
"Muka nya Qenan amazing banget tahu nggak sih, benar-benar kayak anak kucing yang menggemaskan." bisik Dion membuat Nazeef menahan tawa.
Ia membenarkan apa yang di katakan Dion. "Kalau udah ketemu pawang nya memang begitu. Sama kita aja dia bakalan jadi singa kelaparan."
Lagi-lagi keduanya berusaha menahan tawa karena menggosipkan sosok Qenan Abraham.
"Kamu ingat dua hari ini dia di tinggal Nadira? kalau di ingat-ingat lucu juga." ledek Nazeef masih berbisik.
"Diamlah.. Kayak nya Nadira udah siap ceramahnya."
...****...
"Nazeef, ini juga berlaku untukmu." tutur Nadira menatap Nazeef yang sedang berbisik.
Nazeef berdehem lalu menegakkan tubuh. "Iya kakak ipar."
"Kami balik dulu ya, oh iya Dir, papa titip salam katanya ada yang mau di kasih ke kamu. Besok sempetin ke kantor papa." ujar Dion menyampaikan pesan dari papa Surya.
Nadira mengangguk. "Oke, besok pulang kuliah aku kesana. Kamu hati-hati Ion dan makasih."
Setelah kepergian kedua sahabat suaminya itu, ia menatap dalam mata Qenan secara intens hingga yang di tatap menjadi kikuk.
"Apa yang terjadi sebenarnya selama aku nggak ada?"
"Kamu menggalau bareng Ra.."
Nadira mengerutkan dahi. "Galau bareng? gimana bisa? bukan nya Dion dan Melinda sama-sama saling jatuh cinta? terus bukan nya Nazeef udah bisa bebas dari Risa dan bisa perjuangin Nina?"
"Kamu tahu kan Dion ngerasa ada yang di sembunyikan dari si dia dan dia itu gak mau jujur, jadi ya Dion nyerah. Nazeef juga kita, berjuang sendiri itu sakit Ra.."
Nadira menghela nafas panjang. "Terus kamu kenapa galau?"
Qenan memicing kesal menatap Nadira. Bisa-bisanya istrinya itu bertanya ia galau kenapa, pikir Qenan.
"Istriku kabur dari rumah." sahut Qenan dingin.
"Eh.."
Kok jadi dia yang marah?
"Marah?" tanya Nadira dan mendapat tatapan tajam dari sang suami.
Lihatlah istrinya itu, bukan di bujuk melainkan di tanya begitu jelas jawaban nya adalah YA.
"Ya udah marah, berarti malam ini aku nggak jadi melepas rindu." ucap Nadira seraya bangkit melangkah memasuki kamar yang sudah ia rindukan dan akan terus dirindukan.
...****...
Untuk kali ini otak Qenan sepertinya melamban mencerna kalian sang istri. Bagaimana tidak? ia masih terpaku mencerna arti 'melepas rindu'.
Apa sama dengan melepas sesuatu yang ia tahan selama ini?
"Sayang.." panggilnya bangkit menyusul sang istri ke dalam kamar.
Dilihat Nadira sudah berganti pakaian tidur Winnie the Pooh sedang duduk di meja rias memakai skincare dan bodycare.
__ADS_1
"Ra."
"Hem.."
"Extraño. (Aku rindu)."
Nadira diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu lalu memicing menatap Qenan dari pantulan cermin.
"Kamu ngejek aku kan?" sergah Nadira.
"Mana ada, aku bilang aku kangen." Ia melangkah mendekati Nadia lalu tanpa babibu menggendong nya kemudian di rebahkan tubuh Nadira ke tengah ranjang.
"Apa kamu udah siap sayang?" bisik Qenan sembari mencium dan menghirup wangi tubuh Nadira di leher jenjang itu.
"Geli Nan.." otak Nadira sudah mulai melemah jika dirang sang seperti ini.
"Rudal ku udah sangat merindukan yang ada padamu Ra.."
Tanpa menunggu Nadira berbicara lagi, kedua bibir itu saling berpagut mesra mengantarkan gejolak rindu yang sudah membuncah.
Ketika mata sedari tadi terpejam menikmati kini terbuka saling menatap penuh cinta. Sepasang tangan milik sang suami itu dengan lugas membuka baju tidur istrinya.
Tangan itu sudah mere mas dan memutar ujung gunung yang sedari tadi sudah mengeras akibat sengatan yang diberikan sang pemilik rudal.
"Qenaaan.. Aku mau.." Akhirnya Nadira mengalami pelepasan pertama nya setelah jemari suaminya menguasai rumah rudal miliknya.
"Apa kamu siap?" bisik Qenan menatap Nadira penuh cinta berkabut gai rah.
Nadira hanya mengangguk.
"Tapi, apa kamu udah baik-baik aja Ra? kita kan belum periksakan keadaan kamu lagi."
"Aku udah periksa semalam."
"Tembak dalam atau luar Ra?" tanya Qenan sembari menggesek-gesek rudal di depan rumah Nadira.
"A-aku masih takut hamil Nan."
Kedua mata itu saling pandang menyelami perasaan keduanya.
Dengan bertumpu di kedua siku, satu tangan terulur merapikan anak rambut Nadira yang berada di pipi nya.
"Maafin kesalahan ku yang lalu sayang, aku nggak akan buat kamu hamil sebelum kamu benar-benar siap. Dan ku harap setelah aku pulang, kita berdua telah siap menjadi orang tua."
Nadira tersenyum lalu mengangguk.
"Ayo kita lanjutin."
Qenan tak menjawab namun ia sudah mengambil posisi lutut menjadi tumpuan lalu mengarahkan rudal untuk memasuki tempat mengasahan.
Dengan sekali hentakan, rudal sudah dapat menembus rintangan namun kedutan-kedutan yang tercipta seakan mencengkram erat hingga menimbulkan kenikmatan tiada tara.
Hanya kata 'ah' yang dapat menyiratkan segala kenikmatan yang mereka ciptakan.
Peluh keringat membasahi kedua tubuh yang polos itu, seprei yang semula rapi kini sudah kusut menandakan betapa liar permainan yang tercipta.
__ADS_1
Tangan bergerilya ke tempat yang ia suka dan tubuh sang istri memberi respon dengan liukan sek*si menambah gai rah.
Suara hentakan dan desa han saling bersautan menghiasi kamar mereka. Suara mendayu yang dikeluarkan Nadira membuat semangat Qenan terus tersulut untuk melancarkan aksinya.
"Nadiraaaa..."
"Qenaann.."
Hingga keduanya mencapai puncak nirwana bersama, desa han pun berakhir dengan tumpah nya cairan ledakan rudal Amerika di tempat pelindung yang sudah siap membungkus rudah agar tak tembus ke rahim milik Nadira.
Tubuh nya ia gulingkan ke sisi kanan Nadira. Mengatur nafas yang masih tersengal. Cukup lama mereka menetralkan diri hinggap Nadira memulai pembicaraan.
"Nan.."
"Hem.."
"Selimutnya."
Qenan bangkit lalu mengambil selimut yang sudah terserobok ke lantai kemudian selimuti tubuh polos Nadira dan juga dirinya.
"Maaf terlalu lama, apa kamu capek?" tanya Qenan sembari menarik Nadira masuk dalam dekapan nya.
"Kamu hebat."
Keduanya memilih tidur sejenak lebih dahulu.
...****...
"Lo sih pakek hape ketinggalan segala." gerutu Nazeef kepada Dion.
"Sorry."
Tadi, ketika sepasang suami istri itu sudah di dalam kamar. Nazeef dan Dion kembali masuk ke apartemen Qenan karena ponsel milik Dion tertinggal disana.
Beruntung ponsel tersebut berada di meja ruang tamu sehingga tak perlu menunggu suami istri itu keluar kamar.
Namun sialnya mereka harus mendengar suara laknat dari kamar dan mereka tahu pelakunya adalah Qenan dan Nadira.
"Gue butuh sabun." ujar Nazeef yang memang sudah lama tak melakukan permainan solo.
Dion menghela nafas panjang. Bohong jika ia tidak terpengaruh namun rasa gengsi terus ia jaga bila di depan Nazeef.
"Lo nggak usah muna', ayo kita ke kamar mandi. Bayangin cewek-cewek yang udah sia-siain cinta kita."
Dion berdecak namun mengikuti langkah Nazeef masuk ke kamar mandi yang ada di dapur Qenan mencari sabun sebagai pelampiasan.
Selesai pelepasan keduanya mencari makanan di dalam lemari es dan membawa dua botol soft drink ke ruang tamu lalu menikmati bersama.
"Belum siap juga rupanya." kata Nazeef masih mendengar suara berisik dari kamar Qenan.
"Biarkan aja."
🌸
Bersambung..
__ADS_1