papa Surya.
__ADS_1
Nadira mengedarkan pandangan di setiap sudut kamar papa Surya. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada bunga, tidak ada foto pernikahan atau apapun yang biasa menghias kamar seorang pria. Hanya ada lemari baju, walk in closed, meja rias dengan peralatan kebutuhan pria, nakas dan di atas nya ada lampu tidur. Namun ada sebuah bingkai kecil di meja rias yang membuat ia tertarik untuk melihatnya.
Nadira mengambil bingkai kecil berisi foto papa Surya dan Mama melati saat SMA karena keduanya memakai seragam putih abu-abu.
Di elusnya bagian foto Mama Melati, ada rasa rindu menyeruak di hatinya. Namun ia tersenyum mengingat pesan sang ibunda untuk tak menangisi kepergiannya.
"Papa jangan sedih lagi.. Mama udah bahagia disana.." ucap Nadira karena tahu sedari tadi papa Surya terus memperhatikan nya.
"Apa kamu marah sama papa?" tanya papa Surya.
"Enggak. Nadira ngerti keadaan papa, hanya menyayangkan tindakan papa yang tak bertanggung jawab aja." terang Nadira bijak.
"Maafin Papa, papa bersalah Ra.." Papa kembali menangis.
Nadira menghampiri papa Surya yang menangis di tepi ranjang.
"Jangan nangis pa.. Lanjutkan hidup papa, Mama udah maafin papa."
Papa Surya menatap Nadira. "Kenapa kamu begitu dewasa nak?"
Nadira tersenyum. "Pa.. Keadaan yang membuat aku harus dewasa dari umur ku.. Aku di tinggal mama saat umur 16 tahun, aku harus membantu ibu panti mencari uang tambahan untuk menyambung hidup dengan berjualan di sekolah."
"Aku gak mau lagi menceritakan gimana kehidupan ku. Aku datang karena mama meminta ku untuk menemukan papa karena mama yakin papa akan menerima dan merawat ku walau papa masih ada istri. Mama sangat percaya sama papa."
Papa kembali menangis menyesali apa yang sudah ia perbuat untuk Mama melati dan Nadira.
"Maafin aku Melati.."
🌸
Bersambung..
Mampir di novel emak yang lain ya.. Makasih banyak sayang-sayang nya emak ❤️❤️❤️
Qenan Abraham.
Keturunan Amerika-Indonesia namun wajah nya menurun dari keluarga papa Reno Abraham. Masih 18 tahun yang dipaksa dewasa karena ia adalah ahli waris satu-satunya.
Nadira Fazilla Zharifa 19 tahun. Besar di Panti asuhan. Anak dari hasil pernikahan rahasia. Siapa sangka nasib nya juga sama dengan orang tuanya?
__ADS_1