Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Qenan apa kabar?


__ADS_3

Sama seperti pagi sebelum-sebelumnya. Nadira lebih dahulu bangun dari orang di rumah papa Surya. Setelah membersihkan diri ia menuju dapur. Belum ada Bi Asih disana.


Kayaknya aku bangun lebih gelap lagi. Aaiisshh..


Dengan cekatan ia membuat sarapan. Di ambilnya beberapa lembar roti, telur, sosis, dan bahan lain nya. Ia hanya membuat roti telur panggang.


Selesai memasak, bibi Asih barulah muncul di dapur dan mengatakan sangat tidak enak hati pada Nadira karena terlambat memasak. Padahal Nadira lah yang lebih awal bangun.


"Gak apa-apa bi, Nadira yang terlalu cepat bangun."


"Tapi usaha gak enak hati non, nanti kalau tuan tahu pasti marah."


"Makanya jangan sampek papa tahu. Aku ganti baju dulu ya. Bibi buatkan teh papa aja ya.. Aku mau siap-siap dulu."


"Baik Non."


Nadira pun berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Tak butuh lama untuk mempersiapkan diri. Hari ini ia memilih memakai kaos lengan panjang berwarna hitam garis-garis putih dan celana jeans biru tua dengan sebagian rambut panjangnya ia ikat keatas, sisa rambut lainnya dibiarkan tergerai indah.


"Pagi pa.."


Papa Surya tersenyum. "Pagi.."


"Gimana keadaan papa?" tanya Nadira sembari menarik mundur salah satu kursi tersebut.


"Jauh lebih baik. Apa adik mu belum bangun?"


"Udah pa.." jawab Dion yang baru saja tiba di meja makan. Ia mengambil jatah sarapan nya.


"Kamu gak sarapan dirumah?"


"Enggak pa.. Ini hari Senin di tambah ada jadwal try out jadi agak sibuk."


"Hati-hati."


"Dion.." panggil Nadira membuat Dion menoleh.


"Titip Qenan."


Dion kembali berjalan tanpa menjawab hanya acungan jempol ia berikan untuk Nadira. Tanpa Nadira minta pun ia tak akan membiarkan Qenan menyakiti saudari tirinya itu. Disadari atau tidak, kehadiran Nadira membuat hubungan nya dengan papa Surya sedikit berubah lebih baik.


Papa Surya melihat interaksi kedua anaknya merasa tenang. Setidaknya mereka adalah penenang untuknya.


"Nadira.. Kenapa kamu ambil jurusan PG-PAUD? kenapa gak ambil manajemen bisnis aja?" tanya papa Surya.


Nadira tersenyum lalu menelan makanan di dalam mulut sebelum menjawab. "Nadira suka anak-anak pa.. Kalau ambil bisnis ngitung-ngitung duit mah bukan keahlian Nadira." jawab Nadira cengengesan.

__ADS_1


Papa Surya menggeleng. "Gimana mau jadi istri Qenan kalau kamu aja gak ngimbangi dia nak?"


Nadira tersenyum kecut mendengar ucapan papa Surya. "Kalau dia beneran cinta Nadira pasti terima gimana pun keadaan Nadira pa.."


"Kamu benar, ya udah ayo kita pergi. Wido dan Nina udah nunggu di depan."


Nadira mengangguk bangkit mengikuti papa Surya. Dan benar saja yang dikatakan papa Surya tadi, Wido dan Nina sudah menunggu di teras rumah.


Tampak Wido dengan sigap membukakan pintu penumpang sebelah kemudi untuk papa Surya lalu membuka pintu mobil di belakang nya untuk Nadira.


"Makasih om, tapi aku bisa sendiri." ucap Nadira sembari masuk ke dalam mobil.


Papa Surya memberi perintah untuk mengantarkan Nadira dan Nina lebih dahulu kemudian ke kantor.


Di dasar hatinya masih terus merasa menyesal dan bersalah. Rasa bersalah itu kian membuncah karena perlakuan Nadira yang bisa memaafkan dirinya.


Kenapa anak kita sama persis dengan mu Melati? dia selalu menerima keadaan dalam hal apapun. Dia selalu menerima apa adanya. Aku berjanji padamu Melati.. Tak akan ku biarkan anak kita menangis.


...****...


Dua cowok sedang terburu-buru untuk berangkat sekolah hari ini. Keduanya bangun kesiangan lantaran tadi malam Qenan harus menemani Nazeef minum di apartemennya lantaran sahabatnya itu sangat frustasi melihat sikap Nina yang berubah.


"Sepatu gue mana Zeef?" tanya Qenan mencari sepatunya. Ia berteriak karena Nazeef berada di kamarnya.


"Di rak sepatu lah." jawab Nazeef asal karena ia masih memakai dasi sekolah.


Nazeef keluar dari kamar Qenan. "Lah biasa kan disitu." tunjuk Nazeef di sudut dapur.


Mendadak menjadi frustasi karena kehilangan rak sepatu. Selama sudah menikah dan menerima perasaan masing-masing Nadira lah yang menyiapkan segala keperluan nya. Dan seperti inilah jika istri tak ada di dekatnya.


Qenan mencoba menghubungi Nadira dan beruntungnya ia langsung di terima istrinya itu.


"Ra.. Rak sepatu kamu pindahin kemana?" tanya Qenan to the point'.


"Rak sepatu yang mana? kamu masih di apartemen? ini udah siang loh.. Kata Dion hari ini ada jadwal try out kan? tambah lagi upacara. Ngapain aja tadi malam sih? mampir kemana?"


Qenan memijat pelipisnya merasa pusing mendengar ocehan istrinya di tambah pusing akibat minuman keras tadi malam.


Astaga istriku..


"Maaf ya, sekarang kasih tahu dimana rak sepatu nya Ra? Kamu tahu aku terlambat kan?"


"Hehehe iya maaf. Rak sepatu yang isi sepatunya udah aku cuci ada di kamar kita, sepatu sekolah kamu udah aku cuci, rak nya ada di dekat pintu masuk."


"Oke makasih, jaga diri baik-baik disana. Ingat kamu istri aku. Cepat pulang."

__ADS_1


"Iya. Dah.."


Qenan melangkah cepat menuju tempat yang di sebut Nadira tadi. Dan benar saja sepatunya berada disana.


"Cepetan Zeef berangkat."


Keduanya memilih berangkat sekolah dengan satu mobil. Melihat Nazeef sedari menghafal tugas sekolah akhirnya ia memilih yang mengemudi.


Setelah tiba di depan gerbang sekolah ternyata sudah di tutup. Qenan melihat ada Dion berdiri di balik gerbang dengan tangan bersidekap di dada.


"Buka gerbangnya." titah Qenan setelah keluar dari mobil.


Dion berdecak melihat bagaimana reaksi wajah Qenan yang masih tetap sama saja.


"Lo harus gue hukum. Bisa-bisanya lo datang telat banget gini. Mana upacara udah siap lagi."


"Iya buka, tapi hukuman nya pas istirahat."


"Eehh enak aja. Kenapa lo yang ngatur?"


"Ck.. Ayolah.. Adik ipar." Qenan tersenyum tipis.


"Idiihh.. Najis gue dengernya."


Dion pun meminta tolong pada penjaga sekolah untuk membuka gerbang. Membiarkan mereka masuk dengan syarat jam istirahat harus siap dihukum.


Sedang di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Nadira dan Nina sudah berada di kelas nya. Hari pertama yang menyenangkan karena memang jurusan inilah yang ia inginkan tanpa harus tuntutan dari orang tua.


"Hai.. Kenalin gue Melinda." ucap salah satu teman kelas nya. Ia berkenalan saat kelas selesai dan sekarang jam istirahat.


Nadira dan Nina tersenyum ramah. "Hai.. Gue Nadira dan ini sahabat gue Nina."


"Boleh kita berteman kak?" tanya Melinda.


Nadira mengerutkan dahi dan berpikir apa ia sudah setua itu sampai teman sekelasnya memanggil nya dengan sebutan 'kak'.


"Boleh tapi kok lo panggil kita kakak?"


"Ya karena masih berumur 17 tahun. Entah otak gue yang keenceran entah ayah gue dulu nya sekolahin gue kecepatan." keluh nya cemberut karena ia merasa tua sebelum waktunya.


Nadira terkekeh melihat wajahnya yang cemberut. "Kamu lucu. Oke kita berteman."


Qenan apa kabar ya? tanya Nadira dalam hati.


🌸

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2