
Tanpa terasa Ujian Nasional telah usai, pengumuman kelulusan pun telah terumum kan. Nama-nama para siswa dan siswi yang mendapatkan prestasi juga telah di umumkan. Begitu juga nama 3 sekawan yang tercantum di majalah dinding tertulis sebagai murid yang mendapat beasiswa di salah satu universitas terbaik yang ada California, Amerika Serikat.
Stanford University.
Dan hari ini adalah acara perpisahan di SMA KUSUMA BANGSA. Pagi sampai sore acara formal dan di hadiri orang tua atau wali murid dan malam hari nya adalah acara bebas di sekolah itu.
Seperti saat ini, Kata-kata perpisahan dan ucapan terimakasih dari Dion sebagai wakil kelas XII sebagai penutup acara sore itu dan akan di susul acara berfoto riya.
Nadira yang duduk paling belakang melihat ke open stage merasa sangat bangga suami dan adiknya mendapat penghargaan sebagai siswa berprestasi.
Padahal jika diingat, sangat jarang ia mendapati suaminya belajar sangat lama jika sedang membuka buku pelajaran sekolah. Bahkan ia lebih sering melihat Qenan berlama-lama di depan iPad mengurus bisnisnya ketimbang buku pelajaran sekolah.
Dan adiknya, Dion. Pastilah ia sangat yakin mengingat bagaimana adiknya sering ia dapati sedang belajar atau melukis. Hanya dua kegiatan itu yang sering ia lihat jika tak ada Qenan yang akan dibuat kesal karena kejahilan Dion.
Dan wajahnya berubah sendu kala mengingat perpisahan itu semakin dekat, tidak penuh dalam sebulan suaminya akan pergi meneruskan pendidikan di Negara maju tersebut.
Bukan hanya sekali ia marah kepada Qenan karena beranggapan jika Qenan tak adil pada nasib nya sebagai istri, bahkan ia sampai mengatai dirinya sebagai pengemis di depan Qenan agar dirinya dibawa bersama Qenan kemanapun.
Namun sekarang ia mengerti maksud Qenan membiarkan mereka berpisah dengan jarak. Ini adalah ujian mereka. Teringat obrolan nya dengan Qenan beberapa waktu lalu.
"Nadira, aku disana benar-benar menuntut ilmu dan aku juga tinggal di asrama. Mana mungkin aku khianati kamu."
Ia merasakan elusan tangan Qenan di punggung mencoba menenangkan dirinya yang terus merasa tak rela ditinggal Qenan.
Logikanya berkata tak apa ditinggal namun hatinya masih tak rela. Bukan kah wanita seperti itu? perasaan lebih mendominasi mereka.
Pipinya ditangkup oleh kedua tangan Qenan. Ia membalas tatapan Qenan yang begitu dalam ke matanya.
"Sebenarnya aku lebih suka membuktikan semua ucapan ku dari pada harus berjanji kepada orang lain, tapi kali ini aku berjanji padamu Nadira Fazilla Zharifa, istriku, wanita yang ku cintai.."
Lihatlah, Qenan belum mengucapkan janji namun ia sudah tersipu malu mendengar ucapan Qenan.
"Aku berjanji akan selalu setia. Saat bosan maupun senang, saat banyak pilihan maupun terpaksa sayang."
Pipi Nadira kian merona mendengar janji Qenan untuknya ditambah kata 'sayang' terucap dari bibir Qenan.
Dan kini semakin merasa tenang karena Dion sendiri yang akan menjaga Qenan disana. Ia percaya pada adiknya karena Dion bukanlah Nazeef namun ia juga percaya sebagaimana berengsek nya Nazeef pasti tak akan menjerumuskan Qenan ke dunia nya sebagai petualang cinta.
Ia menoleh ke kanan dimana kedua sahabatnya nya juga menatap ke depan melihat Qenan dan Dion yang ada di atas open stage.
Jangan tanyakan Nazeef dimana, otaknya tak semampu dua orang itu, dan ia harus kuliah di tempat yang sama dengan Qenan karena itu kewajiban nya. Dan sudah waktunya ia menata diri menjadi asisten pribadi seorang Qenan Abraham.
Acara telah usai dan mereka yang mendapat prestasi juga banyak mendapat ucapan selamat dari para guru dan para siswa-siswi.
Banyak para siswi mengantri hanya untuk bisa langsung mengucapkan kata selamat kepada Qenan dan Dion.
__ADS_1
Namun seperti biasa, para siswi harus menelan pil pahit ketika berada di depan Qenan yang tengah duduk berbeda dengan Dion senantiasa berdiri menerima uluran tangan para siswi disana.
Qenan dengan santai duduk bermain ponsel mengirimi Nadira pesan dan yang menggantikan nya adalah Nazeef.
"Astaga.. Apa nggak bisa dia bersikap manis sedikit aja di depan mereka?" tanyanya sendiri masih memperhatikan apa yang dilakukan Qenan disana.
"Bisa dan itu cuma berlaku sama lo doang." sahut Nina yang memang mendengar pertanyaan Nadira dan membuat mereka tergelak.
Tanpa sengaja matanya melihat Rendi berdiri tak jauh dari mereka.
Seperti mencari seseorang.
Dan benar saja, ia melihat Rendi bersama seorang cewek yang ia kenal sedang berjalan menjauhi tempat acara.
Rasa penasaran menyelimuti menggiring kaki melangkah mengikuti kemana dua orang itu pergi dan ada rasa curiga, mengapa begitu mesra?
"Haishh.. Kenapa aku kepo? enggak-enggak, ini gak boleh Ra.. Itu bukan urusan lo." Ia menasehati dirinya lalu berbalik badan hendak kembali ketempat acara.
Ia bergabung pada kedua mertua dan papa Surya juga disana, ia mengulas senyum ketika semua orang juga tersenyum padanya.
"Kamu dari mana?" tanya Qenan tampak kesal.
"Ke depan sebentar." kilah nya tak ingin ada yang tahu kemana dirinya.
"Nadira.." panggil seseorang dan langsung membuatnya berbalik badan.
Ada rasa malas menanggapi cewek yang memanggil nya saat ini.
"Ya?"
"Maafin gue." ucap cewek itu membuat Nadira memicing curiga.
"Rania, untuk apa lo minta maaf sama gue?"
Nadira melihat jelas ada ketakutan dari wajah Nadira saat ini, namun ia tak bisa menebak jika Rania takut pada siapa.
"Gue udah maafin lo."
"Makasih banyak Nadira, lo udah selamatin hidup gue."
Nadira mengerutkan dahi merasa ucapan Rania membuat curiga. Ketika hendak bertanya, Rania sudah tampak menjauh darinya.
Selamatin hidupnya? ada apa dengan Rania? gue lihat banyak berubah darinya. Dia nampak kurus sekarang.
...****...
__ADS_1
"Makasih lo udah dateng Nin."
Nina mengangguk lalu memperhatikan Nazeef tengah melihat ke depan dimana Qenan bersama istri dan keluarganya begitu juga ada Dion dan Papa Surya disana.
"Bokap dan nyokap lo gak dateng Zeef?" tanya Nina membuat Nazeef terkekeh.
"Nyokap gue udah meninggal."
"Maaf, gue gak tahu."
Nazeef tersenyum menoleh menatap Nina. "Jangan dipikirin, gue gak pa-pa kok."
"Terus bokap lo?"
"Terakhir gue dapat kabar, dia nikah sama orang Amerika dan hidup bahagia disana. Sebenarnya gue, Dion, dan Nadira gak jauh beda, kami korban dari keegoisan orang tua. Bedanya Nadira besar dilingkungan yang banyak mencurahkan kasih sayang, gue beruntung hidup bersama keluarga Abraham yang terpandang, sedang Dion. Dialah yang tak beruntung diantara kami."
"Tapi semenjak Nadira datang, gue akui Papa Surya banyak berubah. Beliau meluangkan waktu untuk pulang beda banget dulu."
Nina menghela nafas panjang tak menyangka kehidupan orang kaya begitu rumit.
🌸
Bersambung..
*Hai sayang-sayang emak..
Ini ya emak mau jawab pertanyaan salah satu dari para komentar.
1.Ceritanya bertele-tele
- Mak.. cerita ini sengaja aku buat alur lambat ya, gak mungkinkan dari malam tahun baru menikah, ujug-ujug jatuh cinta terus UN, terus pisah 2 tahun? kan aku harus buat kesan manis biar mereka jatuh cinta.
Terus kenapa baru komen cerita nya bertele-tele saat cerita ini udah Sampek bab 90-an? selama ini kemana? menikmati?
Istri ikut suami, dan suami gak boleh ninggalin istri lebih dari 3 bulan.
- Memang betul, sangat betul malah. Tapi di cerita ini aku buat hidup bebas bukan ke agamaan kayak di novel ku yang judulnya 'Jodoh KEDUA' ya..
Dan satu lagi, suami boleh ninggalin istri lebih dari 3 bulan asal tetap memberi 3 nafkah kepada istri. (menurut apa yang ku baca ya.)
Dan di bab ini kalian akan tau kenapa Qenan gak bisa ajak Nadira tinggal bersama oke*..
__ADS_1