Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Kilas balik (Permintaan Nadira)


__ADS_3

"Dasar pria bodoh."


Pukulan terus menghujam punggung Wido. Nadira sangat kesal atas kebodohan yang dilakukan Wido. Tidak kah memikirkan bagaimana kesakitan hatinya melihat kebahagiaan ia selama ini? begitulah pikiran Nadira.


"Hei, kamu kenapa? apa salah ku?" tanya Wido mencoba menghindar dari pukulan Nadira.


Tangis Nadira pecah kembali seakan sakit hati yang dialami Wido. Namun dengan cepat di hapus air matanya dengan kasar. Menatap tajam Wido yang masih diam termangu.


"Dira." panggil Wido lirih.


"Aku udah tahu semua, dari kamu yang terus melindungi ku, dari kamu menjadi donatur panti dan membiayai hidupku."


Deg!


Wido menatap Nadira terkejut tetapi sebisa mungkin ia menenangkan diri.


"Kamu kemana saat malam tahun baru? kenapa tidak menolong ku malah Qenan yang datang?"


Nadira tak ingin menangis tetapi air mata itu suka rela mengalir tanpa perintah.


"Kamu bilang selalu menjagaku, tapi kamu kemana? kenapa membiarkan orang lain menolong ku? kenapa kamu gak pernah sedikitpun menunjukkan cintamu padaku saat itu? kenapa kamu bertahan dengan rasa sakit itu?"


Tubuh Nadira luruh di atas rerumputan. Langit serempak membendung sedih merindukan dewi malam.


"Maaf." cicit Wido duduk merasakan pilu mendengar isak tangis Nadira.


"Aku nggak cukup percaya diri berhadapan dengan mu Na. Kamu yang masih belia tentu akan menolak ku yang sangat jauh lebih tua dari mu."


Wido menghela nafas. "Malam tahun baru itu aku mengalami kecelakaan kecil dan anak buahnya merasa khawatir langsung pada menemani ku di rumah sakit. Salah ku juga lupa menanyakan apa yang kamu lakukan di malam tahun baru itu."


Nadira mendongak lalu berdiri berhadapan dengan Wido. "Lanjutkan hidupmu bang, jangan melulu memperhatikan ku."


Wido mengangguk lalu tersenyum. "Tenanglah, jangan khawatir kan aku."


"Tapi jangan terus mencintai ku bang, menikahlah."


Entah mengapa Wido menjadi emosi mendengar permintaan Nadira. "Jangan paksa aku menikah dengan wanita lain Na. Aku gak akan menikah."


"Aku mencintaimu, gak akan ada yang lain." lanjut Wido lagi.


Nadira berpindah menjadi duduk di sebelah Wido. Memandang lurus pada pepohonan di seberang panti.


"Coba buka hati mu kepada wanita lain yang hadir di hidupmu bang. Dengan begitu kamu bisa jatuh cinta sama dia."


Wido menoleh menatap wajah Nadira yang juga tengah menatapnya. "Apa karena begitu kamu dan Qenan saling jatuh cinta?"


Nadira tersenyum lalu mengangguk. "Ya, kami sama-sama membuka hati waktu itu. Perlakuan manis nya membuat ku jatuh cinta dan semoga abang juga begitu."


Wido tersenyum getir. Hal mudah ia mendapatkan wanita namun sulit membuang rasa ini untuk Nadira.


"Akan ku coba Na, demi kamu." gumam Wido.


...****...


Semenjak malam itu, Wido dan Nadira tak lagi membahas masalah pernikahan karena tak penting pikir Wido.

__ADS_1


Hari ini ia berencana pulang ke apartemen yang sudah di tinggalkan hampir sebulan. Bukan tanpa alasan, Nadira yang tinggal di rumah papa Surya selalu meminta dirinya dan para asisten rumah tangga untuk tinggal di rumah utama.


Ia tahu jika Nadira merasa kesepian itu makanya dengan senang hati menemani setiap malam walau tetap mereka menjaga jarak.


Ketika masuk apartemen, ia mengedar pandangan mencari budak kecil nya itu. Tidak ada, tetapi ia kembali acuh lalu masuk ke dalam kamar nya.


Rahang nya mengeras setelah melihat letak barang-barang terutama foto Nadira yang berbaris di atas meja telah berubah dan juga meja itu sudah berada di sisi berbeda.


"Kurang ajar."


Wido melangkah lebar mencari keberadaan Rania. Ketika tepat berada di depan pintu kamar Rania ia mengebrak hingga Rania terpekik kaget.


Brak!


Tanpa belas kasih Wido menjambak rambut Rania hingga membuat wajah wanita itu mendongak menahan sakit.


"Siapa suruh masuk ke kamar ku dan menyentuh barang ku hah? dasar pe lacur." bentak Wido meninggikan suara tepat di depan wajah Rania.


"Sa-sakit tuan." ringis Rania.


"Ku peringatkan sekali lagi jangan pernah coba-coba menyentuh barang pribadi ku dan jangan pernah menginjakkan kaki ke kamarku."


Wido melepas jambakan itu berlalu begitu saja meninggalkan Rania yang sudah menangis.


Sungguh ia sangat takut dengan Wido namun tak membuat ia benci bahkan setelah lama di tinggal, ia sangat merindukan tuan nya itu.


...****...


Keesokan harinya nya, Rania bertekad bertemu dengan Nadira. Sebenarnya mereka berada satu kampus tetapi beda fakultas dan ia sendiri tak ingin mencari masalah dengan Nadira lagi.


"Nadira." panggilnya dan melihat Nadira menoleh ke arahnya.


"Eh, iya ada apa ya Ran?" tanya Nadira.


"Bisa kita ngomong berdua?" tanya Rania takut-takut.


"Bisa." Nadira setuju sebelum mengikuti Rania, ia berbicara lebih dahulu dengan kedua sahabatnya.


Rania dan Nadira menuju kafe Hebat yang berada di seberang kampus mereka.


"Gue butuh bantuan lo." Rania membuka suara dengan mata berkaca-kaca.


"Bantuan apa? kenapa menangis?" tanya Nadira khawatir.


Akhirnya ia menceritakan bagaimana bisa bertemu dengan Wido, setiap perlakuan Wido padanya, dan terakhir kejadian tadi malam akibat ia yang sudah lancang masuk ke kamar dan memindahkan foto-foto Nadira ke sisi lain kamar Wido.


"Gue tahu foto itu Ra?" tanya Rania dan di angguki Nadira.


"Ran, apa lo masih suka suami gue?" tanya Nadira memilih membahas masalah mereka dahulu.


Rania menggeleng. "gue sadar ternyata gue hanya terobsesi dengan Qenan."


"Jadi lo jatuh cinta sama bang Wido?" tanya Nadira memastikan dan di angguki Rania.


Nadira tersenyum. "Kamu tenang aja gue bakalan ngomong sama bang Wido."

__ADS_1


"Makasih banyak Ra, maafin gue."


Nadira tersenyum lagi. "Gak masalah. Udah ya, kayaknya bang Wido udah jemput. Dah." Nadira bangkit dan melambaikan tangan lalu berjalan cepat menuju parkiran dimana mobil Wido sudah terparkir disana.


Nadira masuk ke mobil lalu memasang sabuk pengaman dengan senyum terus terukir di wajahnya.


"Seneng bener?" tanya Wido.


Nadira mengangguk masih tersenyum. Namun teringat sesuatu.


"Bang, maaf kalau aku ikut campur dalam urusan pribadi mu."


Wido mengerutkan dahi. "Memangnya ada apa?"


Nadira menatap Wido. "Kenapa nggak abang nikahi Rania?"


Wido tersentak lalu menetralkan diri bahkan kini wajahnya menjadi datar. Sungguh ia tidak menyukai Rania.


"Bang, dia udah berubah jadi lebih baik."


Nadira tahu Wido marah karena permintaan nya ini. Dan juga sadar bahwa ia salah ikut campur dalam urusan pribadi Wido.


"Bang, nanti kalau nikah buat Rania hamil pasti abang bakalan seneng." bujuk Nadira. Dan melupakan aku. Lanjut Nadira dalam hati.


Wido tak menjawab langsung membawa Nadira pulang ke rumah papa Surya. Semenjak saat itu Wido tak lagi antar jemput Nadira dan hal itu membuat Nadira semakin merasa bersalah.


Dan hari itu tiba, dimana sejak kejadian beberapa bulan Nadira meminta Wido menikahi Rania.


Wido datang menemui Nadira masih dengan wajah datarnya.


"Abang akan menuruti keinginan mu Na."


Nadira tersenyum.


"Ini hanya demi kamu."


Nadira mengangguk. Tak apa jika demi dirinya dan ia yakin cinta Wido akan beralih pada Rania jika memang Wido mau membuka hatinya.


"Aku dengar kamu mau ke California?"


"Iya." Senyuman Nadira semakin mengembang.


"Oke, Aku yang pesan tiket pesawat dan sediakan tempat tinggal selama kamu disana."


Nadira tersentak. "Eh jangan."


"Nggak ada penolakan."


Nadira menghela nafas. "Tapi tiket nya jangan yang untuk orang sultan ya. Aku mau kayak biasa biar rame di dalam pesawat, apartemen aja yang di siapin biar perlengkapan aku yang sediakan."


Wido mengangguk saja.


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2