
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam namun agaknya Ja'far belum juga kembali. Seharian Rania berkeliling di rumah besar Ja'far.
Besar, tapi tidak sebesar rumah Wido.
Wajah berpangku tangan dengan jemari mengetuk pipinya. Saat ini ia tengah memikirkan rencana apa yang bisa membuat Ja'far hanya ingin bersamanya.
Rania mengacak rambut karena frustasi tidak ada ide sama sekali di kepalanya. Timbul pertanyaan, apakah otak liciknya hilang karena sudah lama vakum?
"Nyonya, ini sudah malam. Sudah waktunya anda masuk ke kamar." kata Pak Mus kepala pelayan di rumah itu.
Rania mendongak karena setelah mengacak rambut, Rania menelungkup kan kepala di atas meja.
"Saya belum mengantuk, Pak Mus. Kalau Pak Mus ingin istirahat duluan aja. Aku bisa menyediakan apapun yang aku inginkan nanti."
"Maaf, Nyonya. Tuan Ja'far berpesan anda harus segera tidur."
"Haish.. Menyebalkan sekali. Baiklah." Rania bangkit berjalan menuju kamar utama namun langkahnya melambat ketika mendengar Pak Mus sedang berbicara pada seseorang di ponsel.
Ia balik badan memastikan pendengaran bahwa orang yang sedang berbicara dengan Pak Mus adalah suaminya.
Jalan semakin dekat hingga membuat Pak Mus tersentak. Ia merebut ponsel pak Mus begitu saja.
"Hallo suamiku."
"Apa? tidurlah, sudah malam. Aku gak pulang. Malam ini aku bersama Sarah."
Sakit? tentu. Istri mana yang tak sakit mendengar suaminya sendiri bicara sedang bersama wanita lain, padahal ini adalah malam pertama mereka.
"Aku enggak mau. Aku menunggumu. Aku takut tidur sendirian di rumah sebesar ini, Ja'far." Ia sengaja berbicara dengan suara manja.
Bahkan Rania bergidik ngerih sendiri dengan suara manja nya karena selama ini ia tak pernah begitu.
"Di rumah itu ada pelayan dan penjaga Rania."
Rania menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena suara sentakan Ja'far.
"Nggak ada yang temani aku tidur. Apa Pak Mus atau salah satu penjaga aja aku minta temani aku tidur di kamar?" Rania melirik Pak Mus yang tampak tegang karena ia menyebutkan namanya.
"Kurang ajar, awas aja jika kamu berani melakukan itu, maka peluru ini akan menembus kepala mereka."
Rania tersenyum kemenangan mendengar ucapan Ja'far terakhir. Ia kembalikan ponsel pak Mus dan berujar.
"Pak Mus, kalau suamiku belum datang juga sampai 1 jam mendatang. Tolong anda suruh Aldi penjaga yang paling tampan itu ke kamar ku."
"Ta-tapi Nyonya."
"Anda gak perlu khawatir. Aku udah izin tadi."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Rania benar-benar meninggalkan dapur. Ia berharap Ja'far datang dan tidak perlu memanggil salah satu penjaga rumah itu.
Ia pun sangat takut jika ancaman Ja'far benar adanya. Semenjak tinggal bersama Ja'far memang ia tak pernah melihat pria itu melakukan kekerasan namun melihat pistol yang selalu di bawa Ja'far dan tato-tato terlukis dikedua lengan pria itu ia menjamin bahwa Ja'far bukan hanya sekedar kepala bodyguard dan preman-preman yang menyebar di pasaran.
...****...
Ja'far memutuskan panggilan begitu saja. Di ambilnya kemeja memakainya dengan kasar, tak lupa ia mengambil pistol lalu disimpan nya di tempat yang berada di celana. Dompet dan kunci mobil.
"Honey, kamu mau kemana?" cegah Sarah.
"Bukan urusanmu. Tetaplah disini."
Di lajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Setir tercengkram erat dengan rahang yang mengeras. Hatinya terbakar ketika mendengar Rania meminta penjaga rumahnya untuk menemani istrinya tidur.
Itu tidak akan terjadi.
"Dasar kelinci kecil."
Pintu gerbang tertutup membuat ia berulangkali memencet klakson hingga memekikkan telinga.
Pintu gerbang terbuka dan ia lajukan kembali mobil itu. Ia berhenti tak jauh dari pos penjaga lalu turun melihat para penjaga.
Emosinya naik ke ubun-ubun melihat salah satu penjaga tidak menampakkan diri. "Dimana Aldi?"
Aura menyeramkan dapat dirasakan para penjaga rumah. "Ke toilet tuan."
"Cari Aldi dan istriku sekarang." sentak Ja'far berteriak lalu berjalan memasuki rumah. Pistol sudah berada di genggaman menunggu kedua orang tersebut menghadap kedepannya. Duduk bersila dengan tatapan tajam.
...****...
"Ada apa?"
"Entahlah, tapi kelihatannya dia sangat marah padamu. Apa kamu melakukan kesalahan?"
Aldi menggerakkan kedua tangan tanda tidak ada. "Mana berani aku."
"Udah ayo kita jumpai Tuan."
...****...
Pak Mus berulang kali mengetuk pintu kamar Rania hingga tidurnya merasa terganggu. Dengan wajah bantal, Rania membuka pintu.
"Ada apa, Pak Mus?"
Pak Mus menunduk hormat lalu berkata. "Tuan memanggil anda, Nyonya."
"Ngapain? tadi di suruh tidur."
__ADS_1
"Saya tidak tahu Nyonya. Tapi sepertinya beliau sedang tak baik-baik aja. Lebih baik anda segera menemui beliau."
"Hem."
Tanpa perduli dengan keadaan sekitar. Rania menuruni tangga dengan mengenakan kimono merah menyala dengan rambut sedikit berantakan. Sesekali menguap dan satu hal yang ia lupakan. Rencana yang ia buat tadi tak terealisasi kan.
Berjalan dengan keadaan belum sadar seutuhnya, Rania terus berjalan lurus karena ia tahu Ja'far duduk di sofa panjang.
Ia berbaring dengan kepala berada di paha Ja'far tanpa perduli kimono nya telah tersingkap hingga paha mulusnya terpampang jelas di mata Ja'far dan beberapa penjaga rumah. Ia tidur dengan nyaman disana.
...****...
Melihat Rania seperti itu lalu melirik anak buahnya juga menatap kagum pada paha Rania langsung menerjang meja kaca di depan nya.
"Jaga mata kalian atau akan ku congkel mata kalian itu."
Beruntung meja kaca itu mengenai sofa di seberangnya menjadikan meja itu tidak pecah.
Rania yang semula tertidur langsung membuka mata. Betapa terkejutnya ia ada pria lain berdiri disana selain suaminya.
"Sayang." Tanpa sengajak Rania memanggil Ja'far membuat yang di panggil diam terpaku.
Jantung nya berdegup kencang di tambah Rania sudah memeluknya karena malu berpakaian sek*si didepan orang lain.
Ia berdehem untuk menormalkan dirinya lagi. Ia sudah menyuruh para penjaga pergi dari sana. "Biasakan lihat penampilan mu ketika keluar dari kamar." tegur Ja'far merasa tak rela tubuh istri barunya itu di lihat orang lain.
"Maaf, aku kira kamu sendirian." Rania merasa canggung setelah menyebut Ja'far 'sayang' dan memeluknya begitu saja. Mau bagaimana pun, ini adalah pengalaman pertamanya seperti itu pada pria.
Lama mereka terdiam hingga Rania memecahkan keheningan. "Ja'far, aku tidur duluan ya."
Ja'far berdecak. "Jangan sebut namaku."
Rania mengerutkan dahi. "Jadi? bukan nya aku selalu menyebut nama mu?"
"Panggil aku seperti tadi." Ja'far memalingkan wajah ketika Rania terus menatapnya.
"Sayang? bolehkah?"
"Ya."
Rania tersenyum lalu merapatkan duduk di dekat Ja'far kemudian mengecup pipi suaminya itu.
"Selamat malam, sayang." Rania berlalu meninggalkan Ja'far yang mematung.
Di sentuh pipi dimana Rania mengecup nya tadi. Entah apa yang dirasakannya ketika pertama kali melihat Rania di bawa ke markas.
Ia tidak bisa mengartikan hal itu.
__ADS_1
🌸
TBC