
Untuk pertama kali setelah masa kaburnya Nadira tidur dengan nyenyak. Tidak lagi muntah atau mual parah. Itu karena seseorang teramat dirindukan menjadi obat penawar dari segala keluh kesahnya.
Tubuh mungil Nadira menggeliat kecil ketika merasakan usapan lembut di pipinya. Mata mengerjab menyesuaikan pencahayaan di kamar itu. Lalu pandangan teralih pada sosok yang tengah duduk menatapnya dengan senyuman.
Senyuman yang sangat dirindukan. Andai orang itu tahu jika dirinya begitu tersiksa menahan rindu. Dan ia sadar, siksaan itu ia sendiri yang ciptakan.
"Maaf, aku ketiduran." ucapnya sembari mengatur duduk bersandar di headbord.
Qenan mengangguk. "Mandilah sayang, sebentar lagi Pak Kades akan datang bersama istrinya."
Mata Nadira terbelalak. "Gimana bisa? mau ngapain mereka, Nan? apa dikira mereka, kita ini kumpul kebo ya?"
Melihat kepanikan Nadira membuat ia gemas akhirnya menyentil kening sang istri. "Aku yang mengundang mereka makan malam. Udah sana mandi."
"Atau mau aku mandi kan?" goda Qenan mengerling kan mata. Sejujurnya bukan menggoda tetapi benar-benar keinginannya.
Nadira tersipu malu di goda seperti itu. Siapa yang tidak merindukan sentuhan suami sendiri. "Yakin mau mandiin aku di kamar mandi di rumah ini?" tanya Nadira sembari melabuhkan kecupan di bibir Qenan.
Qenan menggeleng. "Enggak, sempit sayang."
Keduanya tertawa menyadari kalau saat ini mereka sama-sama menginginkan tetapi harus urung karena tidak ada waktu untuk melakukan nya. Dan Qenan tidak mau melakukan itu di rumah ini. Benar-benar membuat fantasi liar nya mati kutu, pikir Qenan.
"Besok setelah sampai dirumah, bersiaplah untuk hukuman mu. Aku benar-benar gak akan lepaskan kamu lagi." bisik Qenan mampu membuat Nadira merona.
"Aku tunggu hukuman mu." secepat kilat Nadira mengecup pipi Qenan.
"Udah berani ya bibir memble ini nakal sama aku." keduanya terkekeh bersama.
Akhirnya Nadira turun dari ranjang mengambil pakaian yang telah di sediakan Qenan lalu membawanya ke kamar mandi, tak lupa handuk juga di bawanya.
...****...
Selesai mandi dan bersiap, acara makan malam di mulai. Setelah makan malam selesai, mereka duduk di sofa ruang tamu itu untuk membahas apa yang di utarakan Qenan sore tadi.
Qenan benar-benar menunjukkan wibawa nya sebagai pemimpin. Ia menjelaskan apa saja yang hendak di bangun dan pastinya sebelum melakukan pembangunan, hak milik tanah tersebut harus berpindah atas nama Nadira.
Bukan tanpa alasan, ia tidak ingin ada masalah setelah pembangunan. Niatnya membangun tempat belajar anak-anak kurang mampu secara gratis. Kita tidak ada yang tahu pikiran orang lain. Bisa saja sang pemilik tanah bangunan itu akan memanfaatkan nya, dan Qenan tak ingin itu terjadi.
Nadira sendiri merasa bangga melihat Qenan begitu lugas menjelaskan tentang pembangunan tersebut, bahkan perencanaan itu sampai siapa saja yang akan menjadi pengajar disana dan Qenan yang akan menggaji mereka.
Nadira bangkit berniat untuk mencuci piring karena tadi selesai makan malam, Qenan dan Nazeef mengumpulkan piring dan gelas kotor di baskom besar tanpa mencuci nya.
__ADS_1
Tetapi sayang, tangan nya di cekal sang suami dan menatap sebagai isyarat 'mau kemana?'.
"Aku mau ke belakang cuci piring dulu." ucap Nadira lirih.
"Kamu hamil, Ra. Duduk aja, nanti biar aku yang kerjain." kata Qenan lembut namun penuh ketegasan dan benar, Nadira langsung menurutinya.
"Nak Dira hamil?" tanya Ibu Kades.
"Iya, Bu."
"Owalah, berarti hampir setiap pagi kamu di infus karena hamil toh? Nak Qenan kemana kok Nadira sendirian lagi hamil muda begini?" sifat keibuan ibu Kades mendominasi sekarang membuat Pak Kades tak enak hati pada Qenan.
Qenan menatap Ibu Kades dengan tatapan tak terbaca. "Iya Bu, saya yang terlalu sibuk bekerja karena baru saja meresmikan pabrik makanan di Bandung ini."
Lama mereka berbincang, kemudian Pak Kades beserta istri permisi pulang setelah tadi melakukan transaksi jual beli tanah tersebut. Dan besok akan melakukan pengukuran serta pengalihan nama pemilik tanah yang baru.
Setelah itu Qenan dan Nazeef mencuci piring. Yang pasti dengan gerutuan dan umpatan harus mencuci piring berjongkok seperti sekarang ini.
Nadira yang tak enak hati pun akhirnya berujar. "Biar aku aja yang cuci piring ya."
"Eh, jangan kakak ipar. Kakak duduk aja ya."
"Mi amor, tetaplah duduk dan persiapkan dirimu."
Padahal maksud dari perkataan Qenan adalah persiapkan diri untuk esok ketika sudah berada di rumah mereka sendiri.
Selesai mencuci piring, Qenan masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi begitu juga Nadira yang menyusul Qenan ke kamar mandi.
Mereka berdua masuk kamar tanpa perduli Nazeef ada di rumah itu.
...****...
Di dalam kamar.
"Qenan." panggil Nadira setelah mereka telah merebahkan diri di atas ranjang. Nadira sendiri meletakkan kepalanya di lengan Qenan dan memeluk tubuh suaminya itu.
Qenan yang masih larut mengelus perut rata Nadira sembari terpejam hanya berdehem sebagai sahutan.
"Kamu masih marah sama aku?"
Astaga istriku, tentu aku masih marah. Tapi aku nggak mungkin marahin kamu. Entah mengapa setiap marah dan menatap wajah mu saja amarah ku udah hilang.
__ADS_1
"Enggak." sahut Qenan masih terpejam.
"Tuh kan masih marah." sanggah Nadira merengut.
"Kamu aja gak mau cium aku dari tadi." imbuhnya lagi membalikkan badan memunggungi Qenan.
Qenan membuka mata lalu memiringkan tubuh memeluk Nadira dari belakang sembari menggesekkan rudal berada dalam kurungan ke bo kong Nadira.
"Kamu bisa rasakan rudal bangun kan? beginilah aku, Ra. Aku gak bisa jauh dari mu. Saat kamu menyentuh ku, maka rudal akan bangun dan rindu masuk ke sarang nya. Tapi aku nggak mungkin langsung memakan mu, aku takut calon anak kita kenapa-kenapa. Itu makanya aku mengajak mu cepat pulang agar bisa segera ke dokter untuk memastikan kesehatan kalian."
Nadira terenyuh mendengar penjelasan Qenan. Sekali lagi ia akui bahwa suaminya itu lebih dewasa darinya.
Nadira membalikkan badan dengan senyum mengembang. "Sini aku bantu."
"Tapi, nanti kamu capek." bukan maksud menolak, tetapi ia tidak ingin Nadira kelelahan akibat ulahnya.
"Aku rindu suara erangan mu, Nan." Nadira sengaja membuat suaranya lebih manja.
Beberapa waktu kemudian bibir itu telah menyatu dengan Nadira berada di bawah kukungan Qenan. Tangan Nadira aktif memijat rudal yang semakin berdiri tegak.
Qenan pun tak kalah semangat, pakaian keduanya telah berserak di lantai hanya segitiga biru Nadira tetap melekat disana.
"Kamu sangat luar biasa, sayang." Racau Qenan menikmati pijatan, kulu man, jila tan, yang di berikan Nadira.
"Apa ada wanita lain yang pernah menyentuh rudal ku, Nan?"
"Gak akan ada wanita lain selain dirimu."
"Nadiraaaa.."
...****...
Di luar kamar dimana Nazeef sudah rebahan di sofa harus menutupi wajahnya karena suara laknat Qenan mengganggu pertahanan nya.
"Apa gue bilang, pasti ini kan. Astaga nasib lo Nazeef. Nggak Dion, enggak Qenan sama aja."
🌸
Bersambung...
*Sebagai info, cerita Wido tamat ya..
__ADS_1
Nanti kalau otak emak lagi kumat Gilak nya, emak buat cerita Abang Wido yang udah jadi duda ya*.