Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Ke makam


__ADS_3

Pukul 9 pagi setelah sarapan mereka bersiap untuk berangkat ke kota Bogor dengan dua mobil. Papa Surya, Wido, Nadira, dan Nina satu mobil dan mobil satu lagi ada Qenan, Nazeef, Dion, dan Rendi.


Rendi datang lima menit yang lalu.


Dion sengaja duduk di kursi kemudi dan Nazeef disebelahnya. Sedang Qenan berada di kursi belakang bersama Rendi.


Suasana di dalam mobil tersebut terasa dingin mencekam. Dapan Dion dan Nazeef rasakan kilatan permusuhan dari dua orang di belakang mereka.


Sikap tetap tenang Qenan dapat di acungin jempol dari kedua sahabatnya. Sangat berbeda dengan Rendi yang tampak menahan amarah, terlihat jelas dari kepalan tangan dan wajah yang memerah dan rahang mengeras.


"Udah berapa lama pacaran sama kakak gue?" tanya Dion basa basi justru mendapat tatapan tajam dari Qenan.


"Hampir 3 tahun." jawab Rendi mencoba ramah karena ia tahu Dion adalah adik tiri Nadira.


Qenan dan Nazeef tetap dengan sikap tenang pandangan lurus namun keduanya pasang telinga lebar-lebar untuk mendengar cerita mantan pacar Nadira.


"Lama ya.. Berarti banyak kenangan nya dong."


Celetukan Dion membuat Qenan menghirup udara dalam-dalam. Ia mulai gelisah memikirkan apa saja yang telah mereka lewati.


Rendi tampak tersenyum. "Ya, dulu kami satu sekolah. Kalian pasti tahu lah kalau pacaran satu sekolah.. Kalian kan masih sekolah."


3 sahabat itu hanya diam dengan pemikiran masing-masing. Dan bertanya memangnya pacaran satu sekolah bagaimana? Hanya Nazeef yang pernah mengalami, itupun gonta-ganti pacar.


"Terus kenapa putus sama kakak gue?" tanya Dion polos karena ia tak tahu masalah nya.


Seketika Rendi terdiam, tidak mungkin ia mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Gue belum ada kata putus sama Nana." sahut Rendi melirik Qenan sembari menyeringai.


"Hanya cowok bajingan yang akan duakan cewek yang tulus cinta sama kita. Gue rasa gak perlu ada kata putus dari Nadira. Karena gue sendiri lah yang akan bilang kalau kalian berdua udah gak ada hubungan apa-apa lagi."


Qenan bersandar dan melipat kedua tangan di dada. Tanpa melirik ataupun menatap Rendi, ia berucap kembali. "She in mine."


...****...


Jika suasana di mobil Qenan dingin mencekam berbeda pula di dalam mobil Nadira berada. Ada rasa cemas dan bahagia yang dirasakan Nadira. Ia bahagia akan pulang ke kota kelahiran nya, bertemu dengan ibu panti dan anak-anak panti adalah satu kebahagiaan untuk nya.


Selama di Jakarta ia hanya mengirim uang untuk panti asuhan tapi sekarang ia kembali sesuai janjinya dahulu, ia akan kembali setelah bertemu papa Surya.


Ia cemas memikirkan bagaimana reaksi papa Surya ketika mengetahui jika Mama Melati telah tiada. Apa papa Surya akan marah padanya? tetapi ada satu kejanggalan yang ia rasa. Teringat saat papa Surya mengatakan mencari tahu dirinya dan kehidupan nya sehingga mengetahui jika ia adalah anak kandung papa Surya.


Dari pencarian itu pastilah mengetahui jika Mama melati telah tiada, tetapi mengapa papa Surya tidak tahu?

__ADS_1


Nadira melihat Wido dari spion dalam ternyata ia mendapati Wido juga tengah memperhatikan dari spion dalam itu.


Aneh!


Wido sendiri sedari tadi diam-diam memperhatikan Nadira. Sama hal nya dengan Nadira, ia sendiri cemas memikirkan bagaimana reaksi papa Surya jika mengetahui mama Melati telah tiada. Bukan bermaksud merahasiakan, namun menurutnya yang lebih berhak memberitahu adalah Nadira, anaknya.


Setelah 2 jam 15 menit kedua mobil mewah itu telah sampai di pekarangan Panti Asuhan Budi Kasih.


Senyuman Nadira terbit melihat anak-anak panti tengah memperhatikan kedua mobil mereka. Dengan semangat Nadira turun dari mobil.


"Kak Nadira..." Sorak anak-anak panti tersebut berlari berhamburan menuju Nadira yang sudah berlutut merentangkan kedua tangan.


"Kakak.. Kangen.." seru Ica anak panti yang paling dekat dengan Nadira.


Nadira tersenyum sembari membalas pelukan mereka. "Hei.. jangan dorong-dorongan dong-." Belum sempat Nadira menyelesaikan ucapan nya ia sudah terjungkal kebelakang dan anak-anak panti jatuh menimpah tubuhnya.


Bukan nya marah melainkan tertawa bersama. Yang lain hanya tersenyum dan menggeleng kepala. Tetapi tidak dengan Qenan, ia langsung menghampiri mereka karena khawatir Nadira tertimpa beberapa anak-anak panti apalagi ada yang berbadan lebih gembul disana.


"Ehem.." Qenan berdehem.


Semua orang memperhatikan mereka termasuk anak-anak panti. Mereka pun sedikit takut karena wajah Qenan yang datar dan dingin tak ada senyum sedikitpun.


Sebenarnya Qenan ingin membantu mereka tapi agaknya anak-anak panti takut menjadikan mereka bangkit sendiri dan berdiri sedikit jauh. Akhirnya ia membantu Nadira bangkit dan membersihkan baju bagian belakang tanpa kata.


"Qenan.. Kamu membuat anak-anak takut." tegur Nadira.


Nadira mencebik bibir. "Iya memang, tapi wajah datar kayak patung ini sangat menakuti mereka. Senyum sedikit aja." sungut Nadira membuat yang mendengar menahan tawa.


Nadira mengajak papa Surya masuk ke panti menemui Ibu Endang, ibu panti asuhan Budi Kasih.


Belum sempat Nadira mengucap salam, Ibu Endang sudah berseru girang dengan kedatangan Nadira.


"Dira..." serunya.


"Ibu.." Nadira berhambur ke pelukan Bu Endang.


Ada tangis bahagia disana, hampir 3 bulan tidak bertatap muka sungguh teramat menyiksa bagi Nadira karena baginya wanita paruh baya yang tengah memeluknya adalah ibu kedua dihidupnya.


"Kamu apa kabar putri ibu?"


"Sehat Bu, sangat sehat.."


"Ibu, Dira bawa papa.." ucapnya lagi membuat Bu Endang pria seumuran dengan Mama melati, di umurnya yang sudah tak lagi muda masih tampak gagah.

__ADS_1


"Terus yang di belakang papa mu siapa?" tanya Bu Endang dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Nadira mengurai pelukan nya langsung berbalik melihat siapa orang yang dimaksud Bu Endang dan ia pun tersenyum malu-malu tanpa menjawab.


"Pa.. Ini Bu Endang.. Ibu panti disini." Nadira memperkenalkan papa Surya.


Ibu Endang tersenyum menerima uluran tangan dari papa Surya. Lalu Nadira memperkenalkan Qenan namun tidak menyebut siapa Qenan, karena lidahnya keluh mengatakan jika Qenan adalah pacarnya.


"Nadira sudah gadis mbak.. Sudah tahu pacaran. Dan ini calon menantu kita." terang papa Surya namun ibu Endang melihat Nadira seperti ada yang ingin disampaikan padanya.


"Segeralah bawa papa mu bertemu mama mu disana Dira.." titah Bu Endang langsung di anggukan Nadira.


Mereka pun pamit menuju tempat peristirahatan terakhir Mama melati. Tempatnya tak jauh dari panti, cukup berjalan kaki saja.


"Kenapa ke makan Nadira?" tanya papa Surya sudah di liputi rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya.


Nadira hanya diam dengan air mata yang sudah tergenang di pelupuk mata. Tubuhnya limbung tak kuasa menopang tubuhnya, beruntung dengan sigap Qenan langsung menangkap nya dan merangkul tubuh Nadira.


Tubuh papa Surya ambruk tepat di depan makam Mama melati. Kakinya bersimpuh di tanah megang batu nisan bertuliskan MELATI BINTI SULAIMAN.


"Oh Tuhan.. Apa yang terjadi padamu Mel?" Papa Surya menangis sesenggukan menyesali perbuatannya di masa lalu.


"Maafin aku Mel.. Maaf.."


Papa Surya terus meraung berbicara di samping pusaran mam Melati. Mereka melihat itu sangat miris dan iba pada papa Surya.


Nadira menangis dalam pelukan Qenan. "Jangan menangis.." ucap Qenan sembari mengusap kepala Nadira dengan sayang.


Begitu juga dengan Nina yang menangis sendiri. Ingin rasanya Nazeef mendekap Nina melakukan hal sama seperti Qenan. Sungguh, walau ia seorang playboy, hanya Nina yang bisa menaklukkan hatinya. Cewek galak sang pemilik rambut kriting.


"Bawa saya pulang Wido.." titah papa Surya sekian lama ia menangis.


"Pa.. Kita istirahat di panti aja dulu." ujar Nadira.


Papa surya menggeleng. "Bawa saya pulang Wido.."


"Baik tuan." sahut Wido.


"Emm.. Pa.. Dion ikut pulang ya.. Ada tugas sekolah." ucap Dion langsung menarik tangan Rendi agar ikut pulang bersama.


Dion cukup mengerti jika Nadira butuh waktu lebih lama di tempat kelahirannya bersama Qenan, suaminya. Sedangkan untuk Nina dan Nazeef ia dapat mengerti jika Nina sebenarnya ada hati pada Nazeef. Terbukti ia sering kali mendapati Nina tengah memperhatikan Nazeef dari kejauhan.


*Semoga suatu saat gue menemukan seseorang yang akan mengisi kekosongan hati gue dan tak akan meninggalkan gue seperti nama meninggal kan gue dan papa.

__ADS_1


🌸*


Bersambung...


__ADS_2