
The Royal Bali Villas Canggu.
Villa yang cukup luas ini interiornya di dominasi kayu dengan warna abu-abu, membawa kemewahan dalam desain minimalis kontemporer khas hunian bergaya Skandinavia.
Lihatlah dekorasi kamarnya yang modern dan stylish dengan lantai kayu layaknya sebuah pondok di Eropa ini. Percayalah, yang Anda lihat ini bukan katalog IKEA.
Tepat di ujung kamar tidur terdapat kolam renang lengkap dengan dek kayu dan bean bags untuk bermalas-malasan sambil menikmati segelas cocktail.
Dan yang tak kalah menggoda adalah kamar mandinya yang luas dengan bathtub yang cukup besar.
Terletak di kawasn Pantai Beraw yang terkenal dengan bermacam cafe dan restoran yang begitu hip, selain berwisata kuliner Anda juga dapat beraktivitas di Canggu Club, menikmati sunset di Pantai Batu Belig yang jaraknya hanya 10 menit saja atau Echo Beach dan Pantai Batu Bolong yang bisa ditempuh selama 15 menit.
Butuh waktu sekitar 3 jam mereka tiba di Villa. Bahkan Nadira sudah terlelap sepanjang perjalanan dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai ke The Royal Bali Villas Canggu.
Dengan sekali tarikan nafas Qenan menggendong Nadira membawanya ke kamar utama di villa itu dan di susul Nazeef dan Dion di belakang nya.
Dion membantu membuka pintu kamar mereka lalu menutup kembali setelah Qenan masuk.
Perlahan di rebahkan tubuh Nadira lalu ia buka sepatu kets yang dikenakan Nadira beserta kaos kakinya.
Di selimuti tubuh istrinya lalu duduk di sisi ranjang menatap wajah polos Nadira dengan garis kerutan di dahi.
"Apa yang kamu pikirin sampai tertidur pun raut wajah mu begitu sendu?" tanya Qenan lirih sembari membelai pipi Nadira.
"Apa karena kita akan berpisah sementara waktu? aku juga merasakan itu Ra."
...****...
Sinar Mentari sudah menyapa setiap insan, namun berbeda dengan Nadira yang sedari tadi masih enggan membuka mata.
Qenan tersenyum memandangi wajah Nadira. Mata yang terpejam itu terusik kala sinar mentari dengan lantang menyorotkan sinarnya tepat di wajahnya itu. Dengan sigap Qenan menghalangi sinar itu dengan tubuhnya maka Nadira kembali tertidur dengan nyaman.
Berulangkali Qenan menjahili Nadira hingga pukulan di lengan sebagai hadiah dari Nadira. "Qenan, bisa sekali aja biarkan aku tidur?" tanyanya dengan suara terpejam dan mata masih terpejam.
"Sayang, tolong aku." sungguh suara Qenan penuh permohonan saat ini.
Sistem saraf otonom yang menimbulkan rasa cemas membangunkan nya begitu saja. Bahkan kini ia terduduk menatap Qenan yang masih berbaring menyamping.
"Kamu kenapa?" tanya Nadira begitu cemas.
"Rudal butuh belaian Ra."
Nadira menganga mendengar jawaban Qenan dan baru menyadari bahwa Qenan sedang mengerjai nya.
"Qenaann.. Aku begitu cemas gimana bisa kamu sebercanda ini?" sungutnya sembari melayangkan bantal memukuli Qenan.
Qenan hanya tertawa membiarkan dirinya sebagai korban kekerasan rumah tangga itu.
Dengan nafas terengah-engah dan dada masih naik turun ia menatap tajam suaminya. "Kamu menyebalkan."
"Maaf." Qenan ikut duduk berhadapan dengan Qenan.
__ADS_1
Secepat kilat ia menguasai Nadira karena rudal membutuhkan mengasahan sebagai bentuk semangat di pagi hari.
...****...
"Tuh kan apa gue bilang.. Mereka nggak keluar itu pasti masih enak-enak." gerutu Nazeef mendengar suara syahdu dari dalam kamar Qenan dan Nadira.
Pletak
"Sakit bege." cicit Nazeef karena mendapat pukulan di kepalanya.
"Lo bisa diem nggak? biarkan aja mereka begitu, lupa abis pulang dari sini kita pergi?"
Nazeef diam saja membenarkan ucapan Dion dan ia melupakan hal itu.
"Boleh nggak gue nyicip cewek sebelum pergi Ion?"
Dion yang masih bermain game langsung menoleh dan menatap tajam ke Nazeef.
"Jangan gila, jangan karena cewek lo kembali terjerumus. Biarkan mereka yang udah sia-siain perasaan kita."
Nazeef menghela nafas lalu mengangguk pasrah.
Cukup lama mereka bermain game bersama untuk mengalihkan bisikan setan untuk bermain solo. Karena apa? suara bersahutan itu benar-benar mempengaruhi keduanya.
"Qenan hebat bener sampek sekarang belum siap-siap." Ucap Nazeef menoleh kearah pintu kamar dimana Qenan dan Nadira berada.
"Biarkan saja."
...****...
Bukan hanya di atas ranjang Qenan menggagahi Nadira. Ia benar-benar menghabisi Nadira tiada ampun untuk kepuasan bersama.
Setelah tadi bermain di ranjang dan sofa. Ia kembali menyerang Nadira di bathtub hingga suara air di dalam bathtub mengiringi permainan mereka.
"Qenan.." rengek Nadira merasakan jemari Qenan menelusup masuk kedalam rumah pengasahan rudal.
Nadira mendongak merasakan nikmat dari jemari Qenan yang mulai keluar masuk itu.
"Sekarang Nan." tubuhnya meliuk-liuk meminta penyatuan segera dilakukan.
Dengan sigap Qenan mencabut jemarinya lalu mengangkat tubuh Nadira ke pangkuan nya.
"Aku nggak bisa Nan.."
"Belajar sayang, aku bantu."
Dengan perlahan Qenan membantu Nadira naik turun sesuai ritme yang disuka Nadira. Tak dapat dipungkiri bahwa keduanya menikmati waktu berdua mereka.
Bahkan tanpa diminta, mereka melupakan kejadian dari Nazeef dan Dion.
Hingga pelepalas itu terjadi lagi dan Qenan benar-benar mengakhiri permainan karena istrinya itu benar-benar sudah terkulai lemas.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri Nadira duduk di meja rias memperhatikan tanda-tanda kepemilikan yang diciptakan suaminya itu. Helaan nafas terdengar mana kala hitungan tanda mencapai lebih dari sepuluh.
"Biarkan aja begitu Ra, kamu tambah cantik kalau ada tanda-tanda itu."
Nadira mencebik bibir tetap menutupi tanda itu menggunakan foundation.
"Nan, tolong kasih ini disini." tunjuk Nadira di belakang punggung yang tak bisa di jangkau nya.
Ia melihat ada beberapa tanda kepemilikan di belakang punggung dari pantulan cermin.
Qenan mendekat menuruti apa yang dikatakan Nadira namun setiap kali tanda itu hendak diberikan foundation pasti ia kecup lebih dahulu.
"Geli Nan.."
Setelah dirasa semua sudah tertutupi, mereka keluar kamar terlihat Nazeef dan Dion diam terpaku.
"Kalian kenapa?"tanya Qenan.
Mereka refleks menggeleng bersama.
"Dir, sarapan lo ada di meja makan."
Nadira mengangguk lalu melangkah menuju dapur dimana ruang makan bergabung menjadi satu dengan dapur.
Qenan memicing curiga melihat kedua sahabat nya. "Jujur sama gue, kalian abis ngapain?"
Nazeef nyengir kuda. "Gue nggak tahan boy, gue ikutan kesetrum karena kalian berdua, Sorry."
Qenan menghela nafas panjang. "Jangan terlalu sering bermain solo. Itu nggak baik."
"Kenapa gitu?"
"Ya, Lo bisa kena penyakit payronie, Lo mau karena sering main solo jadi mengurangi sensitivitas pada burung pipit mu. Terus lo bisa e*ja*kulasi dini."
Nazeef melotot tak percaya. "Serius?"
Qenan mengangguk. "Iya, asal Lo tahu burung Pipit mu itu bisa patah."
"Bayangin aja burung Pipit lo patah."
Qenan mengulum senyum melihat wajah ketakutan Nazeef.
🌸
Bersambung.
*Hai sayang emak..
Cuma mau bilang, berkomentar dengan bahasa yang sejuk kan hati.
Belum pernah tahu kan emak orang Medan merepet cmna*?
__ADS_1