
"Ini susu nya di minum dan es krim nya juga." Qenan memberikan segelas susu dan satu cup es krim. Seperti kebiasaan setiap malam ia akan memberikan itu sesuai anjuran Dokter Gadhing.
Qenan memerhatikan Nadira masih bersikap aneh. Semakin yakin jika istrinya itu ada masalah dengan nya. Bahkan biasanya Nadira akan meminta di suapi tetapi sekarang tidak.
"Udah?" tanya Qenan setelah Nadira menghabiskan semuanya.
Nadira mengangguk lemah lalu pergi meninggalkan Qenan di dapur begitu saja. Di dalam kamar, Nadira masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian memakai setelan baju tidur. Tidak memakai kimono karena Nadira tidak ingin di ganggu Qenan.
Sedang Qenan melihat Nadira masuk ke dalam lift hanya bisa mende sah heran. Namun ia juga sadar bahwa istrinya itu sedang hamil.
Akhirnya ia menyusul sang istri. Bukan nya marah melainkan gemas dengan tingkah Nadira yang sedang mendiami nya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Gak ada."
Qenan mendekat dan bersimpuh mensejajarkan wajahnya dengan wajah Nadira yang tengah berbaring.
"Cerita sama aku."
Benar dugaan Qenan bahwa Nadira gak akan bisa menutupi apa yang tengah dirasakan istrinya. Ia sudah berhasil membuat Nadira sangat bergantung padanya.
"Kamu jahat, kenapa sampek sekarang aku masih jadi istri rahasia mu? kenapa aku masih kamu sembunyikan?"
"Sayang, siapa yang bilang kalau kamu istri rahasia aku, hm?"
"Karyawan kamu bilang gitu. Dia ngira karena ada sesuatu. Apa itu benar, Nan?"
Tangan Qenan terkepal erat mendengar apa yang dikatakan Nadira. Ia baru tahu jika karyawan nya ada yang berpikir seperti itu.
"Jangan pernah berpikir yang enggak-enggak sayang. Sekarang pikirin kesehatanmu dan anak kita aja ya."
"Tapi bener nggak ada yang kamu sembunyiin kan?"
"Enggak ada." Qenan mengecup kening Nadira lalu merapikan selimut untuk Nadira. Setelahnya ia ke kamar mandi membersihkan diri usai itu barulah ia ikut tertidur dengan memeluk Nadira dari belakang.
...****...
Esok paginya Qenan masih memerhatikan raut wajah sang istri masih tampak cemberut. Bahkan kini tengah memakaikan dasi juga tak ingin melihat ke arahnya.
"Katanya kalau cemberut di depan suami itu dosa." celetuknya membuat Nadira mendongak menatapnya.
"Dan, katanya ninggalin istri sendirian yang lagi hamil itu adalah suami tega." balas Nadira.
Ah, pantas saja Nadira begini. Siang nanti ia barus ke Bandung selama tiga hari karena harus meninjau langsung ke tempat penyediaan bahan baku pabriknya.
"Maaf, tapi aku harus ke Desa sayang. Kamu hamil, ingat kata Dokter Gadhing kan? kamu nggak boleh kelelahan lagi."
"Kamu mah gitu."
Karena gemas, ia langsung menarik pinggang Nadira agar mendekat ke arahnya. Mengikis jarak hingga bibir saling berpadu.
Hasrat yang harus di tahan ingin ia salurkan sebentar saja. Biarlah, untuk hari ini terlambat ke kantor demi memuaskan dahaga.
Tidak tahu siapa yang memulai, kini tubuh keduanya sudah tak ada benang menutupi. Dengan tatapan mendamba, Qenan membawa sang istri ke ranjang untuk memudahkan petualangan pagi nya.
Setiap permukaan kulit tak lepas dari sentuhan, bagai aliran listrik yang menyengat diri membuat keduanya segera ingin berpacu.
__ADS_1
Membuka lebar dua pengawal agar memudahkan rudal masuk ke dalam sarang pengasahan. Gerakan pacu perlahan menikmati sensasi yang memabukkan.
Alunan syair lagu yang tercipta mengisi kekosongan kamar semakin membangkitkan titik-titik gai rah yang sudah lama terbungkam.
Peluh keringat membasahi permukaan kulit bagai vitamin yang menyongsong menambah lajuan pacu.
Tak dapat menilai dari kata-kata. Hanya gerakan yang mampu saling mendamba. Sang pengasah tak mengizinkan untuk meminpin pacuan.
Kali ini, biarlah rudal sebagai pemenang.
"Qenan, kamu membuat ku lelah." gerutu Nafira setelah dua jam melayani Qenan.
Qenan terkekeh tanpa menjawab. Di usap keringat yang menetes dari dahi hingga wajah Nadira kemudian membenarkan selimut istrinya itu.
"Andai aku bisa membawamu, Ra." gumamnya. Tentu terasa berat berjauhan dengan Nadira karena selama menikah tidak pernah berpisah selain acara kabur Nadira.
"Aku pasti akan merindukan mu." Di kecup dahi Nadira lalu ke kamar mandi membersihkan diri dan bersiap pergi ke kantor.
Beberapa saat kemudian setelah tiba di kantor, ia melihat wajah kesal asisten sekaligus sahabagnya itu. Namun bukan Qenan jika ia perduli.
"Boy, lo udah terlambat dua jam."
"Hem."
"Kemana aja lo? tumben nggak disiplin."
"Istri gue hamil."
Nazeef melongo dengan jawaban Qenan. "Istri gue juga hamil tapi bisa tepat waktu."
"Gue enak-enak dulu tadi. Sayang banget gue anggurin."
Sontak ucapan Nazeef membuat Qenan tak bisa menahan tawa. "Lo sih buatnya langsung nerobos. Rasain lo."
"Lo mah tega."
"Ck, udah kerja-kerja."
"Ah ya, gue hampir lupa. Cek CCTV di lobby kemarin siang. Siapa yang telah bertanya sesuatu dan buat istri gue ngambek sepanjang malam hanya karena gak ada resepsi pernikahan kami. Pecat dia, gue nggak butuh karyawan tukang gosip."
"Ck, iya."
...****...
Sesuai rencana, siang itu Qenan dan Nazeef berangkat ke Bandung dan di antar istri masing-masing.
Seperti kebiasaan Qenan dan Nazeef lebih suka meninjau langsung tempat permasalahan apa yang mereka kerjakan.
"Gue mau selama dua hari harus sudah selesai."
"Iya, gue khawatir sama Nina. Dia di apartemen sendiri."
"Kenapa gak di suruh nginap di rumah mama?"
"Ya istri lo juga kenapa lebih milih tinggal di rumah lo yang gede itu sendiri?"
"Gue nggak tahu."
__ADS_1
Beberapa jam kemudian mereka sudah berada di salah satu mess pabrik milik Qenan. Mess ini memang sengaja di buat untuk Qenan dan Nazeef jika sedang meninjau langsung seperti ini.
Sebenarnya lebih sering Nazeef meninjau dan ini pertama kali Qenan ikut karena ia lebih fokus di perusahaan.
Qenan mengirim pesan pada Nadira bahwa sudah sampai di mess, begitu juga Nazeef. Setelah itu mereka membersihkan diri bergantian barulah istirahat di kamar masing-masing.
...****...
Di Perusahaan Papa Surya.
"Ion, ayo dong. Aku nggak bisa tidur kalau belum di peluk Nadira."
Ya, sedari tadi Nadira merengek untuk di temani ke Bandung.
"Ayolah, Nad. Kamu hamil, nanti aku di hajar Qenan gimana?"
Dengan wajah cemberut ia berdiri hendak meninggalkan ruang kerja Dion tetapi sebelum keluar ia kembali berujar. "Aku minta anterin bang Wido aja. Pasti dia langsung setuju."
Brak
Dion menganga mendengar ucapan Nadira sejurus kemudian mengacak rambut frustasi melihat kakak nya itu.
Bisa berabe jika Nadira berangkat dengan Wido. Akhirnya ia menyusul Nadira di ruang kerja Wido.
"Oke, kita berangkat besok ya."
Nadira bangkit langsung memeluk Dion. "Kamu adik terbaikku. Makasih Ion."
"Sudah ayo kita keluar dari sini sebelum bang Wido datang."
Ehem
Kedua nya menoleh ke sumber suara langsung nyengir kuda.
"Ada apa, Dira?" tanya Wido yang baru saja masuk ke ruangan nya. Ia buru-buru datang karena melihat dari CCTV bahwa Nadira berada di ruangan nya.
Nadira menggaruk alis nya yang tak gatal. "Dira kangen sama Aditya, kapan-kapan Dira bawa ke rumah boleh?"
Wido tersenyum lalu pandangan nya beralih melihat perut Nadira yang sedikit membuncit.
"Boleh, kabari saja kalau kamu ada di rumah papa biar abang antar Aditya."
Nadira tersenyum lalu permisi keluar dari ruangan itu. Sedang Wido menatap nanar kepergian Nadira.
Memang ia sudah menerima jalan takdirnya. Berdamai dengan masalalu nya. Tetapi menghilangkan perasaan ini pada wanita bernama Nadira itu sungguh sulit.
*Entah sampai kapan!
❤️
Bersambung..
Hai.. Ayo dukung terus karya emak ya,
Maaf beberapa hari ini nggak teratur update nya.
Puasa, perut kosong susah mikir 🤣
__ADS_1
Di tambah deadline penuh*.