Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Rania dan Jafar


__ADS_3

Rahang Ja'far mengeras tegak melihat interaksi Bos dan istrinya begitu akrab dan kompak bermain bersama dengan baby Aditya.


Tadi saat ia menanyakan mengapa duduk bersama, bos nya menjawab. "Kami udah berdamai dan sangat menyenangkan berdamai dengan masa lalu, jadi kami sepakat mengurus anak bersama tanpa dendam."


Sungguh kata 'mengurus anak bersama' seperti ancaman untuknya. Entah mengapa ia tak rela dan seharusnya ia mewajari hal itu karena bos dan istrinya itu memiliki anak.


Sepanjang jalan keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Tanpa di rasa mobil yang mereka tunggangi telah sampai di rumah mereka.


Sampai di dalam kamar pun masih berdiam diri. Bahkan setelah keduanya selesai membersihkan diri. Dan itu membuat Ja'far tak nyaman.


"Kamu kenapa?" tanya Ja'far memeluk Rania dari belakang setelah keduanya berbaring di atas ranjang.


"Nggak kenapa-kenapa. Makasih udah izinin aku ketemu anakku."


"Juga papa nya?" tanya Ja'far yang sudah mengendus-endus di ceruk leher Rania.


"Kami udah saling menerima masalalu, Far."


"Tapi aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan tuan Wido." tangan Ja'far terus merayap membuat tubuh Rania bereaksi.


"Kenapa? kamu juga terus dekat-dekat dengan Sarah, bahkan tidur bersama."


Ucapan Rania membuat Ja'far menghentikan kegiatannya. Ucapan Rania membuat hati Ja'far tersentil. Dibalik tubuh Rania sehingga mereka saling berhadapan.


Ia tidak dapat mengartikan mengapa hatinya sakit melihat istrinya meneteskan air mata. Tangan terulur mengusap air mata di pipi wanita itu.


"Kenapa menangis, hem?"


"Kamu jahat, Ja'far."


...****...


Rania menangis tersedu dalam pelukan Ja'far. Mau sekuat atau selicik apapun ia tetap seorang wanita yang membutuhkan kasih sayang dan kesetiaan.


"Aku mulai lelah. Cerai kan aku jika kamu masih berhubungan dengan Sarah. Enggak ada istri yang mau suaminya punya wanita lain." bahkan Rania memukuli dada bidang Ja'far,kini.


"Aku enggak akan menceraikanmu, Rania."


Kedua pasang mata mereka beradu. "Kenapa? kamu masih ingin membuatku menangis sepanjang malam karena menantikan mu pulang setelah kamu bersenang-senang bersama Sarah?"


"Pergilah, biasanya jam segini kalian masih memadu kasih bukan?"


Di hapus air mata nya, wajah seketika berubah datar lalu bangkit duduk di tempat tidur.


"Rania."


"Pergilah." ia memalingkan wajah tak ingin menatap wajah suaminya


Ja'far ikut duduk memerhatikan wajah Rania.


"Aku yang bodoh dan terlalu percaya diri untuk membuat mu jatuh cinta. Ternyata aku kalah, Ja'far." Rania menutup wajahnya karena menangis lagi.


Tetapi ucapan Ja'far membuat ia tercengang dan menjengkelkan baginya.


"Jadi kamu mencintaiku?"


Ingin rasanya Rania mencukur brewok suaminya itu. Apa selama ini tidak merasakan cinta darinya?


"Apa kamu nggak cinta aku, Ja'far?"


Ja'far mengedikkan bahu. "Aku nggak tahu jatuh cinta itu gimana, karena selama ini aku hidup dengan wanita hanya untuk kepuasan di atas ranjang."


Rania menatap wajah Ja'far dengan tatapan tak terbaca. Ia mengakui permainan pria di depan nya ini sangat mampu membuatnya terbang di atas awan dan karena itulah ia jatuh cinta.

__ADS_1


"Suamiku, apa kamu pernah merasakan takut kalau aku akan meninggalkan, mu?" tanya Rania melembut, ia ingin memastikan perasaan Ja'far padanya.


"Ya, aku nggak mau kamu pergi dan bercerai."


"Apa kamu pernah merasa gugup saat bersamaku?


Ja'far tak langsung menjawab. Ia seperti sedang mengingat sesuatu.


"Ya, setiap kali kamu memanggilku dengan sebutan suamiku ataupun sayang."


Rania tersenyum lembut lalu mengecup pipi dan bibir Ja'far.


"Jangan ambil kesempatan, sayang. Aku belum selesai bicara." ucap Rania karena Ja'far tidak melepaskan bibirnya tadi.


Rania mengulum senyum melihat Ja'far salah tingkah bahkan tidak ingin tatapan mereka bertemu, kini.


Ternyata suamiku walau serem begini sangat polos.


"Ja'far, lebih baik kita introspeksi diri dulu. Kita menjauh saja. Jangan saling kasih kabar apalagi bertemu. Minimal satu bulan. Kita harus tahu bagaimana status pernikahan kita. Berlanjut atau enggak."


Rania menelan saliva menatap Ja'far yang menatapnya tajam setelah ia mengatakan kalimat tadi.


"Udah aku katakan enggak akan ada perpisahan." sentak Ja'far.


"Tapi aku enggak mau kamu duakan Ja'far." cicit Rania menunduk.


"A-apa kamu merasakan takut kehilangan juga dengan Sarah?" tanya Rania terbata.


Ja'far diam sejenak. "Enggak, sebelum kita menikah aku sering membawanya kemana-mana karena aku terbiasa melakukan itu jika sedang suntuk atau lelah bekerja. Hanya kebutuhan aja."


"Sama kayak ketika aku ke markas, aku sering melakukan nya dengan mu daripada dengan wanita yang bersama mu waktu itu."


Rania diam dan mengingat kembali kejadian dahulu saat ia menjadi tawanan. Dan benar, memang dirinya lebih sering melayani Ja'far.


"Aku merasa tertantang untuk menaklukkan mu dari setiap penolakan mu jika aku meminta pelayanan mu dan aku merasa gak rela kalau tubuh indah mu ini di nikmati pria lain."


Rania tersipu malu. Walau suaminya belum menyadari jika pria itu telah jatuh cinta sejak lama padanya tetapi mampu membuat hatinya berbunga.


"Jadi, alasan kamu bersama Sarah hanya untuk melayani kamu di setiap tempat pekerjaan, mu?" tanya Rania memastikan.


Ja'far mengangguk. "Itupun harus Sarah yang memulainya."


Senyuman Rania kian mengembang mendengar pengakuan Ja'far yang belum juga sadar akan perasaan untuk nya. Ia hadiahi kecupan di pipi Ja'far.


"Bolehkah aku bertanya lagi, suamiku?"


"Silahkan, aku akan menjawab tanpa ada aku tutupi asal kamu jangan pergi meninggalkan ku."


"Apa kamu membayar jasa Sarah?"


Ja'far mengangguk. "Tentu."


"Enak sekali dia, dulu aku tak kamu bayar." memang jawaban Ja'far adalah keinginan nya tetapi mengapa dia tak senang? apa cemburu?


Dan lihatlah pria di depan nya ini mengapa harus tertawa?


"Kenapa ketawa?" tanya Rania ketus dengan bibir yang mengerucut.


"Kamu sangat lucu kalau marah, gemas tahu." Ja'far mengecup seluruh wajah Rania berakhir pada bibir tipis yang membuatnya candu.


"Ja'far, kita belum selesai bicara."


"Baiklah, sepertinya istriku malam ini berubah menjadi wanita keras kepala."

__ADS_1


"Ja'far, aku serius kali ini. Aku ingin hanya aku satu-satunya wanita dalam hidupmu."


"Jadi kalau aku sedang kerja di luar gimana?" tanya Ja'far polos membuat Rania gemas.


"Bawa aku, aku sanggup melayani mu."


Mata mereka saling mengunci.


"Rania, pekerjaan ku berbahaya. Aku takut terjadi sesuatu padamu."


Rania menggenggam tangan beras Ja'far dengan senyum manisnya. Ia ingin kejelasan hubungan mereka hendak kemana.


"Aku yakin kamu akan melindungi ku. Apa di setiap kamu melakukan itu pada Sarah, nggak teringat padaku?" sakit memang mempertanyakan hal ini karena dahulu Wido pernah melakukan itu.


"Tentu aku ingat, bahkan aku melakukan itu pada Sarah dengan mata terpejam karena mengingat bayangan lekuk tubuh mu. Kamu terlalu indah, istriku."


Rania memeluk Ja'far. Akhirnya ada pria yang menginginkan dirinya.


"Aku mencintaimu, Ja'far."


Ja'far hanya diam saja karena pernyataan cinta dari Rania begitu asing di telinga nya namun membuat hatinya menghangat dan bahagia secara bersamaan.


Pelukan terurai dengan tatapan Rania yang sulit terbaca. "Kenapa tak membalas bilang kamu juga cinta aku?"


"Aku nggak ngerti tentang cinta, Rania."


Rania tersenyum manis membuat degub jantung Ja'far berpacu lebih cepat.


"Tanpa sadar, kamu udah cinta aku sejak awal kita bertemu sayang. Dari kamu awalnya penasaran dan merasa tertantang untuk bisa menaklukkan diriku itu udah nunjukin kamu tertarik padaku, sampai kamu merasa cemburu saat aku bersama Wido."


"Jangan ingatkan aku tentang kebersamaan kalian tadi. Aku nggak suka."


Rania tertawa lalu mengecup bibir Ja'far lagi. "Itu tandanya kamu cemburu, dan cemburu itu tanda cinta. Aku akan ajari kamu dan nunjukin cinta kamu ke aku."


"Kalau bercinta aku tahu, Rania." sanggah Ja'far.


"Cinta bukan bercinta, Ja'far." pekik Rania gemas.


"Aku mau kamu jangan lagi berhubungan dengan Sarah, Ja'far."


Ja'far diam saja bergerak mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.


"Bawa Sarah ke tempat biasa, hasil nya untuk kalian saja. Dan segera nonaktifkan kartu yang ada pada Sarah."


"..."


"Enggak, aku enggak butuh wanita lain lagi.."


Setelah mengucapkan itu, panggilan telepon terputus dan selama berbicara di telepon pun mata Ja'far terus menatap wajah Rania.


"Udah, kamu dengar sendiri kan? sekarang waktunya aku mengajarimu bercinta, istriku."


Ja'far langsung mendorong Rania hingga kembali berbaring. Kini istrinya itu tertawa di bawa kukungan nya.


"Kamu sengaja menyiksa Jerry, istriku."


"Jerry?"


Ja'far memegang satu tangan Rania mengarahkan nya ke milik nya.


"Ja'far, kamu mesum." pekik Rania langsung Ja'far mulai permainan nya.


🌸

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2