Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Menantu dan mertua


__ADS_3

"Oppa." gumam Melinda ketika baru saja masuk apartemen mendapati Dion berada di sana. Hatinya semakin teriris menemukan dua kotak makanan di atas meja masih terbungkus rapi.


Teringat tadi ia makan siang begitu lahap dan tidak mempermasalahkan Rian menemaninya.


"Eh, sudah pulang?" Dion mengecup kening dan perut Melinda secara bergantian.


Melinda menatap dua kotak makanan lalu berganti menatap Dion. "Oppa belum makan?"


Dion menggeleng. "Aku lupa kalau kamu izin pergi makan di luar. Sudah terlanjur beli makan juga." Suami dari Melinda itu nampak cengengesan sembari menggaruk tengkuk leher.


Jawaban Dion semakin membuat hatinya serasa di peras. "Ayo kita makan." ajaknya untuk menebus rasa bersalah.


"Kamu belum makan?" tanya Dion mulai khawatir apalagi Melinda menggeleng.


Dion langsung menuntun Melinda untuk duduk lalu menyediakan makanan untuk sang istri. "Makan. Aku kira kamu di luar makan tadi. Biasakan walau di luar tanpa aku itu selalu makan kalau lapar."


Sungguh, perhatian Dion membuat dada Melinda sesak. Sekuat tenaga menahan air mata agar tak tumpah di depan suaminya.


Melinda makan dalam diam hanya seaekali menjawab apa yang di bicarakan Dion. Memaksa memasang wajah ceria agar terlihat baik-baik saja.



Seusai membersihkan meja dan membuang box bekas makanan tadi, Melinda menyusul sang suami yang tengah duduk termenung.


Helaan nafas panjang lalu duduk di pangkuan Dion. "Oppa kenapa?"


Dion menggeleng membuat Melinda mengecup dagu pria itu.


"Nakal." ledek Dion mencubit pipi Melinda yang terlihat semakin tembem.


"Oppa, sakit." rengek Melinda mengalungkan tangan ke leher Dion.


Kecupan bertubi-tubi mendarat di bibir Melinda kemudian menggigitnya saking gemasnya pada sang istri.


Melinda sendiri tak marah karena ia menikmati bahkan duduknya sudah berubah berhadapan dengan Dion tanpa melepas pagutan.


Keahlian Melinda membuat Dion melayang. Sentuhan-sentuhannya mampu membuat Dion mabuk kepayang. Dengan hati-hati Dion menggendong Melinda ke kamar.


Perlahan membaringkan sang istri kemudian bermain kembali pada tubuh istrinya. "Papi mau jengukin kamu ya." ucapnya setelah wajahnya tepat berhadapan dengan perut Melinda yang sudah nampak buncit.

__ADS_1


"Sekarang, pi." Rengek Melinda sudah tak tahan dengan permainan Dion di inti miliknya.


Dion tersenyum kemenangan setekah mendengar rengekan Melinda karena itu yang ia inginkan.


"Aku yang kerja, ya." pinta Melinda mengubah posisi menjadi ia berada di atas.


Dion mengangguk pasrah berada di bawah kendali Melinda. Suara pengantar nikmat itu memenuhi kamar tersebut.


Hingga beberapa jam kemudian, Melinda sudah terkulai lemas di pelukan Dion. Permainan siang ini sengaja ia lebih agresif agar melupakan bayangan Rian dan kesalahan nya telah menyembunyikan pertemuan tak sengaja dengan pria beristri itu.


"Aku harus kembali ke kantor."


Melinda hanya mengangguk karena tubuhnya begitu lelah.


Dion mengurai pelukan dengan perlahan kemudian turun dari ranjang mengutip baju mereka yang berserakan di lantai untuk di masukkan ke ranjan pakaian tidur. Setelah itu masuk ke kamar mandi membersihkan diri.


Selesai mandi, dilihat Melinda masih tertidur. Ia tersenyum mengingat betapa liar permainan Melinda tadi. Puas memandangi Melinda, barulah bergerak mengambil pakaian ganti nya.


...****...


Di kantor Qenan. Siang ini Qenan kedatangan Papa Reno. Sebenarnya ini bukanlah pertama kali mengunjungi Perusahaan milik anaknya.


Fakta seperti sekarang. Seperti usaha kaos, Cafe dan Resto terus berjalan maju tanpa bantuan nya. Sekarang Pabrik dan Perusahaan mulai berkembang dan ia hanya mendampingi saja.


"Jadi, kapan kamu akan pegang Perusahaan Papa, boy?" tanya Papa Reno sembari menyomot kacang atom Garuda dari toples di atas meja depan sofa ruangan Qenan.


"Untuk cucu Papa aja. Aku masih mau fokus kembangin Pabrik aku, Pa." sahut Qenan bangkit menghampiri sang Papa di sofa.


Papa Reno berdecak. "Nadira suruh belajar kelola Kafe atau baju kaos kamu. Biar gak sulit mengurus semuanya."


Qenan menggeleng. "Enggak, pa. Qenan nggak mau Rara bekerja. Cukup di rumah dan terima uang dari Qenan."


"Kenapa kamu begitu mengekang menantu papa? Gimana mau berkembang kalau begitu?"


"Uang Qenan cukup untuk biaya hidup Rara dan anak-anak Qenan nantinya " cebik Qenan kemudian.


"Halah. Palingan karena kamu gak mau Nadira di lirik pria lain kan? dasar cemburuan." olok Papa Reno masih asyik dengan cemilan di atas meja itu.


Qenan diam saja karena memang itu alasan utama tidak mengizinkan Nadira bekerja.

__ADS_1


"Emang papa nggak cemburu kalau mama di dekati pria lain? apa jangan-jangan papa udah sayang dan cinta mama Qenan?" tanya Qenan dengan tatapan selidik.


Papa Reno yang di tanya seperti itu langsung menelan kacang atom garuda bulat-bulat. Bukan membenarkan ucapan dari anaknya ini. Tetapi melihat tatapan Qenan seperti melihat dirinya sendiri. Sangat mirip.


"Mana mungkin papa begitu. Bisa di gorok papa kalau gak cemburuan. Sehari saja papa gak tanya kabar mama mu pasti sudah mengomel panjang kali lebar." terang papa Reno pada Qenan.


"Suami takut istri." olok Qenan terkekeh.


...****...


Di rumah Qenan. Ibu dan menantu baru saja selesai membuat brownies. Entah mengapa Nadira selalu suka dengan kue berwarna cokelat gelap nan manis itu.


"Ma, boleh Dira makan sekarang nggak?" tanya Nadira sedari tadi menatap brownies itu dengan tatapan lapar.


Mama Sinta tertawa melihat raut wajah menantunya. "Makan saja, Ra. Kan di buat juga untuk kamu makan."


Senyuman Nadira mengembang lalu mengambil dua potong kemudian melahap brownies itu.


"Papa apa kabar, ma?" tanya Nadira masih menikmati brownies.


"Papa baik. Sekarang masih ada di kantor Qenan." sahut mama Sinta tengah memerhatikan Nadira.


"Apa kamu sering di tinggal Qenan begini di hamil tua?" tanya mama Sinta menjadi kesal dengan anaknya itu.


Nidira menoleh ke arah mama Sinta. "Enggak ma, justru Dira sering ikut Qenan kemana-mana sampek anak mama itu di cap suami takut istri karena Dira ngintilin mulu. Apalagi rekan bisnis mereka banyak cewek cantik dan sek si. Belum lagi pelanggan Kafe yang masih aja kecentilan sama Qenan." Curhat Nadira karena memang itu yang di alaminya.


Mama Sinta tertawa mendengar curahan hati seorang menantu itu. Ternyata bukan hanya dirinya yang kesal pada orang sekitar suaminya.


"Mama juga begitu sampek sekarang. Apa ini resiko punya suami bule ya, Ra?"


Nadira mengedikkan bahu lalu mengelus perut buncitnya. "Nggak tahu, ma. Mungkin aja iya. Dari dulu emang pengen banget punya suami bule. Tapi ternyata begini rupanya bersuami bule." Ia terkekeh dengan jawaban nya sendiri.


"Kok kekeh gitu?"


"Mama pasti tahu kan kalau bule itu gimana di kamar?"


Tatapan mertua dan menantu itu bertemu dengan senyum penuh maksud kemudian tertawa terbahak.


❤️

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2