
Di taman kota Jakarta ketiga cewek yang baru saja beranjak dewasa itu tengah menikmati indahnya sore. Ramai pengunjung membuat masalah Nadira teralihkan.
"Lo banyak banget makan nya Dir? gak takut gemuk?" tanya Nina melihat Nadira tak berhenti makan sedari tadi.
"Lagi masa pertumbuhan." jawabnya ngasal.
"Oh ya ampun.. Itu muka oppa kenapa ya kak?" tanya Melinda melihat Nazeef dan Dion berjalan mendekati mereka.
"Bonyok itu muka." kata Nina.
"Gue khawatir kak.." celetuk Melinda dengan wajah cemas.
"Ya sana dekati dan obati." ujar Nadira.
Melinda menggeleng kepala. "Pasti udah ada Rania yang akan obati." tuturnya lesu.
Obrolan mereka terhenti ketika dua cowok itu sudah berdiri di depan mereka yang tengah duduk di bangku taman.
Nazeef mencondongkan tubuh ke depan tubuh Nina lalu mengecup sudut bibir Nina membuat sang empunya terbelalak.
"Lo.." sungut Nina setelah menetralkan degub jantung nya.
Sedang Nadira melihat itu membuat nya mengulum senyum, tetapi Melinda menatap iri ke arah mereka.
"Jangan marah Na, gue butuh amunisi agar tetap waras."
Berbeda dengan Dion yang terus menatap Melinda penuh arti ada yang menyadari. Entah apa yang dipikirkan cowok itu yang pasti tentang Melinda.
Nadira menarik ujung kaos Dion dan mendongak menatap wajahnya.
"Qenan mana Ion? wajah lo kenapa?" tanya Nadira mendapati tiga tatapan penuh tanda tanya padanya.
"Qenan tadi ada urusan, ini bukan apa-apa. Ayo kita pulang." ajak Dion membantu Nadira bangkit tanpa perduli kan semua orang disana.
Namun langkah kaki Nadira terhenti lalu berbalik badan. "Elin.. Ikut kita yuk."
Melinda tersenyum senang karena Nadira mengerti keinginan nya. Ia pun mengikuti Dion dan Nadira.
...****...
Di tempat lain, lebih tepatnya Kuala Lumpur. Malaysia.
Seorang pria matang baru saja memasuki apartemen yang ia sewa selama satu bulan mendatang. Ia adalah Wido Prasetyo.
Masuk dengan wajah lelah nya, melonggarkan dasi dan membuka dua kancing kemeja nya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan sore ini.
Alasan Papa Surya dan dirinya harus berada di negeri Jiran adalah perusahaan konstruksi papa Surya sedang membangun pusat perbelanjaan disana maka mereka berdua harus mengawasi langsung pembangunan tersebut.
Wido mengaktifkan ponsel yang sedari pagi sengaja ia matikan lalu mencari nomor seseorang yang hendak ia hubungi.
"Hem. Kirimkan video nya ke saya." Hanya kalimat itu terucap dari mulut Wido setelah panggilan itu terhubung lalu terputus.
Bibirnya melengkung saat video yang di kirim orang itu baru ia tonton.
"Rasa lelah ku hilang hanya karena melihat mu walau cuma dari video." Wido terus melihat video itu dimana Nadira tampak bahagia sedang ikut menyerbu diskonan.
"Hanya karena diskonan kamu udah bahagia. Andai aku tak memikirkan bagaimana kamu akan malu memiliki pendamping tua seperti ku Nadira.."
"Dan aku merutuki diriku sendiri yang jatuh cinta pada gadis yang seharusnya menjadi keponakan ku."
...****...
Di taman kota dimana Nina dan Nazeef berada. Mereka masih duduk berdua tanpa ada yang membuka suara.
"Ayo gue anter pulang."
__ADS_1
"Gak perlu, udah pulang sana." ucap Nina sewot padahal ia tak bisa mengendalikan diri dari degub jantung akibat kecupan Nazeef tadi.
"Mana bisa gue ninggalin cewek secantik lo kriting."
Nina memalingkan wajah yang sudah bersemu merah merona.
"Gombalan yang sering terucap dari mulut playboy kayak lo udah basi." Sepertinya ucapan itu tak selaras dengan hatinya yang berbunga.
Nazeef tersenyum getir karena citra dirinya sebagai playboy masih saja ada dipikiran Nina, padahal jika sama Nina ingin tahu belakangan ini ia berusaha keras tak tergoda dari para cewek yang menyerahkan tubuh nya di depan Nazeef.
"Gue ingin memastikan sekali lagi Nina.. Apa gue gak punya kesempatan untuk bersama mu?" tanya Nazeef menatap lurus dengan wajah sendu nya.
Nina bergeming.
"Gue tahu pasti sulit untuk mu menerima gue yang bejat ini, tapi gue udah berusaha untuk berubah. Gue bukan Qenan si cowok setia hanya Nadira yang ada di hatinya, gue bukan Qenan yang tega membiarkan para cewek patah hati karena cinta nya di tolak."
"Dan gue bukan Dion yang bisa bertahan dengan cinta bertepuk sebelah tangan dan mengabaikan cinta yang lain."
"Memang gue salah yang mudah tergoda dengan kemolekan tubuh cewek yang menyerahkan tubuhnya ke gue. Karena memang sulit menahan gai rah itu Nin."
Nina masih diam mendengarkan semua yang dibicarakan Nazeef.
"Berubahlah karena diri lo sendiri Zeef bukan karena gue atau siapapun."
Nazeef mengalihkan pandangan ke arah Nina, menatapnya dalam lalu mengangguk.
"Ayo gue antar pulang. Udah mendung, kalau kehujanan bisa lurus rambut lo." Nazeef tertawa setelah mengatakan hal itu dan membuat Nina merengut sepanjang perjalanan.
Hingga sudah di dalam mobil dan melajupun Nina masih merengut.
Nazeef menepikan mobil di jalanan sepi.
"Kok berhenti?" tanya Nina masih dengan wajah kesal.
"Lo mau apa?" tanya Nina tergagap menahan sesak di dada seakan pasokan udara di dalam mobil itu telah habis.
Nazeef tak menjawab namun bibirnya sudah menempel di bibir Nina, melu mat nya dengan lembut walau tak ada balasan dari Nina.
Ia mengusap sisa saliva di bibir Nina yang masih diam terpaku.
"Manis aku suka." Setelah itu ia memasang sabuk pengaman lalu melajukan mobil ke apartemen mereka.
Sedang Nina memalingkan wajah ke arah jendela. Ia merasa malu karena menikmati yang baru saja terjadi.
Ciuman pertamaku..
...****...
Sesekali Dion melirik ke arah Melinda sedari tadi juga curi-curi pandang ke arahnya. Ia menantikan ocehan-ocehan Melinda seperti biasa yang selalu ingin terus menjadi perhatian nya.
Saat pandangan mata mereka bertemu maka mereka akan membuang muka bersamaan.
Dasar jual mahal.
"Elin.. Lo sehat?" perubahan Melinda sangat kentara di mata Dion membuat ia tak suka.
Melinda menoleh ke arah Dion lalu mengangguk walau sebenarnya ia tengah menahan mulut nya agar tak berceloteh di depan Dion.
Nadira yang duduk di kursi penumpang tersenyum melihat tingkah adik dan teman nya itu.
Malu-malu kucing.
...****...
Di kediaman keluarga Reno Abraham.
__ADS_1
Setelah dari kantor papa Reno langsung melesat pulang. Sepanjang perjalanan ia terus berpikir bagaimana menyampaikan rahasia yang disembunyikan anak kebanggaan nya itu.
Papa Reno tersenyum melihat sang istri sudah berdandan cantik menyambutnya pulang.
"Papa terlambat dua jam." tegur mama Sinta memeluk papa Reno.
"Maaf, tadi ada sedikit masalah."
Mama Sinta mendongak menatap sang suami yang juga menatapnya namun beberapa detik kemudian matanya terbelalak atas perlakuan sang suami.
"Papa ih malu sama pelayan rumah tahu gak." sungut mama Sinta mengurai pelukan.
Papa Reno terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang dari dulu malu-malu bila bermesraan di luar kamar.
"Kamu masih saja menggemaskan ma.. Ayo kita ke kamar." Papa Reno merangkul pinggang ramping sang istri membawanya ke lantai dua dimana kamar mereka berada.
"Mau papa gendong kayak pengantin baru dulu gak ma?" bisik papa Reno menggodanya.
"Ingat umur pa.."
Papa Reno menghentikan langkah di tengah tangga lalu sekali hentakan tubuh mama Sinta sudah berada di gendongan ala bridal style.
"Papa.." cicit mama Sinta terkejut.
"Mama meragukan keperkasaan papa ya? baiklah, akan papa buktikan." Dengan langkah semangat papa Reno membawa mama Sinta ke dalam kamar. Untuk saat ini ia ingin menyegarkan pikiran lebih dahulu.
Mama Sinta menelan saliva mendengar itu dan pastinya ia akan pasrah menerima setiap sentuhan sang suami yang tak pernah berubah seperti saat pertama kali mereka melakukan nya.
"Papa mau di tempat tidur, terus di meja rias itu, terus di kamar mandi kayak nya menarik." Ucapan Qenan sepertinya teringat di kepala papa Reno saat ini.
Ia pun memulai permainan nya sore itu. Seakan tak pernah terpuaskan menjajaki setiap sudut tubuh wanita yang berada di bawah kukungannya. Wanita yang sudah menemaninya selama 20 tahun ini.
Beberapa jam kemudian sepasang suami istri yang sudah tak muda lagi itu tengah rebahan dengan tubuh polos di balik selimut tebal.
"Gimana? masih mau bilang aku ini tua?" tanya papa Reno mengusap punggung polos sang istri.
"Enggak, cukup. Aku gak mau lagi."
"Mana panggilan kamu tadi saat kamu terus mende sah."
"Kakak.. Jangan menggoda ku." rengek mama Sinta.
Papa Reno tergelak mendengar itu. Saat pacaran dan menikah saat belum hamil mama Sinta memanggil papa Reno dengan sebutan 'kakak' dan papa Reno selalu bersemangat ketika menjamah sang istri dan desa han nya selalu menyebut panggilan itu.
"Sayang.. Sebenarnya umur kita ini berapa?"
"Udah banyak, 5 tahun lagi 50. Kenapa? jangan bilang lagi kalau kamu mau buat adik untuk Qenan ya.. Kamu tahu sendiri rahim ku bermasalah, bahkan kita mendapatkan Qenan sangat sulit." wajah mama Sinta berubah sendu.
"Enggak sayang." jawab papa Reno semakin mengeratkan pelukan.
"Terus? atau jangan-jangan kamu mau nikah lagi dengan wanita muda?"
Papa Reno terperangah mendengar pertanyaan itu. Tak ada di pikirannya sedikitpun untuk menduakan sang istri.
"Bukan sayang.. Aku mau bilang kalau sebentar lagi kita akan jadi kakek nenek."
"Hah? kakek nenek?"
"Iya, anak kita udah mau jadi papa muda." ucap papa Reno lirih.
"Apa?"
🌸
Bersambung..
__ADS_1