Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Rapuh


__ADS_3

Malam hari, di apartemen Qenan. Nadira meringkuk di atas ranjang dan terasa dingin di sisi sebelahnya.


Memeluk erat bingkai foto yang berisikan buku kecil berwarna merah dan hijau sebagai tanda pernikahan mereka telah resmi.


Nadira telah melupakan hal penting ini karena terlalu menikmati waktu yang akan segera berakhir.


Tadi setelah sampai ke apartemen, ia menemukan memo terekat di lampu tidur di atas nakas.


Kalau kamu baca ini, itu berarti aku udah pergi. Kamu baik-baik ya. Oh iya, aku punya sesuatu untuk kamu. Di jaga dan rawat baik-baik. Itu aku letak di atas nakas.


Salam dari ku, suamimu.


Senyuman itu terbit dengan hati yang masih diliputi rasa sedih. Di buka paper bag tersebut di ambil isi di dalam nya.


Ia diam termangu menatap benda itu dan lagi-lagi air matanya luruh tak menyangka Qenan masih mengingat pernikahan nya.


Nadira melirik jam di dinding masih pukul 10 malam. Itu berarti Qenan masih berada di atas langit.


Jaket hitam yang sering di kenakan Qenan sengaja ia minta agar tak di bawa untuk menjadi teman tidurnya.


Harus parfum yang sering di pakai Qenan masih tercium dari jaket itu.


Biarlah ia menjadi cengeng ketika di depan Qenan dan saat sendiri seperti ini.


*Qenan, bahkan aku belum tahu gimana lewati hari tanpa kamu.


Kamu membuatku candu akan hadirmu hingga aku menjadi lugu saat tak ada kamu.


Aku bukan kayak mereka yang punya banyak teman dan tempat bermain untuk menghilangkan sepi.


Bahkan aku mengelilingi Jakarta ketika menikah dengan mu.


Aku rapuh*.


Di hidupkan kembali laptop nya dan di putarnya video dirinya dan Qenan yang sengaja ia rekam di saat mereka makan, video saat ia duduk bersandar pada dada Qenan dan menonton drama Korea, dan di saat mereka bermain kartu domino dengan hukuman di coret lipstik untuk yang kalah.


Biarlah ia menangis malam ini dan akan kembali ceria setelah matahari terbit.


"Qenan sedang apa ya di atas sana?"


"Apa sedang memikirkan aku juga?"


"Kamu jangan bandel disana ya?"


...****...


Sama seperti Nadira yang tengah menangisi Qenan. Begitu juga Nina yang sedang menangisi penyesalan nya.


Ini semua salah nya.


Siang tadi sepulang kuliah, sengaja pulang lebih cepat untuk bertemu Nazeef sebelum cowok itu pergi ke negeri orang.


"Eh lo Nin, ada apa?" tanya Nazeef setelah membuka pintu apartemen karena Nina memencet bel berulang kali.

__ADS_1


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat dada Nina terasa nyeri. Seakan kedatangan nya tiada arti lagi.


"Gue mau ngomong." ucapnya lirih seraya menatap sepatunya.


"Em, masuk aja."


Nina masuk mengikuti langkah Nazeef dan duduk di sofa setelah dipersilahkan duduk oleh Nazeef.


Seketika bayangan malam itu, dimana ia meminta Nazeef untuk merenggut kesucian nya kembali terngiang saat matanya tak sengaja melirik ke arah dapur.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Nazeef seolah tak terjadi apa-apa.


Nina tersentak sadar akan lamunan nya membuat Nazeef menunggu. Namun setelah mendengar pertanyaan Nazeef terdengar tak ingin berlama-lama dengan nya membuat hatinya kembali terkoyak.


"Zeef, gue mau minta maaf atas kejadian malam itu."


"Nggak perlu minta maaf. Gue yang harusnya minta maaf karena hampir menodai lo."


"Apa nggak ada kesempatan itu lagi untuk gue Zeef?"


Cukup lama Nazeef terdiam lalu terdengar helaan nafas darinya.


"Gimana bisa gue kasih kesempatan itu tapi lo masih sama Arga Na? apa gue mau dijadikan simpanan?"


"Pulang lah Na, lebih baik kita menata hati dan terima kemana takdir membawa kita. Bila pada akhirnya perasaan kita masih sama, aku jamin kita pasti akan bersama."


Pupus sudah harapan Nina untuk memperbaiki hubungan nya dengan Nazeef. Matanya berkaca-kaca menatap Nazeef yang sedari tadi juga menatapnya.


Ucapan Nazeef membuat alam sadarnya membawa langkah keluar apartemen tanpa pamit.


Lo denger sendiri kan?


kalau dia gak ingin kalian bersama?


Sekarang lo cuma pikirin gimana bisa lepas dari Arga.


Lo harus bisa ngelawan demi keselamatan Lo sendiri.


Gimana kalau dia kambuh tempramen nya?


Gue juga takut.


Nazeef.. Andai lo tahu*.


...****...


Beruntung Rian malam ini hingga Minggu depan tidak datang menemui Melinda karena istrinya sedang berlibur.


Sepi?


Tentu namun hatinya lebih sepi dan sakit setelah mendengar ucapan Dion siang tadi.


Ya, Melinda sama dengan Nina yang sengaja pulang lebih dulu karena sudah janji temu oleh Dion.

__ADS_1


Taman kota menjadi saksi perpisahan yang sebenarnya antara mereka.


"Oppa bener-bener nggak ada perasaan lebih dari teman dengan ku?"


Dion menoleh menatap Melinda. "Mungkin ada. Tapi semua itu percuma kalau rasa percaya dan saling terbuka itu nggak ada di antara kita Lin."


"Kenapa oppa nggak percaya sama Elin meski nggak terbuka?"


Dion tersenyum getir lalu menatap lurus melihat anak-anak yang tengah bermain kejar-kejaran.


"Cinta juga butuh logika. Kenapa harus percaya kalau yang kita lihat sulit untuk gak di curigai?"


Melinda kalah telak. Ternyata hatinya jatuh ke seseorang yang penuh dengan ketelitian. Sama hal nya dengan hobby Dion yang memang butuh fokus dan teliti untuk mencapai kesempurnaan.


"Maaf." hanya itu yang dapat ia kata kan.


Dion mengedikkan bahu. "Tak masalah."


Hening.


"Oppa gak akan menyesal? Padahal kita sama-sama tahu perasaan kita searah."


Kata Melinda memotong kebisuan.


"Entahlah, aku pun tak ingin kamu menanti ku terlalu lama. Nggak ada yang tahu dua tahun bisa merubah perasaan orang lain."


"Jadi kita selesai?" tanya Melinda memastikan sekali lagi dan berharap Dion menggeleng untuk jawaban nya.


Tidak ada suara. Hanya anggukan pelan dari kepalanya. Dan kejujuran Dion membuat hati nya begitu perih bagai terkoyak pecahan kaca.


Setelah mendengar jawaban itu, Melinda berlari meninggalkan Dion sendiri. Ia tak ingin Dion melihat tangisan nya.


Sebenarnya begitu banyak harapan Melinda untuk bisa bersama Dion yang baik hati. Sikap cuek dan tenang nya mampu menghipnotis Melinda dari pertama kali bertemu kala itu.


Namun semua berubah semenjak ibu tirinya masuk ke dalam keluarganya. Dan seperti inilah ia sekarang.


Menjadi sugar baby pria kesepian.


🌸


Bersambung...


*Maaf telat up yg kedua.


Karena keluarga emak lagi ada musibah lagi 😭


Kakek emak (adik dari kakek kandung emak.) meninggal dunia hari ini jadi emak sedikit sibuk.


Maaf yg kecewa karena Nadira dan Qenan berpisah.


Ikuti aja alur nya ya....


Jangan lupa tinggalkan jejak loh ya.. Di like, pencet tanda ❤️ , vote nya juga jangan lupa ya beb..

__ADS_1


Emak sayang kalian semua*..


__ADS_2